Merrik terus mencium wajah Elena disaat Elena menahan sakit dan terus mengeluarkan air mata, mencium keningnya sekali lagi untuk sedikit menenangkan gadis itu. Meskipun tau Elena menahan sakit, tidak sedikitpun Merrik berniat menyudahinya. “Tenanglah, teriaklah jika itu bisa membuatmu lebih santai.” Bisik Merrik di telinga Elena.
Tangan Elena menggenggam erat seprei, dia merasa tidak nyaman dan kesakitan, dia ingin menyudahi ini semua. Dia tau ini tugasnya sebagai seorang istri. Namun, dia tidak menyangka akan mengalaminya di usia yang terlalu muda. Seorang gadis remaja yang belum mengerti akan cinta, yang seharusnya menikmati masa muda dengan kuliah dan bermain. Namun, saat ini dia harus berperan menjadi seorang istri.
Malam kian larut, AC di kamar seperti rusak karena dua orang terus berkeringat, Merrik tidak memberi Elena ruang sedikitpun untuk beristirahat, hingga Merrik merasa puas dia baru melepasnya. Merrik rubuh di samping Elena, memandang wajah gadis yang di sinari oleh cahaya bulan. Tampak cantik alami dengan peluh keringat di wajahnya, rambut yang terurai menghiasi bantal dan bibir yang membengkak yang disebabkan oleh Merrik, Merrik tersenyum melihat Elena yang tertidur karena kelelahan, hatinya sedikit menghangat, di tariknya Elena ke dalam pelukannya hingga mereka terlelap bersama.
Keesokan paginya Merrik bangun lebih dulu, dia enggan beranjak dari ranjang, lebih memilih memandang wajah gadis kecil di depannya. ‘Apakah aku seorang pedofil? Mengambil keuntungan dari seorang belia? Ah sudahlah, jika ku lepaskan, dia juga pasti akan merayu pria kaya lainnya. Terlebih dengan wajah cantik seperti ini, pasti banyak pria yang dengan mudah masuk dalam perangkapnya!’ batin Merrik.
Merrik terus menatap bagian bibir Elena, entah mengapa dia sangat menyukai bagian itu, meskipun semua yang ada di dalam diri Elena selalu bisa menggodanya. Elena mulai terbangun, membuka matanya perlahan dan pertama yang dia lihat adalah laki-laki yang sudah menjadi suaminya. Baru akan membuka mulut Merrik sudah mendekat dan mencium bibirnya. Elena hanya bisa pasrah, dia mulai membalas ciuman Merrik, Merrik menaikan satu alisnya, menyadari Elena sudah mulai pandai berciuman. Merrik melepas ciumannya, dia menginginkan lebih, dia mendekatkan dirinya pada Elena, Elena mundur. “Kak, aku mohon jangan lagi.” Ucap Elena gugup.
Merrik mengusap lembut rambut Elena dan berkata, “Baiklah.” Merrik tidak ingin memaksanya, dia bisa melakukannya di lain waktu. Dia bisa dengan bebas menikmatinya semaunya. Merrik terus mengusap rambut Elena, turun ke pundak dan terus kebawah hingga menyentuh perut Elena, dia tersadar akan sesuatu. ‘Sial, aku lupa sesuatu. Bagaimana jika dia hamil?’ batin Merrik.
Merrik bangkit dari tidurnya. “Apa kamu mau mandi? Kita harus pergi membeli keperluanmu hari ini.”
“Iya,” jawab Elena. Elena bangkit untuk duduk, mengeratkan selimutnya untuk menuju kamar mandi, langkahnya terhenti disaat dia merasakan ketidaknyamanan. Merrik melihat itu semua dan tersenyum, tanpa rasa malu, dengan kondisi tubuh polos dia memutari ranjang dan menggendong Elena ke kamar mandi. “Kak, aku bisa ke kamar mandi sendiri!” ujar Elena menahan malu karena selimutnya terjatuh ke lantai dan mereka berdua dalam keadaan polos.
“Sudah, biar aku gendong. Ini semua kan karena perbuatanku, aku harus membantumu!” ujar Merrik tersenyum. Elena ikut tersenyum melihat senyuman manis Merrik. ‘Apakah seperti ini rasanya berumah tangga?’ ucap Elena dalam hati.
Elena masuk ke dalam kamar mandi. Merrik buru-buru memakai pakaiannya, dia keluar dari unit apartemennya dan menuju ke apotik yang terletak di lantai bawah Apartemen. Setelah membeli yang dia inginkan, dia kembali ke unit apartemen. Merrik menuju dapur, mengambil botol vitamin yang di belinya, mengeluarkan isinya dan membuangnya ke tempat sampah. Mengisi botol vitamin tersebut dengan pil KB yang di belinya bersama dengan vitamin tersebut. Dia tidak ingin Elena mengandung anaknya, tidak ingin gadis miskin itu menjadi Ibu dari anaknya.
Merrik kembali ke dalam kamar, melihat kekacauan di atas ranjang, mengambil selimut dan pakaian yang tercecer di lantai. Dia merapikannya, matanya tertuju pada noda merah di atas sprei. Dia tersenyum, bangga menjadi yang pertama untuk Elena. Tanpa di sadari di dalam hati Merrik, dia sudah mulai menyukai Elena. Namun, rasa benci terhadap gadis miskin membuatnya menyangkal perasaannya sendiri.
Elena membuka sedikit celah kamar mandi, mengeluarkan kepalanya, dia memanggil Merrik, “Kak …”
“Iya, ada apa?” tanya Merrik mendekati pintu kamar mandi.
“A—ku, pakaian dalamku masih sedikit basah, aku tidak nyaman memakainya kembali.”
“Kalau begitu tidak usah pakai saja.” jawab Merrik santai.
“Apa?” ucap Elena.
Merrik menyadari dia salah bicara. “Coba berikan padaku? Biar aku keringkan pakaianmu dengan hair dryer.”
“Ha? Kakak mau keringkan?”
“Tentu saja, cepat berikan.”
“Aku bisa mengeringkannya sendiri, Kakak ajarkan saja caranya.”
“Sudah cepat berikan saja!” Perintah Merrik.
Elena tidak bisa menolak perintah Merrik, dia mengambil pakaian dalamnya dan memberikan dengan malu-malu pada Merrik, Merrik menikmati ekspresi malu-malu Elena, dia menyinggungkan senyum pada Elena. Merrik bisa saja meminta Dion mengantarkan pakaian tetapi enggan ia lakukan, dia tidak ingin terlihat previllege di depan Elena. Dia ingin Elena menganggapnya sebagai karyawan biasa.
Merrik mengambil pakaian dalam Elena. “Keluarlah jangan menunggu di kamar mandi.” ucap Merrik.
“Iya,” jawab Elena. Dia melilitkan handuk dan keluar dari kamar mandi. Merrik menuju kamarnya untuk mengambil hair dryer, Elena mengikutinya dari belakang. Merrik menyentuh pakaian dalam itu sambil mengingat kembali kejadian semalam. ‘Ah, rasanya ingin mengulang kembali!’ ujarnya dalam hati. Elena mengikuti Merrik dari belakang, memperhatikan Merrik mengeringkan pakaian dalamnya. “Biar aku saja Kak, yang melakukannya. Kakak mandi saja.” Tawar Elena.
Merrik memberikan hair dryer dan pakaian dalam Elena, lebih baik dia pergi daripada menyerang Elena lagi. Namun, sebelum pergi Merrik membuka isi lemarinya, mencari kaos yang paling kecil dan juga celana training yang ada karetnya dan memberikan pada Elena. “Coba ini, mungkin agak kebesaran tapi tidak terlalu gombrang, celananya juga karet sepertinya bisa kamu pakai.”
Elena menerima pakaian tersebut, Merrik menuju kamar mandi, setelah pakaian dalamnya kering Elena memakainya kembali bersama pakaian yang Merrik kasih.
Merrik keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk di pinggangnya, dengan santainya memakai pakaian di depan Elena tanpa rasa malu. Elena hanya memalingkan wajahnya, dia masih belum terbiasa. Merrik hanya tersenyum melihat tingkah Elena.
Setelah berpakaian Merrik memberikan botol vitamin pada Elena. “Minum ini.”
“Apa ini, Kak?” tanya Elena.
“Kamu tidak bisa baca itu apa!” ucap Merrik santai.
Elena membaca tulisan di botol tersebut, dia tersenyum. Tidak menyangka Merrik sangat perhatian padanya. Elena mengambil air dan menelan satu pil yang di anggapnya sebagai vitamin tersebut. ‘Apa seperti ini rasanya menjadi istri? Kak Merrik perhatian sekali,’ batin Elena.
*****Bersambung*****....
Terima kasih para reader yang setia membaca kisah Kamuflase Cinta Sang CEO🙏🙏🙏
Jangan lupa like love gift karena satu like saja sudah menjadi semangat Othor 😊
Salam Age Nairie 🥰🥰🥰🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
etin eka susanti
mau enaknya aja ya pak☹️
2023-07-23
1
Ernita Afriana
menunggu merrik jd bucin ma elena 🤭
2022-07-05
2
Tulip
ntarnyesel merrik
2022-06-25
1