...Setelah membaca jangan lupa Like-nya 🥰...
...Jika berkenan berikan juga 🌹 vote gift dan komentarnya 😊🥰🥰🥰...
Elena merasakan pusing di kepalanya, perutnya mual. Dia segera mengambil ponselnya dan melakukan panggilan telepon pada Merrik.
"Hallo." Suara Merrik terdengar dari seberang telepon.
"Kak, boleh aku keluar rumah untuk membeli obat?"
"Kamu sakit?" ucap Merrik khawatir.
"Kepalaku pusing, serasa berputar-putar. Aku ingin membeli obat."
Merrik memang melarang Elena keluar dari unit apartemen tanpa dirinya. Dia tidak ingin pria lain melihatnya, akan dia simpan Elena untuk dirinya sendiri.
Merrik selalu berkata pada Elena bahwa di luar bahaya, banyak orang jahat berkeliaran. Elena dengan patuh mematuhi semua aturan yang Merrik buat, dia merasa Merrik sangat melindunginya tanpa dia sadari sebenarnya Elena berada dalam penjara Merrik.
"Baik, aku akan segera kembali." Merrik memutuskan sambungan telepon dan langsung kembali ke apartemen.
Elena merebahkan diri di ranjang, matanya tidak sengaja melihat kalendar di dinding, menguatkan diri dan berjalan hingga berhadapan dengan deretan angka. "Aku sudah telat menstruasi lebih dari dua minggu," gumam Elena. Dia langsung membuka ponselnya dan mencari informasi tentang kehamilan.
...********...
Merrik terburu-buru pulang setelah mendapat telepon dari Elena yang bilang bahwa dia sakit. Ada kekhawatiran di wajah Merrik saat mendengar Elena sakit. Ya, dia sangat mengkhawatirkannya.
Merrik bergegas masuk ke dalam apartemen, Elena yang mendengar pintu terbuka langsung keluar dari kamar tidur dan menghampiri Merrik yang baru saja tiba di ruang tamu, dengan wajah yang serius bercampur senang Elena berkata, "Kak, A—ku hamil!" ucap Elena terbata.
"Apa?" Bagai tersambar petir mendengar perkataan Elena.
'Bagaimana bisa?' batin Merrik meronta. Merrik tenggelam dalam pikirannya sendiri, bagaimana mungkin Elena hamil? Apakah dia tidak meminum obatnya? Bagaimana kehidupannya nanti?
"Kak," Panggil Elena.
"Ya." Merrik tersadar dari lamunannya. "Apa kamu sudah cek dengan test pack?" tanya Merrik.
"Tidak." Elena menggelengkan kepalanya.
"Lalu bagaimana kamu tau kalau kamu hamil?" tanya Merrik.
"Aku pusing dan mual. Menstruasiku juga sudah telat dua minggu, Kak. Kemungkinan, aku hamil!" ucap Elena sumringah.
Apa-apaan dia, mengambil kesimpulan sendiri tanpa melakukan pengecekan, buat orang jantungan saja!
"Kamu rutin minum vitamin?"
"Iya."
"Tunggu di sini, aku beli test pack dulu." Merrik langsung pergi membeli alat tes kehamilan. Pikirannya kacau, berharap yang di katakan Elena tidak terjadi. Elena selalu meminum obatnya, tidak mungkin dia hamil. Tetapi pusing dan mual juga merupakan tanda kehamilan. Merrik menggurai kepalanya frustasi.
Merrik kembali ke apartemen setelah membawa alat tes kehamilan. "Ini, cek dulu."
Elena mengambil alat tes kehamilan tersebut, dia berjalan ke kamar mandi. "Kakak mau apa? Kenapa ikut aku ke kamar mandi?"
"Aku ingin tau hasilnya."
"Kakak bisa tunggu di luar. Aku bisa lakukan sendiri."
"Aku mau lihat langsung."
"Kak, aku harus pipis. Aku malu jika Kakak melihat!" ucap Elena sebal dengan Merrik yang tidak kunjung keluar.
"Aku sudah lihat semuanya, untuk apa malu." Merrik mengambil wadah kecil dan memberikan pada Elena. "Gunakan ini."
"Kakak serius tidak mau keluar?"
"Iya. Sudah cepat pipis saja, atau aku yang bukakan celanamu?"
"Kakak berbalik." Elena berdecak sebal.
Merrik mengalah, memutar tubuhnya agar tidak melihat Elena, dia tidak berencana keluar kamar mandi sebelum mengetahui pasti hasilnya. Kelinci kecilnya sudah mulai bisa memprotes. "Sudah belum?" tanya Merrik setelah mendengar flush air toilet.
"Sudah, Kak." Elena membawa wadah kecil berisi air seninya. Merrik membuka alat tes kehamilan, membaca cara pakainya sekilas lalu memasukan alat tersebut ke wadah yang berisi air seni Elena. Tidak perlu menunggu terlalu lama, hasil tes keluar. Merrik tersenyum tipis saat melihat satu garis jelas terpampang.
"Hasilnya apa Kak?"
"Negatif," jawab Merrik tanpa ragu.
"Jadi aku tidak hamil?" ucap Elena lesu.
Merrik melihat raut sedih Elena. "Kamu sedih?"
"Iya, aku kira akan menjadi mama muda."
"Tidak usah bersedih, kamu masih muda dan juga baru memulai kuliah. Kalau kamu hamil juga akan menunda kuliahmu."
Elena hanya menganggukkan kepalanya. "Belum, rejeki ya Kak."
"Iya." Merrik tersenyum dengan makna hanya dia yang tau. "Apa kepalamu masih pusing?"
"Iya."
"Minun obatnya, tadi aku beli sekalian di apotik atau kita ke dokter saja?" Merrik menyerahkan obat sakit kepala pada Elena.
"Minum obat dulu saja, kalau masih pusing baru ke rumah sakit."
...*************...
Hari senin tiba, awal Elena masuk kuliah. Elena masih terlelap dalam dekapan Merrik. Alarm ponsel terus berbunyi, suara alarm mulai mengganggu pendengarannya. "Aku terlambat! Kak, bangun! Ini hari pertama ku kuliah, aku tidak mau terlambat."
Elena bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah dinas malamnya melayani Merrik, memulai melepas atribut dinasnya. Kali ini lingerie model kelinci. Melepas sisa pakaian yang sudah sangat tidak berbentuk, tali yang masih melilit di salah satu kakinya dan juga bando kelinci yang tersangkut di rambutnya. Meskipun sudah ada perjanjian, terkadang Merrik memaksanya menggunakan pakaian yang dia mau. Merrik masuk ke dalam kamar mandi, membantu Elena melepas sisa atribut yang melekat. "Kita mandi bersama saja, biar cepat."
Merrik mengantar Elena ke kampus. Sebelum turun mobil Merrik memberikan kartu Atm pada Elena. "Ini terimalah, kamu bisa menggunakan semaumu."
"Tidak perlu, tadi Kakak sudah memberi uang tunai padaku."
"Sudah ambil saja, kamu bisa gunakan jika kehabisan uang tunai."
"Terima kasih, Ka." Elena menerima kartu ATM tersebut. Merrik menarik Elena untuk mendapatkan ciuman perpisahan namun Merrik menginginkan lebih, ciumannya turun ke bawah hingga tulang selangka. Elena mendorong nya. "Kakak, aku sudah hampir terlambat."
Merrik melihat tanda merah di leher Elena, menarik ikat rambut Elena agar bekas percintaan mereka tidak di ketahui orang. Dia tidak ingin ada yang tau tentang pernikahan mereka. Elena berkuliah di tempat Merrik menimba ilmu. Jajaran dekan dan dosen sudah mengenal Merrik terlebih Merrik merupakan donatur terbesar di kampus tersebut. "Elena, jangan ada yang tau kita menikah. Kita belum menikah secara resmi jadi lebih baik tidak ada orang yang tau."
"Baik." Elena menjawab tanpa bertanya alasannya, dia sudah terburu-buru untuk masuk kuliah.
"Jika sudah selesai kuliah hubungi aku, aku akan menjemputmu. Jangan dekat dengan pria manapun."
"Iya, aku pergi dulu ya." Sebelum keluar dia mencium pipi Merrik sekilas.
Merrik melihat Elena masuk ke dalam kampus hingga tidak terlihat lagi, setelah itu baru beranjak untuk pergi. Belum juga menyalakan mesin, kaca mobil sudah ada yang mengetuk. "Bisa kita bicara?" ucap seseorang wanita.
Merrik membuka kaca mobil, menatap tajam wanita itu. "Tidak ada yang bisa di bicarakan lagi." Merrik langsung menyalakan mesin dan melajukan mobilnya meninggalkan wanita tersebut sendiri.
Elena menuju kelasnya berada, seorang gadis menghampiri Elena. "Hai."
"Hai, belum di mulai 'kan kelasnya?" tanya Elena.
"Belum, Siapa namamu?"
"Elena. Kamu?"
"Michele."
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
Terimakasih telah membaca kisah Merrik dan Elena 🙏🙏🙏
Salam Age Nairie 🥰🥰🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Inyomannadri
jajat miek
2022-04-23
1
Ekawati Hani
Bener bener si merrik, si Elena cuma jd pemuas nafsu doang. itu hadir sosok Michele apa bakal Deket sm Elen.
2022-04-19
2
Enung Nur Hayati
lanjut thoor
2022-04-09
2