Subuh menjelang, Elena sudah sibuk di dapur dari pukul 03.00 dini hari, karena hanya tinggal menunggu Ijazah dia tidak perlu ke sekolah lagi. Dia memiliki waktu lebih untuk mencari uang. Barang dagangannya sudah tersusun rapih pada box yang akan ia kirim ke warung-warung dengan sistem penjualan konsinyasi. Jarak antar rumah tetangga lumayan jauh, terlebih rumah Elena agak naik ke arah gunung. Pukul lima pagi dia harus sudah jalan menuju warung-warung untuk menaruh barang dagangannya, untung barang dagangannya selalu habis setiap hari sehingga Elena bisa memenuhi kehidupannya walau dengan kesederhanaan.
Merrik bagun sudah pukul delapan, dia keluar dari kamarnya. Namun, dia tidak menemukan keberadaan Elena. Di meja dapur sudah terdapat sarapan, hanya ada beberapa sabosa, risol dan bakwan. Merrik mengambil satu sabosa dan memakannya. “Enak, apa ini kue-kue yang ia jual?” Puji Merrik. Setelah sarapan dia duduk di depan teras, memandangi pepohonan di depan mata, merogoh saku celananya mengambil benda pipih. “Masih belum ada signal,” gumam Merrik menatap ponselnya.
Merrik berkeliling rumah, dia masih enggan mengurus perusahaannya. Dia menitipkan pada Dion asistennya, untuk urusan kantor. Merrik terus melangkah hingga ke kamar Elena, tidak terlalu banyak barang di sana. Matanya tertarik pada photo di atas meja, dia melihat Elena bersama dua temannya memakai pakaian putih abu-abu. Photo berlatar di sekolah, sangat cantik, kontras dengan dua temannya. Bukan berarti dua temannya tidak cantik. Namun, Elena memiliki wajah yang sedikit blesteran. Matanya hijau, rambutnya berwana cokelat, lesung pipi di pipi kirinya menambah manis senyumannya, postur tubuhnya saja yang mungil, tinggi sekitar 160m. Hanya sebahu jika berdiri samping Merrik. Tinggi Merrik 187m. “Dari mana dia memiliki mata hijau seperti ini? Apakah orang tuanya campuran?” gumam Merrik melihat photo tersebut.
Merrik membuka laci meja belajar Elena, menemukan beberapa photo Elena, photo dari usia sekitar empat atau lima tahun hingga sekarang berusia belum genap delapan belas tahun. Dia menikmati pemandangan cantik di photo tersebut, baru kali ini dia melihat gadis yang cantik alami tanpa riasan, Clara mantan kekasihnya yang merupakan ratu kampus juga cantik tetapi masih belum menyaingi kecantikan alami Elena.
Tanpa sadar sudut bibir Merrik naik ke atas, menikmati kecantikan gadis yang sudah menjadi istrinya. Sedetik kemudian dia tersadar. “Untuk apa aku melihat ini semua!” gumam Merrik sambil meletakan photo-photo tersebut. Dia akan tetap menganggap perempuan miskin sama seperti Ibu tirinya. Rose adalah Ibu tirinya, berawal dari seorang Baby Sitter yang mengasuh Merrik. Namun, kenyataan begitu pahit, Ayahnya menceraikan Ibunya dan menikah lagi dengan Rose, usia Merrik baru sembilan tahun saat perceraian itu terjadi.
Melihat Ibunya meninggalkannya karena hak asuh anak berada di tangan Ayahnya, membuat Merrik membenci Ayah dan juga Ibu tirinya. Terlebih lagi saat mendengar kabar Ibu kandungnya meninggal saat Merrik berusia sepuluh tahun. Merrik tidak bersama Ibu kandungnya saat Ibunya menghembuskan nafas terakhirnya. Sampai detik ini, dia masih sangat membenci Ayah dan Ibu tirinya. Sejak di bangku Sekolah Menengah Pertama, Merrik lebih memilih tinggal di asrama sekolah, hingga saat ini dia tidak tinggal bersama Ayahnya.
Baginya, hanya Ibunya lah wanita terbaik. Merrik meraih tas carrier yang dia bawa saat mendaki gunung, dia duduk di ruang tamu, dalam tas tersebut masih ada beberapa kaleng minuman beralkohol, dia mengambil satu kaleng dan menenggaknya.
Dia teringat masa-masa kuliah, saat bertemu Clara, gadis modis, kaya dan cantik. Dia mengira persamaan status tidak akan membuat hubungan mereka kandas, terlebih hubungan mereka sudah terjalin empat tahun lamanya. Namun, nyatanya sama saja. Clara selingkuh di belakangnya. Penghianatan Clara membuatnya trauma akan suatu hubungan.
Merrik membuang kaleng minumannya secara asal. Satu demi satu minuman kaleng tersebut habis. Merrik bukanlah peminum handal, hanya beberapa kaleng dia akan mabuk, dia bukanlah seorang peminum, tetapi saat ini dia meminumnya karena butuh pelampiasan dan hingga akhirnya dia terjatuh ke lantai.
Elena pulang di saat hari sudah siang, setelah menitipkan barang dagangan, dia mencari beberapa bahan untuk pembuatan aksesoris, dia pulang dengan membawa tentengan plastik hitam. Dia mendorong pintu yang terbuka setengah, matanya sudah di suguhi oleh Merrik yang tertidur di lantai. Elena mulai panik, tidak ingin kejadian kemarin terulang kembali. Dia berlari ke dapur dan kembali dengan membawa tali rafia. Elena mulai mengikat tangan dan kaki Merrik, Merrik terlalu pulas dalam tidurnya, hingga tidak menyadari Elena mengikatnya.
Elena tidak dapat memindahkan Merrik ke kamar jadi dia hanya membawakan bantal, dia mengangkat kepala Merrik dan meletakan bantal di bawah kepala Merrik lalu dia menyibukkan dirinya membuat aksesoris.
Merrik bangun setelah empat jam tertidur, matanya mengerjap-kerjap ketika pupil menyesuaikan diri dari cahaya matahari yang masuk melalui jendela rumah. Dia mencoba menggerakkan tangannya namun sulit, membuka matanya lebar dan terkejut melihat dirinya terikat. "Ah!" jerit Merrik.
Elena mendengar suara Merrik, dia menghampirinya. "Kakak sudah bangun?"
"Kenapa kaki dan tanganku terikat? Siapa yang melakukannya?" beruntun pertanyaan keluar dari mulut Merrik dengan suara tinggi.
"A—ku," ucap Elena gugup.
"Kenapa kamu lakukan ini?" ucap Merrik melembut saat melihat wajah gugup Elena.
"Itu, karena Kakak tidak sadarkan diri, aku takut yang kemarin terulang lagi."
Merrik melihat kegugupan pada Elena, dia tidak tega membuatnya ketakutan seperti itu, semua berasal dari kesalahannya. Meskipun, dia membenci wanita, tetapi sampai detik ini Elena tidak ada tanda-tanda menggodanya. 'Apakah aku harus melepasnya? Haruskah ku ceraikan dia secepatnya?' batin Merrik.
Merrik tidak ingin terlibat lebih jauh lagi dari Elena, lebih baik jika dia tinggalkan gadis itu. "Cepat buka tali ini, aku tidak akan berbuat apapun padamu."
"Kakak janji?" Elena menyodorkan jari kelingking di hadapan Merrik.
"Bagaimana aku bisa memberikan tangan ku jika masih terikat." Protesnya.
"Yang aku ikat pergelangan tangan Kakak, Kakak masih bisa menjulurkan jari kelingking Kakak untuk berjanji!" ujar Elena.
'Dasar ABG! Janji saja pakai jari.' Ejek Merrik dalam hati.
"Ini." Merrik tetap menjulurkan jari kelingkingnya pada Elena agar ikatannya cepat di bukakan.
Elena berlutut dan mengaitkan jari mereka, setelah itu membuka tali rafia tersebut, agak sulit dia membukanya, dia mengigit bibir bawahnya karena kesal talinya tidak kunjung terlepas. Gerakan tersebut tidak luput dari penglihatan Merrik, hingga ikatan tali tersebut lepas. Merrik mendekatkan dirinya dan Cup, dia mencium sekilas bibir Elena. Elena reflek mundur dan terduduk di lantai. "Apa yang Kakak lakukan?"
Bersambung...
Ini Novel on going, yang akan di up sehari sekali karena saat ini otor sedang tahap menyelesaikan karya otor yg berjudul Samudra Nayna 😊 namun diusahakan untuk up lebih.
Bagi yang belum baca SAMUDRA NAYNA boleh diintip dulu, ceritanya oke punya loh 😁
Jangan lupa untuk like, love n komentarnya yach 😊😊😊 karena dukungan kalian sangat berarti untuk author
Salam Age Nairie 🥰😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Nurma sari Sari
mampir
2023-03-20
1
Beast Writer
tapi rafia
2022-05-24
1
Ara Hasyim
semoga ap yg dipikirkn merrick terhdp Alena salah,tdk semua org miskin gila harta n tdk semua orkay baik n setia
2022-04-28
2