Merrik tidak habis pikir, Ayahnya masih saja meminta dirinya untuk menerima Rose sebagai Ibunya. Jelas-jelas ia sangat membenci Rose. Dulu, sudah sangat lama, Merrik begitu menyayangi Rose, dia dirawat dari bayi oleh Rose, sepanjang itu Rose selalu tampil bak malaikat. Malaikat berhati iblis, menyamar dengan sangat baik untuk memanipulasi sasarannya.
Merrik mengakui Ibunya sibuk bekerja, bukan berarti kesibukan Ibunya di jadikan kesempatan untuk Ayahnya berselingkuh dengan baby sitter. Mencari celah dalam alasan kesibukan suami istri tersebut dan menghancurkan keluarganya. Meraih kekayaan dengan menggoda suami orang. Orang miskin yang memiliki mental rendahan, menghalalkan segala cara untuk menaikan status. Itulah banyangan Merrik tentang Rose, orang-orang munafik untuk mencapai tujuannya.
Merrik terus mengendarai mobilnya, ia melaju dengan kecepatan tinggi. Dia menuju apartemennya, pertemuan dengan Ayahnya membuat suasana hatinya menjadi buruk. Saat sampai di apartemen, dia melihat Elena sedang berada di dalam dapur, menyiapkan makan malam mereka. Melihat kecerian Elena saat memasak, tampak begitu lepas tanpa beban.
Ingin sekali ia kembali ke masa lalu, seandainya waktu bisa di putar, ingin sekali dia kembali ke masa kecil yang hidup tanpa beban, ingin rasanya meminta Ibunya berhenti bekerja agar dia tidak perlu diurus oleh baby sitter yang menghancurkan keluarganya. Namun, sayang waktu tidak bisa di putar. Belasan tahun sudah Merrik memendam kebencian di hatinya. Kebencian yang sudah sangat mengakar.
Merrik mendekati Elena, memeluknya dari belakang mengingat kembali perkataan Ayahnya bahwa kebaikan seseorang tidak di lihat dari kaya atau miskin. Apakah Elena tulus padanya? Atau sama dengan Rose? Kebaikan seseorang bisa berubah dikarenakan sebuah silaunya kemewahan.
"Kakak sudah pulang?" tanya Elena saat mengetahui Merrik memeluknya tiba-tiba.
"Ya. Elena, seandainya aku tidak punya pekerjaan apakah kamu akan meninggalkan ku?" tanya Merrik.
"Kakak kenapa bertanya seperti itu? Apa Kakak di PHK? Apa karena aku jadi di PHK?" Beruntun pertanyaan keluar dari mulut Elena. Dia berbalik untuk menghadap Merrik.
"Tidak, aku hanya bertanya."
"Syukur lah," ucap Elena disertai dengan mengelus dada.
"Kamu takut aku tidak punya pekerjaan?" tanya Merrik.
Apakah kamu takut aku jatuh miskin dan tidak bisa memenuhi kebutuhanmu?
"Bukan begitu, aku hanya merasa bersalah kalau kamu di pecat gara-gara aku. Kamu pernah ijin mengantarku daftar kuliah, kemarin juga kamu mengajakku dinas, takutnya bos Kakak marah terus pecat Kakak."
"Hanya ada pengurangan pekerja, sebagian akan di berhentikan. Kemungkinan aku juga kena." Merrik memberi alasan, dia ingin tau reaksi Elena.
"Oh, kalau memang sudah tidak ada rejeki di sana mau diapakan lagi, ya kita tinggal berusaha mencari jalan rejeki lagi."
"Kamu keberatan tidak jika aku pengangguran?" ucap Merrik dengan menaikan alis kanannya.
"Tentu saja tidak! Tapi jangan kelamaan juga nganggur nya."
"Itu sama saja kamu keberatan."
"Berbeda donk Kak, kita 'kan masih muda dan sehat. Jika memang dipecat ya kita harus terus melangkah. Kita bisa cari kerja lain, kalau memang sudah mencari kerja tidak dapat juga, yah kita usaha saja. Kita bisa buka warung Kak, aku akan buat kue, Kakak bisa membantuku menggoreng bakwan dan bikin kopi pembeli."
"Warung kopi? Aku jaga warung kopi?" tanya Merrik menahan tawa.
"Yang penting 'kan halal. Tapi jika itu terjadi kita harus pindah dari apartemen ini Kak, kita cari kontrakan yang lebih murah."
"Pikiranmu terlalu panjang, aku hanya bertanya kamu keberatan tidak aku pengangguran. Ini malah membuat rencana kedepannya."
"Hidup itu memang harus punya rencana. Oh ya, hari ini aku sudah apply surat lamaran kerja mudah-mudahan di panggil yah Kak. Jika aku bekerja, aku bisa sedikit membantu perekonomian keluarga kita."
"Ternyata kamu banyak bicara yah! Aku kira kamu pendiam, selama ini tidak pernah banyak bicara seperti tadi."
"Itu, karena aku takut pada Kakak."
"Takut kenapa?" tanya Merrik.
"Takut saja, kadang tatapan Kakak membuatku takut. Jika aku tidak takut, saat kita berada di hutan, aku akan bilang pada warga jika Kakak benar mencoba menodaiku."
"Sekarang masih takut?" tanya Merrik.
"Tidak."
"Kenapa?"
Elena memeluk Merrik. "Aku senang kita bertemu, aku senang memiliki Kakak sebagai suamiku. Kakak sangat baik padaku. Aku menyukaimu Kak."
'Apa sudah saatnya aku melepasmu? Tidak, aku belum bosan padamu.' batin Merrik.
...*********...
Dua minggu berlalu begitu cepat, masih sama seperti biasa, Merrik begitu tampak perhatian pada Elena, semakin jadi juga fantasi Merrik pada Elena, sehari bisa dua, tiga kali mereka memadu kasih, pagi, sore dan malam. Merrik semakin banyak membeli beragam pakaian dinas untuk Elena.
Elena menghampiri Merrik yang sedang mengecek dokumen di laptopnya. "Kak, bisa aku bicara?" tanya Elena.
Merrik mendongakkan kepalanya menatap Elena, ada raut keseriusan diwajahnya. "Ya, tentu."
Elena menyodorkan selembar kertas HVS lengkap dengan ketikan komputer di atasnya. Merrik menerima kertas tersebut. Dahinya terlipat setelah membaca isi kertas tersebut. Melihat judul atasnya saja sudah membuat Merrik tidak suka. "Perjanjian pernikahan!" gumam Merrik membaca judul di kertas HVS.
"Iya, cepat Kakak tandatangani!" ujar Elena.
Dia sudah berani memerintahku.
"Atas dasar apa aku harus tanda tangan?"
"Tentu saja untuk keharmonisan kita!" jawab Elena.
"Satu, melakukan hubungan suami istri seminggu sekali. Dua, menolak menggunakan pakaian aneh." Merrik membacakan pasal yang terdapat di kertas tersebut. "Siapa yang diuntungkan?"
"Minggu depan aku sudah mulai kuliah, kalau setiap hari kita melakukan itu, bisa-bisa akan mengganggu kuliahku. Aku akan kelelahan setiap habis melakukan itu, terlebih Kakak suka memintaku menggunakan pakaian aneh yang sulit di gunakan." ucap Elena cemberut.
Merrik menarik tangan Elena dan memangkunya. "Aku bisa menyanggupi pasal kedua, tapi tidak pasal pertama, aku keberatan kalau seminggu sekali, mungkin bisa mengurangi frekuensi-nya jadi sekali sehari."
Elena mengambil pulpen dan mencoret pasal kedua mengganti menjadi sehari sekali. "Sudah, ayo Kakak tanda tangan." Elena memberi pulpen pada Merrik.
Merrik membubuhi tandatangan dan menulis tanggal di bawah tanda tangannya. Setelah itu, tangannya menyusup ke dalam rok yang digunakan Elena. Elena menghentikannya "Kakak sedang apa? Bukannya sudah ada perjanjian sehari sekali, hari ini sudah dua kali kalau Kakak lupa!"
"Kamu lihat lagi surat perjanjiannya, aku menulis tanggal untuk dua hari ke depan, artinya perjanjian belum dimulai!" Merrik langsung mengangkat Elena dan meletakan di atas meja. "Kita lakukan di sini yah."
"Kak, Merrik!" Teriakan Elena perlahan hilang tenggelam dalam kesibukan mereka.
...**********...
Dua hari kemudian, Merrik terburu pulang setelah mendapat telepon dari Elena yang bilang bahwa dia sakit. Ada kekhawatiran di wajah Merrik saat mendengar Elena sakit.
Merrik masuk ke dalam apartemen, Elena yang mendengar pintu terbuka langsung keluar dari kamar tidur dan menghampiri Merrik yang baru saja tiba di ruang tamu, dengan wajah yang serius bercampur senang Elena berkata, "Kak, A—ku hamil!" ucap Elena terbata.
"Apa?"
'Bagaimana bisa?' batin Merrik.
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
Jangan lupa 👍 ❤️ 🌹
Ditunggu juga saran dan kritik nya yach 🙏🙏
Terimakasih 🥰🥰
Salam Age Nairie 🥰🥰🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Nurafni Zalfaalituhayu
mau nya enak doang tuh laki2 apa nga mikir apa perasaan wanita .....dah sepah di buang ...bucin baru nyaho
2023-07-24
1
nur komala
hamil???
2022-05-16
1
Ekawati Hani
Tulisannya rapih, ceritanya bagus, aku suka. tapi masih sepi ya, klo bisa mnt bantu ke teman sesama author yang novelnya bnyk pembaca nya buat di promoin pas mereka up☺️🙏
tadi aku udah baca dari FB sampe Bab 13, penasaran lanjutannya jd langsung cuss ke sini😁 sebel sm merrik memanfaatkan kepolosan Alena😂
2022-04-19
13