...Happy reading 🥰...
...Seperti biasa Age mau ingetin untuk dukung Age dengan cara like, masukan ke daftar favorit, bintang 5, vote , gift dan komentar ya 😊...
...Mohon maaf jika banyak maunya, karena satu like saja sangat berarti 😊...
...Terima Kasih 🥰🥰🥰...
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
Di kota lain, ada sepasang paruh baya yang hidupnya selalu di selimuti kesedihan. "Honey, makanlah, kesehatanmu akan memburuk jika seperti ini!" ucap Steven lelaki paruh baya dengan wajah blasteran bermata hijau.
"Ini sudah belasan tahun, Eleanor belum juga di temukan, aku gagal sebagai seorang ibu yang tidak bisa menjaga anaknya sendiri!" ucap Amel mulai meneteskan air matanya.
"Ini bukan salahmu, ini adalah musibah. Aku akan terus mencari anak kita."
"Yang menculik sudah tidak bernyawa, bagaimana kita menemukan anak kita? Kalau Eleanor masih hidup, bagaimana nasibnya? Apakah hidup dengan baik? Aku tidak bisa membayangkan jika anak kita hidup menderita!" ucap Amel berlinang air mata.
"Apa kamu lihat selama ini aku diam saja? Aku masih mencari putri kita! Aku akan berusaha menemukan anak kita." Steven memeluk Amel untuk menenangkannya. Mereka saling berpegangan tangan, saling menguatkan satu sama lain. Amel dan Steven, orang tua kandung Elena.
Elena memiliki nama asli Eleanor. Dia adalah korban penculikan yang di selamatkan oleh seorang Nenek. Nenek tersebut memberi nama Elena karena di kalungnya menggunakan simbol huruf E. Sampai saat ini, orang tua Elena masih mencarinya.
***
Merrik tiba di kantor nya. Dion masuk dalam ruangannya. "Ini Bos, barang yang kamu mau." Dion menyodorkan sebuah ponsel terbaru pada Merrik.
"Oke." Merrik menerimanya, dia membelikan ponsel untuk Elena.
"Maaf, bisakah aku bicara menggunakan mode teman?" ujar Dion.
"Sepuluh menit!" ucap Merrik.
"Siapa gadis remaja yang tinggal bersamamu?" tanya Dion penasaran.
"Gadisku!" jawab Merrik.
"Pacarmu? Secepat itu kau melupakan Clara? Tinggal bersama lagi."
"Memang kenapa kalau tinggal bersama?"
"Kalian 'kan belum menikah!"
"Bukan urusanmu! cepat ke mode kerja lagi!"
"Baik, Bos!"
Merrik tidak ingin membicarakan lebih jauh lagi tentang Elena, apalagi harus bilang mereka telah menikah.
"Oh ya bos, kita harus ke kota B untuk melihat langsung peresmian cabang perusahaan di sana."
"Kau atur jadwalnya." Dion meninggalkan ruangan Merrik. Pukul 11.00 Merrik meninggalkan kantor dan menuju ke apartemen. "Kamu sudah siap?" tanya Merrik.
"Iya," jawab Elena.
Mereka pergi ke kampus di mana Merrik kuliah. "Aku daftar di sini, Kak?" ucap Elena melebarkan matanya, dia tidak menyangka akan di daftarkan di tempat yang Elena ketahui biayanya mahal.
"Iya, kamu kuliah di sini saja, biar dekat dengan apartemen."
Mereka melakukan pendaftaran, setelah itu Merrik mengajak Elena makan siang di sebuah restoran perancis. "Kak, kenapa makan di sini? Tempatnya bagus sekali, pasti mahal."
"Tenang saja, aku dapat bonus hari ini. Anggap saja kita sedang merayakan."
"Baik."
"Pesan saja apapun yang kamu mau."
Elena membuka buku menu. Namun, dia hanya terdiam. "Kenapa diam? Aku meminta-mu memilih makanan."
"Aku tidak tau, makanan apa ini semua? Lebih baik, Kakak yang pesan."
Merrik hanya tersenyum, dia lupa bila banyak hal yang belum pernah di lakukan oleh Elena. Akhirnya dia yang memilih makanannya. Mereka kembali ke apartemen setelah makan siang.
"Kakak mau kembali lagi ke kantor?" tanya Elena saat mereka baru saja tiba di apartemen.
"Ini untukmu." Merrik memberikan ponsel pada Elena.
"Pon—sel?" Ponsel adalah barang mewah bagi Elena, di desa dia tidak membutuhkan ponsel, terlebih rumahnya tidak terjangkau signal.
"Iya, agar lebih mudah berkomunikasi, aku sudah memasukan nomor ku di sana."
"Kakak tidak usah menghabiskan uang seperti ini, pasti mahal 'kan."
"Kamu tidak suka?"
"Bukan begitu, aku hanya tidak enak saja, Kakak sudah bekerja keras malah di habiskan untukku."
"Tidak masalah, ini tidak sebanding dengan apa yang telah ku dapatkan!" ucap Merrik penuh makna.
"Maksud Kakak, Kakak bersyukur aku menjadi istrimu?" Elena menyinggung kan senyum manis di tambah dengan indahnya lesung pipinya.
"Iya, aku senang memiliki mu!" Merrik mendorong Elena dan menggiringnya ke kasur. "Kakak tidak kembali ke kantor?"
"Tidak, aku sudah izin setengah hari."
Merrik begitu tergoda dengan Elena, mereka berperan seperti pengantin baru pada umumnya, yang masih ingin menjelajah bagian tubuh pasangannya. Mereka melakukan hingga hari sudah gelap. Mereka masih asik berpelukan di atas ranjang.
"Besok ikut aku ke kota B yah. Aku ada tugas di sana. Kamu juga belum masuk kuliah."
"Aku ikut Kakak kerja? Apa boleh?"
"Nanti di sediakan hotel, hotelnya cukup mewah. Sayang kalau hanya aku yang menikmati kemewahan hotel itu, lebih baik kamu ikut denganku."
"Aku mau, aku mau. Tidak pernah menginap di hotel." Elena begitu senang, Merrik begitu perhatian padanya, bahkan dinas kerja pun dia di ajak, yang tidak Elena ketahui bahwa dirinya juga harus dinas di sana. Dinas memuaskan hasrat Merrik.
Mereka berangkat ke kota B, Elena sangat terpukau dengan interior hotel. Merrik sengaja datang satu hari sebelum peresmian cabang perusahaan. Dia berencana mengabiskan satu hari penuh bersama Elena. "Wah, bagus sekali Kak, hotelnya." ucap Elena saat sudah di dalam kamar, berkeliling melihat isi kamar.
"Kamu suka?"
"Suka." Elena membuka buku informasi yang ada di meja, melihat fasilitas apa saja yang ada di hotel tersebut. "Ada kolam juga, Kak."
"Kamu mau berenang?" tanya Merrik.
"Apa boleh? Aku belum pernah berenang di kolam renang."
"Tidak! Nanti saja, kita pesan hotel yang ada private pool." Merrik tidak akan membiarkan pria lain melihat tubuh Elena.
Elena tertunduk kecewa, tetapi dia tidak berani protes. Mimik wajah kecewa Elena tidak luput dari pandangan Merrik. Dia menarik Elena ke dalam pelukannya. "Aku hanya tidak ingin kamu di lihat pria lain. Aku janji setelah pekerjaanku selesai, kita akan pergi bulan madu. Kita cari yang ada private pool-nya "
'Sial! Kenapa mulut ini tidak bisa di kontrol!' ejek batin Merrik.
Elena tersenyum, dia bahagia mendengar perkataan Merrik. "Aku ikut kata Kakak saja." Elena mempererat pelukannya.
"Ya sudah, kita coba bathtub dulu saja," ujar Merrik.
Setelah Elena melakukan dinas dalam artian khusus. Merrik membawanya berjalan-jalan di alun-alun kota, tempat wisata yang sering di kunjungi oleh wisatawan. "Kak, aku mau es krim." Elena sudah tidak segan meminta pada Merrik.
Merrik melihat tukang Es krim yang ramai pembeli. "Terlalu ramai di sana, duduk saja dulu di sini, biar aku yang beli." Merrik meninggalkan Elena. Elena menunggu Merrik di bangku pinggir jalan.
Saat Elena menunggu Merrik, ada seorang ibu yang melewatinya dan menjatuhkan dompetnya. Elena membantu mengambilnya dan memanggil ibu tersebut. "Maaf, dompet Anda jatuh."
Wanita paruh baya tersebut menoleh saat ada yang memanggilnya. Dia berbalik dan menatap Elena tanpa suara.
Bersambung...
Salam Age Nairie 🥰🥰🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
EBI
ibunya
2023-04-04
1
Arin
semoga dan semoga itu orng tua Alena amiin??
2022-08-06
1
Kod Driyah
kayany ibu Amel smga bs bertemu dngn Elina
2022-07-20
1