Hati Elena menghangat dengan perhatian Merrik, dia mengambil satu butir dan menelan pil KB yang di anggapnya vitamin. Merrik yang melihatnya meminum pil tersebut merasakan sesuatu yang tidak nyaman di hatinya. Namun, dia mengabaikan hal itu, tekadnya sudah kuat untuk tidak melibatkan hati dalam hubungannya dengan Elena.
Setelah meminum obatnya, Elena mengambil satu butir lagi. Dia memberikan pada Merrik. "Kakak juga harus meminum vitaminnya. Biar kita sama-sama sehat." Elena menyodorkan pil KB tersebut.
"Tidak, aku tidak butuh vitamin!" tolak Merrik mendorong tangan Elena yang menyodorkan pil KB.
"Jangan seperti itu Kak, aku merasa tidak enak jika hanya aku yang meminum vitamin ini." Elena menyodorkan lagi pil KB itu, dia mulai berani berdekatan dengan Merrik, dia menyodorkan tangan yang memegang pil KB hingga menyentuh bibir Merrik. Merrik panik, dia menahan tangan Elena sebelum pil tersebut masuk ke dalam mulutnya, berpikir untuk mencari alasan. "Baik, aku akan meminumnya tapi setelah ini kita tidak jadi belanja, yah?" ucap Merrik.
"Kenapa?" tanya Elena bingung.
Merrik mendekatkan bibirnya ke telinga Elena dan berbisik. "Vitamin ini, jika di minum laki-laki akan meningkatkan gairah. Jadi, aku akan langsung menggendongmu dan mengulang apa yang sudah kita lakukan semalam."
Elena langsung mendorong Merrik, dia langsung memasukan pil KB tersebut ke botolnya. "Kalau begitu biar aku saja yang meminumnya!" Elena menyeringitkan dahinya. "Tapi apa ini juga berlaku untuk perempuan? Apa juga akan meningkatkan gairah perempuan?" tanya Elena yang sudah mulai nyaman berbicara dengan Merrik.
"Tidak, jika di minum perempuan hanya membuat badan tidak mudah sakit. Jika tidak mudah sakit maka tidak akan mudah kelelahan saat di ranjang." Merrik mensejajarkan wajahnya ke depan wajah Elena, menatap lekat wajah indah itu, Merrik menikmati setiap perubahan mimik Elena. Tanpa sadar di mencium sekilas bibir Elena.
Elena langsung mendorong Merrik. "Kakak tidak perlu vitamin apapun! Tidak minum saja sudah mesum!" Kesal Elena.
Merrik terkekeh melihat Elena yang dalam mode ngambek, Elena sudah sangat nyaman bersama Merrik. Tidak butuh lama untuk menjadikan Elena seutuhnya milik Merrik. Gadis remaja yang tidak berpengalaman sangat mudah masuk dalam rayuan pria yang hanya memberikan sedikit perhatian. Tidak dapat membedakan apakah pria tersebut domba atau serigala.
Mereka keluar unit apartemen, sudah ada mobil minibus terparkir, Merrik sudah meminta mobil minibus biasa untuknya berkendara. "Ini mobil Kakak?" tanya Elena.
"Iya, masih kredit. Tidak sebagus mobil Dion juga." Merrik membukakan pintu penumpang depan untuk Elena. Mereka masuk ke dalam mobil.
"Cicilannya berapa Kak? Berapa tahun selesainya?" tanya Elena penasaran.
"Empat juta, masih dua tahun lagi baru lunas."
"Wah, mahal juga. Bagaimana dengan mobil Kak Dion yah Kak? Pasti cicilannya lebih mahal, mobilnya bagus banget!"
'Sifat matre-mu mulai terlihat!' batin Merrik.
"Kamu keberatan aku hanya punya mobil ini?" tanya Merrik.
Elena mengangkat kedua tangannya. "Tidak, tidak, aku tidak keberatan. Ini sudah sangat bagus untukku."
"Baguslah kalau kamu tidak keberatan." Merrik fokus kembali berkendara.
"Kakak satu kantor dengan Kak Dion? Apa Kak Dion atasan Kakak?" Elena bertanya dua pertanyaan sekaligus.
Merrik jengah karena Elena bertanya tentang Dion. Dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan. "Kenapa kamu membahas Dion dari tadi? Kamu menyesal menikah denganku? Menyesal karena Dion lebih kaya dariku?" ucap Merrik dengan nada tinggi. Sepertinya Elena sudah mulai menampakan sifat aslinya, itulah yang ada di pikiran Merrik, wanita ini akan mencari pria yang lebih kaya.
"Tidak!" jawab Elena.
"Jadi kamu tidak menyesal menikah denganku?" tanya Merrik.
"Menyesal ... karena pernikahan kita di awali dengan yang tidak baik!" ucap Elena menundukkan kepalanya.
"Waktu itu aku mabuk, hingga hampir menodaimu! Tapi jika aku tidak seperti itu mungkin kita tidak saling kenal sekarang. Apa kamu menyesal mengenalku?"
"Tidak!" ucap Elena tegas, dia terbayang saat Merrik memberinya vitamin, bagaimana cara Merrik perhatian padanya, dia yakin Merrik akan menjadi suami yang baik.
"Kalau begitu buktikan kalau kamu tidak menyesal."
"Buktikan? Bagaimana caranya?" tanya Elena.
"Cium aku!" ucap Merrik.
"Ih, Kakak mesum! Ayo kita jalan lagi!"
Merrik tidak menjalankan mobilnya, dia menghadapkan wajahnya ke Elena. "Aku tidak mau menjalankan mobil sebelum kamu membuktikannya!"
Elena menggigit bibirnya setelah itu dia mencium Merrik sekilas, Merrik menjalankan mobilnya kembali sambil tersenyum.
Mereka sampai di Mall. "Kita dimana?" tanya Elena.
"Mall," jawab Merrik.
"Mall? Aku pikir kita akan ke pasar."
"Sudah di sini saja." Merrik menggandeng Elena masuk ke dalam Mall. Saat akan naik eskalator, Elena berhenti. "Kenapa berhenti?" tanya Merrik.
"Aku belum pernah naik eskalator, Kak? Aku hanya pernah melihatnya di tv," ucap Elena jujur.
Merrik meraih pinggang Elena. "Tidak perlu takut, aku akan menjagamu. Ikuti saja aku. Setelah aku beri aba-aba baru kamu melangkah." Elena hanya menganggukkan kepala, mereka naik eskalator dengan tangan Merrik masih setia di pinggang Elena. Bertambah lagi penilaian positif untuk Merrik. Elena merasa beruntung punya suami perhatian seperti Merrik.
"Kita cari makan dulu, ya! Dari pagi belum makan, 'kan." Merrik membawa Elena ke food court, memilih makanan cepat saji. Setelah itu Merrik membawa Elena ke tempat pakaian wanita, lengkap dari pakaian luar hingga pakaian dalam. Merrik membawa Elena ketempat yang harganya standart bukan membawa nya ke tempat yang mahal.
Merrik mulai memilih pakaian yang akan di pakai oleh Elena. Dia memilih jenis model baby doll berwarna peach. Elena masuk ke ruang ganti untuk mencoba pakaian yang di pilih Merrik.
Selagi Elena mencoba pakaian nya, Merrik keliling untuk memilih pakaian lain untuk Elena. Matanya tertarik pada jejeran lingerie, dia mengambil tujuh set sekaligus dengan pikiran kotor di kepalanya.
Elena keluar dari ruang ganti, Merrik tidak mengedipkan matanya melihat Elena, pakaian seharga enam ratus ribu saja sudah membuatnya terlihat sangat cantik. "Kak ..." Panggil Elena.
"Ha?"
"Kenapa bengong?"
"Tidak apa, kamu cantik."
Elena tersenyum. "Terima kasih, tapi Kak, kita jangan beli di sini!"
"Kenapa?" tanya Merrik.
'Apa kamu kecewa aku membawamu bukan ke tempat yang mahal?' batin Merrik.
"Ini terlalu mahal, harganya enam ratus ribu. Kalau di pasar bisa dapat selusin, Kak."
"Tidak apa, aku masih bisa membayarnya. Aku akan bekerja lebih giat lagi."
"Tapi sayang uangnya, tidak mungkin aku hanya membeli satu baju, memang tidak ganti pakaian? Kakak juga harus membayar sewa apartemen dan juga cicilan mobil."
"Tidak apa, aku sungguh masih bisa membayarnya. Sebentar lagi bonus akan turun jadi kita tidak akan kekurangan uang."
"Jangan, kita harus menghemat, Kita 'kan juga belum mendaftarkan resmi pernikahan kita? Mengurus dokumen juga butuh dana. Lebih baik kita hemat uang Kakak."
'Apa? Dia berniat untuk mendaftarkan resmi pernikahan?' batin Merrik.
Bersambung....
Jangan lupa untuk like, love, vote n gift jika berkenan, 🙏
Age Nairie mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan, mohon maaf lahir dan batin 🙏
Salam Age Nairie 🥰 🥰🥰🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Nurma sari Sari
nah Lo Merrick mulai panik, pintar kamu Alena.
2023-03-20
1
Kiηg__ᴰ
kasian alena, mana masih muda punya suami full jap full palsu🥱 mungkin merrik belum menyadari kebucinannya. Otak dan hatinya sedang tidak singkron, otaknya mikir dan beranggapan kalau elena cuma ngejer harta, sementara sikapnya secara impulsif mengikuti hati
2022-06-12
1
nur komala
merrik awal kebucinanmu
2022-05-16
1