"Mas Nio" panggil bi Inah dari lantai bawah.
"Ada apa bi?" Tanya Nio sembari melangkah menuju balkon yang ada di dalam rumahnya.
"Ini ada teman mas Nio datang." Jawab wanita paruh baya yang kala itu masih berdiri di lantai dasar rumahnya.
"Siapa?" Nio pun mulai mengernyitkan dahinya.
"Hai Nio." Sapa seseorang yang akhirnya muncul dari balik tangga.
Ya, seseorang itu ialah seorang wanita cantik yang tak lain ialah Sonia. Dengan sebuah senyumannya yang menawan ia pun melambaikan tangannya ke arah Nio. Membuat seketika mata Nio jadi membulat sempurna melihat kehadiran Sonia kembali ke rumahnya.
"Sonia?!" Ucap Nio yang akhirnya mulai melangkah menuruni anak tangga.
"Saya permisi dulu mas, mba." Ucap bi Inah dengan sebuah senyuman ranumnya.
Nio dan Sonia pun mengangguk serentak.
"Kenapa kamu datang kesini?" Tanya Nio sedikit berbisik sembari melirik singkat ke arah kamar Rena.
"Tidak ada, hanya saja aku sedang merindukan mu." Jawab Sonia yang semakin melebarkan senyumannya sembari mulai merangkul lengan kokoh Nio.
"Tapi kan bisa bertemu di kampus, kenapa harus kesini??!"
"Bertemu di kampus bagaimana? Bukankah sudah beberapa hari ini kamu tidak ke kampus?"
"Iya, aku memang sedang sakit." Jawab Nio kemudian.
"Jadi kamu sungguh sakit?" Sonia pun nampak mulai cemas sehingga langsung menempelkan telapak tangannya pada dahi Nio yang saat itu memang masih terasa hangat.
"Astaga, badanmu masih terasa hangat, lalu kenapa kamu malah berdiri disini ha? Ayo ku antar kamu masuk ke kamar." Sonia pun langsung menarik tangan Nio begitu saja dan membawanya kembali menaiki anak tangga.
"Ta, tapi Sonia, sebaiknya kamu..."
"Sudah lah, aku ingin merawatmu. Suhu tubuhmu benar-benar panas, biarkan aku mengompresnya." Ucap Sonia yang terus menarik tangan Nio hingga akhirnya tiba lah mereka di dalam kamar.
"Tunggu sebentar ya." Ucap Sonia setelah membantu membaringkan Nio di kasurnya.
"Kamu mau apa?"
"Aku mau turun ke bawah, mau meminta bibi untuk menyediakan air kompresan." Jelas Sonia yang kemudian langsung beranjak pergi.
Akhirnya Nio pun memilih hanya diam sembari memandangi kepergian Sonia. Namun hanya beberapa menit saja menunggu, kini Sonia sudah kembali dengan membawa sebuah wadah beserta handuk kecil.
Ia pun duduk di tepi ranjang, dan mulai menempelkan handuk yang sudah direndamnya dengan air dingin ke atas dahi Nio.
"Terima kasih." Ucap Nio pelan.
"Astaga, tidak perlu berterima kasih padaku. Karena sudah sewajarnya aku begitu kan? Sudah sewajarnya aku memperhatikan kekasih hatiku tercinta yang sedang sakit." Jawab Sonia dengan begitu percaya diri sembari terus membelai lembut pipi Nio.
Namun lain halnya dengan Nio yang mendengarnya, seketika matanya membulat, diiringi pula dengan dahinya yang mulai mengkerut saat mendengar ucapan Sonia.
"Kekasih?!"
"Iya, bukankah sejak kamu memanggilku datang ke rumah mu malam itu, sejak kita melakukan hubungan ranjang lagi, maka sejak saat itu bukankah kita sudah resmi berpacaran?" Jawab Sonia dengan penuh percaya diri.
Membuat Nio yang tadinya berbaring, seketika langsung bangkit dari tidurnya, ia terduduk di hadapan Sonia yang saat itu juga masih terduduk di tepi ranjang.
"Sonia, emm sebelumnya aku sungguh minta maaf padamu karena...."
"Karena apa Nio? Sudah lah, tidak perlu ada kata maaf lagi. Yang jelas sekarang, kita sudah menjadi dua orang yang saling membutuhkan dan ketergantungan satu sama lain. Benar begitu kan?" Sonia masih tersenyum saat menatap lekat ke arah Nio.
"Bu,, bukan itu maksudku."
"Lalu?" Tanya Sonia dengan dahinya yang mulai mengkerut.
"Begini, emm aku, aku sungguh minta maaf Sonia. Ta,, tapi sebenarnya aku, aku sama sekali tidak..." Sejenak perkataan Nio terhenti sembari ia mulai menatap lekat ke arah mata Sonia.
"Tidak apa?" Senyuman lebar Sonia pun perlahan mulai menipis.
"Sebenarnya aku... aku tidak memiliki perasaan apapun padamu Sonia." Jelas Nio dengan nada begitu pelan.
"Maksudmu??!!" Sonia pun membulatkan matanya yang seketika terlihat mulai berkaca-kaca.
"Iya Sonia, karena itu aku sungguh meminta maaf, tapi aku memang tidak memiliki perasaan apapun padamu, apalagi sampai menganggap kamu sebagai kekasihku." Jelas Nio lagi.
Hal itu pun membuat Sonia semakin terlihat sedih hingga cairan bening yang sejak tadi tertahan dimatanya, kini mulai menetes begitu saja melewati pipinya.
"Tapi kenapa? Kenapa kamu sanggup melakukan hubungan ranjang untuk pertama kalinya denganku jika sama sekali tidak ada perasaan ha? Kenapa? Bahkan kita pun sudah melakukannya lebih dari sekali. Kenapa Nio?!" Tangisan Sonia pun semakin pecah dengan di barengi oleh suaranya yang juga mulai meninggi.
"Maka dari itu aku meminta maaf untuk hal itu Sonia. Tolong juga mengerti lah, di waktu pertama kita melakukannya bukankah itu bisa terjadi karena kamu yang memaksaku? Tapi itu tetap salahku karena aku juga mabuk saat itu hingga mudah tergoda denganmu, sekali lagi aku meminta maaf." Kini Nio pun mulai menundukkan kepalanya di hadapan Sonia.
"Kamu jahat Nio! Apa, apa sulitnya untuk menyukaiku? Disaat hampir semua lelaki begitu memuji dan memujaku, kenapa kamu tidak bisa seperti itu juga?!" Sonia yang masih tak terima pun semakin meninggikan suaranya sembari meraih kerah baju Nio dan mengguncang-guncangkan tubuhnya.
"Maaf, tapi sudah ada wanita lain yang aku suka dan kagumi." Jawab Nio dengan tegas.
Membuat Sonia seketika tercengang, secara perlahan, cengkramannya yang begitu kuat pada kerah baju Nio pun terlepas, Sonia begitu shock hingga akhirnya menampar sebelah pipi Nio begitu saja.
"Dasar brengsek!" Ketus Sonia saat selesai menampar keras pipi Nio.
Saat itu seketika Sonia pun langsung bangkit dari duduknya sembari menatap Nio begitu tajam.
"Maaf." Ucap Nio lagi yang ikut bangkit.
"Diam kau brengsek!!" Sonia sekali lagi menampar keras pipi Nio.
Saat itu Nio hanya terdiam dan sama sekali tak punya rencana ingin membalas tamparan itu.
"Aku tidak mau mendengar suaramu lagi!" Sonia pun semakin menangis dan seketika langsung berlari keluar dari kamar Nio begitu saja.
"Kau kejam Nio!! Kau kejam!!!" Ucapnya lagi sembari terus berlari dan menangis tersedu-sedu.
Nio pun bergegas mengejar Sonia, bermaksud ingin menenangkannya, Nio tak ingin Sonia pergi dalam keadaan suasana hati yang buruk.
"Sonia tunggu!" Pekik Nio sembari menuruni anak tangga dengan langkah cepat.
Namun Sonia terus saja berlari pelan tanpa menoleh sedikit pun ke arah Nio sembari terus mengusap air matanya, hingga tanpa ia sadar, saat berada di lantai dasar, ia pun menabrak Rena yang saat itu baru muncul dari balik tangga.
"Aaww!!" Pekik Rena spontan.
"Maaf tante, aku sungguh tidak sengaja." Ucap Sonia sembari kembali menyeka air matanya.
"Sonia, kamu kenapa? Kenapa kamu menangis?" Tanya Rena yang sontak nampak cemas.
"Kamu kenapa? Apa yang terjadi?" Tanya Rena lagi yang mulai menyentuh pundak Sonia.
Sonia pun akhirnya tak kuasa lagi untuk menahan tangisannya di hadapan Rena, ia pun semakin menangis dan langsung memeluk Rena begitu saja. Setelah beberapa daat terus menangis, kini dengan perlahan Sonia mulai menjelaskan semua yang terjadi antara dia dan Nio kepada Rena tanpa ada rasa malu sedikit pun.
...Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 140 Episodes
Comments
arul.tuanaya
Ahahah slh Lo jga soniaa seharusnya tau lah itu ugly ngga ada perasaan sama Lo jdi trauma kan Udha di Ksi apa yang di mau mlh ugly basrtad ngomongnya ngga ada perasaan hhh
2024-11-13
0
Roro Sembodro
bodoh sonia hya di buat pelampiasan
2022-11-26
2
Rhesinta Saipul
wah..wah nio mimpinya jd kenyataan nich
lanjut up
2022-04-07
6