"Ah Nio,,, ayo coba lah, ini sungguh enak. Ayo buka mulutmu aaaak..."
Nio yang tak ingin berdebat akhirnya mulai pasrah, dengan sedikit ragu-ragu ia pun mulai membuka mulutnya dan membiarkan Sonia menyuapi makanan miliknya.
"Bagaimana? Enak kan?" Wajah Sonia nampak begitu sumringah saat menanyakan hal itu.
Nio pun hanya mengangguk dan kembali tersenyum tipis meski hal itu ia lakukan dengan sedikit rasa terpaksa.
"Apa kamu mau lagi? Jika mau lagi, aku bisa terus menyuapimu."
"Ah tidak-tidak! Emm tidak perlu! kita makan makanan masing-masing saja ya." Jawab Nio.
Sonia pun akhirnya patuh dan memilih untuk lanjut menghabiskan makanannya, begitu pula dengan Nio yang memang memiliki sikap cuek, ia pun lebih memilih fokus pada makanannya.
Suasana makan malam itu benar-benar membosankan bagi Nio, bagaimana tidak, Sonia dengan sikapnya yang begitu agresif terus menerus mengganggu dan seolah tak membiarkan Nio makan dengan tenang. Selalu ada saja tingkahnya yang membuat Nio jadi merasa kurang nyaman saat makan berdua dengannya.
Makan malam pun selesai, awalnya Nio ingin langsung mengantarkan Sonia pulang, karena hingga makan malam selesai pun nampaknya Nio sama sekali tidak merasakan adanya rasa ketertarikan pada Sonia walau sedikit. Yang ada justru wajah Rena yang kembali terbayang di benaknya, hingga membuatnya mulai berhalusinasi seolah Sonia yang saat itu ada di hadapannya, mendadak seolah berubah menjadi Rena.
Namun Sonia ternyata menolak untuk di antar pulang, ia pun terus menerus membujuk Nio agar mau melanjutkan malam Minggu mereka dengan nongkrong di bar. Beberapa kali terus berusaha membujuk Nio, akhirnya usaha Sonia pun membuahkan hasil dan Nio pun setuju untuk mampir ke bar. Tanpa ingin membuang lebih banyak waktu, mereka pun langsung keluar dari restoran untuk menuju ke sebuah bar ternama yang terletak di tengah kota.
Suasana bar malam itu sungguh terlihat sangat ramai akan pengunjung, hal itu sangat wajar terjadi di setiap malam weekend. Sonia pun terus menggandeng lengan Nio seolah ia begitu takut hilang di tengah kerumunan itu, namun di sisi lain, ada perasaan bangga pada dirinya saat ia berhasil menggandeng seorang Antonio pada malam itu. Ia bangga pada dirinya sendiri yang berhasil berkencan dengan seorang lelaki yang super cuek dan paling cool di kampusnya.
"Oh hai Nio, kau disini juga?" Sapa salah seorang teman kampusnya yang bernama Rey.
"Rey, kau juga disini? Apa kau sering kesini?" Tidak menjawab, Nio justru balik bertanya.
"Tidak sering, hanya seminggu sekali hehe." Jawab Rey sembari cengengesan.
"Ohhh." Nio pun hanya mengangguk pelan.
"Wah wah, aku baru menyadari, kau datang bersama Sonia ya?" Tanya Rey lagi saat melihat Sonia yang tiba-tiba saja seolah muncul dari balik punggung Nio.
"Oh hehe, iya begitu lah."
"Wah bro, berarti kau pria beruntung malam ini." Bisik Rey sembari tertawa kecil.
"Beruntung? Kenapa?" Tanya Nio yang sama sekali tak mengerti maksud dari ucapan Rey.
"Tentu saja beruntung, kita sama-sama tau hampir seluruh lelaki di kampus mendambakan sosok Sonia. Dan ternyata kau juga salah satunya ya hahaha, kukira selama ini kau memiliki selera yang berbeda dengan lelaki pada umumnya hehehe." Jelas Rey sembari terus tertawa kecil.
"Dan apa kau juga termasuk salah satu dari para lelaki itu?" Tanya Nio sembari ikut kembali tersenyum.
"Jika boleh jujur tentu saja iya hahaha, tapi sayangnya aku belum berhasil mengajaknya berkencan." Ungkap Rey lagi.
"Tapi mungkin next time Sonia akan mau berkencan denganku, bukankah begitu Sonia yang cantik?" Tambah Rey lagi yang kemudian melirik genit ke arah Sonia sembari mencolek dagunya yang terbelah indah.
"Hei jangan berani melakukan hal semacam itu lagi padaku ya!! apalagi di depan Nio!!" Ketus Sonia yang semakin mengeratkan pegangannya pada lengan Nio.
"Aku sama sekali tidak masalah, bukankah sebelumnya hal semacam itu memang sering terjadi?" Jawab Nio yang seolah bersikap acuh tak acuh karena memang ia tak memiliki perasaan apapun pada Sonia.
Wajah Sonia pun seketika berubah, yang awalnya begitu berbinar, seketika terlihat cemberut. Sementara Rey yang ingin kembali fokus menikmati irama musik DJ, pun akhirnya memilih beranjak pergi dan menjauh dari mereka.
"Baiklah bro, kalau begitu selamat menikmati kencan mu, aku mau gabung bersama temanku yang lainnya dulu." Ucap Rey.
"Oh ok baiklah." Nio pun hanya mengangguk singkat.
"Jangan lewati kesempatan emasmu saat bersamanya bro, kau akan menyesal jika tidak mencicipi rasanya hahaha." Bisik Rey lagi sembari menepuk-nepuk pundak Nio, ia tertawa begitu lebar dan kemudian pergi begitu saja.
"Apa katanya? Kenapa dia tertawa begitu keras saat berbisik sesuatu padamu?" Tanya Sonia yang terlihat cukup penasaran.
"Hmm, bukan apa-apa, lupakan saja!" Jawab Nio sembari tersenyum tipis.
"Emm baiklah, ayo kita kesana." Sonia pun menarik tangan Nio untuk mengajaknya duduk di meja bartender.
Mereka memesan masing-masing segelas cocktail lalu mulai meminumnya bersama. Hingga waktu tanpa terasa beranjak begitu cepat, kini jam telah menunjukkan pukul 01.45 dini hari. Entah berapa gelas cocktail yang sudah diminum oleh Nio demi menghilangkan pikirannya yang terus terbayang sosok calon ibu tirinya itu. Namun bukan justru lenyap, bayangan Rena terasa semakin nyata seolah ada di hadapannya.
Dengan matanya yang mulai sayu, Nio terus memandang lekat ke arah sosok Rena yang ternyata adalah Sonia. Lalu tangannya begitu saja membelai lembut pipi Sonia dan kemudian ia pun kembali tersenyum.
"Kamu sangat cantik, benar-benar wanita idamanku." Ucap Nio yang kala itu sedang berhalusinasi.
Mendengar hal itu membuat senyuman Sonia seketika merekah bak bunga mawar. Sonia pun langsung mengalungkan kedua tangannya ke leher Nio, membuat posisi mereka kini duduk berhadapan dengan jarak sangat dekat. Nio terus tersenyum, dan terus membelai lembut wajah Sonia yang masih di anggapnya sebagai Rena, lalu perlahan ibu jari Nio mulai bergerak menuju bibir Rena.
"Bibir ini, benar-benar sangat menggemaskan. Ingin sekali rasanya aku gigit." Suara Nio terdengar begitu lembut.
Sonia pun semakin dibuat tersenyum hingga membuatnya menggigit bibir bawahnya sendiri.
"Oh tidak! jangan lakukan itu di hadapanku, karena aku benar-benar tidak tahan melihatnya." Ucap Nio ketika melihat aksi Sonia yang mulai menggigiti bibirnya.
Bahkan kala itu, mata Nio yang mulai nampak sayu dan mengecil karena mabuk, terlihat terus memandangi bibir Sonia seolah sangat ingin melahapnya saat itu juga.
"Apa kamu sungguh menginginkannya?" Bisik sonia tepat di telinga Nio.
Nio pun tersenyum lebar dan kembali menatap Sonia dengan lekat.
"Apakah boleh?"
"Tentu saja! Bahkan aku akan secara suka rela memberikannya jika kamu yang memintanya." Jawab Sonia yang akhirnya perlahan mulai berdiri.
Jawaban itu pun berhasil membuat Nio jadi semakin melebarkan senyumannya.
...Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 140 Episodes
Comments
Imas Maela
mulai tergoda
2022-12-07
1
mini89
kasihan sonia😔
2022-11-15
2