"Oh ya ampun maaf Nio, ibu tidak sengaja menumpahkannya." Ucap Rena yang semakin terlihat panik sembari langsung meletakkan kembali gelas jus itu ke atas nakas.
Lalu dengan cepat Rena menarik beberapa helai tisu yang tersedia di atas nakas itu dan segera mengusapkannya ke bagian bajunya yang basah. Sementara Nio, saat itu ia justru dibuat jadi begitu tercengang sembari mulai menelan ludahnya sendiri saat memandangi bra merah Rena yang sangat jelas terlihat. Bulu kuduknya seketika mulai berdiri, di tambah pula dengan Nio juniornya yang semakin meronta-ronta seolah minta di keluarkan.
"Baik lah, kalau begitu ibu akan membuatkanmu jus yang baru ya, tunggu sebentar!" Ucap Rena lagi sembari mulai ingin bangkit dari duduknya.
Namun secara spontan Nio langsung menahan tangannya, hingga membuat Rena seketika menoleh ke arah Nio dan kembali tersenyum.
"Ada apa Nio? Apa kamu butuh sesuatu yang lain?" Tanya Rena dengan tenang.
Sejenak Nio masih terdiam dengan tatapannya yang masih begitu lekat memandang Rena.
"Aku...." Ucapnya sembari mulai mencondongkan tubuhnya ke arah Rena.
"Kenapaaa?" Rena semakin melembutkan suaranya sembari mulai menatap Nio lebih dalam lagi.
"Aku, emm aku..." Suara Nio pun terdengar semakin pelan, disertai pula dengan tubuhnya yang terlihat sudah semakin dekat jaraknya dengan Rena.
Rena pun terdiam menantikan kelanjutan kata yang ingin Nio ucapkan tanpa berfikiran negatif sedikit pun.
Namun entah setan apa yang kala itu sedang menguasai pikiran Nio, hingga akhirnya ia pun jadi semakin memberanikan dirinya, ia semakin mendekat ke arah Rena dan cuppp, seketika ia langsung mencium bibir Rena begitu saja.
Hal itu pun sontak membuat kedua mata Rena membulat sempurna, tubuhnya seolah terasa begitu kaku saat itu hingga membuatnya tak kuasa untuk bergerak. Menyadari sikap Rena yang seolah tidak berusaha untuk menolak, membuat Nio merasa jika saat itu Rena tidak keberatan dengan hal itu. Membuat Nio yang awalnya hanya ingin mencium singkat bibirnya, kini menjadi mulai memberikan lumattannn secara perlahan dan dengan gerakan begitu lembut.
Namun ciuman itu ternyata hanya berlangsung beberapa detik saja, karena Rena tiba-tiba saja tersadar, ia pun sontak langsung menolak tubuh Nio begitu saja, lalu dengan refleks menamparnya keras.
"Lancang!" Ketus Rena yang langsung bangkit begitu saja dari duduknya, sembari mulai memegangi bibirnya yang basah akibat lumattaan singkat Nio.
Nio pun terkejut, dan berusaha ingin menjelaskan sesuatu, namun saat itu Rena seolah tak ingin mendengar apapun lagi dari Nio, hingga ia memilih untuk langsung beranjak pergi begitu saja dari kamar Nio.
"Astaga, apa yang baru saja aku lakukan?" Nio pun merasa begitu menyesali perbuatannya yang memang begitu lancang dan berani mencium ibu tirinya sendiri.
Akhirnya Nio pun kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang, matanya kini mulai menerawang jauh ke awang-awang memikirkan bagaimana ia harus menjelaskan pada ayahnya jika Rena melaporkan kejadian itu pada sang ayah..
"Kenapa aku jadi begitu ceroboh begini? Kenapa susah sekali mengendalikan diriku saat berhadapan dengannya?" Gumam Nio seorang diri sembari memukul-mukul jidatnya sendiri.
Sementara Rena, saat itu ia langsung masuk ke dalam kamarnya membawa perasaan yang begitu berkecamuk. Ia duduk di tepi ranjang dengan detak jantung yang masih sangat berdegub kencang. Perasaannya saat itu benar-benar campur aduk, ada perasaan kesal saat Nio dengan begitu lancang menciumnya, namun di sisi lain, entah kenapa ciuman dan lumattan singkat yang diberikan oleh Nio, terasa begitu nikmat. Meski hanya berlangsung beberapa detik, namun lumattan bibir Nio terasa sangat mengena di hati dan pikiran Rena.
"Astaga! Apa yang aku pikirkan?! Tidak! Ini jelas sebuah kesalahan, aku harus melaporkannya pada mas Rudi!!" Gumam Rena dalam hati.
Tanpa pikir panjang, Rena pun langsung meraih ponsel yang ada di atas meja riasnya, ia berfikir untuk menghubungi suaminya saat itu juga untuk melaporkan apa yang telah Nio perbuat padanya.
"Halo sayang." Ucap Rena begitu menyadari panggilannya telah di jawab oleh sang suami.
"Ada apa Ren? Aku sangat sibuk sekarang." Jawab Rudi.
"Ta,,, tapi aku ingin memberitahumu..."
"Iya nanti saja aku telpon lagi ya, sekarang aku harus kerja dulu, ya."
"Ta,,, tapi mass.."
"Nanti, nanti aku hubungi, bye."
*Tut tut tut*
Panggilan telepon pun berakhir begitu saja, membuat Rena terdiam sembari memandangi layar ponselnya yang sudah mati. Dengan lesu, Rena pun kembali meletakkan ponselnya ke tempat semula. Ia kembali berjalan menuju ranjangnya, dan memilih untuk membaringkan dirinya disana. Tiba-tiba saja bayangan Nio saat menciumnya kembali terbayang, membuat Rena kembali meraba bibirnya yang saat itu seolah masih begitu terasa lumataan dari Nio.
Bahkan lumattan singkat itu terasa lebih nikmat dari pada saat Rudi menidurinya.
"Astaga mikir apa aku ini? Kenapa aku jadi memikirkan hal itu terus?" Gumam Rena dalam hati yang mencoba menepis segala bayangannya tentang Nio.
Di tambah lagi sang suami yang saat itu menjadi cuek dengannya karena saking sibuknya bekerja, membuat Rena kian bertambah kesepian dan merasa murung. Hingga akhirnya Rena pun kembali tertidur begitu saja, dengan membawa segala pikirannya yang sangat kalut. Namun berbeda halnya dengan Nio, saat itu ia justru tak bisa beristirahat dengan tenang karena terus memikirkan kejadian barusan. Ia jadi begitu cemas karena takut Rena akan membencinya, ia pun terus berjalan mondar mandir di dalam kamarnya untuk mencari jalan keluar bagaimana agar Rena tidak marah lagi dengannya.
Tak terasa waktu kini sudah menunjukkan pukul 15:00 sore, Nio pun akhirnya memberanikan diri untuk keluar dari kamarnya dengan maksud ingin meminta maaf pada Rena. Biasanya setiap waktu petang seperti itu, Rena terlihat duduk bersantai sembari mengurus berbagai tanaman hias yang ada di taman belakang rumahnya. Namun sore itu, sosok Rena sama sekali tak terlihat ada di taman belakang maupun taman depan rumahnya.
"Dimana ibu? Apa bibi melihatnya?" Tanya Nio pada pelayannya.
"Sejak tadi pagi bibi tidak lagi melihatnya turun ke bawah mas Nio." Jawab pelayannya yang saat itu terlihat sedang mencuci piring.
"Emm baiklah, terima kasih bi." Nio pun segera beranjak dari dapurnya untuk kembali naik ke lantai dua.
Kini ia pun tiba tepat di depan pintu kamar Rena, berkali-kali ia harus menghela nafas panjang agar ia bisa lebih merasa tenang saat nanti meminta maaf dengan Rena. Namun baru saja ia mengangkat sebelah tangannya untuk mulai ingin mengetuk pintu kamar itu, pelayannya kembali memanggil dari lantai bawah hingga membuat Nio membatalkan sejenak niatnya mengetuk pintu kamar Rena.
...Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 140 Episodes
Comments
Rhesinta Saipul
lanjut up
2022-04-06
3