Beberapa saat kemudian, Rena pun perlahan mulai melirik ke arah Nio yang ada di sampingnya, lalu mulai menatapnya dengan lekat.
"Nio." Panggilnya pelan.
"Ya?" Nio pun mulai menoleh ke arahnya.
"Terima kasih banyak ya."
"Terima kasih untuk??" Tanya Nio sembari sedikit mengerutkan dahinya.
"Terima kasih untuk hari ini, sudah mau menemaniku fitting baju pengantin, makan, belanja."
"Ah tidak perlu berterima kasih, sudah tugasku."
"Kamu pasti di paksa oleh papamu ya untuk menemaniku hari ini? Maaf ya,"
"Tidak, kata siapa terpaksa? Sama sekali tidak."
"Nio." Panggil Rena lagi.
Kali ini Nio tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan tatapan matanya yang kembali menatap lekat ke arah Rena.
"Pasti awalnya berat atau justru membuatmu sangat tidak senang dengan keputusan papamu yang mau menikah lagi, hal itu bisa ku lihat dari sikap dan sorot matamu saat pertama kali kita diperkenalkan," Ucap Rena dengan sangat lembut.
"Tapi Nio, tolong percaya padaku ya." Tambah Rena yang kali ini mulai meraih tangan Nio dan menatapnya dengan begitu dalam.
"Percaya padaku, aku akan berusaha sebisaku untuk membuatmu bisa merasakan lagi kasih sayang dan kehangatan dari sosok ibu dalam hidupmu. meskipun rasanya tidak akan pernah sama seperti ibu kandung, tapi aku akan berusaha menjadi ibu yang baik untukmu. Jadi ku harap, mulai hari ini, kamu jangan lagi canggung padaku, selain ibu, kamu pun bisa menjadikan aku sebagai temanmu jika ingin berbagi cerita." Ungkap Rena yang terlihat begitu tulus saat mengatakannya.
Nio pun terdiam sejenak, ungkapan Rena kala itu benar-benar membuatnya bingung harus menjawab apa. Karena sebenarnya, hatinya benar-benar menolak Rena sebagai ibunya, bukan karena tidak suka atau pun benci, melainkan karena benih-benih cinta yang tumbuh begitu saja dalam hatinya.
Namun demi menghargai Rena, Nio pun akhirnya mengangguk pelan sembari terus menatap Rena. Saat itu Rena terlihat kembali tersenyum, senyum yang selalu berhasil menggetarkan hati Nio.
"Terima kasih Nio, mulai sekarang, kamu bisa mengadu tentang semua hal padaku, aku akan siap menjadi pendengar yang baik untukmu, ya?"
"Ya!" Nio pun kembali mengangguk pelan.
Rena lagi-lagi semakin melebarkan senyumannya sembari mengusap lembut pipi Nio. Sedangkan Nio, mendapat perlakuan seperti itu lagi-lagi membuatnya terpaku, tubuhnya seolah membeku, matanya seolah terkunci hanya pada satu pandangan, yaitu wajah Rena.
"Gawat!!! Ini benar-benar gawat!" Gumamnya dalam hati.
"Sekarang aku merasa perasaan ini semakin nyata bahkan mungkin sekarang telah berubah menjadi cinta, bukankah ini masalah besar?!!" Tambahnya lagi.
Tak terasa, hari mulai petang, saat itu Rena benar-benar sudah kehilangan banyak energi setelah memutari Mall yang sangat besar bersama Nio yang anehnya saat itu, ia masih terlihat bugar seolah tak terlihat kelelahan sedikit pun.
"Bagaimana? Masih ada yang perlu di beli lagi?" Tanya Nio yang sedikit meledek karena melihat wajah Rena yang sangat jelas terlihat lelah.
"Huh,, huh,, huh,," Rena yang ngos-ngosan hanya bisa melambaikan tangannya pada Nio sebagai jawaban jika ia sudah tidak kuat dan menyerah.
"Yakin sudah? Mallnya masih belum tutup loh." Goda Nio sembari terkekeh,
"Huh tidak, tidak! Aku benar-benar sudah tidak sanggup lagi, ayo kita pulang." Ajak Rena.
Nio pun kembali tertawa dan akhirnya mengangguk.
"Sini, biar aku yang bawa semuanya." Ucap Nio sangat ingin mengambil alih beberapa paperbag yang di tenteng oleh Rena.
"Ah tidak! biar adil maka aku juga harus membawa beberapa."
"Haaiss tidak perlu begitu, lagi pula aku masih kuat." Seolah tak mau menuruti ucapan calon ibunya, Nio langsung saja mengambil alih beberapa paperbag itu dari tangan Rena dan kembali melanjutkan langkahnya dengan tenang.
Rena pun akhirnya hanya bisa tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Dengan cepat Nio memasukkan barang-barang bawaanya ketika mereka sudah berada di parkiran mobil. Lalu setelahnya ia pun langsung membantu membukakan pintu untuk Rena.
"Terima kasih Nio." Ucap Rena yang kemudian perlahan masuk ke dalam mobil.
Nio kembali melajukan mobilnya, padahal sudah seharian ia menghabiskan waktu bersama Rena, namun ternyata baginya masih belum cukup membuatnya puas memandangi wajah Rena.
"Jadi mau langsung ku antar ke apartement?" Tanya Nio tanpa melirik ke arah Rena.
Saat itu, sama sekali tak terdengar jawaban terucap dari mulut Rena, membuat Nio yang kala itu fokus pada setir kemudinya, langsung menoleh ke arah Rena yang ternyata sudah tertidur dan terlihat sangat pulas akibat kelelahan.
"Kamu tidur?" Tanya Nio untuk memastikan lagi.
Namun Rena masih tidak menjawab, membuat Nio benar-benar yakin kalau ia benar-benar tertidur. Nio pun kembali tersenyum, lalu perlahan tapi pasti, sebelah tangannya mulai ia arahkan ke arah kepala Rena, dengan lembut mulai mengusap-usap rambutnya yang terasa begitu halus.
"Kenapa harus kamu yang akan menjadi ibu tiriku? Dan kenapa, kenapa bukan aku yang pertama kali dipertemukan denganmu? Kenapa harus papa?" Gumam Nio dalam hati.
Beberapa puluh menit berlalu, akhirnya mobil yang di tunggangi Nio pun berhenti dengan sempurna di basement apartement Rena.
"Hei, Rena, kita sudah sampai." Ucap Nio pelan sembari kembali menoleh ke arah Rena.
Namun Rena nampaknya masih begitu terlelap hingga membuatnya tidak sadarkan diri lagi meskipun mereka telah sampai.
Nio pun kembali terdiam sembari memandangi wajah Rena yang sangat polos saat sedang tidur. Tangannya pun kembali tergerak, tapi kali ini mengarah ke arah pipinya. Dengan sangat hati-hati dan penuh kasih sayang, Nio mulai mengusap-usap pipi Rena yang sangat mulus.
Nio terus mengusap pipi Rena hingga tanpa sadar jemarinya kini beralih ke bibir Rena yang terlihat begitu menggemaskan. Nio mengusap lembut bibir merah Rena dengan ibu jarinya, lalu perlahan kepalanya pun mulai ia condongkan mendekari Rena.
Nio, mulai dikuasai birahii, ya setiap kali melihat Rena memang selalu menjadi pemicu perasaan hangat yang menjalar di seluruh tubuhnya.
Namun sayang, saat wajahnya sudah sangat dekat dengan Rena, Rena justru mulai tersadar hingga membuat Nio sontak terperanjat dan langsung menjauh dari Rena.
"Nio, apa kita sudah sampai?" Tanya Rena dengan mata sayunya sembari melirik kesana kemari ke arah luar jendela.
"Oh ya, eem sudah, kita sudah sampai, baru saja sampai." Jawab Nio yang jadi sedikit gelagapan.
"Oh ya ampun, maaf aku ketiduran,"
"Iya tidak apa-apa."
"Ya sudah, kalau begitu aku turun dulu."
"Aku bantu ya."
"Oh tidak! Jangan! Kamu sudah terlalu baik, biar aku saja." Dengan cepat Rena pun langsung turun dan membuka pintu bagian belakang untuk mengambil barang-barang belanjaannya.
"Terima kasih sekali lagi Nio untuk hari ini."
"Iya sama-sama." Jawab Nio sembari tersenyum,
"Hati-hati di jalan ya, byee." Rena pun melambaikan tangannya dengan singkat lalu langsung beranjak memasuki loby yang ada di bagian basement.
...Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 140 Episodes
Comments
Imas Maela
nio mau nyosor azz
2022-12-07
0
M.azril maulana
kenapa gk nyolong kecupan nio?kan mumpung ada kesempatan 🤭
2022-05-11
3
Rhesinta Saipul
lanjut up
2022-04-01
1