Tak lama muncul lah seorang wanita, wanita bergaun merah dengan lengan terbuka dan memiliki panjang sepaha, wanita yang memiliki bentuk tubuh bak gitar spanyol itu pun langsung duduk begitu saja di sisi Rudy Widjaya yang tak lain ialah ayah dari Nio.
Melihat wanita yang begitu cantik dan seksi ada di hadapannya, membuat jiwa kelelakian Nio mulai bergejolak. Ia pun begitu dibuat terpana dan tercengang, hingga kedua bola matanya yang berwarna coklat terang itu pun seolah tak mampu berkedip saat memandangi wanita yang kini ada di hadapannya.
"Kamu sudah kembali?" Tanya Pak Rudi dengan lembut.
Wanita itu pun tersenyum lalu mengangguk.
"Lihat lah, anak ku sudah datang, berkenalan lah dengannya," Ucap pak Rudi lagi.
"Oh hai, kamu pasti Antonio kan?" Tanya nya dengan wajah yang begitu ramah.
Namun saat itu Nio nampaknya masih begitu terpana hingga membuatnya masih terpaku dan tidak merespon ucapan wanita itu.
"Nio." Panggil ayahnya.
Seketika Nio pun tersentak.
"Eh iya," Jawabnya gelagapan.
"Apa kamu memiliki banyak pikiran hingga terus melamun?" Tanya wanita itu lagi sembari tersenyum.
"Oh hehe tentu tidak." Jawab Nio yang kembali mencoba menenangkan dirinya.
"Ini dia seseorang yang papa maksud, dia adalah Rena." Jelas sang ayah.
"Hai Nio, senang akhirnya bisa bertemu denganmu." Rena pun mulai mengulurkan tangannya sembari semakin melebarkan senyumannya.
Lalu tak menunggu waktu lama, Nio pun langsung menyambut tangan Rena dan mereka pun mulai berjabat tangan untuk pertama kalinya.
"Aku Nio." Jawabnya sembari tersenyum tipis dan terlihat sedikit gugup.
"Rena ini adalah kekasih papa, yang sebentar lagi akan menjadi ibu sambungmu Nio." Jelas sang ayah sembari mulai merangkul pundak Rena.
Mendengar pernyataan yang cukup mengejutkan, membuat mata Nio seketika jadi membulat sempurna, seolah tak menyangka jika wanita cantik yang baru saja membuatnya begitu terpana itu akan menjadi ibu tirinya.
"Bukankah begitu sayang?" Tanya Rudy pada calon istrinya itu.
Lagi-lagi Rena hanya mengangguk dan kembali tersenyum.
"Tidak! bagaimana mungkin wanita yang baru membuatku begitu terpesona ini akan menjadi ibu tiriku?? Yang benar saja!!" Gumam Nio dalam hati.
"Ja,, jadi di,, dia, dia akan menjadi ibu, ibu tiriku?" Tanya Nio dengan terbata-bata saking tak menyangkanya.
"Benar! Papa tau kamu pasti sedikit terkejut karena melihat Rena yang masih begitu muda akan menjadi ibumu, tapi yang perlu kau tau, meskipun dia memiliki usia yang jauh lebih muda dari papa, tapi papa sudah cukup lama mengenalnya, dan papa yakin dia bisa menjadi istri sekaligus ibu yang baik untukmu." Jelas Rudi dengan wajahnya yang terlihat begitu berbinar.
Nio pun akhirnya hanya terdiam sembari mulai meneguk air mineral yang telah tersedia di hadapannya.
"Tidak hanya sebagai ibu sambung, kamu juga bisa menganggapku sebagai teman jika kamu butuh teman curhat atau berbagi keluh kesahmu Nio." Tambah Rena lagi dengan senyumannya yang seolah tak pernah pudar dari wajah cantiknya.
Ternyata bukan hanya cantik, Rena ternyata juga terlihat begitu ramah dan baik. Dan bukan hanya itu, ia pun juga terlihat begitu tulus saat mengatakan hal itu pada Nio, membuat Nio yang mendengarnya pun hanya bisa tersenyum lirih dan mengangguk singkat.
"Ya sudah, ayo kita mulai makan saja sebelum makanannya dingin." Tambah Rudi yang kemudian mulai menyantap makanannya begitu saja.
Makan malam kala itu cukup berjalan dengan damai, tak ada perdebatan antara Nio dan ayahnya seperti yang biasa sering terjadi di rumah. Malam itu, wajah Rudi, papa Nio sungguh jauh dari kata datar seperti biasanya, seolah sebuah senyuman pun tak lekang dari bibirnya. Begitu pula dengan Rena, di pertemuan pertamanya dengan Nio, ia sudah bersikap seolah tak canggung dalam memperlakukan Nio sebagai anak sambungnya.
"Ini sangat enak, cobalah." Ucap Rena sembari menaruh beberapa sendok mie goreng pangsit ke piring Rudi.
"Terima kasih sayang." Rudi pun tersenyum lebar dan langsung melahap makanan itu.
"Nio, apa kamu juga mau? Cobalah ini! rasanya sangat enak." Ucap Rena lagi.
Ia pun kembali menyendokkan mie goreng pangsit dan meletakkannya juga ke piring Nio, membuat posisinya sedikit membungkuk saat meletakkan makanannya karena posisi Nio yang berada di hadapannya sedikit jauh.
Hal itu pun membuat belahan dada Rena menjadi terlihat, Nio yang kala itu ada di hadapannya pun bisa melihat dengan jelas, bahkan sangat jelas bagaimana kedua gundukan daging yang nampak begitu kokoh berdiri sedikit menyumbul di balik kerah gaunnya yang berbentuk V.
Nio pun kembali tertegun, hingga membuatnya beberapa kali harus menelan ludahnya sendiri saat melihat pemandangan yang dirasanya begitu indah.
"Astaga kenapa aku ini? Di kampus ada banyak wanita cantik dan tak kalah seksi yang pernah mencoba mendekati dan menggodaku. Tapi kenapa aku tak pernah merasa tertarik pada mereka seperti sekarang ini?" Gumam Nio dalam hati lagi yang mulai merasa berkeringat dingin karena menahan gejolaknya.
Beberapa puluh menit sudah berlalu, makan malam pun akhirnya selesai, kini mereka bertiga pun mulai beranjak menuju loby restoran.
"Terima kasih Nio telah meluangkan waktu mu untuk makan malam bersama papa dan juga calon ibumu." Ucap sang ayah yang terus terlihat begitu sumringah.
"Iya, tidak masalah." Jawab Nio datar.
"Ya sudah, papa harus mengantar Rena pulang terlebih dulu. Kau hati-hati lah jika masih ingin jalan ke luar."
"Tidak pa, sepertinya aku langsung pulang saja."
"Oh, begitu rupanya, ya sudah sampai bertemu di rumah."
Rudi Widjaya pun menepuk singkat pundak anak semata wayangnya itu, meski terkesan cuek namun lelaki paruh baya itu tetap lah menyayangi anaknya seperti orang tua pada umumnya. Hanya saja dia memang tidak pernah terlalu menunjukkannya apalagi mengungkapkannya pada Nio.
"Baiklah aku pulang dulu, sampai bertemu lagi Nio." Ucap Rena yang kembali tersenyum ramah sembari melambaikan tangannya ke arah Nio.
"Ya, ok." Jawab Nio yang ikut tersenyum tipis sembari membalas lambaian tangan Rena.
Kini mobil jenis sedan mewah yang di tumpangi oleh Rudi dan Rena pun telah berlalu pergi, meninggalkan Nio yang masih berdiri tak jauh dari mobilnya sembari memandangi kepergian mobil itu yang semakin menjauh darinya.
Dengan pikirannya yang kalut, ia pun langsung pulang, dengan lesu ia kembali memasuki kamarnya, membuka dan melayangkan kemeja yang sejak tadi ia pakai ke sembarang arah. Ia kembali terbaring telentang di atas ranjang, lagi-lagi ia terbayang wajah Rena, bentuk bibir Rena yang terlihat begitu seksi saat berbicara dan tersenyum sungguh begitu jelas terbayang di ingatannya, belum lagi ketika belahan dada Rena yang sempat terlihat jelas olehnya, semuanya yang ada pada tubuh Rena nampaknya sungguh mengganggu pikirannya malam itu.
"Astaga bagaimana ini? Wanita itu sungguh membuatku gelisah." Celetuknya seorang diri sembari mengusap kasar wajahnya.
... Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 140 Episodes
Comments
Nova Iia
bikin penasaran
2024-09-14
0
Novi Anisa
visual Rudi mana
2023-05-24
3
Rahmawaty❣️
Pesona ibu tiriii😂
Mampiirrrrrr
2023-01-01
0