Pagi hari yang cerah...
Cuaca hari ini cukup cerah, Nio turun dari kamarnya masih dalam keadaan berantakan karena ia benar\-benar baru bangun tidur.
Rambutnya yang cukup tebal pun terlihat masih begitu acak\-acakan, ditambah lagi dengan wajah khas orang baru bangun tidur yang semakin mempertegas pada orang\-orang yang melihatnya jika ia memang benar\-benar baru bangun.
Sembari menguap dan mengucek\-ngucek matanya, ia terus melangkah menuruni anak tangga.
Dan secara tiba\-tiba suara seorang wanita yang terdengar begitu lembut dan begitu jelas saat menyapanya pagi itu.
"Selamat pagi Nio." Sapanya.
Nio pun sontak melirik ke arah sumber suara, dan betapa terkejutnya ia saat melihat sosok Rena yang saat itu sedang berdiri di sisi meja makan sembari memegang sebuah teko sedang tersenyum menatapnya.
Langkah Nio pun seketika terhenti dengan matanya yang membulat sempurna.
"Kau sudah bangun? Ayo kemari lah, kita sarapan bersama, karena calon ibumu sudah membuatkan sarapan untuk kita." Jelas Rudi yang juga sudah terduduk di salah satu kursi dengan sudah berpakaian rapi.
Tanpa berkata apapun, Nio dengan cepat mendadak putar haluan dan ingin kembali masuk ke kamarnya karena ia merasa begitu tak percaya diri di depan Rena karena penampilannya yang begitu berantakan.
"Nio, kau mau kemana?" Tanya ayahnya.
"Aku,, aku mau mandi dulu biar lebih segar saat makan." Jawab Nio yang langsung melanjutkan langkahnya dengan cepat.
"Emm tumben sekali, biasanya dia langsung makan saja tanpa mandi terlebih dulu." Celetuk Rudi sembari memandangi kepergian Nio.
"Sudah lah, tidak perlu merasa aneh, bukankah dengan dia memilih mandi lebih dulu justru lebih bagus?" Jawab Rena yang kembali menuangkan teh hangat ke dalam cangkir.
"Emm kamu benar juga." Rudi pun akhirnya kembali tersenyum tipis.
Tak terlalu lama menunggu, akhirnya Nio terlihat kembali turun dengan sudah berpakaian rapi dan wangi. Ia pun langsung duduk, lagi\-lagi ia duduk tepat berhadapan dengan Rena yang saat itu tengah menggunakan dress berlengan sesiku, namun dengan bentuk kerah yang cukup melebar hingga belahan dadanya pun lagi\-lagi kembali terlihat jelas.
"Nio, minum lah teh mu." Rena pun menyodorkan secangkir teh hangat ke hadapan Nio.
"Terima kasih." Jawab Nio pelan sembari meraih tehnya dan mulai meneguknya dengan perlahan.
Tanpa banyak basa basi, sarapan pun di mulai, Nio dengan lahap terus memakan nasi goreng spesial buatan Rena yang memang terasa begitu nikmat.
"Bagaimana Nio? Apakah enak?" Tanya Rena kemudian dengan sorot matanya yang begitu berbinar.
Mendapat pertanyaan seperti itu, membuat Nio lagi\-lagi jadi merasa sedikit gugup.
"Enak." Jawabnya sembari tersenyum tipis dan terus melahap makanannya.
"Ah syukur lah, aku sedikit merasa lega saat tau masakanku cocok dengan lidahmu." Rena pun akhirnya semakin melebarkan senyumannya.
"Jadi Nio, Rena sengaja datang pagi\-pagi kesini dan membuatkan sarapan untuk kita agar dia bisa lebih mendekatkan diri denganmu." Jelas Rudi di sela\-sela sarapan mereka.
"Oh begitu rupanya." Ucap Nio singkat yang kembali tersenyum tipis.
Dalam hatinya, meskipun ia yakin Rena adalah wanita yang baik, namun entah kenapa ia masih saja merasa keberatan dengan keputusan ayahnya yang ingin menikahi Rena. Bukan karena ia tak mau memiliki ibu tiri, tapi sepertinya rasa keberatan itu lebih ke dirinya yang merasa jika Rena terlalu muda untuk menjadi ibunya.
Namun melihat sang ayah yang begitu terlihat bahagia kala itu, tentu membuatnya sebagai seorang anak tak mampu mengutarakan ketidaksetujuannya tentang pernikahan itu.
"Memangnya kapan kalian akan menikah?" Tiba\-tiba pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Nio saat ia baru saja selesai menghabiskan sarapannya.
"Akhirnya kamu menanyakan hal itu juga hehehe." Celetuk ayahnya yang kemudian tertawa kecil.
Nio hanya diam dan memilih untuk meneguk minumannya.
"Rencananya kami akan menikah minggu depan." Tambah ayahnya lagi.
Mendengar hal itu, seketika membuat Nio yang kala itu sedang minum, seketika jadi tersedak hingga terbatuk\-batuk saking terkejutnya. Hingga membuat Rena seketika menjadi panik dan bergegas memberikan tisu untuknya.
"Nio, are you ok?" Tanya Rena.
"Apa aku tidak salah dengar?! Mi,, minggu depan?!" Nio pun kembali membulatkan matanya.
"Iya, memangnya kenapa? Kenapa kau nampaknya begitu terkejut hingga jadi tersedak seperti itu?" Tanya Rudi sembari mengernyitkan dahinya.
"Bukan begitu, tapi tidak kah itu terlalu cepat? Karena setauku untuk menikah butuh persiapan yang matang dan memakan banyak waktu."
"Masalah itu kamu tenang saja Nio, karena yang aku inginkan adalah pernikahan yang sederhana dan intim, jadi tidak perlu mengundang terlalu banyak orang, hanya keluarga dan teman\-teman dekat saja." Jelas Rena dengan tenang.
"Iya, lagi pula papa mu ini sudah bukan anak muda lagi, yang acara pernikahannya harus besar\-besaran. Sederhana saja yang penting sah menikah." Tambah Rudi lagi.
Nio pun akhirnya hanya bisa terdiam dan mengangguk singkat, dalam diamnya itu beberapa kali ia terus mencuri\-curi pandang terhadap Rena. Pagi itu Rena terlihat begitu fresh dengan warna lipsticknya yang merah, membuat bibirnya seolah merekah. Hal itu lagi\-lagi membuat jiwa Nio kembali bergejolak hingga membuatnya salah tingkah dan terus menerus merasa gugup.
Beberapa saat berlalu, Sarapan pun selesai, Rudi dan Rena pun akhirnya pergi untuk mengecek lokasi yang akan mereka sewa untuk acara pernikahan yang akan berlangsung Minggu depan, sementara Nio memilih untuk langsung berangkat ke kampus.
Nio keluar dari mobilnya saat ia sudah tiba di area parkir kampusnya, baru beberapa langkah berjalan, langkahnya sontak terhenti saat di hadapannya telah berdiri seorang wanita yang sudah menjadi primadona di kampusnya.
"Pagi Nio." Sapanya dengan ramah.
Wanita itu bernama Sonia, parasnya pun tak kalah cantik dan juga seksi. Namun ternyata kecantikan dan keseksiannya selama ini tak berhasil membuat seorang Antonio tergoda.
"Pagi." Nio pun tersenyum tipis.
"Waw, setelah sekian lama mengenalmu, akhirnya pagi ini aku bisa melihat senyum mu. Ternyata senyum mu bagus juga." Celetuk Sonia sembari tersenyum manis.
Nio hanya mendengus dan kembali tersenyum tipis sembari ingin kembali beranjak pergi, tapi Sonia seolah tak memberikan jalan untuknya, ia terus menghalangi langkah Nio dengan tubuhnya.
"Ada apa?" Tanya Nio yang kemudian mulai menatap datar ke arah Sonia.
"Hehehe, eemm begini, nanti malam kan malam Minggu."
"Ya ya ya aku tau itu, lalu kenapa memangnya kalau malam Minggu?" Tanya Nio cuek yang sama sekali tidak peka.
"Apa kamu tidak ingin mengajakku pergi jalan\-jalan? Atau makan malam?" Tanya Sonia dengan begitu percaya diri tanpa ada rasa malu.
... Bersambung...,...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 140 Episodes
Comments
Hamlek Ram
gas
2023-05-22
2
Imas Maela
lanjut
2022-12-07
0
Naga Hitam
mampir tinggalkan jejak
2022-06-27
3