"Apa kamu menikmatinya?" Tanya Sonia lagi.
"Sepertinya begitu." Jawab Nio dengan tenang.
"Kalau begitu, apa setelah malam ini, kita punya kemungkinan untuk melakukannya lagi?" Tanya Sonia yang mulai berbaring manja di atas dada bidang Nio.
"Entah lah, aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu."
"Baik lah, tapi kapan pun, dan dimana pun kamu membutuhkannya, aku siap membantumu dengan senang hati."
"Kenapa begitu?" Tanya Nio sedikit terheran.
"Karena sebenarnya, sejak lama aku sudah menyukaimu, aku terus menunggu, berharap kamu akan mengejarku seperti lelaki lain, namun sayangnya tidak. Tapi malam ini aku begitu senang, karena aku bisa jadi wanita pertama yang merasakan kenikmatan darimu."
Lagi-lagi Nio pun hanya tersenyum, hingga akhirnya tak terasa kini waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 subuh, Nio sama sekali tak bisa tidur karena ia tak terbiasa tidur bersama orang lain apalagi itu seorang wanita yang bahkan tidak ia cinta. Berbeda halnya dengan Sonia yang terlihat sudah begitu terlelap di samping Nio masih dalam keadaan tanpa busana. Nio pun meraih selimut lalu langsung menyelimutinya ke tubuh Sonia yang polos, setelah itu ia pun bergegas memakai kembali semua pakaiannya, meletakkan beberapa lembar uang pecahan 100.000 dan menuliskan pesan singkat untuknya.
"Maaf aku harus pergi, ini ada sedikit uang untuk ongkos taksimu. Terima kasih untuk semalam."
Ia meletakkan selembar surat beserta uang itu di atas nakas tepat di samping dimana Sonia tertidur, Kemudian dengan bergegas ia pun beranjak pergi begitu saja, meninggalkan Sonia seorang diri.
Nio melajukan mobilnya tanpa ragu, meskipun ia masih merasa sedikit pusing, namun hal itu tak membuatnya was-was saat mengemudi, mengingat jalanan di jam itu masih lah begitu lengang. Tapi ketika di tengah perjalanan, Nio mulai merasa jika kepalanya semakin berat hingga ia memutuskan untuk menepikan mobilnya di tepi jalan yang kebetulan jalanan itu bukan lah jalan utama hingga tidak banyak kendaraan yang melintas. Ia pun menurunkan sandaran kursinya, lalu mulai memejamkan matanya dan langsung tertidur begitu saja.
Beberapa jam kemudian...
Suara deringan yang menggema serta getaran dari ponsel Nio membuat lelaki yang sebelumnya tengah tertidur begitu nyenyak itu sontak jadi terperanjat. Dengan cepat ia meraih ponsel yang ada di saku celananya tanpa melihat terlebih dulu siapa yang menelpon.
"Ya, hallo." Jawab Nio lesu dalam keadaan matanya yang masih terpejam.
"Nio, kau baru bangun tidur?" Tanya seseorang yang suaranya terdengar begitu familiar di telinga Nio.
Hal itu pun berhasil membuat kedua mata Nio seketika sontak terbuka lebar sembari langsung melihat kembali ke arah layar ponselnya.
"Papa?!"
"Kau tidur dimana semalam? Kenapa tidak pulang ke rumah?" Tanya Rudi, papanya.
Nio pun kembali memejamkan kedua matanya sembari mulai memijiti pelipisnya.
"Eeemm ya, aku menginap di rumah temanku pa, dia mengadakan pesta semalam." Jawab Nio berbohong.
"Oh ya sudah."
"Ada apa pa? Kenapa pagi-pagi menelponku?"
"Pagi apanya? Apa kau tidak melihat jam? Ini sudah siang!"
"Hah?!" Nio kembali membuka lebar kedua matanya dan lagi-lagi kembali menengok ke arah layar ponselnya.
Saat itu, jam ternyata sudah menunjukkan pukul 11:35 siang, hingga membuat Nio kembali terperanjat.
"Astaga, aku tertidur di mobil sampai sesiang ini?" Gumam Nio dalam hati.
"Nio??!!" Panggil Rudi lagi.
"Iy,, iya pa?!"
Papa menelpon mu karena ingin meminta bantuan mu."
"Bantuan apa pa?" Tanya Nio sembari mulai mengernyitkan dahinya.
"Eeemm begini, hari ini papa sangat sibuk sekali di pabrik, dan sayang, sebelumnya papa sudah terlanjur janjian pada calon ibumu untuk menemaninya fitting baju pengantin dan membeli beberapa keperluan di Mall."
"Lalu???" Dahi Nio pun seketika nampak semakin mengkerut.
"Jadi, bisakah kau menggantikan papa? Karena tidak mungkin papa ada di dua tempat yang berbeda dalam waktu bersamaan kan?!"
"Menggantikan papa di pabrik begitu??? Astaga pa!! Mana mungkin aku bisa melakukannya!" Keluh Nio.
"Hei! papa juga tidak gila menyuruhmu menggantikan papa di pabrik yang notabenenya kau sama sekali tidak punya pengalaman disana."
"Laluu??!"
"Maksud papa, kau tolong gantikan papa untuk menemani Rena fitting baju dan berbelanja keperluannya."
*Deeggg*
Mendengar hal itu, membuat Nio sontak terdiam sejenak dengan jiwanya yang mulai kembali bergetar, ya jiwanya kembali bergetar dikala membayangkan bagaimana ia dan Rena pergi berdua, yaa, hanya berdua.
"Oh itu rupanya." Ucap Nio pelan sembari mulai tersenyum.
"Jadi bagaimana? Apa kau bisa? Tolong beri keputusan! karena saat ini Rena sedang menunggu kabar dari papa."
"Bisa! Eeemm ya pa, aku bisa!" Jawab Nio dengan lugas.
"Eeemm bagus, kalau begitu papa akan meneleponnya sekarang juga."
"iya."
*Tut tut tut*
Panggilan telepon pun berakhir, saat itu Nio masih terdiam dengan sebuah senyuman yang begitu merekah, masih membayangkannya saja sudah cukup membuat wajahnya memerah.
Hanya berselang beberapa menit, Rudi kembali menelpon Nio.
"Ya pa?!"
"Nio, papa sudah mengabari Rena, dan tolong setengah jam lagi jemput dia di apartementnya, papa akan kirim alamatnya padamu."
"Hah?! Setengah jam lagi?!" Kedua mata Nio sontak terbelalak.
"Iya, kenapa? Apa kau tidak bisa?!"
"Oh tidak pa, tidak apa-apa! Baik lah setengah jam lagi akan aku jemput!" Jawab Nio gelagapan.
"Ok baik lah."
Panggilan telepon kembali berakhir, tanpa pikir panjang, Nio langsung melajukan mobilnya, tapi bukan untuk menjemput Rena, melainkan ia menuju rumahnya terlebih dulu. Karena dalam benaknya saat itu, tidak mungkin ia menjemput Rena dalam keadaan lusuh dan dengan badan yang sedikit berbau alkohol.
Beruntung, posisi Nio saat itu sudah tidak terlalu jauh dari rumahnya, hingga membuatnya cepat sampai rumah.
Nio berlari dengan cepat menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya, memasuki kamarnya dengan tergesa-gesa dan langsung menuju kamar mandi.
Setelah mandi, ia meraih sebuah baju kaos polos dan kemeja lalu segera memakainya. menyemprotkan parfum yang aromanya begitu maskulin di hampir seluruh tubuhnya.
Memastikan penampilannya sudah sempurna, ia pun kembali menyambar kunci mobilnya dan langsung pergi menuju ke sebuah alamat yang sudah dikirimkan oleh ayahnya, yang tak lain alamat itu adalah tempat tinggal Rena.
Karena begitu mengebut, hingga membuat Nio hanya memerlukan waktu 15 menit untuk ia bisa sampai di depan area parkir sebuah gedung yang menjulang tinggi.
Nio keluar dari mobilnya sembari memperhatikan ponselnya, karena kala itu ayahnya kembali mengiriminya sebuah pesan teks yang berisikan nomor ponsel Rena.
Tanpa pikir panjang, Nio langsung menghubungi nomor itu, dan benar saja, suara yang begitu lembut dari seorang wanita pun terdengar menjawab panggilannya.
"Hallo?!"
"Ini aku,,, Nio." Ucap Nio yang merasa sedikit gugup dan salah tingkah.
"Oh Nio, kamu sudah sampai ya?!"
"Iya, aku sudah di parkiran." Jawabnya pelan.
"Nio aku sungguh minta maaf sebelumnya, tapi ada sedikit masalah di apartementku, apa kamu bisa naik dulu?"
"Eeem bisa,"
"Ok, unitku ada di lantai 7 dengan nomor 4444."
"Ok, aku naik sekarang."
"Ok aku tunggu ya."
Nio kembali memasukan ponselnya ke dalam saku celananya dan mulai melangkahkan kakinya untuk memasuki gedung yang menjulang tinggi itu.
...Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 140 Episodes
Comments
Imas Maela
kesempatan...
2022-12-07
1
mia
senangnya dlm hati
2022-12-02
0
Naga Hitam
degg
2022-06-27
3