1 Minggu kemudian...
Kini tiba lah hari yang di nantikan oleh sang ayah, dimana hari berlangsungnya sebuah acara pernikahan yang sederhana, namun terasa begitu damai bagi kedua mempelai yang sudah tak lagi muda itu. Namun, berbeda halnya dengan Nio, sejak awal ia terlihat hanya terus berdiam diri, dengan raut wajahnya yang nampak begitu tak bersemangat, ia pun terus memandangi ayah dan ibu tirinya yang begitu bahagia hari itu, saat itu mereka tengah sibuk bersalamanan dengan sanak keluarga dan teman-teman terdekat mereka.
"Selamat ya Nio, akhirnya setelah sekian lama, kau punya ibu baru hehehe." Celetuk sahabatnya yang bernama Aldy.
Karena itu bukan lah sebuah pesta yang meriah, Nio pun hanya mengundang dua orang sahabatnya saja yang paling dekat dengannya saat itu, yaitu Aldy dan Rio.
Seolah sama sekali tidak terlihat senang dengan ucapan selamat dari temannya, Nio justru hanya mendengus sembari disertai pula dengan senyuman lirih yang muncul dari wajah tampannya.
"Wah tapi papa mu bisa dikatakan sangat beruntung ya hehehe." Tambah Rio dengan cengengesan sembari menepuk pundak Nio.
Hal itu pun membuat Nio kali ini sontak menatapnya.
"Beruntung apanya?" Tanya Nio kemudian sembari mengerutkan dahinya.
"Ya tentu saja beruntung, mendapat seorang istri yang cantik dan seksi seperti itu, masih muda lagi." Jawab Rio santai disertai dengan sebuah tawa kecil.
Nio, lagi-lagi ia harus kembali mendengus dan tersenyum lirih untuk kedua kalinya.
"Benar, lihat lah body nya itu, wuuuu seperti gitar spanyol hahaha, daun mudaaa." Tambah Aldy lagi dengan mimik wajahnya yang memang terlihat sangat mengagumi kemolekan bentuk tubuh Rena.
Melihat mata kedua sahabatnya yang seolah begitu nafsu memandangi ibu tirinya dari kejauhan, membuat Nio mulai risih hingga akhirnya Nio pun sontak bereaksi .
"Heh!! singkirkan mata mesum kalian darinya!" Tegas Nio dengan nada yang terdengar tak senang.
Kedua sahabatnya itu pun langsung tersentak dan hanya bisa cengengesan.
"Hehehe iya, iya maaf. Kami lupa jika dia sudah menjadi ibumu sekarang. Maafkan kami ya, habisnya siapa suruh punya ibu tiri yang masih sangat muda dan cantik begitu hehehe." Ungkap Rio lagi.
Tak ingin memperkeruh keadaan hanya karena hal sepele, Nio pun akhirnya memilih mengabaikan ucapan mereka.
Beberapa waktu telah berlalu, kini tak terasa waktu sudah beranjak malam, sedikit kabut mulai turun, pesta pernikahan pun telah usai, dan Nio memilih pulang lebih dulu karena ia merasa moodnya hari itu begitu buruk. Ada perasaan cemburu pada ayahnya sendiri saat melihat wanita yang ia sukai bersanding dengan sang ayah. Namun lagi-lagi ia sebagai seorang anak tak bisa berbuat apapun untuk menghalangi pernikahan itu.
Kini jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.00 malam, ayah dan ibu tiri Nio pun akhirnya nampak tiba di rumah. Saat itu Nio sedang berada di dapurnya untuk mengambil segelas air mineral.
"Kamu di rumah ternyata, papa pikir kamu langsung keluar bersama teman-teman mu." Celetuk sang ayah saat mendapati Nio yang sedang meneguk minumannya.
"Tidak, aku sedang ingin di rumah saja." Jawabnya datar.
"Oh ya sudah, papa juga sangat lelah, ingin langsung beristirahat." Ucap Rudi sembari mengusap-usap tengkuknya.
"Oh, ok." Jawab Nio singkat.
"Ayo sayang, kamar kita ada di atas." Pak Rudi yang merasa lelah pun langsung berjalan begitu saja meninggalkan Rena.
"Tunggu sayang, koperku masih di luar." Ucap Rena yang kemudian bergegas untuk kembali ke teras.
"Ya sudah sayang, aku tunggu kamu di kamar saja ya, aku sungguh lelah." Jawab Rudi tidak peka, yang kemudian langsung menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya yang ada di lantai dua.
Nio yang menyaksikan hal itu pun sejenak jadi sedikit tercengang, ia sungguh terheran pada sikap sang ayah yang membiarkan wanita yang baru di nikahinya itu, mengangkat sendiri kopernya, padahal mereka baru saja beberapa jam lalu menikah, yang harusnya masih romantis-romantisnya.
"Astaga papa! bagaimana mungkin ia tega membiarkan wanita yang baru saja menjadi istrinya mengangkat sendiri kopernya." Gerutu Nio dalam hati sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tak berapa lama Rena sang ibu tiri pun kembali masuk ke dalam rumah sembari menggeret sebuah koper besar berwarna maroon. Rena membawa sendiri kopernya, bukan karena dirumah itu tidak ada pelayan yang bisa membantu, melainkan karena saat itu rumah tampak sepi, ditambah pula Rena yang masih begitu baru di rumah itu, rasanya tak enak jika di awal kehadirannya sudah merepotkan seseorang, ya, begitu lah pikirnya.
Nio yang masih berdiri di tempatnya, mau tak mau jadi menyaksikan bagaimana repotnya Rena saat menggeret dua koper sekaligus. Ia pun seketika langsung tergerak hatinya untuk membantu Rena.
"Biar aku saja yang bawa ini." Ucap Nio yang sedikit merasa gugup saat berhadapan dengan jarak yang cukup dekat dengan Rena.
Tanpa menunggu jawaban dari Rena, Nio pun langsung mengambil alih koper yang berukuran paling besar itu dari tangan Rena.
"Ah tidak perlu Nio, ibu bisa sendiri." Tolak Rena secara halus sembari tersenyum.
Senyuman itu, tentu saja Nio sangat menyukainya, bahkan hanya dengan melihat senyum Rena saja bisa membuat jantung Nio begitu berdebar cepat.
"Tidak apa, ini sudah tugasku." Nio pun langsung mengangkat koper itu lalu mulai menaiki anak tangga membiarkan Rena membawa koper satunya yang berukuran paling kecil.
Rena pun akhirnya hanya diam dan mengikutinya dari belakang. Kini tiba lah mereka di depan salah satu pintu, Nio pun meletakkan kembali kopernya lalu mulai menatap Rena.
"Ini kamar papaku, kamu bisa masuk sekarang. Oh maaf ma-maksudku ibu." Ucap Nio.
Melihat Nio yang nampak begitu gugup, Rena pun seketika langsung tertawa kecil, ia pun menepuk-nepuk lembut pundak Nio demi membuatnya tidak gugup lagi.
"Hehehe kamu tidak perlu gugup seperti itu, tenang saja, ibu tidak akan mungkin memperlakukan mu seperti ibu tiri yang ada di drama. Bahkan ibu tidak akan mempermasalahkan jika kamu belum siap memanggilku dengan sebutan ibu." Ungkap Rena dengan lembut.
Nio pun terdiam, ia hanya bisa tersenyum sembari melirik ke arah tangan Rena yang terus mengusap lembut pundaknya.
"Dia mengusap pundakku saja sudah berhasil membuatku semakin tak karuan begini." Gumam Nio dalam benaknya.
"Ya sudah, ibu masuk ke kamar dulu ya, terima kasih sudah membantu." Rena kembali melebarkan senyumannya sebelum akhirnya ia pun langsung masuk ke dalam kamar.
Saat itu Nio masih berdiri di tempatnya, tanpa sadar tangannya mulai memegangi dadanya, saat itu jantungnya seakan berdebar begitu kencang saat mendapat sentuhan lembut dari Rena.
"Huh, benar-benar tidak masuk di akal!!" Celetuknya seorang diri sembari mulai mengacak-ngacak rambutnya.
Nio pun kemudian langsung beranjak pergi menuju kamarnya yang berada tepat di samping kamar papanya. Kini ia telah resmi tinggal satu atap dengan Rena yang sudah menjadi ibu tirinya. Di satu sisi Nio merasa senang karena mulai malam itu dan seterusnya ia bisa melihat sosok Rena yang mempesona setiap hari, namun di sisi lain, tentu hal itu akan membuatnya semakin kesulitan menahan gairah yang ia punya terhadap Rena.
...Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 140 Episodes
Comments
Lintong
semoga tidak ada yg seperti ini di dunia nyata,,, kasihan si wanita
2025-02-27
0
M.azril maulana
kasian nio 😢 akan sering tersiksa karena menahan gairah ny 🤭
2022-05-12
1
aselole
semangat thor, karyamu luar biasa,semoga banyak yang tertarik
2022-04-04
1