"Oh itu." Rena pun tersenyum sembari menundukkan singkat kepalanya.
Tak lama pesanan mereka pun datang, hingga membuat percakapan mereka jadi terjeda sejenak.
"Bagaimana kalau ceritanya sambil memanggang daging? Tidak apa-apa kan?"
"Tentu saja tidak apa-apa."
Dengan perlahan Rena pun mulai meletakan irisan daging sapi ke atas pemanggang yang telah di sediakan.
"Jadi, aku sempat bekerja di club malam sebagai penyanyi. Pekerjaan itu terpaksa aku ambil demi memenuhi segala kebutuhan hidupku selama ini. Dan disana lah aku pertama kali bertemu dengan papamu." Jelas Rena dengan tenang.
"Di club malam??? Ja,, jadi, maksudmu papaku berkunjung ke club malam, begitu?" Tanya Nio lagi yang cukup terkejut seolah tak menyangka.
Ya, karena sepengetahuannya ayahnya itu tidak pernah mengenal dunia malam seperti itu, apalagi selama ini, ia tau jika ayahnya begitu sibuk dan lelah seharian karena mengelola pabrik, tentu malamnya ia pasti beristirahat dan sangat tidak mungkin berkunjung ke tempat seperti itu, begitu lah pikirnya.
"Iya." Rena pun mengangguk penuh keyakinan.
Membuat Nio jadi terdiam sejenak.
"Papa ke club malam? Sungguh mengejutkan! Tapi sejak kapan dia mengenal dunia malam?" Tanya Nio dari dalam hati.
"Kenapa kamu tiba-tiba diam Nio? Ada apa? Apa kamu terkejut saat mengetahui aku yang pernah bekerja di dunia malam, atau terkejut karena papamu yang berkunjung ke dunia malam?"
"Apa papaku datang sendirian kesana?"
"Eeemm tidak, saat pertama kali aku bertemu papamu, dia mengatakan jika dia sedang menemani kliennya yang baru datang dari luar kota. Kebetulan kliennya itu memang suka berkunjung ke club malam di kota manapun yang ia datangi."
"Lalu, apa papa sering kesana?"
"Menurut pengakuannya, saat pertama kali kami bertemu, saat itu juga kali pertamanya datang ke club malam, tapi setelah itu, dia cukup sering berkunjung untuk menemuiku." Jelas Rena.
Nio pun terdiam sembari mengangguk-anggukan kepalanya.
"Beberapa bulan berlalu, akhirnya papamu melamarku dengan memberikan sebuah cincin, dan saat itu juga ia memintaku untuk berhenti bekerja di club malam."
"Dan kamu setuju begitu saja?"
"Eeemm." Rena pun mengangguk tegas.
"Kenapa? Apa karena kamu sungguh mencintai papaku?" Tanya Nio menyelidik.
"Entah sebenarnya aku mencintai mas Rudi atau tidak, tapi aku benar-benar sungguh lelah bekerja di dunia malam. Sejak dulu aku memang selalu berharap dan berdoa, semoga suatu saat ada seorang lelaki baik yang bersedia mempersuntingku dan membawaku keluar dari dunia malam yang gelap gulita bagiku." Jelas Rena jujur dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Nio pun terdiam, saat itu perasaannya benar-benar membuatnya bingung. Bagaimana tidak, di satu sisi, ia sedikit tersinggung saat mendengar jawaban Rena yang seolah tidak benar-benar 100% mencintai papanya. Tapi di sisi yang lainnya, ia pun justru merasa senang, karena wanita yang ia cintai, tidak benar-benar mencintai papanya, dalam sisi lain hatinya, ia merasa masih memiliki harapan untuk merebut hati Rena, meski hal terburuknya adalah, ia harus merebut Rena dari ayah kandungnya sendiri.
"Tapi kamu tenang saja Nio, aku tidak ada niat jahat sama sekali pada papamu, justru yang ada aku sangat berterima kasih dan sangat berhutang budi padanya, jadi cara satu-satunya untuk membalas kebaikan papamu adalah dengan cara menjadi istri dan ibu yang baik. Jadi jangan pernah berfikir jika aku menikah dengan papamu karena ingin menguasai hartanya, itu sama sekali tidak akan mungkin terjadi," tambah Rena lagi yang menatap Nio sembari tersenyum.
Nio yang sejak tadi terdiam, akhirnya mulai kembali tersenyum dan mendengus.
"Eeemm baik lah, sebaiknya kita makan saja." Ucap Nio yang seolah ingin menyudahi pembahasan mengenai hal itu.
Rena pun mengangguk cepat dengan senyumannya yang semakin berkembang, lalu dengan penuh semangat ia pun mulai menyumpit irisan daging tipis yang telah matang di atas alat pemanggangnya.
Beberapa kali Rena nampak begitu antusia menyuapi Nio layaknya anak sendiri, namun lagi-lagi hal itu di tanggapi berbeda oleh Nio.
Sikap Rena yang begitu lembut dan perhatian, benar-benar membuat Nio semakin merasa nyaman dan betah berlama-lama berada di sisinya. Sikapnya yang keibuan ternyata sangat ampuh menarik hati Nio untuk masuk ke dalam jurang perasaan yang lebih dalam lagi.
Selesai makan, mereka pun lanjut berbelanja beberapa kebutuhan Rena, beberapa pakaian, dan lainnya. Sepanjang jalan menyusuri mall yang cukup luas, tangan Rena seolah tak lepas menggandeng tangan Nio. Begitu pula dengan Nio, yang akhirnya tanpa sadar, ia pun ikut menggenggam erat tangan Rena layaknya seorang kekasih.
Waktu demi waktu terus berjalan, entah sudah berapa jam lamanya mereka menghabiskan waktu bersama tanpa merasa lelah dan bosan satu sama lain. Terutama dengan Nio yang begitu menikmati waktu kebersamaannya dengan Rena. Hari itu, Rena bahkan bisa membuatnya tertawa lepas tanpa beban, tidak seperti Nio yang biasanya, Nio yang selalu bersikap cool dan terkesan cuek, bahkan sangat jarang tertawa lepas seperti saat ia bersama Rena.
"Ayo istirahat dulu disini, sepertinya kamu mulai lelah berjalan." Ucap Nio sembari menarik Rena ke sebuah kursi panjang yang memang di sediakan di pinggir-pinggir balkon mall.
"Hehe iya." Jawab Rena yang tersenyum tipis sembari langsung menduduki kursi itu.
"Tunggu sebentar disini!"
"Nio," Rena dengan cepat menarik tangannya.
"Kamu mau kemana?" Tanyanya kemudian.
"Sudah, tunggu saja, hanya sebentar." Jawab Nio yang kembali tersenyum, dan kemudian langsung beranjak pergi.
Rena pun diam, dan memilih untuk mengecek kembali satu persatu barang-barang belanjaannya. Hanya lima menit, Nio pun terlihat sudah kembali dengan membawa dua cup minuman dingin.
"Ini minum lah." Nio pun memberikan salah satu cup yang ia pegang pada Rena.
Senyuman Rena pun dibuat semakin berkembang saat mengetahui ternyata calon anak tirinya cukup perhatian padanya.
"Ya ampun Niooooo, kenapa repot-repot." Ucapnya sembari meraih minuman itu,
"Minum lah, berkeliling mall dan berbelanja sejak tadi, aku yakin kamu pasti mulai dahaga."
"Aaaa Nio, sweet sekali kamu. Ah aku yakin, siapa pun nanti gadis yang menjadi pacarmu, pasti dia adalah gadis yang beruntung."
Mendengar hal itu, Nio pun hanya tersenyum tipis sembari mendengus pelan.
"Andai kamu mau menjadi wanita beruntung itu." Celetuk Nio pelan sembari kembali duduk di sebelah Rena.
"Ha, apa?" Tanya Rena.
"Tidak." Jawab Nio singkat sembari mulai menyeruput minuman miliknya.
"Tadi kamu bilang apa?" Tanya Rena lagi yang masih penasaran.
"Tidak ada bilang apa-apa." Jawab Nio berbohong sembari terus tersenyum.
Rena pun akhirnya ikut mendengus.
"Sudah, tidak usah pikirkan, ayo di minum."
Rena pun segera menusukkan sedotan ke cup minumannya, lalu perlahan mulai menyeruput minuman miliknya.
"Eeeemm enakkk."
"Enak kan?"
"Iya, enak sekali. Rasa apa ini?"
"Choco caramel boba."
Rena pun hanya mengangguk-angguk sembari terus menikmati minuman pemberian Nio.
...Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 140 Episodes
Comments
Imas Maela
gak kedengeran apa pengen d ulng lgi
2022-12-07
1
Neng Amira❤
lanjut thor
2022-03-31
2
Su Warni
terusin dong thor
2022-03-30
1