Waktu dua jam setengah seolah begitu cepat berlalu, kini tubuh tegap Nio pun akhirnya ambruk juga di atas tubuh mungil Sonia.
"Huh huh huh, terima kasih." Ucap Nio dengan nafas yang masih begitu terengah-engah, di tambah pula dengan peluh keduanya yang terus bercucuran deras di tubuh mereka masing-masing.
"Nampaknya kamu sudah semakin menguasai permainan malam ini, dan aku sangat menyukainya." Bisik Sonia yang tersenyum sembari terus mengusap-usap lembut punggung Nio.
"Tidak, sepertinya kamu yang begitu berpengalaman dalam hal ini. Aku hanya lah seseorang yang baru belajar dan itu pun juga denganmu." Jawab Nio yang akhirnya mulai menggulingkan tubuhnya untuk berbaring di sisi Sonia.
Mendengar hal itu Sonia pun hanya bisa tersenyum sembari memindahkan kepalanya ke dada bidang Nio. Kala itu Sonia benar-benar senang karena ia bisa kembali tidur dengan Nio dan merasakan kenikmatan dengan lelaki yang benar-benar ia sukai sejak lama.
Kini Nio yang sebelumnya hanya lah seseorang yang cuek akan masalah ****, telah berubah menjadi seseorang yang begitu membutuhkan **** hanya karena Rena yang ia lihat setiap harinya terus berpenampilan seksi.
Setiap malam tanpa Rena dan ayahnya sadari, Nio sering mengintip aktivitas mereka di malam hari hanya karena ingin menyaksikan kemolekan tubuh polos Rena dan aksinya di atas ranjang yang bagi Nio begitu mengagumkan.
Hingga beberapa malam telah berlalu, ternyata Rena yang juga hypersex merasa beberapa malam ini kurang terpuaskan dengan suaminya yang ternyata cukup lemah dalam urusan ranjang. Kegiatan ditempat kerja yang banyak menguras tenaga dan pikiran juga menjadi alasan yang kuat kenapa Rudi bisa menjadi tidak perkasa di atas ranjang seperti yang di harapkan Rena.
Beberapa hari kemudian...
Pagi ini Rudi, ayah Nio harus berangkat ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Di waktu bersamaan pula, Nio jatuh sakit hingga membuatnya sudah beberapa hari tak pergi ke kampus.
"Aku pergi dulu ya, jaga dirimu." Ucap Rudi pada Rena yang saat itu mengantarnya sampai di teras.
"Iya, hati-hati di jalan ya, mas." Jawab Rena sembari mencium punggung tangan sang suami.
"Emm. Aku titip Nio ya, beritahu aku jika ia ada ketahuan melakukan hal-hal buruk atau semacamnya. Mengerti?"
Rena pun hanya mengangguk patuh.
"Oh ya, segera kabari aku juga jika dalam beberapa hari sakitnya tidak juga sembuh." Tambah lelaki paruh baya itu lagi.
Rena pun sekali lagi hanya mengangguk patuh sembari tersenyum tipis. Akhirnya tanpa ingin menunggu lebih lama lagi, Rudi dengan di antar oleh supir pun langsung berangkat menuju bandara. Memastikan mobil yang di tumpangi suaminya sudah tak terlihat, Rena pun akhirnya kembali masuk ke dalam rumah dengan perasaan sedikit murung.
Ia pun memilih duduk merenung sendiri di meja makan sembari memandangi menu makanan yang belum tersentuh sedikit pun. Tak lama seorang pelayan, yang di biasa di panggil bi Inah itu, terlihat menuruni tangga dengan membawa nampan berisikan makanan yang masih utuh di atasnya.
"Kenapa makanannya di bawa turun lagi bi?" Tanya Rena sembari mengerutkan dahinya.
"Mas Nio tidak mau memakannya bu, jadi saya disuruh bawa makanan ini kembali."
"Benarkah? Kenapa begitu? Apa dia tidak suka? Atau rasanya yang tidak enak?" Tanya Rena lagi sembari menghampiri bi Inah dan mulai mencicipi bubur ayam yang ia masak sendiri.
"Hmm, rasanya enak, tapi kenapa Nio tidak mau makan?" Ucapnya setelah kembali mencicipi bubur itu.
"Tidak tau bu, tapi mas Nio bilang mulutnya terasa pahit." Jelas sang pelayan.
"Astaga Nio, bukankah orang sakit memang rata-rata begitu ya? Tapi dia harus makan agar bisa minum obatnya." Ucap Rena sembari kembali mengerutkan dahinya.
"Emm baik lah bi, kalau begitu berikan padaku! Biar aku saja yang memaksanya untuk makan." Rena pun mengambil alih nampan berisi bubur ayam dan jus jeruk itu dari tangan pelayan.
Lalu dengan langkah pelan ia pun kembali membawa nampan itu ke kamar Nio.
*Tok tok tok*
"Nioo." Panggil Rena dengan lembut.
"Masuk saja." Jawab Nio dengan suara yang terdengar begitu lirih.
Rena pun akhirnya perlahan masuk ke kamar Nio, itu pertama kalinya Rena masuk ke dalam kamar yang bernuansa hitam putih khas anak lelaki itu. Aroma maskulin pun tak kalah begitu pekat menyambut indera penciuman Rena, membuat Rena cukup merasa nyaman saat berada di dalamnya.
Melihat kehadiran Rena yang kala itu terlihat seksi seperti biasa, membuat lagi-lagi bagian bawah Nio seketika berdiri tegak tanpa peduli jika saat itu Nio sedang sakit.
"Nio, kenapa kamu tidak mau makan nak?"
"Mulutku terasa pahit." Jawab Nio yang saat itu terlihat tengah terbaring lesu.
"Iya ibu tau, tapi kamu tetap harus makan ya, agar bisa minum obat." Rena pun akhirnya mulai duduk di tepi ranjang Nio.
Dengan pelan dan sangat hati-hati Rena meletakkan nampan itu ke atas nakas yang ada di sisi kiri ranjang Nio. Lalu ia pun meraih semangkuk bubur ayam yang masih hangat dan mulai ingin menyuapi bubur itu ke Nio.
"Makan ya, biar ibu suapi." Rena pun tersenyum sembari mulai mengaduk pelan bubur ayam buatannya.
Saat itu Nio hanya terdiam sembari mulai berusaha untuk duduk dan bersandar di kepala ranjang. Dengan penuh keikhlasan dan kelembutan, Rena pun mulai menyuapi Nio, Nio pun akhirnya memakan perlahan bubur itu dengan tatapan mata yang seolah tak bisa ia palingkan dari Rena yang kala itu tengah memakai dress di atas lutut berwarna putih yang berbahan sedikit tipis tanpa lengan.
"Ternyata kamu memang harus di suapi dulu ya agar bisa makan hehe," celetuk Rena sembari tersenyum.
"Ya, ternyata makan di suapi oleh seseorang, rasanya sangat berbeda." Jawab Nio sembari terus memandangi Rena seolah tanpa kedip.
Rena pun terdiam sejenak dengan menampilkan senyuman ranumnya kala menatap Nio yang terkulai lemah.
"Kasihan Nio, dia pasti sudah terlalu lama tidak merasakan kasih sayang dari seorang ibu." Gumam Rena dalam hati.
"Jadi, apa kamu mau makan di suapi seperti ini terus ha?" Rena pun akhirnya tertawa sembari kembali menyuapi Nio.
Namun Nio seolah tak bergeming saat itu dan terus fokus menatap wajah hingga bibir Rena yang pagi itu terlihat begitu menggoda bak buah delima yang merekah.
"Nio, hei kenapa malah melamun?" Tanya Rena lagi sembari melambai-lambaikan tangannya di hadapan Nio.
Hal itu pun sontak membuat Nio tersentak, hingga membuatnya seketika terbatuk-batuk dan tersedak.
"Uhuk,, uhuk,, uhuk." Nio terus terbatuk.
"Astaga apa kamu tersedak? Ini, ini minum lah dulu." Ucap Rena yang sedikit panik sembari dengan cepat meraih sebuah gelas jus di atas nakas.
Namun rasa panik membuatnya juga tak fokus hingga sebagian jus itu tertumpah tepat mengenai baju bagian dadanya. Hal itu sontak membuat baju yang tipis jadi basah hingga memperlihatkan dengan begitu jelas bra yang ada di dalamnya. Sebuah bra berwarna merah kini terlihat begitu jelas di hadapan Nio, membuat kedua bola mata Nio seketika mendelik menatapnya.
...Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 140 Episodes
Comments
arul.tuanaya
ahahah Udha kek ugly cabul aj bukannya Ksi syng di artikan sebagai Ksi syng ibu kdpa anak malah penuh niat nafsu bejad
2024-11-13
0
Irfa Idiani
😍😍
2022-12-06
3