"Tidur dulu sana! Barangkali mimpi jadi orang cantik," ujar murid laki-laki, membuat yang lain tertawa renyah.
"Yang ada bangun tidur ileran karena mimpi tak tercapai."
"Bagus dong berarti kamu pinter buat peta, barangkali nanti pelajaran geografi mu dapat tambahan nilai." Sontak seorang murid terlihat menoyor kepala temannya yang ngelantur.
"Hai!" Rindu lewat di depan mereka sambil menyapa dan tersenyum ramah.
"Hai juga," ujar para siswi sambil melambaikan tangan ke arah Rindu.
Sementara murid laki-laki tampak menganga dan memandang tak berkedip ke arah Rindu. Seorang siswi iseng memotret mereka yang kompak menganga sambil cekikikan.
"Eh-eh lihat itu Rangga menuju ke sini."
"Eh iya ya, aku ingin lihat ekspresi dia kayak apa pas lihat wajah Rindu yang sudah cantik."
"Yuk, mendekat!"
Mereka pun mengikuti langkah Rindu dari belakang.
"Mana sih Nadia?" gumam Rindu sedikit geram karena tidak melihat keberadaan sahabatnya itu. Dia merasa risih semua murid di sekolah itu memandang dirinya terus. Jangan-jangan karena keberadaan bodyguard yang ditugaskan Reno.
"Tuan, boleh tidak Tuan tunggu di luar saja? Apa Tuan ingin bersekolah SMA lagi?" Rindu terlihat kesal.
"Tidak bisa Nona, ini sudah tugas saya dari Tuan Reno untuk mengikuti anda sampai masuk kelas."
"Hah, terserahlah." Rindu mendesah pasrah.
Dari jauh Rangga memandang intens ke arah Rindu sambil terus melangkah. Dalam hati bertanya siapa gadis yang berjalan ke arahnya kini.
Ketika salipan dengan Rindu, Rangga terlihat mundur dan menatap Rindu tak berkedip. "Kamu Rindu kan?"
Rindu tidak menjawab. Dia berjalan dengan cueknya melewati Rangga.
"Rin, tunggu!"
"Ada apa?" tanya Rindu datar dengan ekspresi yang terlihat dingin.
"Kamu Rindu kan?"
"Kenapa masih bertanya? Apa matamu katarak hingga tidak bisa melihat siapa yang berada di depanmu kini?"
"Cih sombong banget, mentang-mentang wajahnya nggak codet lagi. Paling cuma polesan make up doang kena air pasti luntur." Eliza yang berlari mengejar Rangga langsung nyerocos.
"Ayo sayang kita pergi!" Eliza menggaet tangan Rangga dan menariknya. Namun sayang Rangga malah melepas pegangan tangan Eliza.
Eliza menatap mata Rangga yang kini fokus menatap Rindu. Dalam hati ia merasa dongkol mengapa Rindu bisa secantik sekarang. Dia merasa khawatir Rangga akan kembali pada Rindu.
"Rindu, maafkan aku. Mungkin kata-kataku selama ini menyakitimu, tapi asal kamu tahu saja sebenarnya aku melakukan itu agar engkau bisa bangkit merubah wajahmu yang tidak terawat itu. Syukurlah dirimu menjadi seperti sekarang. Itu tandanya sikapku telah berhasil mengubah dirimu menjadi lebih baik."
Cih, munafik banget.
"Ya-ya terima kasih buatmu Rangga dan buat kamu juga Eliza. Kamu benar, karena hinaan kalianlah aku bisa jadi seperti ini. Terima kasih untuk semuanya dan mulai sekarang aku minta jangan pernah ganggu kehidupanku lagi. Permisi!" Rindu langsung pergi dari hadapannya Rangga. Namun tangan Rangga langsung menarik tangan Rindu dan menahannya.
"Rindu maafkan aku dan kembalilah padaku! Aku janji setelah ini aku akan setia kepadamu." Rangga menatap mata Rindu penuh harap.
Mendengar perkataan Rangga Rindu tersenyum miring. "Terus Eliza mau kamu kemanakan? Aku tidak mau loh diduakan."
Rangga beralih menatap Eliza. "Eliza kita putus sekarang."
Eliza tampak membeku mendengar pernyataan Rangga. Dia masih tidak percaya dengan ucapan pria yang ada di hadapannya kini.
"Kamu serius Rangga?"
"Aku serius El mulai hari ini kita putus."
Eliza masih menggeleng tak percaya. "Kamu bercanda kan? Mana mungkin kau menukarku dengan wanita seperti dia? Rangga sadar! Pasti kau kena pelet lagi."
Rindu hanya menggeleng mendengar perkataan Eliza. Selalu begitu saat kesal sama orang lain. Mulutnya lemes kalau soal menuding orang sembarangan.
"Kenapa masih berdiri di situ? Pergi sana Rangga sudah tidak membutuhkanmu," ujar Rindu.
Wanita seperti Eliza memang harus diberi pelajaran kalau tidak dia pasti menjadi-jadi. Suka menghina orang dan yang lebih parah dia bisa berkhianat pada sahabatnya sendiri.
Mendengar perkataan Rindu Eliza menjadi kesal. Ia langsung menghampiri Rindu dan tangannya hendak menampar pipi Rindu tetapi langsung di tangkap oleh bodyguard suruhan Reno.
"Lepaskan! Wanita sombong seperti dia harus diberi pelajaran. Wajahnya harus dicakar agar kembali seperti semula." Eliza menghempaskan tangan bodyguard itu dan hendak mencakar wajah Rindu. Namun segera ditangkap kembali dan kali ini dipegang erat sampai Eliza terlihat meringis.
"Aduh sakit, lepaskan!"
"Dengar ya Nona! Aku akan melepaskan tangan Nona tetapi kalau sampai Nona menyentuh atau bahkan menyakiti Nona Rindu maka saya tidak akan segan-segan mematahkan tangan Nona."
"Iya-iya," jawab Eliza pasrah.
"Hus-hus pergi sana!"
"Awas ya kamu Rindu urusan kita belum selesai," ujar Eliza kesal sambil berjalan menjauh. Namun tiba-tiba dia berbalik.
"Kamu juga Rangga, dasar laki-laki playboy," kesalnya.
"Bagaimana Rin, penghalang hubungan kita sudah tidak ada. Kamu mau kan menerima cintaku lagi?"
Rindu tampak terdiam bukan bingung harus berkata apa karena jawabannya sudah pasti tidak. Dia sudah terlanjur sakit hati kepada Rangga terlebih lagi di hatinya sudah ada nama orang lain yang terukir di sana yaitu, Reno. Namun apakah etis menolak cinta Rangga di tengah-tengah tontonan siswa-siswi di sekolah yang kini tampak berkerumun mengelilingi dirinya.
"Eh hama! Punya nyali kamu ingin kembali pada Rindu?" Tiba-tiba saja Reno muncul dari belakang Rindu.
"Kamu siapa?" tanya Rangga mengernyit.
"Harusnya aku yang bertanya, kamu siapa berani-beraninya ganggu cewekku."
"Hem, cewekmu? Mimpi saja sana. Rindu itu hanya akan menjadi milikku." Rangga tampak percaya diri.
"Iya kan Rindu?"
Sayangnya Rindu menggeleng. "Sorry aku tidak bisa menerima cintamu. Karena aku mencintai dia," tunjuk Rindu di dada Reno membuat lelaki itu tersenyum menang.
"Huuu ...." Semua murid yang menyaksikan bertepuk tangan sambil menyoraki Rangga. Bagaimana tidak Rangga yang biasanya dengan mudah mendapatkan pacar tapi kali ini malah ditolak oleh mantan gadis buruk rupa yang selalu dihinanya selama ini.
"Bagaimana?" Pertanyaan Reno ini membuat Rangga menjadi semakin kesal. Sudah tidak dapat Rindu, dipermainkan Rindu di depan teman-temannya juga harus kehilangan Eliza secara bersamaan. Kalau tahu Rindu tidak bisa menerimanya kan dia bisa bertahan dengan Eliza. Kalau sudah seperti ini kan kacau urusannya.
"Dasar Rindu, dia sengaja mempermainkan aku," batinnya.
"Ingat bro, urusan kita belum selesai," ujar Rangga sambil menepuk pundak Reno.
"Boleh saja kalau kau ingin bermain-main denganku. Aku akan siap melawan kapanpun kau ingin bertanding."
Rangga tersenyum miring. "Tentu saja saya tidak akan melawanmu secara terang-terangan," ujar Rangga dalam hati.
"Ayo sayang temani saya makan aku sudah lapar. Sekolah ini ada kantinnya kan?"
"Tentu saja ada, yuk sebelum bel masuk kelas berbunyi!" Rindu menarik tangan Reno sambil tersenyum manis dan aksi itu berhasil menyulut emosi Rangga.
"Rindu kalau kamu tidak bisa kumiliki maka orang lainpun juga tidak boleh memilikimu," ujar Rangga dalam hati sambil mengepalkan kedua tangannya.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Imam Sutoto Suro
good job thor lanjutkan
2023-05-18
0
Rinna Anisa
hati hati rindu ,reno kagain jangan sampe kecolongan ,smangat trus thorr
2022-04-19
1
Azzura
emang lah anak satu nih.. hobi kok bikin emosi 🤦
2022-04-19
1