"Apa yang terjadi pada Rindu Nad?"
"Aku tidak tahu Bik, pas bangun saya lihat Rindu sudah seperti ini."
"Ya Allah kenapa ini?" tanya Yani ikut gusar.
Sedangkan Rindu tampak semakin gelisah ia sampai membanting tubuhnya ke kanan dan ke kiri akibat tidak kuat menahan sakit. Beberapa saat kemudian dia seperti orang kejang-kejang dan seperti orang kerasukan.
"Bik bagaimana ini?" Nadia yang tidak biasa menangis saat itu air matanya langsung luruh melihat sang sahabat tersiksa.
Yani berteriak-teriak meminta pertolongan. Namun, tak ada satupun orang yang mendengar suaranya karena rumah mereka yang berjarak agak jauh dengan rumah para tetangga. Dia menyayangkan mengapa tidak ada satu orangpun yang mengunjungi toko, padahal biasanya di jam-jam seperti ini ada saja orang yang membeli sesuatu dari tokonya.
"Nad kamu bawa motor kan, bantu bibi bawa dia ke puskesmas ya," pinta Yani.
Nadia mengangguk dan langsung bangkit dari duduknya.
"Ayo Bik!" Nadia berjalan keluar untuk menyiapkan motor sedangkan Yani langsung menggendong tubuh Rindu, tetapi sayang tenaganya tidak kuat karena tubuh Rindu yang berat akibat gemuk.
Yani tampak panik sekali, ia segera mengambil ponsel dan langsung menelpon Dahlan sang suami untuk pulang. Namun sayangnya ponsel sang suami tidak aktif.
"Aargh! Apa sih yang dia kerjakan sampai menonaktifkan hapenya," ucap Yani kesal sambil melempar ponsel ke atas kasur. Kemudian dengan tergopoh-gopoh dia keluar rumah dan memanggil Nadia untuk kembali masuk ke dalam rumah.
"Nad jagain Rindu, aku mau minta tolong sama tetangga."
"Baik Bik." Nadia berlari ke dalam kamar dan mendampingi Rindu sedangkan Yani berlari ke rumah tetangga untuk mencari pertolongan.
"Nak Galang bantu saya untuk membawa Rindu ke puskesmas setempat yuk, saya nggak kuat ngangkat dia," pinta Yani. Galang adalah anak pak RT di tempat itu.
"Wah sayang sekali mobil ayah sedang dibawa keluar," ucap Galang.
"Tidak apa-apa Nak, bantu saja ngangkat dia ke motor. Di sana sudah ada motor tapi saya hanya tidak kuat mengangkatnya."
"Baik Bu saya segera ke sana." Pemuda itu tampak memasang jaket kemudian naik ke atas motornya.
"Ayo Bu naik motorku biar cepat sampai."
Setelah sampai di rumah, Galang langsung menggotong tubuh Rindu naik ke atas motornya sendiri. Nadia pun mendekat untuk memberikan bantuan. Yani naik di belakang, memegang erat tubuh Rindu agar saat ia kambuh penyakitnya, tidak akan jatuh dari motor.
Setelah motor Galang melaju, Nadia pun mengikuti motor itu dari belakang.
"Bagaimana Dok?" tanya Yani saat dokter selesai memeriksa Rindu.
"Anda ibu pasien?" tanya dokter tersebut.
"Saya bibinya Dok," sahut Yani.
"Maaf dengan berat saya harus mengatakan pasien sedang mengalami asam lambung akut dan juga terkena penyakit jantung."
"Apa?! Tidak mungkin Dok, tidak mungkin!" seru Yani sambil menangis histeris begitupun dengan Nadia sedari tadi belum juga menghentikan tangisnya.
"Ibu sabar ya Bu. Saya menyarankan ibu membawa pasien ke rumah sakit umum saja sebab di sini peralatan kurang memadai," ujar sang dokter lagi.
"Bagaimana ini Nak Nadia, Nak Galang?" tanya Yani meminta pendapat keduanya.
"Kalau menurutku sih langsung dibawa saja Bu, lebih cepat lebih baik," saran Galang dan Nadia hanya mengangguk setuju.
"Baiklah," ujar Yani.
"Sebentar Bu aku telepon ayah dulu barangkali dia sudah kembali," ujar Galang sambil meraih ponselnya.
"Bagaimana Nak Galang? Kalau tidak bisa, pakai mobil ambulance saja biar cepat," ucap Yani panik.
"Ibu tenang saja dulu, tidak perlu terlalu panik. Kebetulan ayah tidak jauh dari tempat ini dan sekarang sedang dalam perjalanan menuju ke sini."
Yani tampak menghela nafas panjang dan mulutnya tampak merapalkan doa.
Beberapa saat mobil pak RT datang. Dengan membawa surat rujukan dari Puskesmas mereka membawa Rindu ke rumah sakit umum yang ada di kabupaten.
Bukan cuma berhari-hari Rindu dirawat inap di rumah sakit itu bahkan berbulan-bulan. Nadia senantiasa menyempatkan dirinya untuk mengunjungi Rindu di saat-saat jam pulang sekolah. Begitupun dengan Rangga, sebelum ia kembali ke kota untuk melanjutkan studinya di salah satu kampus ternama.
Suatu hari Dahlan meminta Yani untuk membawa pulang saja Rindu karena sepertinya tidak ada kemajuan dalam kondisi tubuh gadis itu.
"Aku tidak tega Bang. Aku tidak yakin bisa merawat Rindu kalau dibawa pulang ke rumah."
"Kalau pengobatan rumah sakit sudah tidak bisa diandalkan ya kita harus cari pengobatan lain," ujar Dahlan.
"Maksud Abang kita akan membawa dia ke dukun gitu?" tanya Yani.
"Bukan ke dukun kita bawa ke ustad-ustadz atau ke Pak Kiai. Barangkali mereka punya solusi untuk kesembuhan penyakit Rindu," jelas Dahlan.
"Apa kamu tidak melihat kejanggalan dari penyakitnya?" lanjutnya.
"Saya setuju Bik dengan paman Dahlan. Nadia merasa aneh karena tubuh Rindu selalu mengeluarkan air. Kalau cuma keringat sih Nadia masih maklum tetapi Nadia yakin itu bukan keringat biasa. Biasanya yang keluar air seperti itu pasien yang terkena paru-paru basah bukan penyakit jantung tapi itupun jumlahnya tidak akan sebanyak yang Rindu keluarkan," terang Nadia.
Yani tampak merenung memikirkan ucapan Nadia. Setelah diingat-ingat ucapan Nadia ada benarnya. Setiap hari tubuh Rindu selalu basah. Dalam sehari Rindu harus berganti bantal lebih dari sepuluh kali karena basah begitupun dengan sprei yang menjadi alas tidurnya yang selalu basah hingga Yani dan Dahlan menyiasati sprei itu dilapisi dengan sarung dan itupun masih tembus sehingga harus diganti berkali-kali.
Akhirnya hari itu mereka nekat membawa pulang Rindu dan merawatnya di rumah.
Esok hari teman-teman sekelas Rindu menjenguk gadis itu setelah beberapa waktu lalu hanya perwakilan kelas saja yang menjenguknya waktu di rumah sakit.
Semua teman-teman bersimpati melihat keadaan Rindu tetapi tidak dengan Kika and the genk.
"Benarkan dia pemuja setan? Kalau tidak dia tidak akan sakit parah seperti ini. Mungkin karena sudah tidak ada tumbal," ucap Kika berbisik di telinga Luna tetapi masih bisa di dengar oleh beberapa orang.
"Kasian dia, tubuh gentongnya sudah tinggal kulit pembalut tulang," Kika terkekeh.
"Dia semakin jadi mengerikan, sudah wajah buruk rupa, tubuh kayak tengkorak lagi," timpal Lora.
Rindu yang mendengar ucapan ketiganya tidak mampu berkata-kata dan hanya meneteskan air mata. Dalam hati berpikir sebegitu benci kah mereka terhadap dirinya hingga sampai ia tak berdaya pun masih melontarkan kata-kata yang menyakiti hatinya.
Nadia melotot ke arah mereka. Dengan ekor matanya mengusir mereka agar segera keluar dari rumah Rindu. Kalau tidak takut pada para guru dia pasti sudah mendorong bahkan menendang tubuh mereka keluar rumah.
Setelah para guru dan teman-teman sekolah Rindu pulang, Dahlan dan Yani segera membawa Rindu kepada seorang ustadz. Di sana Rindu langsung dibaringkan dan dibacakan doa-doa. Nampak perut Rindu bergerak-gerak seperti ombak yang bergulung di lautan. Beberapa saat kemudian ia memuntahkan air bercampur darah dan beberapa paku dari mulutnya.
"Astagfirullah hal adzim," ujar Dahlan sedangkan Yani langsung menangis histeris. Namun kemudian mereka bernafas lega karena pada saat itu Rindu langsung bisa bangun sendiri.
"Alhamdulillah." Mereka pun bersyukur melihat Rindu sehat kembali.
"Pak ustadz itu apa tadi, kenapa perut Rindu bisa bergulung-gulung seperti itu. Apa Rindu terkena sihir?" tanya Yani penasaran.
"Itu tadi penyakit. Penyakit itu juga makhluk Allah jadi dia juga bisa bergerak dan ketika saya memintanya untuk keluar dia keluar dengan izin Allah," jelas pak ustadz.
"Subhanallah," ucap Dahlan.
Sedang mereka berbincang-bincang Nadia terlihat menunduk karena khawatir takut penyakit Rindu akibat minyak oles yang sekarang sudah dikantonginya dalam tas. Dia juga takut ustadz itu bisa menebak pikirannya saat ini.
"Jangan khawatir ini tidak ada hubungannya dengan minyak itu," ujar ustadz membuat Nadia mengangkat muka karena kaget.
"Tetapi akan lebih baik apabila kita meminta hanya kepada Allah mengenai jodoh kita." Nadia tambah terhenyak begitupun Rindu sedangkan Dahlan dan Yani yang tidak mengerti dengan yang diucapkan oleh Pak ustadz, tampak kebingungan dan hanya bisa menerka-nerka.
"Kembalikan minyak itu pada pemiliknya," ujar ustadz itu lagi. Nadia dan Rindu hanya mengangguk.
"Kalian harus menjelaskan tentang semua ini di rumah," ucap Dahlan pada Nadia dan Rindu. Keduanya mengangguk lagi.
"Jangan lupa banyak-banyaklah membaca sholawat karena itu bisa menjadi perlindungan bagi kita," nasehat Pak ustadz.
Baik Dahlan, Yani, maupun Rindu dan Nadia mengangguk. Setelah berbincang-bincang lagi dan mengucapkan terima kasih akhirnya mereka pamit pulang.
🌟🌟🌟🌟🌟
"Bik sekarang Rindu sudah sembuh total jadi hari ini Rindu akan bekerja kembali," ujar Rindu pada suatu hari.
"Tidak usah Rin, biar paman sama bibi yang kerja. Kamu istirahat saja," ujar Dahlan.
"Tidak Paman, Rindu harus bekerja kembali. Rindu harus mengumpulkan banyak uang. Aku tahu, uang kalian pasti habis kan untuk biaya rumah sakit Rindu."
"Sudahlah Rin jangan memikirkan itu. Kamu pikirkan saja kesehatan kamu."
"Rindu sudah sehat kok Bik, jadi harus semangat lagi bekerja."
"Lebih baik kamu fokus merawat diri saja agar tidak dihina lagi oleh teman-temanmu itu." Yani sempat mendengar perkataan Kika dan antek-anteknya saat menjenguk Rindu saat itu tetapi ingin marah-marah tidak enak pada guru-guru yang datang.
"Rindu sudah tidak peduli lagi dengan ucapan mereka Bik. Biarkan mereka mau berkata apa yang penting saya tidak pernah mengganggu kehidupan mereka."
"Kamu benar Nak tetapi kamu sudah tidak bisa bekerja lagi di tempat paman Suseno."
"Loh kenapa Bik, apa aku dipecat karena sudah lama tidak masuk kerja?"
"Bukan, tetapi di tempat paman Suseno sekarang sudah menggunakan mesin jadi sudah tidak butuh tenaga terlalu banyak."
"Oh gitu ya Bik. Berarti aku harus kerja apa ya?" Rindu tampak memeras otak.
"Nggak usah nyari kerja, bantu-bantu bibi saja lah jagain toko."
"Hmm, bagaimanapun kalau kita nyambi jualan ayam goreng saja Bik, kan kita bisa beli langsung daging ayamnya ke paman Suseno."
"Kamu yakin?"
"Yakin lah Bik, seribu persen malah," ujar Rindu sambil terkekeh.
"Terserah kamulah kalau begitu, bibi hanya mendukung saja," ujar Yani pasrah.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Imam Sutoto Suro
top deh lanjut thor
2023-05-17
0
IG: Saya_Muchu
lanjutkan
2022-04-06
0