Part 15. Usahamu membuatku Rugi

"Baik Tuan, nanti tidak akan lagi," ucap Deril dengan rasa bersalahnya.

"Sekarang antarkan aku ke pabrik pengolahan sosis merek ini!" perintah Reno.

Saat Reno berkata seperti itu tiba-tiba ponsel Deril berdering.

"Sebentar tuan muda saya terima telepon dulu," pamit Deril sambil melangkah menjauhi Reno. Lelaki itu hanya terlihat mengangguk.

"Apa? Kalian serius?" Terdengar samar-samar suara Deril di telinganya Reno.

"Baik kirimkan alamatnya!" Deril langsung menutup panggilan teleponnya dan menghampiri Reno kembali.

"Bagaimana sudah tahu alamatnya?"

"Sudah Tuan, mari kita langsung berangkat ke sana."

Reno mengangguk lalu berjalan dengan langkah cepat menuju parkiran tanpa mempedulikan Deril yang tampak setengah berlari mengejarnya.

Sampai di mobil, Reno langsung masuk ke kabin belakang sedangkan Deril duduk di kursi kemudi dan menyetir mobilnya sampai tujuan.

"Deril berapa lama kita akan sampai ke perusahaan itu? Ini sudah lebih dari satu jam kita berada di jalanan," protes Reno.

"Sabar Tuan tempatnya masih lumayan jauh. Lebih baik Tuan bawa istirahat dulu biar tidak lelah," saran Deril.

"Bagaimana aku bisa istirahat kalau ada sesuatu yang masih mengganjal di hati."

"Tapi Tuan .... "

"Sudah jangan banyak bicara, lebih baik kamu fokus menyetir biar cepat sampai."

"Bagaimana bisa cepat sampai kalau menyetirnya harus pelan seperti ini," gumam Deril tetapi masih bisa di dengar oleh Reno.

"Silahkan kebut kalau kau ingin ku tendang dari perusahaan."

Deril hanya bisa menelan ludah mendengar perkataannya Reno. Dia tidak tahu kenapa bos-nya yang satu ini tidak suka dibawa ngebut di jalanan padahal beberapa kali bekerja di perusahaan lain para petinggi perusahaan selalu memintanya untuk mengencangkan laju mobilnya. Terutama saat mereka dikejar waktu.

Oleh karena Reno tidak suka naik kendaraan dengan kecepatan tinggi, terkadang Deril harus menyiapkannya kebutuhan Reno lebih awal termasuk mengantarkan dia lebih awal kalau ingin bertemu klien di luar agar tidak telat apabila tempatnya agak jauh.

Deril melirik sang bos lewat kaca mobil di depannya. Reno tampak menguap tapi tidak mau tidur. Dia hanya terlihat menyandar tanpa mau memejamkan mata. Deril tahu sang bos pasti mengantuk karena semalaman telah menjaga neneknya yang sakit parah. Pria itu memang keras kepala disuruh istirahat tidak mau malah ngotot ingin menjaga neneknya semalaman, padahal sejak pagi dia mengunjungi beberapa peternakan sapi dan ayam sebagai bahan dasar sosis buatan pabriknya hingga malam menjelang.

Bagi Reno nenek Siva adalah orang satu-satunya tempat ia bersandar dan menyampaikan segala keluh kesah. Beliau juga tempat bermanja bagi Reno yang sejak remaja sudah kehilangan kedua orang tua. Itulah alasan mengapa Reno selalu menyempatkan menjaga sang nenek meski sudah ada yang menjaganya walaupun dia juga dalam fase lelah. Baginya ini adalah salah satu cara menyayangi sang nenek meski tidak akan sanggup membalas segala kebaikan nenek Siva padanya.

"Bagaimana keadaan Nyonya besar Tuan?" tanya Deril yang tiba-tiba ingat akan nenek Siva.

Reno menarik nafas panjang saat mendapat pertanyaan seperti itu. "Tidak ada perkembangan sama sekali. Orang-orang bilang dia hanya menunggu waktu saja. Makanya kalau tidak bekerja aku terus menjaga karena takut dia menghembuskan nafas terakhir disaat aku malah terlelap tidur." Nenek Siva sebenarnya tidak memiliki penyakit kronis hanya saja dia sudah terlihat lemah. Banyak orang bilang dia hanya sakit tua.

"Tetapi Tuan muda harus menjaga kesehatan sendiri, bisa-bisa kesehatan anda malah drop nantinya kalau terus dipaksakan." Deril menatap Reno dengan iba, lelaki itu seolah kehilangan arah hidupnya semenjak sang nenek mulai sakit-sakitan. Lelaki yang terlihat begitu tampan dulu kini terlihat lebih kurus dan mata panda kini selalu menghiasi wajahnya.

"Der buatkan aku kopi!" perintahnya pada sang asisten.

"Baik Tuan, sebentar." Deril tampak menepikan mobilnya. Kemudian meracik kopi yang bahan-bahannya memang selalu standby di dalam mobil.

"Ini Tuan kopinya." Deril menyodorkan segelas kopi kepada Reno.

"Kamu buatlah untuk dirimu sendiri agar tidak mengantuk!" perintah Reno dan Deril hanya mengangguk lalu meracik kopinya sendiri.

Mereka duduk-duduk sebentar di tepi jalan sambil menyeruput kopi masing-masing.

"Kira-kira masih berapa lama kita akan sampai ke tempat itu. Kamu tidak salah jalan kan telah membawaku masuk ke pedesaan?" tanya Reno sambil matanya menikmati alam pedesaan yang sejuk dan asri. Beberapa saat ia terlihat menghirup udara segar dari sekitar.

"Andai pemandangan di kota masih seperti ini, pasti cuacanya akan selalu sejuk," gumamnya.

"Tuan benar udara di sini mengandung banyak oksigen dibandingkan di kota yang malah lebih banyak mengandung karbondioksida."

"Kita kembali ke perjalanan," ujar Reno setelah menandaskan kopinya.

Deril pun menurut, ia kembali ke dalam mobil dan menyetir kembali.

"Kamu belum menjawab pertanyaanku. Apa kita tidak salah jalan?"

"Tidak Tuan, menurut alamat yang kudapatkan memang ke arah sini."

Reno terlihat mengangguk.

Setelah satu jam mereka menempuh perjalanan semenjak berhenti di pinggir jalan kini mereka sudah sampai di kampung Rindu.

"Kamu yakin letak perusahaan itu ada di sini?"

"Ya benar Tuan."

"Aneh biasanya perusahaan besar itu dibangun di kota, ini malah di kampung seperti ini."

"Aku tidak tahu Tuan dan aku pun juga tidak mengerti mengapa anda mengajakku ke sini." Deril tidak mengerti arah pikiran Reno. Biasanya setiap ingin bertindak dia selalu memberitahukan pada Deril tetapi kali ini tidak.

"Aku ingin bernegosiasi dengan pemilik perusahaan kalau perlu kita ajak kerjasama."

"Bagaimana kalau mereka tidak mau?" tanya Deril ragu.

"Tidak akan ada yang berani menolak permintaan perusahaan besar kita."

Deril terlihat mengangguk meski tidak yakin.

Beberapa saat kemudian mereka dijemput oleh anak buahnya. Anak buah itu langsung mengantarkan Deril dan Reno ke tempat Rindu.

"Yakin ini tempatnya?" tanya Reno tidak yakin karena yang dia lihat bukan sebuah perusahaan melainkan hanya sebuah rumah yang digabung dengan gudang. Namun tidak dipungkiri Reno kagum karena melihat meski tempat itu jauh lebih kecil dari perusahaannya di tempat itu banyak menampung karyawan.

"Maaf anda mencari siapa?" tanya Dahlan.

"Tuan kami ingin bertemu dengan pemilik perusahaan yang bernama Rindu itu," ujar Deril. Dia sudah dibisikkan anak buahnya bahwa pemilik usaha itu bernama Rindu.

Dahlan hanya mengernyit. Rasanya dia ingin tertawa mendengar orang di depanku mengatakan tempatnya adalah perusahaan. Namun setelah dipikir-pikir dia tidak jadi tertawa.

"Silakan masuk dan tunggu sebentar karena pemiliknya belum pulang sekolah. Mungkin sebentar lagi datang," terang Dahlan.

Keduanya pun masuk dan duduk. Dahlan memerintahkan supaya Yani membuatkan minuman.

"Kira-kira lama nggak sih dia kuliah?" bisik Reno di telinga Deril. Deril mengangkat bahu dan mengatakan tidak tahu.

"Kita tunggu saja hingga datang biar ada gunanya kita jauh-jauh datang kemari," saran Deril dan Reno tampak mengangguk.

Beberapa saat kemudian Rindu datang dengan berlari-lari masuk ke dalam rumah.

Brugh.

Tak sengaja tubuhnya menabrak Reno yang kebetulan ada di pintu. Reno memang berniat keluar mencari angin segar karena di dalam terasa panas sehingga membuat dirinya merasa gerah.

"Kau mau mati ya," ujar Reno spontan karena kesal.

"Ih siapa ya mau mati? Dengan menabrakmu aku bisa mati? Emang kamu malaikat apa," protes Rindu.

"Rin ada yang mau bertemu kamu," ujar Dahlan yang baru saja dari dapur memberitahukan para sang istri kalau ada tamu.

"Dia?" tanya Rindu sambil menuding Reno, kesal.

"Iya," jawab sang paman.

"Ada apa?" tanya Rindu to the point.

"Kami ingin mengajak kerjasama."

"Kerjasama apa?"

"Aku ingin produk sosis kamu menjadi produk perusahaan kami."

"Enak aja, tidak!" seru Rindu.

"Kamu harus mau kalau tidak ...."

"Kalau tidak apa? Mau menghancurkan usaha kami?"

"Pokoknya harus mau." Reno tampak ngotot.

"Ih kenapa sih ngotot. Kenapa suka memaksa?"

"Kamu mau tahu? Alasannya adalah karena usahamu membuat ku rugi," ujar Reno sambil bersedekap dada.

"Cih, aku tidak pernah mengganggu siapapun apalagi merugikan orang lain. Tolong jelaskan dari segi mananya aku bisa membuatmu rugi!"

Bersambung.....

Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏

Sambil menunggu Author update lagi, mampir ke sini dulu yuk! Dijamin ceritanya bikin baper dan keren abis.

Terpopuler

Comments

Imam Sutoto Suro

Imam Sutoto Suro

buseeet dah keren thor lanjutkan

2023-05-17

0

Azzura

Azzura

pulang sekolah di hadapin sama bos galak ya emosian lah Rindu...
semangat boss sosis🤭😁

2022-04-13

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!