Part 4. Depresi

Minggu pagi, matahari bersinar cerah. Rindu masih tampak bergelung dalam selimut di kamarnya. Bibi Yani membiarkan keponakannya itu untuk beristirahat karena mengerti Rindu pasti lelah setelah setiap hari melakukan rutinitas sekolah sekaligus bekerja.

"Eugh." Rindu melenguh lalu merentangkan kedua tangannya untuk mengencangkan otot-otot yang terasa mengendor. Setelahnya ia langsung bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri lalu memakai baju yang rapi.

Ia tersenyum memandang celengan yang terletak di atas lemari hias. Setelah semalaman berpikir sekarang tekadnya sudah bulat untuk menggunakan sebagian uang yang ia kumpulkan selama ini untuk biaya operasi wajahnya kelak. Ia akan gunakan untuk membeli kosmetik mahal. Syukur-syukur setelah memakai kosmetik tersebut wajahnya kembali cantik seperti semula tanpa harus melakukan operasi wajah.

Rindu membuka kotak celengan yang terkunci. Perlahan ia mengumpulkan uang lembaran yang ada dan memasukkan ke dalam dompet. Bibirnya tampak tersenyum sumringah membayangkan wajahnya kembali putih dan licin seperti dulu.

Dulu ketika Rindu masih duduk di bangku kelas satu SMP sebelum kecelakaan terjadi, banyak teman-teman pria yang menginginkan dia untuk menjadi kekasih. Semua murid wanita pun menyukainya dan bahkan sering mengatakan iri terhadapnya. Banyak kakak kelas laki-laki yang tergila-gila dan mengincar dirinya.

Ketika masa orientasi siswa berlangsung pun dia dipermudah untuk mendapatkan tanda tangan kakak-kakak osis, tidak seperti siswa yang lainnya yang untuk mendapatkan tanda tangan saja harus susah payah, disuruh mengejar, menyanyi, merayu dan segala macam hal lainnya.

"Memiliki wajah yang cantik itu enak, banyak yang suka dan segala urusan dipermudah," gumamnya. Namun kini tatapannya berubah sendu saat ingat semua itu hanya masa lalu dan sekarang yang terjadi justru sebaliknya. Tanpa disadari ada setetes air mata yang terjatuh.

"Rin ayo makan dulu Nak, pamanmu sudah menunggu di meja makan." Bik Yani berucap sambil membuka pintu kamar Rindu yang tidak terkunci.

"Ah iya Bik." Rindu mengusap tetesan air mata dan mencoba menguatkan diri.

"Bibi tunggu di ruang makan," ucap Bik Yani lagi yang tidak menyadari bahwa keponakannya sedang menangis. Setelah mendengar kata 'iya' dari Rindu dia langsung berlalu pergi.

Rindu memasukan dompet ke dalam tas jinjing kemudian membawanya ke meja makan.

"Wah pagi-pagi sudah rapi begini apa ada kegiatan ekstrakurikuler?" tanya Paman Dahlan.

"Tidak Paman, hari ini Rindu mau ke toko kosmetik buat beli peralatan perawatan wajah."

"Oh begitu ya. Bagus kalau begitu. Kamu sudah remaja memang harus sudah pandai merias diri." Ucapan sang paman membuat Rindu bernafas lega sekaligus merasa didukung.

"Terima kasih Paman."

"Perginya dengan siapa?" tanya Dahlan.

"Sendiri Paman."

"Mengapa tidak mengajak Luna saja?" Sekarang Yani yang bertanya.

Rindu menarik nafas panjang lalu menghembuskan secara perlahan. "Dia tidak mau berteman lagi denganku Bik."

"Loh kenapa? Apa kalian bertengkar?"

"Tidak Bik, tapi dia hanya malu saja punya teman sepertiku."

"Malu? Tumben?" tanya Yani heran. Apa yang membuat Luna malu berteman dengan Rindu sementara persahabatan mereka sudah terjalin sejak duduk di bangku SMP.

"Karena teman-teman di sekolah sudah tahu akan wajahku."

"Jangan dipikirkan kalau begitu, berarti dia bukan teman yang tulus."

Rindu mengangguk.

"Sudah ayo makan!" perintah Dahlan.

Setelah selesai makan Rindu berpamitan kepada paman dan bibi kemudian pergi ke salah satu toko kosmetik yang terkenal di daerahnya dengan menaiki kendaraan umum.

"Ada yang bisa saya bantu Mbak?" tanya penjaga toko.

"Di sini kosmetik yang paling bagus yang mana ya Mbak?" tanya Rindu.

Penjaga toko pun mengeluarkan berbagai merek kosmetik yang ada di dalam etalase dan menjelaskan setiap kegunaan kosmetik satu persatu.

"Kalau yang ini bisa cepat memutihkan wajah tetapi tidak semua orang cocok, tergantung jenis kulit sih."

Rindu hanya manggut-manggut mendengar setiap penjelasan dari penjaga toko.

"Kalau ini Mbak?"

"Kalau yang itu banyak orang yang cocok, tetapi harganya lumayan mahal dan harus beli satu set."

"Berapa Mbak?"

Penjaga toko menyebut harga kosmetik itu.

"Baik Mbak aku beli yang ini."

"Oke, saya bungkuskan!"

"Ini Mbak." Penjaga toko mengulurkan kosmetik itu ke tangan Rindu. Namun sebelum Rindu menerima ada seseorang yang langsung merampas kosmetik tersebut dari tangan penjaga toko.

Rindu dan penjaga toko langsung menoleh karena kaget.

"Luna!" seru Rindu.

Luna menyerahkan kosmetik itu ke tangan Kika. Kika langsung membuka bungkusan kosmetik itu dan tersenyum mengejek.

"Hai wanita buruk rupa, kau pikir dengan kosmetik mahal seperti ini akan membuat wajahmu jadi seperti bidadari?" cibir Kika.

"Jangan mimpi kamu!" seru Eliza.

"Aku tidak ada urusan dengan kalian," ucap Rindu.

"Tidak ada urusan? Mataku sakit melihat wajah jelekmu."

"Hahaha...."

"Hahaha...."

Mereka serempak tertawa sedangkan penjaga toko nampak kebingungan. Dia tidak tahu apa yang dibicarakan oleh gadis-gadis di depannya karena Rindu menggunakan masker.

"Berikan itu padaku!" pinta Rindu.

"Kamu mau ini? Kamu mau cantik? Boleh saja, tapi dalam khayalan saja, hahaha...." ujar Kika lalu gadis itu menjatuhkan kosmetik itu ke lantai dengan kasar dan menginjak-injak.

"Tuh sana ambil! Barangkali dengan diinjak oleh Kika kecantikan wajahnya akan menular kepadamu," ucap Luna sambil cekikikan disambung kekehan dari Kika dan Eliza membuat Rindu menjadi geram.

"Maaf Mbak saya beli kosmetiknya besok saja, sekarang saya lagi tidak mood," ujar Rindu.

"Loh terus ini bagaimana?" tanya penjaga toko sambil mengambil kosmetik di lantai yang bungkusnya sudah ada yang pecah akibat ulah Kika melempar dengan keras dan menginjaknya tadi.

"Itu masih barang Mbak, karena saya masih belum membayarnya," ucap Rindu sambil melenggang pergi.

Sontak Kika, Luna dan Eliza kaget dan mukanya berubah pucat.

"Kalau begitu kalian yang harus membayar!" perintah penjaga toko.

"Loh kok kami sih Mbak," protes Kika.

"Lah terus siapa? Masa saya? Kalian tahu gaji saya seminggu di sini belum mampu untuk membayar harga kosmetik ini. Lagipula kalian yang merusaknya, apa salah jika saya meminta kalian yang harus bertanggung jawab?"

"El bayarin dong!"

"Enak aja Ki, kan kamu yang merusaknya kok malah aku sih yang harus bertanggung jawab," protes Eliza.

"Lun bayarin dong!"

"Aku mana ada uang," ujar Luna.

"Cih terus siapa yang harus bertanggung jawab?"

"Ya kamulah sama Luna. Kan Luna yang merampas dari tangan Mbaknya dan kamu yang merusaknya, bye." Eliza langsung pergi dari tempat itu meninggalkan keduanya.

Luna dan Kika hanya saling pandang kemudian melangkah, hendak pergi menyusul Eliza.

"Bayar atau saya bawa kalian ke kantor polisi!"

Mereka berdua menghentikan langkah.

"Pak satpam!" teriak penjaga toko.

"Jangan Mbak! aku akan bayar," ujar Kika sambil mengeluarkan kartu kredit dari dalam dompetnya dan mengulurkan ke tangan penjaga toko.

"Nah begitu dong, kalau begini kan enak," ujar penjaga toko.

"Rindu!!!" seru Kika dalam hati karena geram.

Setelah selesai membayar Kika dan Luna pergi. Saat itu Rindu kembali dan membeli kosmetik yang sama. Ia tersenyum senang sambil bersenandung kecil. Berharap apa yang dibeli bisa merubah wajahnya.

🌟🌟🌟🌟🌟

Seminggu lebih Rindu mencoba kosmetik itu tetapi tidak membuahkan hasil malah di wajahnya kini tumbuh jerawat.

"Bagaimana ini, kenapa tambah parah?" Rindu merasa khawatir dengan perubahan wajahnya.

"Wah-wah-wah-wah-wah! Ternyata gadis buruk rupa itu sudah berubah menjadi bidadari," ledek Kika.

"Rangga sini!" panggil Eliza.

"Ada apa?" tanya Rangga.

"Tuh cewekmu sudah cantik banget," ujar Lora.

"Maksudnya?"

Lora langsung menyentak masker Rindu. "Kamu belum tahu kan wajah cewekmu yang sebenarnya?"

Rangga menatap kaget pada Rindu. Tubuhnya tampak merinding melihat penampakan wajah Rindu. "Menjijikkan ternyata aku telah salah memilih. Memilihmu seperti membeli kucing dalam karung, tidak jelas," ujar Rangga.

"Rangga bukankah aku sudah pernah mengatakan bahwa wajahku tidak secantik yang kamu bayangkan tetapi waktu itu kamu mengatakan mau menerimaku apa adanya," protes Rindu.

"Lupakan perkataan itu, mulai sekarang kita putus."

"Rangga aku mohon berikan aku waktu untuk merubah wajahku," pinta Rindu.

"Tidak perlu, aku tidak ingin membuang-buang waktu."

Dengan menekan dadanya yang terasa sakit Rindu berucap, "Baiklah kalau itu keputusanmu."

Sepulang sekolah Rindu berlari-lari saat turun dari angkot sambil menangis. Seorang tetangga menegurnya.

"Kenapa menangis Rin?"

"Mbak Eva."

"Cerita sama Mbak barangkali Mbak bisa bantu."

"Mbak Eva kan dulu ada bekas jatuh dari motor di wajah, kini kok wajah Mbak jadi mulus?"

"Oh itu? Aku menggunakan kosmetik yang ku beli secara online. Berkat kosmetik itu, bekas lukaku mengelupas sedikit demi sedikit dan berganti kulit baru."

"Kira-kira bisa nggak Mbak buat hilangin codetku?"

"Sepertinya bisa, coba aja dulu kalau tidak dicoba mana tahu hasilnya."

"Mbak benar."

"Mau aku pesankan?"

"Boleh tapi uangnya...."

"Tidak apa-apa nanti kamu bayar sesudah gajian."

"Benarkah Mbak?" tanya Rindu antusias.

Eva mengangguk.

"Ah Mbak Eva memang baik," ujar Rindu sambil memeluk tetangga itu sedangkan yang dipeluk tersenyum devil. "Satu korban terjerat," batinnya.

🌟🌟🌟🌟🌟

Rindu duduk di depan meja rias sambil memandang wajahnya. "Kenapa semakin parah?" Apa tidak ada satupun jenis kosmetik yang cocok denganku?"

Bayangan kejadian tadi siang terlintas di ingatannya. Saat teman-temannya membully dirinya kembali karena saat ini bukan hanya jerawat tetapi flek hitam juga bertengger di wajahnya.

Rindu teramat kecewa karena perjuangannya selama ini bukan cuma sia-sia tetapi malah memperparah keadaan wajahnya.

Rindu nampak depresi, setiap kali dia mengingat wajah dan hinaan teman-temannya, ia selalu mengambil makanan. Dia makan sambil menangis. Saat hatinya terasa sakit dia akan mengunyah semakin cepat. Semakin dia tertekan dia selalu melampiaskannya pada makanan hingga tidak disadari tubuhnya kini menjadi gemuk.

Bersambung.....

Jangan lupa tinggalkan jejak!

Like,

Favorit,

Komentar,

Hadiah,

Vote,

Terima Kasih. 🙏

Terpopuler

Comments

Imam Sutoto Suro

Imam Sutoto Suro

top markotop story'lanjut thor seruuuu

2023-03-02

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!