Part 12. Cobaan

"Yakin lah Bik, seribu persen malah," ujar Rindu sambil terkekeh.

"Terserah kamulah kalau begitu, bibi hanya mendukung saja," ujar Yani pasrah.

Esok hari mereka berdua langsung memberitahukan keinginan Rindu kepada Dahlan dan laki-laki itu tampak mendukung.

"Kalau begitu besok kalian boleh belanja bahan-bahannya dan 2 hari kemudian kalian sudah bisa berjualan. Nanti paman yang akan mengambil ayam potongnya dari kak Suseno."

"Siap paman. Bibi juga siap kan buat nganter Rindu belanja soalnya Rindu belum fasih tawar-menawar di pasar," ucap Rindu sambil tersenyum manis.

"Pasti, besok kita langsung berangkat ke pasar kecamatan biar tidak terlalu jauh."

"Oke Bik siap."

"Tapi tunggu! Memang kamu tahu resepnya bikin ayam goreng yang enak begitu? Bibi takut malah rugi karena tidak laku." Sang bibi berkata sambil terkekeh.

"Tahu lah Bik aku pernah dikasih resep rahasia oleh abang-abang yang nongkrong di dengan kantor DPR." Rindu terkekeh.

"Kok bisa? Emang ada ya penjual yang membagi resepnya pada sembarang orang?" Yani penasaran.

"Adalah Bik. Ceritanya panjang pokoknya, tetapi yang pasti aku pernah nolong dia dan ketika aku menyampaikan ingin jualan ayam goreng juga dia malah kasih resepnya. Saat aku tanya apakah dia tidak takut tersaingi olehku dia bilang rezeki tidak akan tertukar dan setiap tangan yang memasak akan menghasilkan rasa yang berbeda meskipun komposisi bahan dan cara membuatnya sama."

"Ya sudah kita coba saja. Insyaallah masakan kamu enak," ujar Yani menyemangati.

 

Setelah semua bahan sudah terkumpul hari ini Rindu mencoba memasak ayam goreng untuk menguji tingkat rasa buatannya.

Sebagai jurinya ada Yani dam Nadia yang sudah pengalaman mencicipi berbagai kuliner dari berbagai tempat dan berbagai macam menu.

"Enak kok Rin ayam goreng buatanmu, punya Bang Agus aja kalah," ujar Nadia sambil terus mengunyah.

"Ah kamu memuji karena gratis kan?" goda Rindu pada Nadia yang kini nampak bersemangat makan.

"Beneran kok Rin, aku serius."Nadia berkata sambil mengangkat kedua jari tangannya yaitu jari tengah dan telunjuk membentuk piss.

"Kalau tidak percaya tanya bik Yakni saja," imbuhnya.

"Iya Rin, Nadia benar. Ayam buatanmu nampak lebih gurih tetapi tidak keras," ujar Yani memuji.

"Tuh kan benar. Bumbunya juga meresap dan pas. Begitupun dengan sambalnya. Mantul, mantap betul," sambung Nadia lagi sambil terkekeh.

"Awas keselek," ujar Rindu mengingatkan.

"Jadi tak sabar besok laris nggaknya," ujar Yani lagi.

"Harus optimis dong Bik.Kalau enak begini sih Nadia yakin bakal laris manis," ucap Nadia mantap.

"Amin semoga ya Nak Nadia," ucap Yani penuh harap.

Hari yang ditunggu pun tiba. Paman Dahlan sudah menyewa stand kecil di pinggir jalan raya yang kebetulan dekat dengan rumahnya. Hari ini Rindu sudah mulai berjualan ayam goreng buatannya yang ternyata disambut antusias oleh masyarakat. Banyak orang-orang yang memilih membeli di stand milik Rindu karena selain rasanya yang enak potongannya ayamnya lebih besar dibandingkan di tempat lain. Jelas saja lebih besar karena setiap membeli daging ayamnya mereka mendapat harga yang lebih murah dari orang lain karena beli pada keluarga sendiri.

Rindu sangat bersyukur kepada Tuhan karena di hari pertama berjualan stand-nya ramai dan dagangannya sangatlah laris. Sampai sebelum jam setengah sembilan saja warungnya sudah tutup karena stok ayam untuk ayam goreng sudah habis.

Hari kedua stok ayam semakin ditambah dan tetap ludes. Hari ketiga dan seterusnya selalu menambah stok ayam tetapi tetap saja habis terjual.

"Alhamdulillah mungkin resezi kita di sini ya Nak Rin."

"Iya Bik, Alhamdulillah."

🌟🌟🌟🌟🌟

Kabar kesuksesan Rindu menyebar hingga ke telinga Kika dan kawan-kawan.

"Ternyata wanita itu kini sudah naik pangkat dari pencabut bulu-bulu menjadi penjual lalapan," ujar Eliza sambil mengepalkan tangannya.

"Alah cuma penjual lalapan saja, apa yang harus kita iri," ujar Luna.

"Tapi ini tidak boleh dibiarkan. Kalau stand-nya laris terus meskipun hanya menjadi penjual lalapan dia bisa sukses," jelas Kika.

"Benar kalau dia sukses, dia bisa balas dendam pada kita dengan uangnya," sambung Lora.

"Terus kita harus bagaimana dong?" tanya Luna tak mengerti.

Kika langsung membisikkan sesuatu di telinga mereka Sehingga membuat ketiganya mengangguk senang.

"That is good idea," kata Eliza.

"Kapan kita ke sana?"

"Cari waktu ramai lah. Terutama ketika banyak orang makan langsung di tempat itu," ujar Lora.

"Kalau begitu sekarang waktunya tepat. Jam-jam segini biasanya banyak orang yang makan di tempat itu dan banyak juga pemuda yang hanya sekedar nongkrong di sana," jelas Luna.

"Kuy kita ke sana sekarang." Eliza langsung menarik pergelangan tangan Luna agar mengantarnya ke tempat Rindu.

Mereka pun berempat langsung menuju tempat Rindu berjualan. Sampai di sana Mereka berempat tersenyum ke arah Nadia yang sedang makan diantara pembeli lainnya.

"Makan Loh Nad?" Nadia mengangkat wajahnya dan menatap tajam ke arah mereka.

"Sudah tahu nanya," ucap Nadia ketus.

Rindu menoleh ke arah mereka disela-sela kesibukannya melayani konsumen. "Kalau kalian ingin makan juga, silahkan duduk! Nanti aku kasih gratis."

"Oke aku pes ...." Belum selesai Luna berucap Kika langsung memotong ucapannya. Padahal sejujurnya Luna ngiler melihat ayam goreng yang dimakan orang-orang. Apalagi Rindu menawarkan gratis tadi. Kapan lagi dia bisa makan gratis kalau bukan sekarang pikirnya dalam hati.

"Kami mau dikasih gratis? Hahaha.... kamu pikir kami kere apa," ucap Kika.

"Mau dikasih nggak mau ya udah bayar aja kalau kalian memang banyak uang," protes Nadia.

"Cih beli, nggak sudi lah ya kami beli ditempat beginian."

"Lah terus kalian ke sini mau apa?" tanya Nadia heran.

"Kami ke sini hanya mau menunjukkan sesuatu," ucap Kika sambil melangkah ke arah Rindu.

Nadia mengernyit curiga lalu bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Rindu. Namun sayang dia sudah terlambat.

"Aku mau menunjukkan ini pada semua orang," ucap Kika sambil menyentak masker di wajah Rindu.

Rindu yang tidak siap karena serius menggoreng ayam langsung kaget.

"Bagaimana Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, Kakak-Kakak dan Adik-Adik. Apakah kalian akan tetap makan di sini kalau sudah melihat ini?" Kika menunjuk codet di wajah Rindu yang seperti borok.

"Ih jijik." Orang-orang banyak yang berhenti makan dan langsung pergi.

"Kembalikan tidak itu!" Rindu menarik masker yang dipegang Kika.

"Ambil kalau bisa!" Kika membawa lari masker tersebut. Nadia mengejar Kika karena saking kesalnya. Hingga beberapa saat kaki Kika tersandung sesuatu yang membuat wajan penggorengan menumpahkan isinya.

Byur.

Minyak goreng tumbuh ke wajah dan tubuh Kika. Untung saja Rindu sempat menyingkir tadi.

"Aaargh! Panas!" teriak Kika sambil mengibas-ngibaskan wajah dan bahunya.

Bersambung....

Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏

Terpopuler

Comments

Iges Satria

Iges Satria

wow....senjata makan tuan... itu baru adil

2024-10-12

0

Imam Sutoto Suro

Imam Sutoto Suro

wooow keren banget lanjutkan thor

2023-05-17

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!