Byur.
Minyak goreng tumbuh ke wajah dan tubuh Kika. Untung saja Rindu sempat menyingkir tadi.
"Aaargh! Panas!" teriak Kika sambil mengibas-ngibaskan wajah dan bahunya.
Ketiga teman-temannya menjadi panik, ingin menolong tetapi tidak tahu harus bagaimana. Apalagi mereka takut minyak panas terciprat ke tubuh mereka sendiri.
"Kenapa pada diam? Ayo tolong teman kalian!" bentak Nadia dan ketiganya harus hanya terlihat menelan ludah.
"Carikan tepung terigu Nad, cepat!" perintah Rindu ikutan panik.
"Buat apa?" tanya Nadia tidak mengerti akan diapakan tepung terigu tersebut.
"Sudah sana cepat, jangan banyak tanya!" seru Rindu.
Nadia pun langsung berlari ke toko yang ada di seberang jalan.
"Pak tepung terigu Pak!"
"Berapa kilo Dek?"
"Berapa kilo ya?" pikir Nadia.
"Terserah deh pak sebungkus juga boleh."
Pemilik toko memilihkan satu bungkus besar tepung terigu yang beratnya satu kilo.
"Terima kasih Pak." Nadia meraih tepung terigu dari tangan penjaga toko kemudian berlari ke stand warung Rindu.
"Eh Dek bayar dulu!" teriak penjaga toko.
"Ampun!" Nadia tepuk jidat karena sadar lupa membayar. Bisa-bisa dirinya disangka perampok tepung. Daripada merampok tepung kenapa tidak sekalian merampok motor biar puas. Mikir apa sih Nadia dia pikir dosa dan siksa yang akan diterima nanti bakal puas menyiksa dirinya.
"Saya bayar nanti ya Pak sekarang lagi darurat," ujar Nadia sambil cengengesan dan langsung berlari kembali.
Penjaga toko hanya menggeleng tak mengerti.
"Ini tepungnya." Nadia. menyodorkan tepung tersebut ke tangan Rindu. Dengan sigap Rindu membalurkannya ke tubuh dan wajah Kika.
"Siapin motormu kita harus segera membawanya ke rumah sakit!" perintah Rindu pada Nadia.
Nadia mengangguk lalu menoleh. "Kalian tidak berguna," ucapnya pada ketiga teman Kika sedang ketiganya hanya terdiam seperti kambing congek.
Rindu dan Nadia segera membawa Kika ke puskesmas terdekat disusul ketiga teman-teman Kika. Sampai di sana Kika langsung ditangani oleh dokter.
🌟🌟🌟🌟🌟
Meski Kika sudah meminta maaf akan semua kesalahannya pada Rindu tetap saja kejadian tempo hari itu berimbas pada usahanya. Banyak pembeli yang tidak ingin lagi membeli di stand warungnya karena merasa jijik. Hanya beberapa saja yang masih mau kembali makan ke sana dan itu tidak cukup membuat modal kembali. Dalam artian Rindu masih rugi karena warungnya sepi dari pengunjung.
Rindu memandang stok ayam yang masih banyak. Dia berpikir bagaimana caranya agar daging ayam itu bermanfaat sekaligus bisa mengembalikan modal. Tidak mungkin kan dia membagikan ayam goreng setiap malam kepada para tetangga, bisa banyak hutang nanti dia dan bibinya.
"Kenapa masih belum tidur Nak Rin, ini kan sudah larut malam?" tanya Dahlan ketika masuk ke dapur untuk mengambil minum malah melihat Rindu sedang melamun.
"Belum ngantuk Paman," kilahnya padahal sedang memeras otak memikirkan nasib daging ayam yang sudah di ungkepnya.
Dahlan melirik kemana ekor mata Rindu tertuju.
"Tidak usah dipikirkan biar besok paman bawa ke pasar. Siapa tahu banyak yang berminat membeli daging ayam yang sudah dalam keadaan dibumbui seperti itu. Kan enak mereka tidak perlu repot-repot tinggal goreng saja," ujar Dahlan menenangkan Rindu.
"Ide bagus Paman," ujar Rindu setuju dengan pemikiran Dahlan.
"Ya sudah kalau begitu kembali ke kamarmu dan istirahatlah!" perintah Dahlan.
"Paman duluan saja saya belum ngantuk."
"Baiklah kalau begitu." Dahlan menuangkan air dari ceret lalu meneguknya kemudian keluar dari dapur.
Setelah Dahlan pergi Rindu bangkit dari duduknya kemudian menghampiri boks yang berisi daging ayam. Ia membuka dan membolak-balik daging ayam tersebut.
"Sepertinya tidak akan habis semua kalau dibawa ke pasar besok." Rindu bermonolog.
Tiba-tiba muncul ide di kepalanya.
Oh bagaimana kalau sebagian aku buat sosis.
Ia bangkit dari duduknya. Mengambil mesin penggiling daging, tepung dan bahan-bahan lainnya yang ada di toko bibinya. Kemudian mulai bereksperimen membuat sosis di tengah malam buta dimana orang-orang kampung yang lainnya sudah terlelap dalam mimpi-mimpi mereka. Namun bagi Rindu kesuksesannya tak ingin hanya terakit dalam mimpi semata tetapi harus dalam dunia nyata.
Hingga sampai menjelang subuh pekerjaannya baru selesai.
"Ah lelahnya." Ia menyandarkan tubuhnya di kursi plastik yang ada di dapur lalu memejamkan mata. Sejenak ia bisa tertidur pulas.
Beberapa saat kemudian azan subuh berkumandang. Yani dan Dahlan berjalan menuju kamar mandi yang ada di dekat dapur. Mereka kaget melihat Rindu tidur dengan posisi duduk menyandar di kursi.
"Nih anak ternyata belum kembali ke kamar dari semalam."
"Maksud Abang, Rindu sudah di sini sejak semalam?" Yani keheranan.
Dahlan mengangguk kemudian masuk ke kamar mandi lebih dulu. Yani mendekat ke arah Rindu, menepuk-nepuk bahu gadis itu.
"Rin bangun sudah subuh! Kita salat berjamaah dulu."
Rindu membuka mata lalu menguap kemudian memejamkan matanya kembali.
"Salat dulu nanti teruskan tidurnya. Sana kamu duluan masuk kamar mandi untuk wudu. Pamanmu sudah kelar itu."
"Bibi duluan aja, Rindu mau mengambil baju ganti karena baju yang kupakai kotor. Sekalian mau mandi biar tidak ngantuk lagi."
"Baiklah." Yani masuk kamar mandi sedang Rindu pergi ke kamar tidurnya.
Beberapa saat kemudian mereka sudah berkumpul di ruang salat dan melakukan salat subuh berjamaah.
"Ngapain semalam di dapur?" tanya Yani penuh selidik. Dia takut keponakannya melakukan hal-hal yang aneh.
"Buat sosis Bik, itu aku taruh di atas meja dekat kompor."
"Malam-malam?"
"Iya aku penasaran Bik, kalau hasilnya enak kan kita bisa beralih ke usaha membuat sosis. Sekarang kan lagi prospek itu penjualan sosis," jelas Rindu.
"Ada-ada saja ide kamu. Baru gagal eh beralih ke usaha lain."
"Bibi coba goreng kalau enak kita buat dalam jumlah besar dan .... "
"Dan apa?" Yani memotong perkataan Rindu.
"Kita minta Paman yang melakukan pemasaran, hehe." Rindu nyengir kuda.
"Boleh," ujar Dahlan. Lelaki itu selalu saja mendukung Rindu membuat gadis itu bersyukur sang bibi mendapatkan suami sebaik Dahlan.
"Terus buatnya nanti harus dengan daging yang diungkep begitu?" Yani merasa repot kalau cara membuatnya seperti yang dilakukan Rindu semalam.
"Nggak harus Bik, bisa diakali nanti."
"Baiklah kalau begitu bibi coba masak dulu."
"Aku mau balik tidur Bik mumpung lagi libur. Entah kenapa meski sudah mandi mataku belum bisa melek sempurna."
Yani tampak mengangguk dan bergegas ke dapur sedang Rindu kembali ke kamar dan langsung merebahkan tubuhnya di kasur.
Saat mulai terlelap Yani tiba-tiba memanggil namanya.
"Rin! Rin!" teriaknya dari luar. Sesaat kemudian dia masuk ke kamar Rindu.
"Apa sih Bik Rindu ngantuk sekali ini," sahut Rindu sambil mengucek kedua matanya yang tidak bisa dipaksa untuk terbuka.
"Enak Rin, enak. Sosis buatanmu enak."
Dengan mata yang masih terpejam Rindu berkata. "Coba panggil anak-anak suruh mereka mencicipi. Kalau sebagian besar bilang enak berarti kita harus mencoba membuka usaha membuat sosis." Rindu langsung terlelap lagi.
"Oke siap." Sang bibi mengangkat tangan seperti seorang tentara yang memberi hormat padahal Rindu sudah berada di alam mimpi.
Kebetulan hari itu hari Minggu sehingga banyak anak-anak yang bermain di lapangan dekat rumahnya. Bahkan bukan cuma anak-anak orang dewasa pun juga ada. Yani memanggil orang-orang itu dan suka mereka mencicipi sosis buatan Rindu.
"Enak," ujar beberapa orang hampir bersamaan.
"Memang enak atau karena gratis?" tanya Yani memastikan. Jaman sekarang beberapa orang memang menyukai barang gratis.
"Beneran enak," jawab anak kecil kira-kira umur 6 tahun.
"Beneran?" Anak itu mengangguk.
"Benar mbak Yani, enak kok," ujar salah seorang ibu-ibu yang sedang mengawasi anaknya bermain.
Yani mengangguk dan tersenyum pada semua orang kemudian pamit pulang.
Tiga bulan berlalu kini Rindu sukses dengan penjualan sosisnya. Saat ini sosis buatannya bukan hanya dari daging ayam tetapi juga dari berbagai macam hasil laut seperti ikan, udang dan yang lainnya, karena kebetulan kampung mereka dekat dengan perkampungan nelayan. Dahlan senantiasa mendukung dari segi pemasaran sedangkan untuk modal Suseno siap memberikan bantuan. Setelah mengurus izin kini sosis buatan Rindu tidak hanya beredar di pasar tetapi juga laris di supermarket di seluruh daerah. Bahkan kini Rindu sudah tidak bekerja sendiri karena ada beberapa karyawan yang membantu.
"Rin!" panggi sang bibi pada suatu malam.
"Iya Bik?"
"Bibi bangga sama kamu, ternyata kesabaranmu selama ini telah membuahkan hasil yang baik."
"Ini karena support dari bibi dan Paman juga yang lainnya kalau tidak mana mungkin Rindu bisa sukses seperti ini.
"Iya kamu benar tetapi jangan lupakan Tuhan yang selalu mendengarkan doa-doa kita dan mengabulkannya."
"Pasti Bik, Tuhan tetap yang nomor satu."
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak!"🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Iges Satria
senangnya /Heart//Rose//Good/
2024-10-12
0
Imam Sutoto Suro
top markotop story'lanjut thor
2023-05-17
0