Reno tampak mengangguk sambil tersenyum. "Masalah wajahmu bisa kita atasi," ucapnya kemudian.
Rindu hanya tampak mengangguk tanpa berkata apa-apa.
"Jawabannya?" tanya Reno.
"Jawaban apa?" tanya balik Rindu dengan malu-malu.
"Apa kamu mencintai dan mau menerima cintaku?"
Rindu hanya mengangguk lemah.
"Ish, jawab dong jangan seperti buruk kutilang yang suka mengangguk-angguk."
"Iya, jawab Rindu malu-malu sambil berlari ke luar mobil karena kebetulan dia telah sampai di depan gerbang sekolah.
Reno yang melihat gadisnya malu-malu hanya tersenyum geli lalu ikut keluar dan menutup pintu kembali. Ia kemudian menyandarkan tubuhnya di samping mobil.
"Burung kutilangnya sudah pergi Tuan?" goda Deril.
"Deril!" seru Reno.
"Ingat Tuan burung kutilang tidak hanya pandai mengangguk-angguk tetapi juga pandai bernyanyi." Deril lalu menyanyikan lagu anak TK itu sambil tertawa geli.
"Ish, kamu pikir dia itu tidak pinter berceloteh apa? Buktinya dia sering berselisih denganku." Reno berkata sambil memandangi Rindu yang sudah masuk ke dalam area sekolah.
Ketika melihat Reno sedang menyandarkan tubuh di mobil sambil memandangi kepergian Rindu, murid-murid yang lain mulai berdatangan.
Para murid wanita memandang takjub kepada Reno. Ada beberapa dari mereka yang berjalan tidak fokus karena melirik ke arah Reno yang menyebabkan mereka hampir terjatuh sebab kesandung sepatu temannya yang berjalan di depan dan berhenti mendadak.
"Wah siapa dia? Keren banget guys," ucap seorang gadis yang datang bersama ketiga temannya.
"Wah seger mataku lihat mobilnya yang mewah dan cling," ucap yang lain.
"Kamu tuh selalu terpana kalau lihat mobil mewah. Lihat tuh wajahnya juga bening, kita yang cewek aja kalah," timpal yang lain.
"Kayaknya bisa dijadikan incaran tuh." Salah seorang dari mereka berjalan meninggalkan ketiganya dan pura-pura terjatuh.
"Aduh sakit," ujar gadis itu sambil memijit betisnya, berharap Reno akan menolongnya kemudian mereka berkenalan seperti yang ada di adegan FTV. Namun sayang Reno tidak mempedulikan karena terlalu fokus melihat ke arah Rindu.
"Buahaha ...." Ketiga sahabatnya tertawa terbahak-bahak.
"Makanya jangan modus Tik," ujar salah seorang temannya pada gadis yang ternyata bernama Titik itu sambil tertawa terpingkal-pingkal.
"Kali aja berhasil Sit. Kalo tidak mencoba mana tahu," protes Titik kepada Siti temannya.
"Cowok itu memang ganteng sih, tapi sayang dia sukanya sama Rindu," ucap Siti lagi.
"Sama Rindu?" tanya ketiga sahabatnya serempak.
"Emang kalian nggak lihat tadi Rindu turun dari mobil pria itu dan lihatlah Pandangannya sedari tadi tidak berkedip memandang ke arah gadis itu."
"Yah gagal deh aku mau deketin dia, eh tapi sebelum janur kuning melengkung sah-sah aja kan ya aku deketin dia," ucap Titik masih gigih sambil menunjuk Reno dengan ujung dagunya.
"Terserah, asal jangan salahkan kami kalau kau malah ditendang ke jalanan." Siti terbahak-bahak diikuti kedua temannya.
"Wah nggak nyangka ya dia suka sama Rindu padahal Rindu kan wajahnya kayak gitu," ucap salah satu teman mereka.
"Kamu tidak tahu aja kalau sudah cinta tuh tai kucing rasa sosis," ujar Salah satu teman mereka yang bernama Laila sambil terkekeh. Sontak dia mendapat jitakan di kepala dari ketiga sahabatnya.
"Auw, sakit tahu."
"Biarin suruh siapa jorok," ujar Siti sambil terus melangkah ke dalam lingkungan sekolah. Sedangkan Deril yang sedari tadi melihat dan mendengar obrolan keempat gadis itu cekikikan sendiri dalam mobil. "Dasar anak-anak jaman now," ujarnya sambil geleng-geleng kepala.
Sampai di depan kelas Rindu dihadang oleh Eliza.
"Wah ternyata selain punya wajah yang buruk rupa ternyata kamu juga punya hati yang busuk. Nggak laku ya sampai jadi sugar Daddy segala," ujar Eliza menatap sinis ke arah Rindu.
"Wah kalau sugar Daddy-nya sih muda dan tampangnya kayak artis korea begitu, akupun mau. Dia tuh bukan sugar daddy tapi lebih tepatnya sugar oppa," ujar Titik pada sahabatnya ketika mendengar perkataannya Eliza.
"Lap ilermu Tik mana mungkin dia mau sama kamu," protes Siti sambil cekikikan. Ada-ada saja Titik, pakai istilah sugar oppa segala. Darimana itu orang mendapatkan istilah begituan.
"Kali aja mau, sama Rindu saja dia mau apalagi aku yang punya wajah paripurna seperti ini. Masa sih dia nggak mau?" Titik berucap sambil mengelus-elus wajahnya sendiri.
Sontak ketiga temannya menertawakan Titik lagi.
"Apa kalian ketawa-tawa?" Eliza sewot karena berpikir ketiga orang di sampingnya menertawakan dirinya.
"Ish suka-suka kami dong mau ketawa apa nggak, emang ada aturan tertawa dilarang gitu," sahut Siti sambil menarik tangan sahabatnya. "Yuk kita pergi dari sini agar tidak ikutan jadi orang stres."
"Kurang ajar ya kamu," ujar Eliza sambil melotot.
"Kamu tidak ada kapok-kapoknya ya ngurusin hidup aku? Kenapa tak kau urus saja hidupmu sendiri," protes Rindu.
"Hidupku sudah baik dan sempurna tidak sepertimu yang menjijikkan." ujar Eliza. "Dan lihatlah Rangga sekarang sudah menjadi milikku, iya kan sayang?" tanya Eliza sambil bergelayut manja di lengan Rangga.
Rangga terlihat mengangguk.
"Wah hebat ya kalian, bukankah Rangga harusnya sama Kika ya sekarang. Dasar sahabat pengkhianat," ujar Rindu geram.
"Tuh kan sayang dia bilang aku pengkhianat." Suara Eliza merajuk.
"Hei Rindu dengar ya aku tidak berkhianat pada Kika. Kami sudah putus. Dia sekarang sudah setara denganmu, gadis buruk rupa yang nggak ada istimewanya sama sekali, tidak pantas bersanding dengan Rangga Kurniawan," ucap Rangga sambil menepuk dadanya sendiri.
"Dan mana? Katanya dirimu sudah sukses, tetapi penampilanmu tetap tidak berubah, tetap sama seperti dulu. Kumel dan jelek. Ternyata uang sekalipun masih tidak bisa mengubah hidupmu. Saranku terima saja takdirmu, seumur hidup dengan wajah yang mengerikan itu," tutur Rangga panjang lebar sambil tersenyum mengejek.
Rindu tidak menggubris ucapan Rangga walau di dalam dada sangat sakit dengan kata-kata Rangga yang sangat menusuk hatinya.
______________________________________________________
Dari jauh Reno yang melihat Rindu seperti berselisih dengan murid lain segera memerintahkan Deril untuk mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi.
Tidak sulit bagi Deril, dengan uangnya dia bisa menyuruh seorang murid untuk memvideokan pembicaraan Rindu dengan Eliza dan Rangga sekaligus mendapatkan informasi mengenai Rindu dan orang-orang yang suka mengganggunya sedari dulu.
"Dia siapa?" tanya Reno pada Deril sambil menunjuk sosok pria dalam video.
"Dia mantannya Nona Rindu, Tuan. Dengar-dengar dia kecewa pada Nona Rindu setelah melihat wajah aslinya. Makanya sekarang dia malah suka menghina Nona Rindu."
"Oh begitu, terus dia?" Reno menunjuk gambar Eliza.
"Dia memang tidak menyukai Nona Rindu sedari dulu apalagi saat tahu kekasihnya malah menyukai Nona Rindu. Kekasihnya juga ditemukan sudah tidak bernyawa di ruang laboratorium sekolah dan dia menuduh Nona Rindu yang melakukannya karena menganggap Nona Rindu pemuja setan."
Reno mengernyit mendengar penuturan Deril. "Apa kamu percaya?"
"Tidak Tuan, jaman sekarang mana ada begituan." Reno tampak mengangguk.
"Sekarang tolong kamu carikan aku dokter bedah plastik yang terbaik di negeri ini!"
"Tuan mau operasi plastik?" tanya Deril heran. "Apa Tuan mau merubah wajah Tuan jadi perempuan?"
Plak.
Reno memukul bahu Deril, bisa-bisanya dia berpikiran seperti itu.
"Bukan aku tapi Rindu," ujar Reno geram.
"Oh," ujar Deril lalu menelpon anak buahnya dan memerintahkan mereka mencarikannya dokter bedah plastik terbaik.
"Kita kemana sekarang Tuan?" tanya Deril setelah melihat Rindu sudah hilang dalam pandangan.
"Kita jalan-jalan sambil mencari tempat makan setelah itu kita cara tempat tinggal sementara waktu," sahut Reno.
"Kita akan menginap di daerah sini Tuan? Bagaimana dengan pekerjaan kita dan bagaimana dengan Nyonya besar Siva?" tanya Deril khawatir. Bagaimana bisa Reno yang biasanya tidak bisa meninggalkan sang nenek hanya gara-gara cinta dia malah melupakannya.
"Tenanglah aku sudah menitipkan dia pada orang kepercayaan dan bukankah besok kita libur kerja ya, apa sekarang kamu jadi gila kerja?"
"Tidak Tuan saya hanya lupa saja." Reno menggeleng, bagaimana bisa Deril lupa dengan hari-hari. Bisa kacau nanti kalau jadwal ketemu klien terbalik-balik.
🌟🌟🌟🌟🌟
Keesokan hari sebelum berangkat ke sekolah Reno dan Deril sudah bertandang ke rumah Rindu
"Maaf aku tidak bisa ikut kalian karena sudah ada Nadia yang menjemputku," ujar Rindu merasa tidak enak saat melihat Reno dan Deril sudah ada di ruang tamu sambil mengobrol dengan paman dan bibinya.
"Kedatangan kami ke sini bukan untuk mengantarmu ke sekolah," ujar Reno.
Rindu hanya mengernyit tidak mengerti.
"Kedatangan kami kemari ingin mengajakmu ikut ke kota karena kami sudah memesan dokter untuk mengoperasi plastik wajahmu."
Rindu menatap Reno tak percaya lalu beralih menatap Yani dan Dahlan yang tampak tersenyum padanya.
"Apa aku tidak bermimpi?" tanya Rindu sambil mencubit keras kedua pipinya. "Auw sakit."
"Suruh siapa main cubit-cubit segala," ujar Reno sambil terkekeh. "Mau kan kubuat kau lebih cantik dari ini."
Rindu mencebik, "Nggak usah bilang aku cantik. Semua orang tahu kok kalau wajahku jelek kecuali kalau kamu katarak." Nadia yang datang dari kamar mandi sehabis buang air kecil langsung terkekeh mendengar ucapan sahabatnya yang mengatakan bahwa Reno katarak.
"Pokoknya nanti siang aku jemput dan kita langsung ke kota," tegas Reno.
"Tunggu dulu, kamu tidak ingin menjual organ tubuhku kan? Alih-alih mau membantu tapi ujung-ujungnya malah menipu." Rindu menatap Reno penuh curiga. Zaman sekarang jangan mudah percaya sama orang karena kebanyakan dari mereka cuma modus doang, begitu bisikan setan di telinga Rindu.
"Deril jelaskan padanya bahwa saya sudah punya cukup uang, jadi tidak perlu menipu orang!"
"Rin, Nak Reno tulus loh bantu kamu. Ini kesempatan kamu untuk mengembalikan kecantikan wajahmu. Kalau menunggu hasil usaha kita bakalan lama kayaknya karena masih banyak hutang modal yang belum lunas. Kamu tenang saja bibi dan paman akan ikut serta bersama kalian agar Nak Reno tidak berbuat macam-macam sama kamu," terang Yani panjang lebar.
Rindu menatap wajah Reno. Pria itu tampak mengangguk sambil tersenyum.
"Baiklah hari ini Rindu akan langsung menghadap kepala sekolah untuk minta izin," ujar Rindu.
"Tidak perlu repot-repot Nona karena saya sudah mengurus segalanya termasuk mengurus izin pada pihak sekolah."
"Baiklah, kalau begitu kami berangkat sekolah dulu," pamit Rindu pada semua orang sambil menarik tangan Nadia keluar.
Di sebuah rumah sakit.
"Ini pasien yang akan melakukan operasi?" tanya dokter bedah plastik pada Reno dan Deril.
"Iya Dok, tolong tangani dia sebaik-baiknya," pinta Reno.
"Itu pasti. Kira-kira kamu ingin wajahmu dibuat seperti apa?" tanya dokter memastikan.
"Kembalikan saja wajah saya seperti dulu Dok," jawab Rindu.
"Ada foto kamu dulu sebelum wajahmu seperti ini?"
"Ada Dokter." Rindu meraih foto saat ia masih duduk di bangku SMP sebelum kecelakaan terjadi, di dalam tas ranselnya.
"Ini Dok." Mengulurkan foto kepada dokter.
Dokter tersebut meraih foto tersebut dan memeriksanya.
"Baik besok kita lakukan operasinya. Apa kamu sudah siap?"
"Siap Dokter," ujar Rindu dengan mata berkaca-kaca karena terharu.
"Semoga berhasil ya sayang," ujar Yani sambil mendekap keponakannya.
"Makasih Bik," sahut Rindu sambil memejamkan mata agar air matanya berhenti mengalir. Sedangkan Reno tampak mengusap air matanya yang ikut menetes karena ikut terharu melihat keakraban Rindu dan Yani yang mengingatkan dirinya akan sosok mami yang begitu menyayanginya.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Imam Sutoto Suro
beneran super duper novel lanjutkan
2023-05-18
0
Imam Sutoto Suro
wooow amazing story thor lanjutkan
2023-05-18
0
Azzura
suka sama si Deril, kocak 🤣
terimakasih bik Yani sellu ad untk rindu
lanjut Thor🤗
2022-04-17
1