"Sepertinya tidak ada yang bisa menghargaiku, lebih baik aku mati kalau seperti ini," batin Rindu. Terbersit di hati ingin bunuh diri saja daripada harus selalu menanggung malu.
Sepulang sekolah Rindu tidak langsung pulang ke rumah. Dia yang biasa pulang naik angkot sekarang malah memilih berjalan kaki padahal hari ini hujan begitu deras. Rindu sudah tidak mempedulikan diri dan bajunya yang kebasahan.
Di sepanjang perjalanan tidak ada satupun teman-teman yang menyapa saat melewati dirinya apalagi sampai menawarkan tumpangan. Orang-orang yang berlalu lalang juga tidak mengindahkan meski ada beberapa yang memandang aneh pada dirinya. Rindu tahu pasti mereka tidak akan ada yang peduli terhadap dirinya bahkan mobil Rangga yang melintas sengaja melewati genangan air kotor dan mengencangkan laju mobilnya sehingga genangan air di tengah jalan itu terpercik ke baju dan wajah Rindu. Beberapa saat mobil itu berhenti dan berjalan mundur kemudian berhenti lagi di samping Rindu.
"Hei gendut sorry ngga sengaja dan tidak bisa mengajakmu lagi untuk menumpang di mobilku karena selain takut bannya kempes aku tidak mau mobilku mogok dan minta dirukyah karena ngambek ditumpangi gadis buruk rupa sepertimu, hahaha...." Rangga tertawa keras diikuti teman-temannya di dalam mobil. Sesaat kemudian Rangga langsung tancap gas kembali.
"Elo kok tega si Ga, lupa ya bahwa gitu-gitu dia pernah jadi pacar elo," protes salah satu teman dalam mobil yang tidak suka dengan sikap Rangga terhadap Rindu.
"Biarin suruh siapa dia nipu gue," sahut Rangga.
"Dia yang nipu atau elo yang kurang jeli? Bukankah waktu itu dia sudah mau menunjukkan wajahnya di depan elo, tapi elo yang terlalu yakin bahwa dia gadis yang cantik. Kupikir elo mau menerima dia apa adanya."
"Menerima apa adanya itu cuma istilah Her. Nggak ada orang dalam dunia nyata yang bisa menerima apa adanya kalau tahu ceweknya macam dia. Elo itu teman gue atau teman dia sih? Kok malah belain dia," protes Rangga.
"Bukan belain dia sih Ga hanya nggak suka dengan sikap elo yang semena-mena. Kalau elo nggak suka ya udah nggak suka aja jangan sampai menghina kayak tadi," celoteh Herlan.
"Kalau elo pro sama dia turun!" perintah Rangga membuat Herlan menelan ludah lalu bungkam. Dia tidak mau turun di tengah jalan dalam keadaan hujan deras seperti ini.
"Dunia ini memang kejam, untuk apa aku dilahirkan ke dunia kalau harus menanggung malu dan selalu dihina seperti ini." Tetesan air mata bercampur air hujan yang mengalir di pipi, Rindu biarkan begitu saja tanpa mau menghapus. Mungkin kalau orang-orang melihat, mereka akan berpikir itu adalah air hujan bukan air mata.
Rindu terus saja berjalan menerobos derasnya hujan, sederas air mata yang mengalir dan sakit hati yang teramat dalam. Ia tersenyum dalam tangisnya saat melihat ada jembatan di hadapannya. Ia menghampiri jembatan itu berharap di tempat inilah penghinaan terhadap dirinya akan berakhir.
Rindu memandang ke bawah, tampak aliran sungai yang begitu deras karena bercampur air bah.
Rindu memejamkan mata berulang kali meminta maaf pada Tuhan dan almarhum kedua orang tuanya.
"Maafkan aku Tuhan, Ayah, Ibu. Aku tahu ini salah tapi aku tidak sanggup meneruskan hidupku lagi." Rindu menghela nafas panjang.
"Ayah, ibu. Tunggu Rindu di sana, aku akan menyusulmu." Rindu langsung memanjat tepi jembatan dan bersiap-siap untuk melompat. Dia berhitung dalam hati seperti orang yang sedang berlomba.
"Satu ... dua ... ti...." Rindu langsung melompat dengan mata yang terpejam. Saat Rindu melompat ternyata kakinya masih tersangkut di tepi jembatan sehingga membuat tubuhnya bergelantungan. Rindu terus saja menarik kakinya agar terlepas. Namun usahanya sia-sia. Kakinya tetap tersangkut dan tidak bisa terlepas.
Seorang kakek yang kebetulan lewat di tempat itu langsung menghampiri dan menolong. Kakek itu langsung menarik kaki Rindu hingga tubuh Rindu pun terpental ke atas dan akhirnya bisa terselamatkan.
Rindu yang ditolong malah terbengong. Untuk sementara dia melupakan kesedihannya karena fokus pada kakek-kakek di hadapannya kini. Rindu berpikir darimana kakek tua ini dapat kekuatan menarik seperti tadi padahal menopang tubuhnya saja kakinya terlihat lemah. Rindu pun mengingat-ingat sesuatu, rasanya ia kenal dengan kakek tersebut.
"Kakek yang waktu itu kan?"
Kakek tua itu tersenyum dan menjawab, "Iya benar, waktu itu kamu telah menolongku saat hampir ditabrak mobil dan sekarang giliran kakek yang menolongmu."
"Kakek kenapa menolongku? Aku tidak perlu ditolong, aku mau mati saja." Tiba-tiba Rindu ingat akan kesedihannya. Ia berusaha memanjat lagi tapi segera ditahan oleh kakek tua itu.
"Apa yang membuatmu seperti ini?" tanya kakek tersebut yang masih terlihat tenang sedari tadi. Rindu menceritakan kejadian demi kejadian yang menimpa dirinya sambil bercucuran air mata.
"Dan kamu malah memutuskan untuk bunuh diri?"
"Tidak ada cara lain Kek , itulah cara satu-satunya agar aku terlepas dari setiap penghinaan yang aku terima."
"Bodoh! Kalau langkah itu yang kamu ambil mereka pasti akan tertawa mendengar kematianmu. Seharusnya kamu bisa membuat mereka menyesal telah meremehkan dirimu."
"Aku tidak punya kekuatan seperti itu Kek." Rindu yang sudah putus asa otaknya sudah buntu.
"Kakek punya sesuatu untukmu. Dengan benda ini orang-orang yang membencimu akan berbalik menyayangimu," ujar sang kakek sambil menyodorkan sebotol kecil minyak ke tangan Rindu.
"Benarkah Kek?" tanya Rindu antusias. Aura matanya terpancar seolah dirinya sudah menemukan kekuatan hatinya kembali.
"Benar sekali kamu cukup mengoleskan minyak ini ke bagian tubuhmu saja atau bisa mandi dengan rendaman air dan minyak ini."
"Cuma itu Kek?"
"Iya tapi ingat ada pantangannya."
"Apa itu Kek?" tanya Rindu penasaran.
"Jangan dipakai saat menstruasi!"
"Oke."
"Jangan sampai terkena najis. Jangan sampai dilangkahi."
"Oke Kek aku akan selalu mengingatnya. Aku tidak sabar melihat teman-teman yang membenciku akan berubah menyayangiku," ujar Rindu antusias.
"Ambillah dan bawalah pulang! Selama menggunakan itu jangan lengah, tetaplah berusaha memperbaiki diri."
"Baik Kek pesan kakek akan selalu aku jaga," ujar Rindu dan langsung memasukkan benda tersebut ke dalam tas. Setelahnya ia pamit pergi pada kakek tersebut dan berlari-lari kegirangan seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru.
"Kika, Luna, Lora, Eliza dan Rangga tunggu aku besok! Kalian akan menyesal telah menghinaku." Rindu tampak menimang-nimang benda itu di depan kaca.
"Aku tidak sabar ingin melihat kemampuanmu wahai minyak oles." Rindu berkata sambil memandang botol kecil di tangannya dengan senyum yang merekah.
Rindu berharap hari cepat berganti karena tidak sabar ingin melihat reaksi teman-temannya saat ia menggunakan benda itu.
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments