Di sebuah gedung pencakar langit, di lantai teratas kantor ISF ( Internasional Sosis Food) seorang laki-laki muda sedang marah-marah.
Brak
Reno sang direktur utama menggebrak meja lalu melempar map laporan ke hadapan sang asisten.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Apa kau sudah memastikan kwalitas produk kita hah!" bentaknya.
"Sudah Tuan muda." Deril sang asisten berkata dengan hati-hati sebab atasannya terlalu labil emosinya. Bila dia marah-marah sering menghancurkan apa saja yang ada di hadapannya. Pernah dia menghancurkan kaca jendela kantor hingga tangannya berdarah. Deril tidak mau hal itu terulang lagi.
"Jelaskan padaku kenapa penjualan yang ada di dalam negeri merosot semakin tajam!"
"Itu karena masyarakat kita sudah mulai bosan mengkonsumsi sosis." Deril beralasan. Dia tidak mau mengatakan bahwa sebenarnya produk mereka kalah saing dengan produk lain di pasaran. Saat ini Deril sedang menyuruh anak buahnya menyelidiki siapa sebenarnya pemilik usaha sosis yang kini mampu menandinginya.
"Cih, saya rasa bukan itu alasannya. Cepat kamu kontrol langsung bagian produksi, mungkin ada yang sengaja mengurangi bahan sehingga membuat cita rasa sosis buatan pabrik kita menjadi berkualitas rendah."
"Baik Tuan muda." Deril langsung pergi dan memeriksa ke bagian produksi. Ia mengawasi tahap demi tahap dari pengolahan bahan sampai menjadi sosis yang siap diedarkan.
"Tidak ada yang mencurigakan, semua sudah sesuai prosedur. Namun bisa saja mereka melakukan hal itu karena ada aku yang mengontrolnya langsung kalau tidak ada, mungkin saja mereka berlaku curang," batin asisten Deril.
"Ada apa Pak?" tanya kepala unit produksi yang sebenarnya juga adalah sepupu Reno.
"Oh tidak ada apa-apa, saya hanya ingin memastikan kualitas produk kita masih seperti dulu, meningkat atau malah mengalami penurunan." Deril berkata dengan terus terang agar Fino bisa berhati-hati dalam mengawasi departemennya sekaligus menyindir Fino yang tidak bisa diandalkan.
"Oh kalau itu sih saya yakin kualitas produk kita tetap terjaga seperti dulu. Namun kalau ingin ditingkatkan ya tingkatkan dulu biaya produksi."
"Kamu ya, selalu meminta anggaran di departemenmu ditingkatkan. Namun kenyataannya tidak ada perubahan apapun sedari dulu, tetap stuck di tempat. Ingat ya kalau sampai terjadi kecurangan di bagian produksi, kau yang harus bertanggung jawab. Aku tidak akan segan-segan menendangmu dari perusahaan ini meskipun kamu adalah sepupu dari pemilik perusahaan." Deril langsung berlalu pergi.
Cih sok berkuasa dia. Dia pikir dia siapa di perusahaan ini.
Fino menendang benda apa saja yang ada di depannya. para karyawan hanya memandang aneh ke arahnya. Dalam hati mereka berkata 'tidak pemilik perusahaan tidak sepupunya sama saja, tidak bisa mengontrol emosi'.
"Bagaimana?" tanya Reno penasaran saat Deril kembali ke ruangannya.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan semua sudah sesuai prosedur."
"Oh begitu ya, tetapi aku masih merasa tidak tenang kalau belum tahu kenapa penjualan kita menurun. Kau bawakan aku berbagai varian sosis yang ada di kantor kita. Suruh Melani atau ibu kantin atau siapa sajalah untuk mengolahnya dan hidangkan di mejaku!"
"Baik Tuan." Deril langsung mengambil berbagai macam variaan sosis dan membawanya ke Melani.
"Ini apa Pak, mengapa sosis ini malah ditumpuk di mejaku? Apa pihak perusahan lagi berbaik hati membagi sosis kepada seluruh karyawan di sini?"
"Ih, siapa bilang itu untukmu."
"Lah terus untuk siapa?" Melani merasa heran.
"Kamu ambil beberapa saja dari berbagai bungkus dan goreng atau olah sesuai petunjuk di kemasan. Kemudian hidangkan di meja Tuan muda Reno."
"Saya? Yang harus menggoreng? Kenapa tidak menyuruh ibu kantin saja."
"Ini perintah Tuan Reno, kalau kamu menolak sampaikan sendiri penolakanmu itu!" Melani menelan ludah mendengar perkataan Deril. Padahal Deril berbohong, bukankah Reno tadi mengatakan siapa saja boleh tetapi sayangnya Deril lagi malas untuk turun ke lantai bawah.
"Baiklah, ujar Melani pasrah." Lalu beranjak pergi.
"Sekalian bawakan aku kopi dan minuman buah untuk Tuan Reno. Masih ingatkan buah kesukaannya?"
Melani menoleh sebentar kemudian mengangguk sedang Deril kembali ke mejanya sendiri.
Melani menuju pantry karena malas jika harus ke dapur kantin. Menggoreng sosis yang memang harus digoreng dan mengukus yang memang harus dikukus. Setelah beres dia membuatkan jeruk peras hangat kesukaan sang bos kemudian secangkir kopi untuk Deril.
"Sebenarnya aku sekretaris atau pembantu sih," keluh Melani ketika merasa susah untuk membawa dua gelas minuman dan sepiring sosis aneka macam. Dia mencari nampan tetapi tidak ketemu.
"Hei-hei bantu aku dong bawain ini," pinta Melani kepada karyawan yang melintas di depannya dengan coffilatte di tangan.
"Sekretaris Melani kok tamak amat sih semua macam sosis dimasak. Emang itu bakal kemakan semuanya? Bawa aja sendiri." Karyawan itu berkata dengan malas.
"Kamu tahu ini bukanlah punyaku tetapi punya Pak Bos. Kalau tidak mau berarti menolak perintah bos. siap-siap besok dipecat."
Alamak, karyawan itu langsung keder mendengar kata 'dipecat'.
"Baiklah aku bantu," ujar pria tersebut lalu meneguk kopinya sampai tandas. Setelah itu meraih gelas di tangan Melani dan membantu membawanya ke dalam ruangan Reno.
"Ini Tuan, sosis dan minumannya," kata Melani sambil menaruh gelas berisi jeruk peras hangat dan piring besar berisi olahan macam-macam sosis. Sedangkan karyawan yang membantunya memberikan segelas kopi pada Deril.
"Terima kasih dan kalian boleh keluar."
Mereka berdua mengangguk dan buru-buru keluar dari ruangan karena takut diberikan perintah lagi.
Reno tampak menyeruput jeruk peras hangat sedangkan Deril menyeruput kopi cappucino buatan Melani.
Setelahnya Reno mencicipi satu demi satu macam-macam sosis yang ada di hadapannya. Deril tampak tegang melihat wajah Reno saat mencicipi makanan itu.
"Sepertinya masih enak kayak dulu, tidak ada yang berubah." Ya iyalah, sosis yang dimasak adalah sosis yang harus dikirim keluar negeri jadi kualitasnya pasti terjaga. Sedangkan yang diedarkan ke dalam negeri memang sungguh jauh berbeda.
Deril merasa lega melihat penuturan Reno.
"Ikut aku!" seru Reno sambil keluar ruangan.
"Kemana Tuan muda?" Deril masih terlihat kaget.
"Menyelidiki langsung ke lapangan mengapa sosis kita tidak laku di negeri sendiri."
Gluk
Deril menelan ludah. Bisa ketahuan ini kalau ternyata produksi perusahaan telah kalah dari produk lokal dan sayangnya Deril belum menerima kabar tentang siapa yang telah memproduksi sosis yang sekarang malah menguasai pasaran.
"Deril ini apa?" tanya Reno ketika melihat begitu banyak sosis yang bermerek 'Lezat' menguasai beberapa supermarket.
Deril terlihat pucat karena ketahuan sedang berbohong atau malah Reno menganggapnya dirinya kurang tanggap dengan keadaan.
"Cepat cari tahu siapa pemilik sosis yang bermerek Lezat ini!"
"Sudah Tuan. Orang-orang kita sudah bergerak mencarinya."
"Ooh berarti kau tahu semuanya, kenapa malah membohongiku?" Reno terlihat kesal.
"Maafkan aku Tuan tetapi saya hanya tidak ingin emosi Anda tidak terkontrol lagi."
Reno menarik nafas panjang lalu menghembuskan secara kasar.
"Lain kali jangan sampai ada yang ditutupi dariku."
"Baik Tuan, nanti tidak akan lagi," ucap Deril dengan rasa bersalahnya.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Imam Sutoto Suro
excellent story'thor lanjutkan seruuuu
2023-05-17
0
Made Mudana
merek lezat itu punya rindu ya...hbat bs bsaing dgn prsahaan besar he.he
2022-04-10
2
Azzura
ehh kayaknya aku yang pertama tinggalin jejak kali ini hehehe
semangat Thor
menanti next ep🤗
2022-04-10
1