Part 5. Wanita Codong ( Muka Codet Body Gentong)

Hari demi hari nafsu makan Rindu semakin tidak terkontrol akibat sudah terbiasa sering makan. Hal itu semakin menambah bobot tubuh Rindu. Tidak menunggu lama, gadis ramping itu kini sudah menjadi gendut.

Tampak Rindu sedang meniup kuah bakso yang panas, kemudian beberapa saat ia memasukkan pentol bakso ke dalam mulutnya. Rindu yang biasanya tidak pernah makan di kantin kini sudah biasa jajan di tempat itu. Dulu Rindu takut untuk membuka masker saat harus makan di kantin. Ya selama ini Rindu hanya ke kantin saat menemani Luna makan saja. Namun sekarang dia tidak peduli lagi, toh semua warga sekolah sudah tahu akan wajahnya yang tidak sedap dipandang mata.

"Hei lihat si Rindu, sudah gendut begitu masih saja suka makan bakso," terdengar suara murid dari meja sebelah. Mereka menyantap mie goreng sambil berbincang-bincang dan sesekali melirik ke arah Rindu.

"Biarin saja mungkin dia ingin menambah lemak di tubuhnya biar tambah gendut dan siap dipotong saat kurban."

"Emang kamu pikir dia sapi."

"Kali aja dia mau gantikan sapi, hahaha...."

"Ih jijik kali kalau sapi yang dipotong macam dia."

"Iya juga ya."

Rindu pura-pura tidak mendengar dengan pembicaraan kedua murid tersebut tetapi dalam hati tentu saja ia merasa dongkol. Ia cepat-cepat menyelesaikan makannya lalu membayar pada ibu kantin. Setelahnya ia berlalu pergi ke kelas.

Sampai di depan kelas 2 IPA 3, bel masuk kelas berbunyi, semua murid berhamburan masuk ke dalam kelas. Rindu berjalan cepat karena jarak kelas 2 IPA 3 ke kelas 2 IPA 1 lumayan jauh, apalagi sekarang adalah pelajaran Matematika dimana biasanya guru sudah standby di dalam kelas lima menit sebelum jam pelajaran dimulai.

Sampai di depan kelas 2 IPA 2 Rindu memelankan langkahnya. Dia melihat Kika, Lora, dan Eliza masih berdiri di depan pintu yang artinya guru matematika belum ada dikelas.

Sampai di depan pintu, ketiganya menghadang jalan Rindu. Mereka tidak membiarkan Rindu masuk ke dalam kelas.

"Menyingkirlah aku mau lewat."

"Lewat saja kalau bisa." Mereka sengaja memancing amarah Rindu.

"Ada masalah apa sih hidup kalian? Sepertinya belum kelar-kelar mengganggu hidupku. Apa masih soal Rangga? Ambil sana saya sudah tidak berminat."

"Ya nggak berminat lah orang sudah dicampakkan," ujar Lora.

"Masalahnya banyak, tapi satu yang pasti kami tidak menyukaimu. Dasar wanita codong," ucap Kika sambil mendorong tubuh Rindu hingga terjungkal. Meski tubuh Rindu gemuk tetapi karena belum siap dengan gerakan tangan Kika yang begitu cepat mendorong, tubuh Rindu menjadi tidak seimbang dan ambruk ke lantai. Hal itu menjadi tontonan bagi murid-murid kelas 2 IPA 1. Mereka yang ada di dalam berhamburan ke arah pintu kelas untuk menyaksikan tontonan gratis.

"Apaan tuh wanita codong?" tanya murid yang lainnya.

"Muka codet body gentong, hahaha...," jawab Kika sambil tertawa keras diikuti dengan teman-teman lainnya.

"Kamu ...," ucap Rindu kesal lalu bangkit dan seperti orang kesetanan dia langsung mendorong tubuh Kika dan Lora masing-masing dengan satu tangan hingga terjungkal ke belakang, bahkan Eliza yang ada di belakang Lora ikut terjatuh karena tidak mampu menopang tubuh Lora yang terjatuh kepadanya.

"Aduh." Mereka mengaduh kesakitan sambil memijit pantat dan bokongnya.

"Ada apa ini?" Tiba-tiba seorang guru datang dan menghampiri mereka.

Rindu tidak menjawab karena merasa percuma. Guru kimia ini pasti akan selalu membela Kika. Rindu curiga jangan-jangan guru tersebut ada ikatan keluarga dengan Kika atau kalau tidak mungkin ada main dengan wanita itu.

"Dia mendorong kami Pak, mungkin mau menunjukkan kekuatan tubuhnya yang sekarang sudah membesar," lapor Lora.

"Benar Rindu?"

"Apakah Bapak akan percaya kalau saya mengatakan yang sebenarnya?"

"Jangan lancang kamu!" teriak guru tersebut sambil menuding wajah Rindu. "Sekarang kamu harus dihukum, bersihkan semua toilet yang di sana!" Guru itu menunjuk ke arah toilet guru.

Rindu mengangguk dan langsung pergi.

"Tunggu!" Seorang murid menghentikan langkah Rindu. Murid itu berjalan menghampiri Rindu dan berkata, "Mengapa tidak menjelaskan semuanya?"

"Percuma, setiap penjelasanku tidak ada yang mendengar," ucap Rindu pasrah.

"Kamu tidak bersalah," ujar gadis itu lagi.

"Hei jangan ikut campur kamu anak baru! Kamu tidak tahu apa-apa," sergah Eliza.

"Tapi tadi saya melihat dengan mata kepala sendiri bahwa kalian yang telah memulai perselisihan," ujar murid itu lagi.

"Bahkan kamu yang lebih dulu mendorong Rindu," imbuhnya sambil menunjuk ke arah Kika.

"Apa kalian melihat aku tadi mendorongnya teman-teman?" tanya Kika pada yang lain.

"Tidak," jawab mereka serempak membuat anak baru yang bernama Nadia itu menggeleng.

"Dengar itu?" tanya Kika pada Nadia. "Sepertinya matamu sudah rabun."

Nadia melotot ke arah Rindu. "Enak saja kamu ngomong ya."

"Sudah-sudah ayo masuk! Ada tugas dari Bu Faiz, beliau tidak bisa masuk sekarang karena ada kepentingan," ujar Guru kimia sambil menggerakkan tangannya supaya anak-anak cepat kembali ke dalam kelas.

"Dan kamu selesaikan tugas kamu sebelum bel pulang berbunyi!" perintah guru kimia pada Rindu.

Gadis itu mengangguk lagi kemudian melangkah pergi. Dia mengambil pembersih kloset dan lantai kemudian menyikat toilet tersebut sampai bersih.

"Kamu kenapa diam di situ?" tanya guru kimia pada Nadia yang tetap tidak mau beranjak dari tempat ia berdiri.

"Apa Bapak tidak keterlaluan menghukum murid yang tidak bersalah?" tanya Nadia yang seakan kaget dengan keadaan sekolah barunya.

"Kau mau dihukum juga?"

"Hm, hukuman seolah mainan," ucap gadis itu tersenyum mengejek.

"Jangan banyak bicara kamu! Karena kau lancang maka sekarang kau bergabunglah dengan Rindu. Kau dihukum!" tegasnya.

"Dengan senang hati," ucap gadis itu sambil melenggang pergi.

"Gadis itu tidak ada bedanya dengan Rindu, suka membangkang!" seru guru itu lagi.

Di dalam toilet Rindu kaget melihat Nadia menghampirinya. "Kenapa kau ke sini?"

"Aku mau membantumu," sahut Nadia.

"Jangan! Kau harus mengerjakan tugas matematika kalau tidak besok kau akan dihukum," cegah Rindu.

"Tidak apa-apa kita kerjakan bersama biar cepat dan kita akan punya waktu untuk menyelesaikan tugas matematika bersama."

Rindu menatap wajah Nadia. "Apa kamu tidak jijik melihatku?"

"Memang kenapa harus jijik?"

Rindu menyingkap masker di wajahnya. "Wajahku buruk rupa," ucap Rindu sambil menunduk. Dia yakin Nadia akan membencinya juga kalau tahu itu semua.

"Tidak masalah aku berteman tidak pilih-pilih yang penting memiliki sifat yang baik saja," ujar Nadia.

Mendengar perkataan Nadia Rindu tersenyum senang. "Jadi kau mau jadi temanku?"

Nadia balas menatap Rindu dan tersenyum. "Tentu saja."

"Terima kasih ya Nadia."

"Iya ngomong-ngomong apa mereka setiap hari membullymu?"

Rindu mengangguk.

"Ya sudah, kita selesaikan pekerjaan kita biar bisa cepat selesai dan segera kembali ke kelas," ujar Nadia.

"Baiklah." Mereka saling menatap dan tersenyum kemudian membersihkan toilet itu bersama.

Bersambung......

Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏

Terpopuler

Comments

Imam Sutoto Suro

Imam Sutoto Suro

luar biasa thor lanjutkan seruuuu

2023-03-02

0

Azzura

Azzura

kasihan ny kamu rindu

2022-04-01

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!