Sampai di dalam kelas Kika, Eliza, Luna dan Lora senantiasa mengawasi Rindu. Ketika mereka melihat Rindu sedang berbisik-bisik dengan Nadia mereka langsung merasa curiga bahwa ada sesuatu yang tidak beres yang sengaja disembunyikan oleh gadis itu hingga mampu membuat Rangga, Herlan dan Fian berpaling kembali padanya. Padahal kemarin-kemarin Kika merasa ketiga pria tersebut sudah teramat membenci gadis itu.
"Hei apa yang kau sembunyikan sehingga membuat mereka menyukaimu?" tanya Kika sambil menarik tas Rindu.
"Kamu pakai dukun ya? Kalau tidak mana mungkin Fian akan tertarik kepadamu. Semua orang pasti setuju lah kalau aku jauh lebih cantik darimu. Dari body aja kalah jauh apalagi wajah. Masa iya Fian mau menukar diriku dengan dirimu kalau bukan karena jampe-jampe."
Nadia bangkit dari duduknya dengan wajah yang terlihat murka. "Jangan sembarangan ngomong ya kalau tidak mau kulakban mulut kalian," ucap Nadia geram sambil menarik tas Rindu yang diambil oleh Kika.
"Tenang Nad, biarkan dia memeriksa tas itu biar tahu mereka bahwa aku tidak pernah menyembunyikan apa-apa di dalamnya," ujar Rindu menenangkan Nadia.
Kika dengan dengan kasar memeriksa tas Rindu hingga buku dan alat-alat tulis yang ada di dalamnya tercecer di lantai sedangkan Rindu masih tampak tenang-tenang saja.
"Bagaimana? Dapat yang kalian cari?" tanya Rindu sambil tersenyum mengejek saat Kika melempar tas miliknya ke atas bangku dengan dongkol karena tidak menemukan apa-apa.
"Dasar cowok kalian aja yang mata keranjang. Atau barangkali sudah bosan dengan yang cantik-cantik tapi membosankan kayak kalian sehingga beralih sama yang jelek tapi lebih menantang." Rindu semakin membuat mereka tambah murka.
"Cih dasar wanita tak tahu diri!" seru Kika sambil mendorong tubuh Rindu tetapi gerakan tangannya ditahan oleh Rindu dan didorong balik hingga kini Kika yang terhempas ke lantai.
Melihat Kika terjatuh Eliza menjadi tambah marah. "Dasar kamu wanita murahan," ujar Eliza sambil mengangkat tangannya hendak menampar Rindu tetapi gerakan tangannya langsung ditangkap oleh Fian.
"Fian lepaskan! Wanita ini pantas ditampar karena telah berani menggodamu."
Fian menggeleng. "Dia tidak pernah menggodaku tetapi aku yang menyukainya."
"Fian apa yang kamu katakan!" bentak Eliza.
"Mulai hari ini kita putus, aku sudah tidak menyukaimu lagi," tambah Fian.
Eliza tampak menatap Fian tidak percaya kemudian beralih menatap tajam kepada Rindu yang kini sedang bersitatap dengan Nadia seolah mereka sama-sama tidak percaya atas kejadian yang baru dilihatnya.
"Serem banget sih," kata Nadia kepada Rindu. Yang dimaksud serem oleh Nadia sebenarnya adalah pengaruh minyak oles yang dikatakan Rindu, tetapi Eliza salah mengerti.
"Apa bilang serem-serem! Lo kata aku hantu apa dibilang serem-serem segala."
"Teman-teman pasti Rindu ini pakai susuk atau ilmu pelet kalau tidak mana mungkin Fian tiba-tiba saja menyukainya. Rangga juga, kalian tahu sendiri kan dia kemarin-kemarin sangat membenci dia tetapi kenapa sekarang dia malah berbalik mengemis cinta dia. Sebelum dia berhasil mempengaruhi semua orang di sini lebih baik kita usir saja wanita hina ini." Kika tampak memprovokasi teman-teman yang lainnya.
"Kamu pikir kamu berhak mengusir Rindu dari sekolah ini? Jangan mimpi kamu, kecuali kalau orang tuamu lah pemilik sekolah ini tetapi jika orang tuamu bejat seperti kalian sih kalau tidak mereka pasti mencari bukti sebelum memutuskan," ujar Nadia.
"Ayo teman-teman kita seret saja itik buruk rupa ini, saya yakin kalau kalian mendukungku dan mau menjadi saksi, guru-guru pasti akan berpihak pada kita."
"Sorry Ki aku nggak bisa ikut dengan misi kalian karena aku tahu Rindu tidak bersalah," ujar Sesil.
"Aku juga nggak mau ikut-ikutan, apalagi kamu tidak ada bukti. Menuduh orang lain tanpa bukti bisa berbalik pada diri kita sendiri," sambung Dila."
"Iya aku juga," timpal yang lain.
"Aku juga tidak mau ikut-ikutan. Menurutku Rindu teman yang baik buat apa kita harus mendepak keluar dari sekolahan ini."
"Kalian akh." Kika mendesah kesal.
"Ilmu apa yang kamu pakai hingga membuat mereka semua jadi bersimpati padamu?" tuding Kika ke arah wajah Rindu.
"Tidak ada, aku hanya bersikap baik dan selalu menghargai mereka. Tidak suka menyuruh-nyuruh sesuai kehendak sepertimu."
Saat mereka berdebat, guru Biologi datang. Murid-murid yang dari tadi menyaksikan perselisihan antara Rindu dan Nadia dengan Kika dan antek-anteknya langsung bubar dan duduk di bangku masing-masing. Sedangkan Fian sudah terlebih dulu keluar kelas dan kembali ke kelasnya sendiri.
"Rindu laporan praktikum tiga hari yang lalu kamu letakkan dimana?" tanya guru biologi.
"Di laboratorium IPA Bu, di meja Ibu."
"Kalau begitu kamu ambil dulu, saya akan memeriksanya sekarang!" perintah Bu guru. Memang dua hari yang lalu Rindu lah yang diberi tugas mengkoordinir hasil laporan teman-teman sekelasnya.
"Baik Bu." Rindu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju meja guru. "Kunci ruangannya Bu."
"Oh minta sama pak Hasan dia yang pegang kuncinya."
"Baik Bu." Rindu keluar kelas dan menghampiri tukang jaga sekolah yang bernama Hasan. Setelah mendapat kuncinya Rindu langsung bergegas mengambil buku laporan teman-temannya yang ia letakkan di laci meja milik guru Biologi yang ada di lab.
Saat Rindu mengambil buku tersebut ternyata Fian sedang mengikutinya.
"Rindu aku mau bicara!" pinta Fian pada Rindu.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan. Untuk apa kamu mengikutiku hah? Pergi aku tidak mau timbul Fitnah diantara kita. Aku tidak ingin dituduh macam-macam. Kamu kembalilah pada Eliza aku tidak mau dianggap wanita yang suka merebut kekasih orang lain apalagi, maaf saya tidak menyukaimu," ujar Rindu dan langsung berlari keluar ruangan, meninggalkan Fian yang termangu sendiri. Meski Rindu ingin balas dendam terhadap Kika dan teman-temannya tetapi sejujurnya ia merasa risih kalau Fian ataupun Rangga malah mengejar-ngejar dirinya.
🌟🌟🌟🌟🌟
Esok hari sekolah digegerkan dengan penemuan mayat Fian di laboratorium. Menurut teman-temannya Fian memang tidak kembali ke kelas setelah pamit ke toilet. Teman-teman sekelasnya mengira pasti Fian bolos tidak ingin mengikuti pelajaran karena biasanya saat ada pelajaran yang tidak disenanginya pria itu biasanya memilih nongkrong di kantin sekolah.
Eliza tampak menangis histeris di samping jenazah Fian dan saat melihat Rindu dia langsung bangkit dan menampar wajah Rindu. Rindu yang dalam keadaan tidak siap menjadi kaget.
"Auw, apa-apaan sih kamu," protes Rindu sambil mengusap pipinya yang terasa panas. Kalau tidak ada guru-guru ingin rasanya dia menampar balik wajah Eliza.
"Pembunuh! Kamu pembunuh! Kamu yang membunuh Fian kan?"
"Jangan menuduh macam-macam kamu, itu jatuhnya jadi Fitnah." Rindu tak terima.
"Jangan mengelak, ada beberapa murid yang melihatmu berduaan dengan Fian di laboratorium. Jadi kalau terjadi sesuatu sama Fian kamu orangnya yang harus bertanggung jawab," ujar Eliza lagi.
"Demi Tuhan aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya mengambil bulu laporan praktikum dan langsung keluar," terang Rindu.
"Iya kan Bu." Guru biologi mengangguk. "Benar Pak Rindu hanya sebentar," jelas guru tersebut.
"Kalau memang aku pembunuhnya pasti aku kembali dengan jejak darah kan? Buktinya kemarin aku kembali dengan keadaan yang masih bersih." Rindu masih terus mencoba membela diri karena dia memang merasa tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa.
"Apa saat kamu keluar kemarin ada orang lain selain Fian?" Seorang guru mencoba mengintrogasi.
"Tidak ada Pak." Nampak guru tersebut menghela nafas panjang.
"Tapi kemarin ada yang mencurigakan Pak, tiba-tiba saja Fian dan Rangga mendadak tergila-gila pada Rindu," kata Lora.
"Benarkah?"
"Iya Pak aku yakin si Rindu menggunakan susuk atau ilmu pelet dan ternyata memakan tumbal. Fian adalah korban pertama bisa jadi diantara kita semua akan jadi target selanjutnya," jelas Kika.
"Astaghfirullah adzim." Rindu dan para guru beristighfar dalam hati sedangkan Nadia hanya geleng-geleng kepala melihat pemikiran teman-temannya yang picik.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Imam Sutoto Suro
wooow amazing story thor lanjutkan
2023-05-17
0