Empat tahun kemudian.
Dua gadis remaja tampak mengobrol di bawah pohon Cemara di halaman sekolah. Satu orang memakai masker dan yang satu lagi hanya mengalungkan di leher.
Setelah setahun lebih mereka harus belajar online akibat covid yang melanda, akhirnya mereka diperbolehkan melakukan tatap muka di sekolah. Sesekali terdengar tawa dari mulut keduanya disela-sela obrolan mereka.
"Ya ampun Rin, aku lupa kemarin kan ada pr matematika. Kamu udah, belum?"
"Sudah dari kemarin. Pas pulang sekolah langsung aku kerjakan. Kalau tidak aku takut keteteran, nggak ada waktu soalnya abis pulang kerja aku suka kecapekan dan akhirnya tertidur."
"Aku boleh nyalin nggak Rin?" tanya Luna sahabat Rindu sejak di bangku SMP.
"Kamu kebiasaan ya padahal kamu nyampe rumah nyantai nggak kayak aku yang harus memeras keringat, tetapi kenapa selalu tidak mengerjakan pr?" Rindu tahu bahwa Luna mengatakan lupa tadi hanya alasan semata. Kenyataan yang sebenarnya Luna pemalas dan selalu menganggap enteng setiap tugas sekolahnya karena mengandalkan Rindu.
"Pelit amat sih Rin jadi sahabat," protes Luna.
"Bukan begitu Lun aku kan pengen sahabat aku jadi pintar. Kalau kamu nyontek terus kapan pintarnya? Untuk sekarang boleh kamu nyalin punyaku tapi lain kali kerjakan sendiri. Kalau tidak tahu kamu tanya saja, aku pasti bantu kok."
"Alah bilang aja kamu pelit," ucap Luna ketus sambil bangkit dari duduknya kemudian melenggang pergi, meninggalkan Rindu sendiri.
"Lun, tunggu Lun!" Rindu pun ikut bangkit dan mengejar Luna. "Bukan begitu maksudku Lun, aku hanya ...."
Prok prok prok.
Suara tepuk tangan menghentikan ucapan Rindu. Begitupun dengan Luna, dia menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Wah-wah-wah, ternyata murid yang kita anggap disiplin ternyata hanya menggunakan masker sebagai topeng agar kita tidak mengetahui apa yang ada dibalik masker itu."
Semua murid menatap Rindu dengan aneh. Mereka merasa penasaran dan mencoba menebak-nebak akan perkataan Kika. Ketua geng Gaul yang terkenal di SMA 1 di kota itu.
"Apa maksudmu?"
"Jangan pura-pura bingung, kamu pikir aku tidak tahu. Mukamu jelek kayak hantu kan?"
"Itu tidak benar, aku hanya ...."
"Hanya apa? Jangan-jangan kamu bersekutu dengan setan. Ha ha ha...." Kika tertawa keras diikuti teman-temannya di belakang.
Rindu menggeleng. "Itu semua tidak benar. Jangan fitnah kamu!"
"Kika jangan suka menuduh tanpa bukti," ujar salah satu murid.
"Tidak benar katamu?" ketus Kika.
"Hei teman-teman saya akan membuktikan siapa diantara kita berdua yang benar. Aku atau dia?" tunjuk Kika pada dadanya sendiri kemudian dada Rindu. Lalu dengan secepat kilat tangannya menyentak masker yang menutupi bagian bawah wajah Rindu.
Rindu menahan tangan Kika agar tidak berhasil membuka masker di wajahnya. Namun sayang tiba-tiba tangan Rindu dikekang oleh teman-teman Kika.
"Lepaskan!" Rindu memberontak dalam dekapan teman-teman Kika, sedangkan Kika terus berusaha membuka masker. Rindu bergerak-gerak untuk mempersulit gerakan Kika. Namun karena tenaganya tidak bisa menandingi kekuatan mereka akhirnya Kika bisa melepas masker tersebut.
"Lepaskan dia!" Teman-teman Kika pun melepaskan Rindu setelah melihat bos mereka sudah berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Berikan itu, berikan!" Rindu tetap berusaha meraih masker ditangan Kika sedangkan satu tangannya mencoba menutup wajahnya. Dia tidak ingin teman-temannya mengetahui keadaan wajahnya karena akan merasa jijik. Dia saja tidak berani bercermin semenjak sadar dari koma beberapa tahun yang lalu.
"Cuih." Kika meludahi masker tersebut kemudian membuangnya sembarangan dan menginjaknya.
"Teman-teman, bagaimana? Aku benar kan? Tidak salah lagi dia pasti pemuja setan. Kalau tidak bagaimana mungkin dia selalu bisa menjawab pertanyaan guru di kelas sedangkan dia kerjaannya hanya molor di saat pelajaran dimulai."
Murid-murid memandang kaget mengetahui wajah bagian bawah Rindu seperti melepuh. Ada codet bekas terbakar.
"Ih jijik ya, kalau begitu aku tidak mau dekat-dekat dengan dia lagi."
"Ih mengerikan. Apakah dia sebenarnya terkena kutukan?"
"Pantas saja aku selalu melihat dia termenung, jangan-jangan dia sedang bicara sama piaraannya itu."
"Piaraan?" tanya yang lain.
"Jin maksudnya."
"Ih menakutkan."
Terdengar berbagai asumsi dari murid-murid yang hadir di tempat tersebut.
"Astaghfirullah hal adzim," ucap Rindu dalam hati.
"Pergi yuk." Mereka saling menarik tangan satu sama lain sambil memandang jijik ke arah Rindu. Beberapa murid terlihat pergi, tetapi masih ada yang bertahan. Sebagian dari mereka memilih menyaksikan perdebatan di hadapan mereka layaknya menonton teater.
"Masih mau mengelak?" seru Kika pada Rindu.
"Lun bantuin aku dong!" pinta Rindu yang melihat Luna tidak jadi pergi dan hanya menonton kelakuan Kika pada dirinya tanpa mau membela sahabatnya sendiri. "Katakan padanya bahwa mukaku begini hanya karena kecelakaan mobil bukan karena aku bersekutu dengan setan," pinta Rindu dengan penuh harap.
Luna mengangkat bahu."Sorry itu bukan urusanku. Lagipula kenyatannya memang demikian. Wajahmu buruk rupa kan? Mulai saat ini jangan dekat-dekat sama aku lagi. Aku malu berteman denganmu karena anak-anak sudah pada tahu akan wajahmu yang codet itu." Luna langsung pergi.
Rindu meneteskan air mata melihat sikap Luna terhadapnya.
"Hei itik buruk rupa, sekarang kau tidak punya teman lagi. Bertemanlah dengan itik-itik dan ayam-ayam yang ada di sekitarmu itu, karena kami semua di sekolahan ini tidak sudi menjadikan gadis hina seperti dirimu sebagai teman kami."
"Apa maumu sebenarnya? Mengapa kau melakukan ini padaku?" tanya Rindu dengan suara keras karena menahan amarah.
"Kamu mau tahu banyak atau mau tahu banget?" ledek Kika.
Rindu hanya menggeleng. "Kejam kalian."
"Apa, kejam? Kami memang kejam dengan orang yang pantas diperlakukan kejam seperti dirimu."
"Lora!" panggil Kika pada salah satu anggota gengnya.
Byiur.
Terdengarlah suara air yang ditumpahkan dari atas kepala Rindu oleh Lora.
"Apa ini?" Rindu mengusap kepalanya yang basah bahkan bukan cuma kepalanya saja yang basah tapi seragamnya juga ikutan basah.
"Bau apa ini? Huek." Semua murid yang masih menyaksikan aksi Kika and the genk mual. Mereka langsung bergegas meninggalkan tempat.
Rindu mencium tangannya yang menyentuh cairan itu. "Ini bau kotoran ayam."
"Rasakan itu akibatnya kalau kau berani mendekati Rangga."
"Rangga? Jadi itu alasannya?"
"Tidak usah pura-pura tidak tahu. Hmm, tapi aku ingin tahu apa yang akan dilakukan Rangga jika tahu wajah gadis yang dia puja ternyata jauh dari harapannya."
"Pasti ditendang lah," ujar Eliza.
"Dan dia akan kembali mendekatimu seperti waktu kita di SMP," sambung Lora.
"Itu pasti," imbuh Kika.
"Aku tidak menyangka demi seorang pria kau melakukan ini terhadapku."
"Bahkan aku bisa berbuat lebih dari ini jika kau masih berani mendekati Rangga," ujar Kika sambil mendorong tubuh Rindu dengan keras ke belakang hingga kepala gadis itu terbentur lantai.
"Aduh." Rindu mengaduh kesakitan sambil memegang kepalanya.
"Ada apa ini?" Tiba-tiba guru kimia datang dan menghampiri mereka.
"Rindu kepleset Pak gara-gara tadi ingin mengerjai kami dengan air yang bercampur kotoran ayam," lapor Kika.
"Iya Pak tapi sayang senjata makan tuan," sambung Elisa.
"Itu tidak benar Pak, saya ...."
"Sudahlah Rindu, apalagi yang ingin kamu tunjukkan? Kalau tidak karena pandai kami sudah mengeluarkan kamu dari sekolah ini. Suka malas-malasan, tidur di kelas dan sekarang mau mengerjai temanmu."
"Tapi Pak itu tidak be ...."
"Hukum saja Pak, murid seperti itu harus dikasih pelajaran," ujar Elisa sambil mengedip-ngedipkan mata pada Rindu seolah mengatakan bahwa mereka menang dan Rindu yang kalah. Sedangkan Kika tampak melotot ke arah Rindu.
Rindu balik menatap tajam ke arah mata mereka secara bergantian.
Awas ya, aku akan balas semua yang kalian lakukan padaku hari ini.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Imam Sutoto Suro
good job thor lanjutkan seruuuu banget
2023-03-02
0
Rini Antika
udah lah aku kan siswi teladan..😜
2022-08-17
0
Rini Antika
kayak aku banget, suka dikalungin di leher kg kalau pake masker..🤭
2022-08-17
0