"Astaghfirullah adzim." Rindu dan para guru beristighfar dalam hati sedangkan Nadia hanya geleng-geleng kepala melihat pemikiran teman-temannya yang picik.
"Kita tidak boleh berburuk sangka pada orang lain sebelum menemukan bukti," nasehat seorang guru yang hadir di tempat itu.
"Tapi dia patut dicurigai Pak," ujar Kika.
"Iya benar Pak, bukankah Rindu ada di tempat itu saat sebelum kejadian," sambung Lora.
"Ya kamu benar Rindu memang patut dicurigai tetapi bukan hanya dia saja seluruh warga sekolah patut dicurigai," ujar guru itu lagi. Murid-murid yang hadir hanya mengangguk. Beberapa orang diantara mereka terlihat khawatir dan beberapa yang lainnya terlihat takut karena sekolah mereka sudah tidak aman lagi.
Saat sedang berkerumun kedua orang tua Fian datang dan menjemput jenazah putranya. Mereka meminta pihak sekolah segera mengusut tuntas kasus yang telah membuat putranya harus kehilangan nyawa.
"Itu semua gara-gara dia Tante," ujar Eliza lagi, wanita itu seakan tidak mau berhenti menyalahkan Rindu.
"Itu tidak benar Tante," bantah Rindu akan perkataan Eliza.
"Siapapun itu harus dihukum berat," timpal ayah Fian.
Setelah jenazah dibawa pulang murid-murid dibebaskan, hari ini tidak ada pelajaran. Para guru dan sebagian murid ikut melayat tetapi ada beberapa yang memilih pulang ke rumah masing-masing.
Rindu dan Nadia memilih ikut melayat.
"Apa benar ini gara-gara minyak oles itu Nad?" tanya Rindu pada Nadia saat ia telah pulang dari rumah Rindu. Kini Rindu pulang dengan diantar menaiki motor milik Nadia.
"Kenapa kamu berpikiran begitu?"
"Aku hanya takut perkataan Eliza benar."
Nadia mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu minyak itu memakan tumbal?" tanya Nadia memastikan akan perkataan Rindu.
"Iya begitu. Bukankah kamu lihat sendiri kehebatan minyak itu kemarin. Rangga dan yang lainnya malah mengejar-ngejar diriku dan teman-temam yang wanita malah bersimpati padaku. Apa kamu tidak merasa aneh? Aku takut dibalik keanehan itu memang benar memakan tumbal."
"Alah tidak usah dipikirin, aku yakin itu hanya minyak pengasihan yang membuat semua orang menyukai dan menyayangimu saja bukan untuk membunuh orang," terang Nadia.
"Tapi aku tetap khawatir Nad."
"Terus?"
"Aku ingin mengembalikan minyak itu pada pemiliknya atau kalau tidak ketemu juga dengan kakek itu, aku akan membuangnya," ujar Rindu.
"Apa dibuang?" tanya Nadia heran.
"Ya tidak ada cara lain lagi selain dibuang daripada memakan tumbal lagi," ujar Rindu.
"Daripada dibuang mending aku yang pegang," usul Nadia.
"Maksudnya?"
"Aku ingin memakainya, kebetulan aku lagi mengincar seorang cowok. Aku ingin dia membalas cintaku."
"Jangan-jangan! Bagaimana kalau cowok yang kamu incar itu malah meninggal juga?" tanya Rindu khawatir.
"Alah nggak mungkin lah Rin. Parno aja jadi orang. Ya kalau dia meninggal ya berarti itu memang takdirnya," ujar Nadia enteng.
"Ish katanya cinta tapi kok malah ngomong gitu," protes Rindu.
"Ya karena aku yakin minyak itu tidak memakan tumbal. Sudahlah aku pinjam saja dan aku akan buktikan bahwa cowok yang aku incar akan tetap hidup. Nanti kalau kamu sudah ketemu sama kakek-kakek itu baru kita kembalikan tuh minyak."
"Baiklah tapi janji jangan menggunakan minyak itu untuk hal-hal yang tidak baik," ujar Rindu.
"Oke deh aku janji."
"Baiklah."
"Eh yang mana rumahmu?" tanya Nadia setelah mereka sambil di kampung Rindu.
"Itu yang di ujung," tunjuk Rindu pada sebuah rumah kecil yang nampak asri karena di depannya terdapat tanaman hias dan bunga-bunga.
Nadia pun memelankan laju motornya karena jalananan yang agak licin.
Sampai di rumah, Rindu mempersilahkan Nadia masuk dan dirinya membuatkan minuman. Yani pun membawakan mereka setoples kue kering. Setelah itu menyiapkan makanan untuk keduanya.
Setelah selesai makan Nadia dan Rindu mandi secara bergantian. Setelahnya mereka berbaring di ranjang dalam kamar Rindu dan beristirahat.
"Sudah pamit sama orang tuamu Nak bahwa kamu akan ke sini?" tanya Yani takut kedua orang tua Nadia akan mencari putrinya.
"Sudah Bik tadi saya sudah menelpon mereka dan mengatakan akan langsung ke sini habis melayat."
"Siapa yang meninggal?" tanya Yani penasaran.
"Teman kami Bik," jawab Rindu.
"Loh sakit apa?" tanya Yani lagi.
Mereka berdua pun menceritakan tentang kejadian yang ada di sekolah mereka.
"Wah nggak aman nih kayaknya sekolah kalian sekarang."
"Ya begitulah Bik aku jadi takut ke sekolah."
"Yang penting hati-hati saja," ujar Yani mengingatkan dan keduanya hanya mengangguk.
"Bik aku mau nelpon paman Suseno dulu, hari ini aku mau izin tidak masuk kerja."
"Tidak perlu tadi kak Suseno menelpon bibi bahwa hari ini permintaan ayam potong cuma sedikit dan sekarang pekerjaan di sana sudah kelar semua, jadi kak Suseno mengatakan bahwa kamu tidak perlu masuk kerja dulu."
"Wah kebetulan dong, hari ini Rindu mau istirahat. Yuk Nad kita tidur siang," ajak Rindu.
"Kalau begitu bibi keluar dulu," pamit Yani.
"Iya Bik."
Sebelum tidur siang Nadia mengingatkan perihal minyak oles.
"Sebentar aku ambilkan," ujar Rindu lalu membuka laci dan mengambil minyak tersebut. Setelah itu ia menyodorkan pada Nadia.
"Nih! Tapi ingat ya dengan larangannya yang saya sebutkan tadi."
"Beres Bos," ujar Nadia sambil mengacungkan dua jempol kemudian meraih minyak itu dan memasukkannya ke dalam tasnya sendiri. Setelah itu keduanya langsung beristirahat.
Di tempat lain Kika, Eliza dan teman-temannya masih terlihat murka terhadap Rindu.
"Aku yakin pasti Rindu yang telah membunuh Fian," ujar Eliza.
"Kamu benar, pasti dia punya ilmu hitam," sambung Kika.
"Kalau begitu ilmu hitam harus dibalas ilmu hitam. Hutang nyawa dibalas nyawa," ujar Eliza lagi.
"Maksudmu?" tanya Lora tidak mengerti.
"Kita harus ke dukun. Kita harus menyerang balik tuh orang biar tahu rasa," sahut Kika.
"Ide yang bagus," ucap Eliza tersenyum senang karena menemukan cara untuk balas dendam.
🌟🌟🌟🌟🌟
"Aduh, aw-aw." Rindu langsung terbangun dari tidurnya tatkala merasakan perutnya sakit seperti ada yang menusuk-nusuk. Ia meremas perutnya sambil merintih kesakitan. Karena tidak kuat ia sampai terpelanting ke bawah kasur.
Dug.
Nadia terbangun kala mendengar suara orang jatuh. Matanya menelisik ke setiap sudut ruangan hingga ia melihat Rindu yang tergolek di lantai dengan keringat yang membanjiri lantai.
"Rin, kamu kenapa Rindu?" Nadia turun dari ranjang dan menghampiri sahabatnya.
"Sakit Nad, sakit sekali," ujar Rindu dengan air mata yang terus-menerus menetes. Tubuh Rindu terlihat gelisah sekali.
"Tunggu aku panggilkan bibi!" Nadia hendak bangkit, tetapi ditahan oleh Rindu.
"Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku, aku sudah tidak kuat lagi."
Mendengar perkataan Rindu, Nadia menjadi gusar. "Bik tolong Bik! Rindu kenapa ini?" Nadia berkata sambil menangis membuat Yani kaget dan langsung berlari ke kamar Rindu.
"Apa yang terjadi pada Rindu Nad?"
"Aku tidak tahu Bik, pas bangun saya lihat Rindu sudah seperti ini."
"Ya Allah kenapa ini?" tanya Yani ikut gusar.
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Imam Sutoto Suro
keren thor lanjutkan
2023-05-17
0