"Kenapa aku tidak mati saja kalau begini, hiks ... hiks ... hiks. Ayah ibu bawa saja Rindu bersama kalian." Seharian itu Rindu menghabiskan waktu menangis dan meratapi nasib.
"Rindu sabar ya Nak, paman dan bibi akan berusaha mencari dan mengumpulkan uang agar bisa membiayai operasi plastik wajahmu. Ini untuk sementara saja, suatu saat nanti wajah cantikmu pasti akan kembali lagi." Dahlan mencoba membujuk Rindu agar berhenti menangis walaupun sebenarnya dalam hati terbersit rasa tidak yakin dengan apa yang diucapkannya.
"Memang tidak ada cara lain untuk mengembalikan wajahku ini, dengan obat atau salep mungkin?" tanya Rindu, gadis itu ternyata masih polos.
Yani, sang bibi menggeleng. "Tidak bisa Nak luka di wajahmu sudah parah. Sebenarnya dokter menyarankan agar segera melakukan operasi plastik tapi sayangnya paman dan bibi masih belum punya biaya. Maafkan kami ya Nak."
Rindu mengangguk lalu menunduk. Dia sebenarnya kecewa karena sepertinya harapan untuk mengembalikan wajah cantiknya tidak akan pernah tercapai. Rindu tahu akan sangat susah bagi paman dan bibi untuk mengumpulkan uang biaya operasi plastik yang terbilang cukup mahal. Sedangkan untuk biaya makan saja Dahlan dan Yani keteteran untuk memenuhi kebutuhannya itu.
Dahlan hanya pekerja serabutan yang akan bekerja saat ada yang membutuhkan jasanya, sedangkan sang bibi hanyalah buruh cuci di rumah-rumah tetangga. Karena pekerjaannya ini tidak mampu memenuhi semua kebutuhan hidup, mereka kini mulai merintis usaha kecil-kecilan. Mereka membuka toko sembako di depan rumah mereka. Namun tetap saja penghasilan dari tokonya masih tidak bisa diandalkan.
Suatu hari kakak Dahlan -Suseno- datang. Mereka mengajak keluarga Yani dan Dahlan untuk bergabung dengan keluarga mereka.
"Dek, saat ini saya sudah memiliki beberapa ratus ribu ayam potong dan itik yang tersebar dalam beberapa kandang. Rencananya selain menjual dalam keadaan hidup saya ingin juga menjualnya dalam keadaan yang sudah dipotong menjadi daging. Apa Dek Dahlan bisa bergabung dengan kami?"
"Wah sangat bisa kak. Apa yang bisa saya lakukan?" Dahlan bertanya sambil tersenyum sumringah pada istrinya.
"Kamu bisa membantu dalam pemasaran."
"Baiklah kak mulai kapan saya bisa bekerja?"
"Besok juga boleh."
"Bagaimana Yan?" Dahlan meminta pendapat istrinya.
"Abang kerja saja sama kak Dahlan biar saya yang urus toko."
Dahlan mengangguk mantap.
"Baiklah kalau begitu besok pagi saya ke rumah kak Suseno."
"Baik kalau begitu aku tunggu di rumah."
...----------------...
Keesokan hari ketika Dahlan hendak berangkat ke rumah Suseno, Rindu memanggilnya.
"Paman mau kemana?"
"Mau ke rumah paman Suseno."
"Boleh Rindu ikut?"
"Memang kamu tidak sekolah hari ini?"
"Libur Paman, kan hari Minggu."
"Oh iya ya paman lupa," ucap sang paman sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ya sudah ayo kalau mau ikut, jangan lupa pamit sama bibimu!"
"Baik Paman." Rindu berlari masuk ke dalam rumah dan memanggil sang bibi.
"Bik! Bik!" panggilnya dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Apa sih Rin kok kayak dikejar maling gitu," protes Yani.
"Rindu mau ikut paman."
"Baiklah ikut saja, tapi hati-hati ya."
"Pasti Bik." Rindu berjalan keluar rumah dengan langkah yang besar.
"Bagaimana?"
"Boleh kata bibik."
"Ya sudah kalau begitu yuk berangkat."
Mereka pun berangkat ke kediaman Suseno dengan berjalan kaki. Sampai di sana ternyata sudah ada beberapa orang yang membersihkan bulu ayam yang sudah disembelih.
Dahlan tampak ditarik ke dalam rumah oleh Suseno sedang Rindu tampak berbaur dengan yang lainnya, membantu mencabut bulu ayam. Kebetulan Suseno memilih untuk tidak menggunakan mesin pencabut bulu unggas karena melihat tetangga banyak yang pengangguran apalagi usahanya bisa dibilang masih awal.
"Dia keponakan kamu itu?" tanya Suseno pada Dahlan yang kini sedang berbincang-bincang dalam sebuah ruangan. Meskipun mereka tinggal dalam satu kampung tetapi mereka jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.
"Iya Kak kasihan dia masih kecil sudah ditinggal kedua orang tuanya. Jadi kami mengajak dia untuk tinggal bersama kami. Siapa tahu dengan merawat dia Yani bisa hamil."
"Kamu benar, ada beberapa warga di sini yang tidak memiliki anak. Mereka mengadopsi anak sebagai pancingan, eh akhirnya istri-istri mereka beneran hamil."
"Semoga nasib baik mereka menular pada kami," ucap Dahlan penuh harap.
"Amin. Eh ngomong-ngomong siapa nama ponakan kamu itu?"
"Rindu kak."
"Oh Rindu ya, sepertinya anak itu rajin." Suseno berucap sambil memandang Rindu dari balik kaca.
"Kakak benar dia memang suka bantu-bantu Yani di rumah."
"Bagaimana kalau dia kerja di sini?"
"Kalau itu mah, Kakak tanya saja sama anaknya soalnya dia masih sekolah."
"Tidak apa-apa, dia bisa bekerja sesudah pulang sekolah. Lumayan kan dapat penghasilan sendiri. Biar uang jajan tidak minta sama kamu."
"Kalau untuk uang jajan saya mah tidak keberatan ngasih dia. Cuma ya begitu aja, pas-pasan."
"Makanya dari itu, siapa tahu dia pengen beli sesuatu yang tidak bisa terpenuhi dari uang jajan yang kamu berikan."
"Kalau saya sih terserah dia Kak."
"Baiklah kalau begitu saya akan bicara langsung dengan dia." Suseno keluar dan memanggil Rindu.
"Yang namanya Rindu ke sini!"
Rindu membersihkan tangannya kemudian berjalan mendekat. "Ada apa Paman?" tanya Rindu dengan perasaan takut. Dia pikir Suseno tidak suka karena dia main bergabung saja dengan para pekerja tanpa pamit terlebih dulu.
"Bagaimana rasanya kamu tadi bekerja?"
"Hmm, sepertinya asyik Paman," jawab Rindu jujur.
"Apa kamu mau bekerja di sini?"
"Bekerja Paman? Apa boleh?"
"Boleh kalau kamu mau."
"Tapi ... tapi...," ucap Rindu ragu.
"Tapi kenapa?"
"Aku harus kerja apa?"
"Ya seperti tadi, mencabut bulu ayam dan itik."
"Cuma itu paman?"
"Iya."
"Asyik, saya mau paman." Rindu berjingkrak kegirangan membuat semua orang menoleh padanya sambil menggelengkan kepala.
"Baik kalau begitu mulai besok, saat kamu pulang sekolah bisa langsung ke sini untuk bekerja."
"Baik Paman tapi izinkan saya meminta izin kepada paman dan bibi terlebih dahulu. Kalau mereka setuju besok setelah mengganti seragam saya akan langsung ke sini."
"Tidak masalah, bicarakan saja dulu pada mereka."
...----------------...
Hari sudah sore, langit merah di barat sana sudah akan berganti gelap. Rindu dan Dahlan pulang ke rumah. Setelah membersihkan diri mereka sholat berjamaah kemudian makan malam bersama. Di saat itulah Rindu menyampaikan keinginannya kepada Dahlan dan Rindu.
"Kalau bibi sih tidak keberatan asalkan sekolah kamu tidak terganggu."
"Paman juga, asalkan kamu tidak terpaksa melakukan hal itu. Kalau sekiranya terpaksa lebih baik jangan kau lakukan karena paman dan bibi masih sanggup memberikan makan dan masih mampu untuk membiayai sekolahmu."
"Tidak Paman saya tidak terpaksa, saya malah senang bekerja di tempat itu."
"Baiklah kalau begitu paman dan bibi setuju."
"Terima kasih ya Paman, Bibi." Rindu mendekap keduanya membuat mata Dahlan dan Yani tampak berkaca-kaca. Mereka seolah merasa memiliki anak kandung dengan kehadiran Rindu di rumahnya.
Syukurlah paman dan bibi menyetujui. Dengan begini saya bisa mengumpulkan uang untuk biaya operasi wajah walaupun sedikit demi sedikit. Bukankah pepatah bilang 'Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.'
Dari balik punggung keduanya, Rindu tampak tersenyum seorang diri karena merasa seolah ada harapan untuk wajahnya yang buruk rupa kembali seperti semula.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Imam Sutoto Suro
semangat thor lanjutkan
2023-03-02
0
Rini Antika
Aku hadir kak, semangat terus ya..💪💪
2022-08-07
0