Part 8. Bulu Perindu

Rindu berharap hari cepat berganti karena tidak sabar ingin melihat reaksi teman-temannya saat ia menggunakan benda itu.

Esok hari, pagi-pagi sekali Rindu sudah dalam keadaan yang rapi dengan pakaiannya. Tak lupa ia mengoleskan minyak pemberian kakek-kakek tersebut di kedua lengan bahkan di wajahnya. Berharap orang-orang yang melihat wajahnya nanti bisa bersimpati sedikit bukan malah menghina seperti sebelumnya.

"Semoga kau memang benar-benar ada gunanya." Rindu tersenyum pada minyak itu lalu menutup botolnya kemudian menyimpannya di dalam laci tempat tidur.

Rindu keluar dari kamar sambil bersenandung kecil sehingga membuat Yani sang bibi heran karena tidak biasa keponakannya itu terlihat begitu ceria.

"Ada kabar baik apa nih, tumben keponakan bibi senyum-senyum sendiri?"

"Nggak ada apa-apa kok Bik, cuma hari ini Rindu semangat aja sekolah."

"Wah bagus dong berarti ponakan bibi nggak bakal merengek minta pindah sekolah lagi ya," ujar sang bibi.

"Tergantung nanti sih Bik," sahut Rindu membuat sang bibi menjadi khawatir kembali.

"Bukan apa-apa sekolah itu kan sekolah unggulan, bibi yakin itu sekolah lebih cocok buat anak yang pintar sepertimu. Bibi hanya ingin yang terbaik untukmu Rin. Namun kalau memang kamu masih saja terus diganggu oleh teman-temanmu di sana ya mau bagaimana lagi, jalan satu-satunya ya kamu harus pindah sekolah," ujar sang bibi pasrah.

"Rindu mengerti Bik, doakan saja semoga Rindu betah di sana."

"Bibi selalu mendoakan yang terbaik untukmu Nak," ucap sang bibi yang tiba-tiba merasa sendu karena teringat akan almarhumah adiknya. Reta pasti akan sedih kalau tahu putri satu-satunya selalu menjadi bahan bulian teman-temannya di sekolah.

"Bibi jangan sedih dong Rindu sudah tidak apa-apa kok," ujar Rindu menenangkan sang bibi.

Yani memilih diam tidak menanggapi ucapan Rindu. Dia tahu meski gadis itu sering mengatakan tidak apa-apa di depannya, nyatanya ia kerap kali melihat Rindu menangis di dalam kamar.

"Rindu pergi sekolah dulu ya Bik," ucap Rindu sambil meraih tangan Yani dan menciumnya.

"Loh dengan baju itu?" Heran sang bibi karena Rindu tidak mengenakan seragam sekolah.

"Iya Bik nanti aku ganti di sekolah."

"Oh begitu ya." Meski Yani tidak mengerti tapi dia tidak ingin bertanya lebih lanjut.

"Paman mana?"

"Pamanmu sudah pergi pagi-pagi buta karena harus mengantar pesanan daging ayam untuk acara mantenan di kampung sebelah."

"Oh." Gadis itu hanya ber oh ria.

"Kamu nggak sarapan dulu?" tanya Yani saat Rindu melewati meja makan.

"Nggak Bik aku lagi diet," tolak Rindu.

"Diet? Tumben."

"Iya Bik mulai sekarang Rindu harus bisa menjaga penampilan biar tidak jadi bahan bulian lagi. Walau memang sih penampakan wajah Rindu tidak akan bisa berubah."

"Tidak masalah, kamu mulai lah dari tubuh kamu baru nanti kita pikirkan tentang wajah kamu. Bibi dan paman sudah mengumpulkan uang untuk biaya operasi wajahmu meski belum banyak," ujar Yani lagi.

"Terima kasih ya Bik, tetapi seharusnya uang kalian untuk kebutuhan kalian saja bukan buat Rindu," ucap Rindu merasa tidak enak. Memang Yani adalah bibinya sendiri tetapi bagaimana dengan Dahlan ataupun keluarganya. Walaupun Dahlan memang baik terhadap Rindu tetapi rasa tidak enak tetap menyeruak ke dalam hati Rindu.

"Tidak apa-apa paman dan bibi ikhlas kok membantumu. Lagipula kalau bukan kamu siapa lagi yang akan menikmati hasil keringat kami. Kamu tahu sendiri kan kami sampai saat ini masih belum dikaruniai anak. Anak kami ya cuma kamu sekarang," ujar Yani lagi.

Rindu langsung mendekap Yani, mengucapkan berkali-kali kata terima kasih.

Beberapa saat Rindu mengurai pelukannya. "Semoga bibi dan paman segera dikaruniai anak ya, sayang kalau orang sebaik kalian tidak ada keturunan," ujar Rindu sambil mengelus perut bibinya.

"Amin," kata Yani menanggapi doa Rindu.

"Udah ya Bik aku berangkat dulu," ujar Rindu lagi sambil berjalan keluar rumah.

"Iya hati-hati."

🌟🌟🌟🌟🌟

Sampai di sekolah keadaan masih sepi. Hanya ada beberapa anak yang memang datang lebih pagi karena ada piket kelas.

Rindu berjalan dengan santai ke dalam kelas tidak seperti sebelumnya yang selalu merasa was-was. Mungkin benar minyak yang dipakainya telah bereaksi, membuatnya lebih percaya diri. Ia Menghampiri bangkunya sendiri meletakkan tas dan duduk sebentar, meraih seragam dalam tasnya. Beberapa orang yang sedang menyapu kelas menoleh dan seperti terkesiap, mereka seolah terpukau dengan penampilan Rindu padahal penampilan gadis itu sama sekali tidak berubah. Namun Rindu berpikir mereka memandang Rindu tak berkedip karena melihat dirinya berkeringat.

"Rin, tumben kamu datang pagi," sapa Dila yang kini menghentikan aktivitasnya menyapu. Rindu tersenyum, hatinya merasa bahagia ada teman-temannya yang sudah mau menyapanya seperti dulu lagi.

"Iya biasanya kamu kan datangnya pas beberapa menit sebelum bel masuk berbunyi gitu," timpal yang lainnya.

"Dan kenapa kamu keringatan seperti itu?"

Rindu semakin senang, teman-temannya mulai perhatian padanya.

"Sini aku bantu." Rindu meraih gagang sapu yang dipegang Dila dan membantu membersihkan kelas.

"Kok kamu masih mau membantu kami sih, bukankah kami sering menghinamu," ujar Sesil salah satu dari mereka.

"Tidak apa-apa mumpung aku masih keringetan, sekalian biar tambah banyak."

Saat sedang membersihkan kelas tiba-tiba Nadia datang.

"Tunggu! Bukankah hari ini bukan piketmu ya kenapa kamu malah menyapu?" tanya Nadia.

"Mereka tidak mengerjaimu kan?" tanya Nadia lagi karena Rindu tidak menjawab.

"Tidak, aku melakukan ini dengan suka rela," ujar Rindu membuat Nadia menatap Rindu tidak percaya.

"Sudah ya Dil kalian lanjutkan, aku mau mandi dan ganti baju dulu karena kelas akan segera dimulai," ujar Rindu sambil meninggalkan kelas. Namun beberapa saat kemudian ia berbalik.

"Nad ikut yuk!" ajaknya pada Nadia.

"Oke," sahut Nadia sambil berjalan menyusul Rindu.

"Rin tunggu! Jangan cepat-cepat jalannya!"

Rindu pun berhenti menunggu Nadia sampai di sampingnya.

"Kamu kenapa keringatan seperti itu sih? Apa kamu terlalu lama membantu mereka bersih-bersih kelas?" tanya Nadia penasaran.

"Tidak juga hanya saja saya tadi habis berlari dari rumah ke sekolah," sahut Rindu.

"Apa?! Bukankah jarak rumah kamu ke sekolah sangat jauh ya, bagaimana mungkin kamu tidak naik kendaraan umum. Apa kamu tidak punya uang?" tanya Nadia heran.

"Bukan tidak punya uang tapi aku memang sengaja berlari agar bisa mengeluarkan keringat lebih banyak biar cepat kurus." Rindu berucap sambil terkekeh.

"Awas pingsan kamu," ujar Nadia ikut terkekeh.

Sampai di depan kamar mandi khusus murid Rindu masuk sedangkan Nadia menunggu di luar.

Beberapa saat ia keluar dengan tubuh dan wajah yang segar sehabis mandi. Diapun sudah siap dengan seragamnya.

Saat berjalan menuju kelas Rindu berpapasan dengan Rangga, Herlan dan Fian dan tak sengaja Rangga menyenggol tubuh Rindu hingga terjatuh.

Rangga menuding Rindu yang kini sedang dibantu Nadia untuk bangun. "Hei gendut apa gunanya kamu gendut kalau tenaga saja tidak ada. Kau...." Rangga menghentikan perkataannya kala Rindu menatap dirinya dengan kesal. Bukannya takut tapi pria itu malah terpesona dengan gadis yang pernah menjadi kekasihnya itu.

Bukan hanya Rangga, tetapi dua sahabatnya yaitu Fian dan Herlan kini menatap Rindu tak berkedip karena ikut terpesona.

"Hai Rindu apa kabar?" sapa Fian sok akrab.

"Jangan macam-macam kamu sama dia!" seru Rangga.

"Eits dia kan bukan kekasihmu lagi. jadi aku bebas dong kalau dekatin dia," protes Fian.

"Jangan mau sama dia Rin, dia itu Playboy sudah punya kekasih malah merayu gadis lain. Mending kamu sama aku aja ya aku kan masih jomblo."

"Enak aja Rindu masih milikmu," ujar Rangga sambil menghadang jalan Rindu agar tidak pergi.

Nadia menggeleng mendengar para lelaki merebutkan Rindu. "Dasar cowok aneh, kemarin-kemarin menghina sekarang malah ngerebutin. Nggak kesambet kan kalian?"

"Kembali padaku ya Rin, please!" lanjut Rangga tanpa menghiraukan perkataan Nadia.

"Minggir-minggir, si gendut dan buruk rupa mau lewat," ujar Rindu menerobos Rangga dan teman-temannya lalu masuk ke dalam kelas.

Dari jarak jauh Eliza dan Kika terlihat kesal.

"Dasar wanita gatal, nggak cukup satu pria, langsung menggoda tiga pria sekaligus," ujar Kika.

"Fian!" Eliza kesal sambil menggertak-gertakkan kakinya ke lantai dan saat ingat dengan Rindu ia langsung mengepalkan tangannya karena teramat benci pada gadis itu.

Sampai di dalam kelas Nadia merasa curiga dengan kejadian tadi. Karena penasaran ia langsung bertanya pada Rindu. "Kamu pakai apa sih, hingga mereka tiba-tiba pada suka sama kamu, susuk?" Nadia berbisik di telinga Rindu.

"Nggak kok aku nggak pakai apa-apa," bohong Rindu.

"Ah mana mungkin kamu nggak pakai apa-apa. Jujur dong Rin aku kan sahabatmu, kecuali kalau kamu tidak ingin menganggap aku sahabat lagi," ujar Nadia.

"Tapi janji ya jangan bilang siapa-siapa," ucap Rindu.

"Suer," kata Nadia sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.

Rindu pun mengangguk dan berbisik di telinga Nadia.

"Minyak oles? Apa itu minyak bulu perindu?" Nadia bertanya masih dengan suara berbisik.

"Aku tidak tahu," ucap Rindu jujur karena memang tidak pernah tahu itu minyak apa. Yang dia tahu itu minyak oles saja.

Bersambung....

Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!