Part 17. Aku Tidak Pantas Untukmu

"Apa mungkin aku jatuh cinta? Akh mana mungkin aku jatuh cinta dengan wanita yang wajahnya saja aku tidak tahu," gumam Reno sambil membayangkan wajah Rindu yang selalu tertutup masker.

Namun perkataan tidak sinkron dengan hati. Ketika mulut mengatakan tidak mungkin justru hatinya gelisah. Sepertinya gadis itu memiliki magnet tersendiri bagi Reno sehingga ingin selalu dekat dengannya. Buktinya baru beberapa hari tidak bertemu dia gelisah dan galau.

Reno melirik jam dinding, sudah menunjukkan jam 2 tengah malam tetapi dia belum bisa terlelap juga. Dia bangkit dari berbaringnya, menyingkap selimut lalu berjalan menuju kamar sang nenek. Ternyata nenek Siva masih tertidur lelap dengan perawat yang siap menjaga di sampingnya.

"Mbak Lola tolong jagain nenek Siva ya saya mau keluar dulu. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku!" perintah Reno pada perawat neneknya yang bertugas malam.

"Baik Tuan."

Reno segera mengambil ponselnya kemudian mendeal nomor telepon milik Deril.

"Halo Tuan."

"Temui aku sekarang di rumah!"

"Malam-malam begini Tuan? Apa terjadi sesuatu sama Nyonya besar?" tanya Deril khawatir takut-takut nenek Siva sudah tutup usia.

"Tidak, tapi antarkan aku ke rumah Rindu sekarang!"

"Apa? Apa tidak sebaiknya besok sa .... "

Tut tut tut ....

Sambungan telepon terputus sudah. Reno segera menekan ikon merah di ponselnya karena tidak ingin berdebat dengan Deril.

"Aaagh, ganggu orang tidur saja." Deril mendesah kesal sambil melempar bantal sembarangan. Dia melampiaskan kemarahannya pada bantal padahal bantal sama sekali tidak bersalah. Duh kasihannya kamu bantal sudah ditindih, sekarang malah dilempar lagi.

Dengan berat hati Deril berjalan menuju kamar mandi. Mencuci muka agar kantuknya hilang kemudian dia meraih jaket agar tidak kedinginan diterpa cuaca malam.

"Dasar bos manja kemana-mana mesti minta diantar penakut kali dia, padahal ini bukan jam kerja tapi kalau aku menolak pasti map pemecatan akan melayang di depan mata." Deril ngedumel sendiri. Menyayangkan Reno yang malah memilih dirinya untuk mengantar sang bos ke kampung halaman Rindu dibandingkan sopir pribadinya.

"Kenapa tidak pakai sopir pribadinya sih," kesalnya.

Ia meraih kunci mobil dan segera menuju garasi lalu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Lumayan malam hari jalanan terlihat sepi kalau siang hari pasti Deril tidak berani main kebut-kebutan apalagi kalau di sampingnya duduk sang bos yang takut dengan kecepatan. Bos lelet dan manja itulah julukan yang diberikan Deril untuk sang bos. Bagaimana tidak dikatakan lelet, sudah tahu dirinya tidak suka dengan kecepatan mobil yang tinggi tetapi selalu tidak siap sendiri lebih awal ketika harus bertemu klien. Harus ada inisiatif Deril untuk menyiapkan segalanya. Mentang-mentang dirinya bos.

Belum sampai lima belas menit dia di jalanan, Reno menelpon kembali.

"Iya Tuan aku sudah di jalan," ucap Deril langsung ketika mengangkat telepon dari Reno.

Hampir 3 jam mereka di jalanan hingga akhirnya mereka sampai ke kampung halaman gadis itu.

"Tuan kenapa tidak menyerah juga sih, sudah tahu gadis itu keras kepala," protes Deril. Reno tampak diam tidak menjawab.

"Apa tidak memalukan ya perusahaan besar merengek-rengek pada seorang pengusaha kecil agar mau bekerja sama. Padahal Tuan tahu sendiri, bahkan banyak perusahaan-perusahaan besar yang ingin menjalin kerjasama dengan kita. Untuk masalah pemasaran produk kita agar laris kembali aku sudah mengatasinya. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi," tutur Deril panjang lebar.

"Ini bukan masalah bisnis tetapi masalah hati," ujar Reno datar.

"Apa?! Jangan bilang Tuan muda menyukai gadis itu." Deril merasa syok karena ternyata dirinya malam-malam harus mengantar sang bos hanya gara-gara cinta.

Ya ampun cinta kamu harus bertanggung jawab. Nampaknya Deril mulai stres gara-gara tingkah sang bos.

______________________________________________________

"Hai Rin mau kemana?" sapa Reno ketika sampai di depan rumah Rindu. Gadis itu tampak berusaha mengeluarkan motor maticnya.

"Mau ke pasar," jawab Rindu asal-asalan. Sudah tahu dia memakai seragam masih bertanya.

"Ya mau ke sekolah Tuan, masa mau joging," ujar Deril sambil terkekeh. Reno tampak melotot ke arah Deril. Bisa-bisanya sang asisten tidak mengerti dengan kalimat basa-basi.

"Aku antar pakai mobil," ujar Reno.

"Tidak usah aku berangkat pakai motor saja," sahut Rindu sok angkuh padahal di hati senang tingkat dewa.

"Hei gadis keras kepala, aku ada yang ingin dibicarakan," ujar Reno lagi.

"Hei pemuda pemaksa, sudah berapa kali aku katakan aku tidak mau bekerjasama denganmu," balas Rindu.

"Lupakan masalah kerjasama, aku ingin bicara serius denganmu tentang hal yang lainnya."

"Bicara serius? Tentang hal lain?"

"Iya sudah jangan banyak tanya, ayo cepat masuk mobil. Tidak ingin terlambat sekolah kan?"

Rindu mengangguk lalu masuk ke dalam mobil. Namun sebelum Reno dan Deril masuk ke dalam mobil dia keluar kembali. "Tunggu dulu! Kamu tidak ingin menculik diriku kan?"

"Kepedean banget, emang aku nggak ada kerjaan apa? Terus kalau kamu dijual kira-kira ada yang beli kamu gitu?" Rindu tampak mencebik dalam maskernya. Dalam hati membenarkan perkataan Reno. Mana mungkin ada yang mau dengan dirinya palingan orang-orang akan lari ketika melihat wajahnya.

Kini mereka sedang berada di dalam mobil. Seperti biasa Deril bertindak sebagai sopir. Sedangkan Reno memilih duduk di kursi belakang berdampingan dengan Rindu.

"Sebenarnya apa yang ingin Tuan katakan?" tanya Rindu penasaran sekaligus ingin menghilangkan kecanggungan diantara keduanya. Bukan karena apa sedari tadi jantung Rindu berdetak kencang berdekatan dengan Reno. Apalagi tempatnya yang berhimpitan membuat mereka harus berbagi udara bersama. Parfum maskulin Reno yang semerbak membuat Rindu semakin merasa grogi.

Berbeda dengan Rindu, ekspresi Reno malah datar-datar saja. Deril yang melihat keduanya dari balik kaca hanya terkekeh sambil menutup mulutnya. Dia tidak bisa membayangkan apakah sang bos leletnya bisa dengan mudahnya mengatakan cinta pada seorang wanita. Seumur-umur Deril tidak pernah melihatnya. Jangan-jangan bos manjanya malah meminta bantuan dirinya untuk menyampaikan perasaannya pada Rindu.

Reno tampak mengambil kotak kecil dari kantong celananya. Rindu tidak mengerti apa yang akan dilakukan pemuda di sampingnya.

"Mungkinkan dia ingin berbisnis perhiasan dan memintaku untuk bekerjasama?" batin Rindu.

Reno berjongkok di depan sofa mobil yang terlihat sempit. Ia membuka kotak itu dan memperlihatkan cincin di dalamnya.

Apa dia ingin latihan menembak seorang gadis?

Walaupun dalam hati berharap gadis itu adalah dirinya tetapi Rindu cukup tahu diri. Pemuda tampan dan kaya dari kota tak akan bisa mencintainya apalagi bersanding dengannya.

"Apakah kamu mau menjadi tunanganku?" tanya Reno kemudian. Rindu saleh tingkah tidak tahu harus berbuat apa.

"Ayo jawab Nona!" seru Deril sambil tertawa karena lucu. Bagaimana tidak lucu melihat sang bos malah menembak seorang gadis dalam mobil. Tidak ada romantis-romantisnya sama sekali.

"Ayo jawab Rin!" Reno menatap Rindu penuh harap.

"Itu kalimat buat aku?" tanya Rindu sambil menunjuk dadanya sendiri.

Reno mengusap wajahnya. "Ya iyalah kamu pikir siapa lagi yang ada di sini. Masa Deril atau dedemit sih," protesnya.

"Bukan begitu, kita baru-baru ini bertemu apa tidak kecepetan kamu mengatakan itu?" tanya Rindu ragu.

"Sebenarnya sejak pertama kali bertemu aku sudah menyukaimu dan entah kenapa setiap kita berselisih aku tidak bisa melupakan momen-momen itu dan pada akhirnya aku sadar aku telah mencintaimu. Maukah kamu menerima cintaku?" tanya Reno dengan mata yang mengisyaratkan keseriusan.

Rindu terdiam. Dalam hati dia ingin menjawab ia, akan tetapi ia belum hilang ingatan bahwa dirinya tidak sebanding dengan Reno.

"Tidak mau ya, kamu tidak mencintaiku? Tidak ada rasa sama sekali?" Reno mencecar Rindu dengan pertanyaan.

"Bukan begitu," jawab Rindu.

"Terus kenapa?"

"Aku tidak pantas untukmu," ujar Rindu sambil membuka maskernya.

"Lihatlah itik buruk rupa sepertiku tidak akan pantas bersanding dengan pangeran tampan seperti mu," ujar Rindu.

Reno tersenyum tipis mendengar Rindu memuji dirinya.

Tampan-tampan dia itu pangeran kodok Nona." Deril terkikik membayangkan Reno yang seperti kodok, asal berbunyi saja kalau menginginkan sesuatu, dalam artian suka memerintah.

"Tidak masalah aku bisa menerima kamu apa adanya," ujar Reno tersenyum tulus.

Rindu yang menunduk langsung kaget mendengar perkataan Reno. Dia memandang wajah Reno untuk memastikan apakah orang yang ada di hadapannya kini serius atau tidak dengan perkataannya.

Reno tampak mengangguk sambil tersenyum. "Masalah wajahmu bisa kita atasi," ucapnya kemudian.

Bersambung....

Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏

Terpopuler

Comments

Imam Sutoto Suro

Imam Sutoto Suro

keren thor lanjutkan seruuuu

2023-05-17

0

Azzura

Azzura

siap menunggu next eps Thor
semangat 💪🤗🤗

2022-04-15

1

Azzura

Azzura

si Deril ini kocak yahhh😂

2022-04-15

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!