"Kakak..." Kamila mulai merengek seperti anak bayi yang sedang kelaparan. Minta diberi ASI dan juga ditimang.
"Apa lagi yang kau inginkan, Gadis Manja?" tanya Aldy lalu mencubit hidung Kamila kesal.
"Ila mau ke rumah teman buat jadiin tugas, mungkin pulangnya agak malam," ucap Kamila pelan. Gadis itu mengelus hidungnya yang merah karena ulah Aldy.
"Kenapa meminta izin padaku?" tanya Aldy ketus.
"Jika tidak apa Anda, lalu pada siapa lagi anak malang ini akan meminta izin, Tuan Aldy yang tampan?" Kamila mulai memasang wajah imutnya.
"Kaukan punya Kakak baru, minta izinlah padanya!" ucap Aldy masih ketus. Ia masih memasang muka tanpa ekspresinya.
"Baiklah, rupanya akan segera ada pesta pernikahan di rumah ini." Gadis itu menatap Aldy dengan senyum kemenangan.
"Pergilah dan pulang sebelum jam 10 malam. Jika tidak, habislah kau!" Senyum kemenangan kini terlukis di bibir Aldy.
Drama apa lagi yang sedang dilakukan kakak beradik itu. Batin Ken yang melihat tingkah keduanya.
"Terima kasih, Kak. Aku menyayangimu." Kamila melambaikan tangannya pada Aldy. Lantas berjalan menjauhi sang Kakak.
Aldy hanya tersenyum tipis melihat kelakuan adiknya, ketika ia menggandeng tangan Jessica keluar dari rumah utama.
Lihatlah, kebahagiaan itu terlukis jelas di wajahmu, wahai Gadis Manja.
_________
"Kak Jess," panggil Kamila memecahkan keheningan di dalam mobil.
"Hmmm." Jessica melirik sekilas lalu kembali fokus mengemudi.
"Kamila hari ini ada tugas kelompok, semuanya dikerjakan di rumah ketua kelompok, rumahnya di daerah XX." Kamila menyebutkan satu daerah yang masih dalam lingkungan kota.
"Baiklah, Kak Jess akan menemanimu sampai selesai," jawab Jessica tanpa mengalihkan pandangannya.
"Benarkah, Kak?" tanya Kamila tak percaya. Mata coklatnya bersinar terang seperti lampu neon.
"Hmmm." Jessica hanya menjawab dengan deheman.
Kalau aku tau akan mendapatkan Bodyguard seperti Kak Jessica ini, aku akan merengek agar Pak Jan digantikan olehnya.
Kak Jess, aku jatuh hati padamu! Eh maksudku aku menyayangimu... Hehehe.
Mobil sudah memasuki area kampus. Kamila turun sebelum Jessica membukakan pintu untuknya, rasanya ia tak pantas diperlukan seperti itu oleh Jessica.
"Ingat nanti siang ya, Kak." Kamila berteriak sambil melambaikan tanganya
pada Jessica, Jessica hanya tersenyum ketika melihat tingkah Kamila seperti anak SD yang baru dilepas oleh ibunya.
Jessica melajukan mobil, keluar dari area kampus. Sejenak ia mengingat nama daerah yang disebutkan Kamila tadi.
Daerah itu adalah daerah yang rawan begal ketika malam harinya, ditambah lagi keadaan jalan yang sepi membuat orang luar enggan berkunjung ke sana di waktu malam.
Jessica menghela nafas panjang,
"Semoga tidak terjadi apa-apa," gumamnya.
________
Di sebuah rumah besar dan mewah,
yang berada di daerah XX, di sanalah Kamila bersama empat temannya sedang mengerjakan tugas kelompok.
Mereka membagi tugas masing-masing,
satu orang sebagai tukang ketik, satu membaca materi, dua orang mencari materi atau melengkapi materi.
Karena kekompakan mereka, tugas sudah selesai di luar target, sebelum jam 7 malam tugas mereka sudah siap untuk dikumpulkan.
Setelah tujuan utama mereka selesai, sang tuan rumah menjamu mereka untuk makan malam bersama.
Kamila dan kedua temannya tak bisa menolak karena perut mereka memang sedang kosong.
"Kak Jess." Kamila mengkhawatirkan Jessica, sejak tadi siang Jessica belum makan apapun, pikirnya.
Gadis itu berjalan menuju taman di mana Jessica menunggunya, saking sibuknya dengan tugas sampai ia lupa tentang kehadiran Jessica.
"Kak Jess," panggil Kamila lirih. Ia memegang pundak Jessica dari belakang.
"Hai, kau sudah selesai?" tanya Jessica dengan wajah yang tersenyum lebar.
"Kak Jess belum makan, ya?" Kamila tidak menjawab pertanyaan Jessica, malah bertanya balik.
"Kata siapa Kak Jess belum makan. Lihatlah, perut kak Jess hampir besar karena makan terus," ucap Jessica jujur.
Terdengar kamila menghembuskan nafas lega. "Syukurlah."
"Kedua temanku boleh numpang, Kak? soalnya sudah malam, takut naik ojek atau taksi," ucap Kamila.
"Kenapa masih bertanya, dengan senang hati Kak Jess akan menghantar mereka sampai tujuan dengan aman dan nyaman," jawab Jessica dengan senyum manis di bibirnya.
Kamila tersenyum lebar ketika mendengar jawaban dari Jessica.
Pokoknya Kak Jess Ter the best lah.
______
Mereka masih dalam perjalanan pulang dan masih dalam kawasan daerah XX.
Walaupun masih jam 8 malam, jalanan di daerah ini sudah sepi jauh berbeda dengan kondisi tadi siang.
Hanya mobil yang dikendarai Jessicalah yang melintas di jalan yang cukup luas ini. Entah dari mana 4 buah motor besar sudah menghalangi jalan Jessica.
Kamila dan yang lain sudah mulai panik tapi tidak dengan Jessica, ia menghebuskan nafas kesal.
Sudah kuduga ini akan terjadi.
"Kalian tenang di dalam mobil, jangan berteriak ataupun keluar dari mobil, percayakan ini pada Kak Jess." Jessica mencoba menenangkan Kamila dan kedua temannya.
"Kak Jess, hati-hati, ya," ucap Kamila khawatir.
Kamila menggenggam tangan Jessica erat, tidak mau sesuatu terjadi padanya.
"Tenanglah, Kak Jess akan kembali tanpa luka sedikit pun." Jessica meyakinkan Kamila lalu keluar dari mobil.
"Ingat, jangan sekali-kali keluar dari mobil apapun yang terjadi!" teriak Jessica dari luar mobil.
Ya,Tuhan. Lindungilah Kak Jessica, jangan biarkan ia terluka sedikit pun.
"Apa yang kalian inginkan?" tanya Jessica dengan tatapan tajam yang bisa mengiris siapapun yang ditatapannya.
"Jangan sok jagoan, serahkan saja barang berharga kalian, maka kalian akan selamat," ucap salah satu dari mereka.
Seseorang mengeluarkan sebuah pistol dari dalam saku celananya.
Jessica tersenyum ketika melihat apa yang dia keluarkan, Jessica bukanlah wanita bodoh yang bisa ditipu dengan barang seperti itu. Jessica tau itu hanya pistol palsu, bahkan sebagianya terbuat dari plastik.
"Serahkan barangmu jika tidak---" ucap seseorang yang memegang pistol tadi.
"Apa yang akan kalian lakukan dengan pistol mainan itu?" Jessica tertawa.
Glekk...
Mereka menelan ludah mereka sendiri, "Dari mana wanita itu tau bahwa ini hanya pistol mainan." begitulah arti ekspresi wajah mereka.
"Serang!" Seseorang memberi perintah.
"Maju satu langkah saja, akan kuhabisi kalian," ancam Jessica.
Jessica mengeluarkan pistol yang sudah diisi peluru dari dalam jaketnya.
"Gawat boss, pistol asli dan sudah diisi peluru," ucap seseorang mulai panik.
"Majulah!" tantang Jessica.
Satu persatu dari mereka mundur hanya tersisa satu orang saja.
"Dasar pengecut, dia hanyalah wanita yang mempunyai satu senjata." Si boss memaki anak buahnya yang sudah mundur dan berlindung di belakangnya.
"Kau cukup cantik tapi sayang, kau bukan serelaku," ucap si Boss lalu maju beberapa langkah, Jessica tetap di posisinya tidak bergeming sedikit pun.
"Mari kita bermain dengan tenang," sambungnya, lalu berusaha menyentuh dagu Jessica.
Dengan sigap Jessica mundur satu langkah dan mengambil jarak yang cukup untuk melakukan satu tendangan mematikan.
Brakk...
Tubuh laki-laki itu sudah terjatuh ke aspal jalan, satu tendangan dari Jessica saja sudah membuatnya tidak memiliki kekuatan untuk bangun.
Para anak buahnya sudah jauh meninggalkannya dan dia tidak mempunyai tenaga untuk bangun ataupun membalas Jessica.
"Kau punya anak dan istri,kan?" tanya Jessica pada laki-laki yang jatuh di hadapannya.
"Iya, saya memiliki dua orang anak," jawab laki-laki itu sambil menahan rasa sakit di pinggangnya.
"Kau menyayangi mereka?" tanya Jessica.
"Tentu saja, mereka adalah bagian hidup saya," jawabnya yakin.
"Lalu kenapa kau melakukan perbuatan tercela seperti ini untuk menafkahi meraka?" Kata-kata hantaman dari Jessica.
Laki-laki itu terdiam, sejenak ia mencerna apa yang dikatakan Jessica.
Apa yang dikatakannya benar,
aku melakukan perbuatan hina dan juga tercela untuk menafkahi anak dan istriku.
Jessica memasukkan pistol ke dalam jaket lalu mengulurkan tangannya pada laki-laki itu.
Laki-laki itu meraih tangan Jessica,
entah kenapa kata-kata Jessica sangat menyentuh hatinya. Jessica membantunya untuk bangun.
"Telpon anak buahmu!" perintah Jessica sambil menyodorkan Hp-nya. Laki-laki itu tidak menjawab apapun, ia segera menghubungi seseorang.
"Berikan padaku!" Jessica meraih Hp-nya dari tangan laki-laki itu.
"Kembalilah dalam waktu 5 menit. Jika tidak, kalian semua akan ku jebloskan ke penjara," ucap Jessica berpura-pura mengancam.
Benar saja setelah 5 menit mereka kembali dengan wajah yang sedikit takut.
"Bawalah bossmu pulang, lalu kompres pinggangnya dengan air hangat," ucap Jessica pada laki-laki yang memegang pistol palsu tadi.
"Baik, Nona," jawabnya sedikit gugup.
"Maafkan aku, Nona, maafkan kami, kami mengaku salah dan kami janji akan mencari nafkah dengan benar." Si boss berjanji tulus.
"Jangan berjanji padaku, berjanji pada Tuhan dan diri kalian sendiri," ucap Jessica lalu menundukkan kepalanya hormat dan masuk ke dalam mobil.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 125 Episodes
Comments
istrinya namjoon
AQ pling suka SM cry klo vwek nya kuat dan tanghuh
2021-10-21
1
Nursiah Cahaya
salutttttt tuk Jessica
2021-09-23
0
Egha
wooww...good Jessica
2021-08-16
0