Jessica sudah menunggu Kamila di parkiran kampus, namun yang ditunggu belum juga menampakkan batang hidungnya. Cukup lama, Kamila masih belum kelihatan juga.
"Hai, manis. Jangan terburu-buru seperti itu!" ucap seorang laki-laki yang mengikuti langkah kaki kecil Kamila.
"Apa lagi yang kau inginkan laki-laki gila! Tidak puaskah kau menggangguku di kantin tadi! Ingin rasanya aku melaporkanmu pada Kak Jessica." Gerutu Batin Kamila.
Kamila terus melangkah menuju area parkiran dan laki-laki itu masih saja membuntutinya.
Langkah Kamila tiba-tiba terhenti ketika laki-laki itu menarik tangannya keras dari belakang.
"Kak Jess." Spontan Kamila berteriak sambil memanggil nama Jessica. Jaraknya 5 meter dari mobil Jessica.
Jessica segera keluar dari mobil setelah mendengar teriakan Kamila yang cukup keras. Laki-laki itu melepaskan tangan Kamila dan mundur beberapa langkah setelah Jessica datang.
Matilah aku, kemana harus Kak Jess yang ada di hadapanku? Apa yang harus aku lakukan... kabur... ya, aku harus kabur. Batinnya gugup.
Wajah laki-laki itu mulai panik.
Kamila berlari ke arah Jessica, bersembunyi di balik tubuh tegap wanita itu.
"Kak, dia menggangguku," ucap Kamila.
Ia masih bersembunyi di balik tubuh Jessica sambil menunjuk ke arah laki-laki tadi.
"Apa yang dia lakukan padamu?" tanya Jessica pada Kamila namun matanya menatap tajam laki-laki di hadapannya. Laki-laki itu tidak bergerak sedikit pun.
"Dia menyakiti pergelangan tanganku." Kamila tersenyum licik pada laki-laki itu, ingin rasanya ia melihat satu tinju mentah mendarat di pipinya.
"Aku tidak akan membalasmu di sini, tapi dengarlah baik-baik peringatan dariku." Jessica meredam emosinya karena dia masih cukup waras, ia menyadari ini masih lingkungan kampus.
"Jangan kau ganggu adikku lagi, jangan tampakkan wajahmu di hadapannya. Jika kau masih melakukan itu, aku yakin kau sudah tau apa yang akan aku lakukan padamu." Jessica masih menatap tajam laki-laki di hadapannya, laki-laki itu tidak menjawab atau membatah satu katapun, dia tidak mempunyai keberanian untuk melakukan itu.
Jessica dan Kamila meninggalkan laki-laki yang masih mematung di tempatnya.
Jessica melajukan mobil dengan kecepatan sedang, kini mobil sudah memecahkan keramaian jalan raya.
"Kak Jess, apa Kak Jess mengenal laki-laki tadi?" tanya Kamila, karena menyadari cara bicara Jessica yang cukup berbeda pada laki-laki tadi.
"Dia sepupu Kak Jess," jawab Jessica kesal.
"Apa dia tau Kak Jessica ada untukku?" tanya Kamila ragu. Kamila berfikir kalo laki-laki itu mengetahui Jessica bekerja untuknya.
"Tentu saja tidak, jika dia mengetahui itu tidak mungkin dia akan selancang itu padamu," jawab Jessica, ia melirik sekilas lalu kembali fokus.
Kelihatannya hubungan Kak Jessica dengan Andre tidak baik. Batin Kamila menduga.
Andre adalah anak semata wayang Paman dan Bibi Jessica, Jessica pernah menyayanginya seperti adiknya sendiri, tapi perlakuan Andre pada Jessica juga ikut berubah sebagaimana berubahnya perlakuan kedua orang tuanya pada Jessica.
Dia juga ikut mencampakkan Jessica,
bahkan pernah memaki Jessica di depan orangtuanya, yang tak lain Bibi dan Paman Jessica sendiri.
________
Mobil sudah terparkir di halaman rumah utama. Kamila keluar dengan wajah seperti biasa, dia sudah melupakan kejadian di kampus tadi, ia mempercayakan semuanya pada Jessica.
"Bersihkanlah dirimu, Kak Jess akan tetap di sini," ucap Jessica sambil berjalan ke arah kursi kerja Ken.
Kamila mengangguk lalu pergi.
Jessica duduk di kursi bekerja Ken.
Mengeluarkan Hp-nya lalu menghubungi seseorang.
"Hallo Jack, bisakah kau membereskan seseorang untuk Kak Jess?" Jessica langsung berbicara pada intinya.
"Dengan senang hati, Kak," jawab Jack dengan tulus dan hormatnya.
"Bereskan Andre untuk Kak Jess! Jangan sampai membunuhnya, aku hanya ingin kau memberi sedikit pelajaran padanya," ucap Jessica mengingatkan pada Jack.
"Tenang saja, Kak. Sedikit peringatan akan membuatnya kehilangan kepercayaannya," ucap Jack sedikit tersenyum licik.
"Baiklah, Kak Jess percaya padamu, lakukan sesuai saran Kak Jess." Jessica kembali mengingatkan.
"Terima hasilnya, Kak." Sambungan telepon langsung terputus.
Jessica tidak menyadari kehadiran Aldy dan juga Ken di belakangnya, mereka berdua sudah mendengar semua dari awal.
"Kenapa menyuruh orang lain membereskan masalahmu?" Suara dingin Aldy membuat Jessica tersentak kaget.
"Saya bisa menjelaskannya, Tuan." Jessica menarik nafas panjang hendak menjelaskan.
"Andre sepupuku telah melakukan kesalahan pada Kamila, dia menganggu Kamila dan bahkan menyakiti pergelangan tangan Kamila." Jessica masih ingin menjelaskan.
Aldy dan Ken diam menunggu Jessica melanjutkan penjelasannya.
"Saya tidak mungkin langsung membalas perbuatannya di kampus, Saya masih waras, Tuan," jelas Jessica.
Ken dan Aldy mengangguk faham. "Lalu mengapa menyuruh Jack membereskannya?" tanya Ken.
"Jika aku yang turun tangan, kau pasti sudah taukan apa yang akan ku lakukan," jawab Jessica sambil menatap Ken.
"Aku percayakan semua padamu," ucap Aldy sambil menarik nafas panjang.
"Maafkan saya, Tuan, saya tidak bisa membalasnya dengan tangan saya sendiri." Jessica meminta maaf pada Aldy.
"Aku tau apa yang kau rasakan, jadi jangan meminta maaf lagi. Jika aku dan Ken di posisimu, mungkin kami akan melakukan hal yang sama seperti apa yang kau lakukan." Sekilas Aldy tersenyum pada Jessica.
Senyum yang diberikan khusus untuk Jessica, sampai Ken sendiri tidak sempat melihat senyum itu.
_________
Jack dan dua sahabatnya langsung meluncur ke Markas Andre, dia ingin menyelesaikan masalah ini sesuai dengan saran dari Jessica. Dia tidak membawa teman-temannya dan juga nama Geng Motornya, dia datang ke sini sebagai utusan Jessica.
Jack membuka pintu Markas dengan pelan tanpa menendang atau mendobrak pintu tersebut, semua orang yang di dalam ruangan itu langsung panik tak terkecuali Andre ketika melihat kedatangan Jack.
"Aku datang mencari Andre." Jack mengedarkan pandangannya mencari sosok Andre.
Semua orang yang menatap ke arah Andre, "Apa yang telah kau lakukan Ndre, sampai Jack mencarimu seperti ini," begitulah arti tatapan mereka.
"Aku datang membawa salam dari Kak Jess." Jack melangkah mendekati Andre.
Wajah mereka langsung panik,
"Datang membawa salam dari Serigala itu?" Mereka semakin panik.
Terima kasih, Tuhan...
Ternyata bukan Kak Jess yang membalas perbuatanku, kalau Jack yang melakukannya aku masih bisa bertahan hidup tapi jika Kak Jess. Jelas aku sudah mati sebelum meminta maaf. Batin Andre.
Tanpa aba-aba Jack mendaratkan tiga tinjuan mentah pada pipi Andre, ditambah lagi satu bonus tendangan di perutnya.
Andre menikmati setiap tinjuan dari Jack, walau terasa sakit tapi jauh akan lebih sakit jika Jessica yang melakukannya.
Sudah cukup itu saja dari Jack.
"Jangan pernah mengganggunya lagi, jangan tampakkan wajahmu lagi di hadapannya, jika kau melanggar bukan aku yang akan membereskan ini, terimalah balasan dari Kak Jess." Jack memberikan peringatan, lalu melampar kompres ke arah Andre.
"Kompreslah lukamu, aku datang sebagai utusan Kak Jess bukan sebagai Jack." Jack keluar dari ruangan tersebut.
Semua orang menarik nafas lega setelah mendengar kata-kata terakhir Jack.
"Apa yang telah kau lakukan, Ndre. Sampai kau mendapat salam dari Serigala itu?" tanya seseorang pada Andre sambil mengompres pipi laki-laki itu.
"A-aku, aku hanya menjahili gadis manis itu. Jika aku tau posisi gadis itu sama dengan Jack di mata kak Jessica, aku tidak akan berani mengganggunya." Andre memegang pipinya yang sudah lebih baik.
"Lain kali jika kau ingin mendekati seorang gadis di kota ini, bertanyalah dulu padanya, apakah kau mengenal Jessica? Seperti itu," ucapnya mengejek sambil menekan kompres pada pipi Andre.
Andre tidak membalas, dia benar-benar bersyukur karena bukan Jessica yang datang untuk memberinya pelajaran.
__________
Di rumah utama.
Waktu makan malam masih lama,
jadi masih lama pula Jessica harus di sana. Memang dia tidak memiliki pekerjaan di waktu malam, tapi dia selalu berjaga di rumah utama sampai makan malam selesai.
Jessica duduk di samping Ken yang sedang sibuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Ada sedikit kendala di perusahaan, sehingga Ken tidak bisa menyelesaikan pekerjaan di sana. Dia memilih menyelesaikan di rumah Aldy.
Hp Jessica berdering. Jessica menatap layar, melihat siapa yang menelponnya.
"Ternyata Jack, ku kira siapa." Langsung mengangkat telpon.
"Hallo Jack."
"Aku sudah menbereskanya, Kak." Jack meresa bangga sendiri.
"Kau melakukannya sesuai dengan yang ku katakankan?" Jessica memastikan takut Jack tidak bisa mengontrol dirinya.
" Aku melakukan sesuai perintah, Boss." Pria itu tersenyum bangga di seberang sana.
"Kau memang bisa diandalkan." Jessica ikut bangga.
"Sudah, Kak. Hanya itu yang akan ku sampaikan," ucap Jack yang mencoba memahami kesibukan Jessica.
"Baiklah, terima kasih." Sambungan telepon langsung terputus.
"Lihatlah kau bisa semanis itu jika berbicara pada Jack atau Kamila. Tapi ketika bicara dengan ku,
kau benar-benar menunjukkan sifat serigalamu itu." Batin Ken merana.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Jessica yang menyadari Ken sedang melihatnya.
"Tidak, aku tidak melihatmu," elak Ken.
"Lalu?" Nada bicara Jessica naik.
"Aku hanya melihat Serigala Betina yang sedang mengamuk pada kucing rumah," jawab Ken merendahkan dirinya.
"Jangan melihatku seperti itu!" Jessica memegang pulpen, hendak menusuk mata Ken.
"Baiklah, turunkan dulu pulpen itu, mataku sudah sakit tanpa kau menusuknya dengan pulpen, tatapan tajammu itu jauh lebih perih dari pada hasil tusukan pulpen." Ken memalingkan wajah, dia terkekeh ketika melihat wajah Jessica yang tambah memerah karena menahan marah.
"Kau senang sekali melihatku marah?" Jessica menepuk bahu Ken ringan.
"Aduh, tepukan ringan saja terasa sakit,
apalagi tinjuan maut darinya."
"Kalian tidak mengajakku, ya?" Suara Aldy mengejutkan keduanya.
Jessica menurunkan tangannya yang masih menempel di bahu Ken. "Maaf Tuan, kami membuat Anda terganggu," ucap Jessica merasa bersalah.
"Tidak, aku tidak terganggu sama sekali," jawab Aldy jujur.
"Aku bisa melihat hubunganmu dengan Ken memang tidaklah baik, tapi kalian.
Kalian memiliki sifat yang sama, kemampuan yang sama, bahkan tugas yang sama." Aldy membantin.
"Masih banyak, Ken?" Aldy melirik ke arah Ken yang kembali sibuk dengan berkas-berkas pentingnya.
"Sudah hampir selesai." Ken membuka satu berkas lagi.
Sejenak suasana hening.
"Bagaimana dengan sepupumu, apa Jack sudah membereskannya?" Aldy bertanya pada jessica yang sedang membantu Ken merapikan berkas-berkas tadi.
"Semua sudah beres, Tuan." Jessica menghentikan kegiatannya. Ia beralih menatap Aldy.
Cukup lama mereka saling menatap.
"Sial, mataku terasa sangat perih." Jessica langsung mengalihkan pandangannya.
"Mataku terbakar oleh tatapannya." Batin Aldy bersuara.
_____
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 125 Episodes
Comments
strawberry 🍓🍓
terbakar ? lebay ih si abang 😂
2021-09-13
1
Maura
visual dong thor
2021-07-18
0
keysha Azzahra
salut bnget cwe ky jess,,cwe tp ky gatot gaca,,cwo z takluk m dia,,g kbyng klo punya suami trus suaminy nglkuin slh,,yg ada tuh laki jdi prekedel x ya🤔🤦🏻♀️
2021-04-26
1