Mobil Ken melaju dengan kecepatan sedang, keluar dari daerah yang dipenuhi oleh kontrakan itu.
Walaupun Ken sudah mengetahui semua informasi pribadi tentang Jessica, tapi ia masih tidak percaya kalau Jessica sanggup bertahan di tempat seperti itu sampai 4 tahun lamanya.
Tuhan. Aku tidak akan meminta banyak pada-Mu, berikanlah kehidupan yang layak bagi wanita ini.
Dia sudah menjalankan semua ujian dari-Mu dengan sabar dan tabah, aku hanya ingin melihat dia bahagia. Batin Ken berdo'a untuk Jessica.
Tidak ada yang bicara di antara mereka, Ken memilih diam karena takut perkataannya akan mengubah mood Jessica apalagi sampai membuatnya kesal. Sedangkan Jessica sendiri memilih diam karena enggan untuk berdebat dengan Ken.
"Jess," panggil Ken yang tidak tahan lagi untuk terdiam.
"Hmmm," jawab Jessica yang enggan meladeni omong kosong Ken.
"Apa kau mengenal Jack?" Ken menyebutkan nama seorang ketua Geng Motor yang cukup terkenal di daerah kontrakan Jessica.
"Tentu saja, aku mengenal bocah ingusan itu. Kenapa kau menanyakannya? Apa dia melakukan kesalahan?" tanya Jessica sambil menaikkan satu alisnya menunggu jawaban dari Ken.
"Tidak, aku hanya ingin tau saja," elak Ken. Entah apa yang membuat Ken malas membahas tentang Jack padahal dia sendiri yang memulainya.
Apa yang ada dipikiranmu, Ken?
Kau ingin mengetahui apa tentang Jack?
Jangan bilang kau ingin bertanya masalah fotoku dengan Jack yang sempat Viral di kalangan Geng Motor!
...-Flashback On-...
1 Tahun yang lalu, Jessica menemukan Jack tergelampar di tepi sungai M dalam keadaan tidak sadarkan diri dan wajahnya dipenuhi memar bekas tinju.
Jessica mengangkat tubuh Jack yang cukup kekar dengan sekuat tenaganya, menelusuri jalan setapak.
Ia membawa Jack ke fasilitas kesehatan terdekat, butuh waktu yang cukup lama untuk keluar dari kawasan Sungai itu, ditambah lagi keadaan jalan yang tidak mendukung.
"Kau sudah sadar." Jessica mendekat ke arah tempat tidur Jack.
"Aku di mana dan kamu siapa?" Jack menatap sekeliling lalu beralih menatap Jessica penuh tanda tanya.
"Kamu di Puskesmas XXX. Aku menemukanmu di tepi sungai M dalam keadaan tidak sadarkan diri." Jessica duduk di pinggir tempat tidur.
Jack mencoba mengingat apa yang telah terjadi padanya, dia mendengkus kesal ketika tau dirinya telah ditipu.
"Maaf, aku tidak bisa berlama-lama menemanimu di sini, aku akan memanggil beberapa orang untuk menjagamu." Jessica sudah berjalan menuju pintu.
"Tunggu." suara Jack membuat Jessica berhenti.
"Terima kasih telah menolongku, namaku Jack, namamu siapa?" ucap Jack memperkenalkan diri.
Jack menatap punggung Jessica yang belum memberikan jawaban atas pertanyaannya. Jessica membalikan badannya lalu berjalan ke arah Jack.
"Berapa usiamu?" Jessica bertanya balik.
"19 tahun," jawab Jack cepat.
"Panggil aku Kak Jess." Jessica menepuk pundak Jack pelan. Jack tidak menjawab, dia hanya tersenyum.
Dia tidak menyangka wanita yang ada di depannya ini lebih tua darinya. Jika dilihat dari wajah Jessica, usianya sama seperti Jack, tapi dari penampilannya Jessica terlihat seperti usianya sekarang.
Ternyata usianya lebih tua dariku.
"Kak Jess, aku harap aku bisa membalas kebaikanmu," teriak Jack, takut Jessica tidak mendengar ucapanya.
Jessica hanya tersenyum lalu hilang di balik pintu.
2 Bulan setelah kejadian itu Jessica dan Jack tidak sengaja bertemu di sebuah Kafe XX. Jack meminta Jessica untuk berfoto bersama, Jessica mengiyakan karena dia menganggap Jack sebagai bocah ingusan saja.
Tapi siapa sangka, foto mereka akan viral di kalangan Geng Motor. Mulai sejak itulah Jessica berbaur dengan para anak Geng Motor. Ya, walau hanya sedikit menyapa saja.
...Flashback Off...
Jessica berjalan di belakang Ken, mereka memasuki rumah utama yang menjadi kediaman Keluarga Pranata selama 3 Generasi.
"Ambil semua barang-barang yang ada di mobilku, bawa ke rumah belakang sesuai apa yang ku jelaskan padamu kemarin!" ucap Ken mengingatkan seorang pelayan.
Pelayan itu mengangguk mengerti,
lalu melakukan apa yang diperintahkan Ken padanya.
"Duduklah, Serigala." Ken mempersilahkan Jessica duduk di sebuah sofa merah sambil tersenyum tipis.
"Hmmm..."Jessica duduk tidak menghiraukan apa yang dikatakan Ken padanya.
Selang beberapa menit, Aldy muncul dengan wajah dinginnya. Ia berjalan ke arah sofa kemudian duduk tepat di hadapan Jessica.
Padangan mereka bertemu, dengan cepat Jessica mengalihkan pandangan,
matanya terasa sakit setelah menatap mata coklat milik Aldy.
Tampan tapi dingin.
"Kamu tau apa tugasmu?" Suara dingin Aldy membuat wanita di hadapanya sedikit membeku.
"Saya tahu, Tuan," jawab Jessica semangat.
"Baiklah, berkerjalah dengan seluruh nyawamu," ucap Aldy.
Deg. Jessica menelan ludahnya sendiri mencoba mencerna dengan baik kata-kata Tuan Muda yang ada di hadapanya.
Huh, aku tau. Akj akan menjaga separuh harta dan juga nyawa Anda, Tuan. Jadi, aku akan berusaha melakukan yang terbaik.
Suasana hening, Ken hanya tersenyum tipis ketika melihat wajah Jessica dalam ketegangan.
Aldy menyerahkan beberapa lembar kertas yang berisi peraturan-peraturan rumah utama pada Jessica.
"Kau tak perlu menghafalnya, aku yakin daya ingatmu sangat kuat hanya dengan sekali membaca." Ia bangun lalu keluar dari ruang tamu.
"Goodluck." Ken mengedipkan matanya lalu menyusul Aldy.
"Baiklah, drama akan dimulai," ucap
Jessica lalu merapikan lembaran-lembaran kertas itu dan ikut keluar dari ruang tamu.
Kamila yang tidak tau menau tentang
Jessica mulai bertanya pada Ken.
"Kak Ken siapa wanita itu?" tanya Kamila. Ia menunjuk ke arah Jessica yang sedang duduk di kursi kerja Ken.
"Dia calon kakak iparku?" tanya Kamila penuh harap.
Belum sempat Ken menjawab pertanyanya, Kamila sudah melontarkan pertanyaan baru pada Ken.
"Bukan, dia sopir dan bodyguard pribadimu dan mungkin akan menjadi Kakak iparmu," jelas Ken. Ia tersenyum sambil menahan tawanya ketika melihat wajah merah Jessica dan wajah dingin Aldy.
Katakan saja apa yang kau inginkan, Gilaa! aku akan membalasmu di lain waktu. Batin Jessica.
Kamila menatap Ken heran, untuk pertama kalinya ia melihat pria itu tertawa dan tersenyum lebar setelah 5 tahun terakhir ini.
"Kak Ken nggak salah minum obatkan tadi malam?" tanya Kamila heran dengan sikap Ken.
Kamila bener-bener melihat sisi berbeda dari Ken hari ini, laki-laki yang berwajah dingin itu bisa tersenyum dan tertawa lebar hanya karena hal seperti itu.
Seketika wajah ceria Ken berubah menjadi dingin lagi, Kamila yang masih kebingungan dengan tingkah Ken semakin ditambah bingung lagi ketika melihat wajah Ken yang sudah kembali dingin.
Ah, dasar laki-laki aneh, tadi dia tersenyum dan tertawa lebar dan sekarang wajahnya sudah sedingin Kutub Utara. Batin Kamila.
Kamila berjalan ke arah kursi tempat Jessica duduk, meninggalkan Ken yang menatapnya dengan tatapan tajam.
"Hai Kak, aku Kamila." Kamila menyapa dengan senyum hangat dan wajah manisnya yang dibuat-buat.
Kenapa kau manis sekali, aku ingin menggigitmu sekarang.
"Saya Jessica." Jessica menundukkan kepala hormat karena di sini posisinya sebagai Bodyguard bukan teman ataupun kerabat dekat.
"Kak, jangan seperti itu. Aku lebih nyaman jika Kakak bisa bersikap seperti biasanya." Kamila memasang wajah manis seperti tadi.
Walaupun dikenal dengan julukan Serigala Betina, pada dasarnya Jessica sangat cepat berinteraksi dengan orang baru apalagi orang itu dibawah umurnya atau memiliki jenis kelamin yang sama dengannya. Hal itulah yang membuat Jessica sangat disegani oleh murid-muridnya yang masih duduk di bangku SMP.
"Aku boleh memanggil Kakak dengan panggilan normal, kan?" tanya Kamila penuh harap. Ia sangat ingin Jessica bersikap normal padanya, ia ingin Jessica bersikap seperti seorang Kakak bukan Bodyguard atau sopir pribadi.
"Lakukanlah apapun yang membuatmu nyaman dan bahagia," ucap Jessica mengizinkan. Lalu segaris senyum terlukis di bibir manis Jessica.
"Kak Jess, bagaimana jika begitu, Kak?" Kamila menatap Jessica lekat tidak mau memalingkan wajahnya.
"Terserah Kamila mau panggil apa," ucap Jessica pasrah.
Jessica mencubit pipi Kamila gemas, dari awal dia ingin memakan gadis itu tapi ia mencoba menahan diri karena mata Ken masih mengawasi mereka.
"Eh, maaf, Kamila. Aku sudah tidak tahan melihat wajahmu." Jessica tidak bisa mengontrol tangannya. Ia menurunkan tangannya lalu tersenyum malu.
"Kak Jess." Kamila menatap Jessica hangat. "Bolehkah aku memelukmu?" tanya Kamila lalu menundukkan kepalanya dalam.
"Mendekatlah," panggil Jessica.
Kamila memeluk Jessica hangat, entah kenapa dia sangat nyaman ketika berada dalam pelukan Jessica. Bahkan ia tidak rela melepas tubuh Jessica dari pelukannya.
Lihatlah Gadis Manja itu sudah kumat lagi.
Ada seuntai senyum di wajah Ken yang sedang melihat dari kejauhan, begitu pula dengan Aldy yang duduk tidak jauh dari Ken.
Rupanya kau lebih nyaman di dalam pelukan Jessica.
Jessica dan Kamila tidak menyadari bahwa ada empat mata yang terpaku pada mereka. Jessica hanya menatap Kamila dengan tatapan yang sangat hangat. Begitu pula dengan Kamila, ia tidak rela kehilangan momen seperti ini, bahkan ia tidak rela hanya untuk berkedip saja.
..._______...
Setelah adegan peluk dan tatapan itu selesai, Jessica pamit keluar dari rumah utama.
Dia hendak merapikan barang-barangnya di rumah belakang. Seorang Kepala Pelayan mengantarnya menuju kamar.
"Makasih, Mbak." Jessica memegang ganggang pintu tapi belum membukanya.
"Jangan sungkan untuk minta bantuan padaku atau pada pelayan yang lain jika Jessica ada masalah," ucap Kepala Pelayan itu lalu meninggal Jessica menuju dapur di rumah belakang.
Kamar itu berukuran dua kali lebih besar dari kontrakan tempat Jessica tinggal selama ini.
Jessica berjalan menuju lemari besar,
semua baju dan juga barang-barang sudah tertata rapi disana.
Apa ini, semua ini berlebihan. Aku bisa merapikan barang-barangku sendiri.
Tujuan Jessica ke belakang untuk merapikan pakaiannya tapi semua sudah rapi. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke rumah utama.
"Serigala." Ken berteriak memanggil Jessica, yang dipanggil sama sekali tidak menoleh.
"Jess," teriak Ken lagi.
Jessica membalikkan badannya lalu berjalan ke arah Ken.
"Apa yang Anda inginkan, Tuan Ken?" tanya Jessica malas. Wajah kesal Jessica tidak bisa disembunyikan lagi.
"Ambil ini." Ken menyodorkan sebuah kartu kredit.
"Semua penghuni rumah belakang mempunyai ini." Ken menaruh kartu kredit itu pada tangan Jessica.
"Bekerjalah dengan seluruh nyawamu." Ken tersenyum tipis lalu masuk ke dalam rumah utama.
Baiklah, semua ini setimpal dengan pekerjaanku, aku berkerja dengan taruhan nyawa. Jadi, aku berhak menerima ini semua.
Terima kasih Ya Tuhan. Kau telah membukakan jalanku menuju takdir indah-Mu.
Jessica memasukkan kartu itu ke dalam dompetnya lalu masuk ke dalam rumah utama.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 125 Episodes
Comments
Wakhidah Dani
absen dulu gaess🖐️
2021-11-17
1
Pelangi Dimatmu
ready
2021-08-17
0
Casnialovly Purple
jdi inget Lee min hoo d rkaor apa ya lupa cewe nya lupa jga namanya
2021-06-07
0