Mobil hitam yang dikendarai Jessica melaju menuju Kampus.
"Lihatlah, dia target kita," ucap salah seorang memberi tau kawannya. Kedua pria itu langsung mengikuti mobil Jessica dari jarak jauh.
Mobil sudah masuk ke area Kampus,
kedua pria tadi menunggu mobil Jessica di jalan raya.
"Jaga dirimu," ucap Jessica pada Kamila lalu masuk ke dalam Mobil.
"Hati-hati, Kak Jess," jawab Kamila sambil melambaikan tangannya.
Jessica melajukan mobil ke sebuah Kafe, ia ingin makan sebelum kembali ke rumah Keluarga Pranata.
"Ini saatnya, Roy," ucap salah seorang dari kedua pria yang mengikuti Jessica sejak tadi.
"Berikanlah ini padanya dan jangan membuat onar." Pria itu menyerahkan sebuah cek bertulisan 150Jt pada Roy yang tak lain kawan kerjanya.
"Tenanglah, dia wanita biasa pada umumnya dan aku rasa jumlah ini terlalu banyak," jawab Roy ketika melihat nominal di cek tersebut.
Roy berjalan ke meja makan Jessica
lalu duduk di depan kursi Jessica tanpa meminta izin dulu pada sang penghuni meja.
Jessica belum menatap wajah orang asing yang tiba-tiba duduk di depannya, ia masih fokus pada makanan yang ada di hadapannya.
Roy merasa aneh ketika duduk di depan Jessica, tangan dan badannya terasa gemetar.
Roy memang tidak tau siapa wanita yang ada di depannya ini, ia hanya menjalankan tugas yang diberikan Jeje padanya, tanpa mengetahui identitas atau nama sang Mangsa.
"Ambillah cek ini dan jauhilah Tuan Aldy." Roy menyodorkan cek itu pada Jessica, ia berusaha menenangkan dirinya yang sudah gemetar dari tadi. Dan Roy masih belum menyadari siapa yang ada di hadapannya.
Jessica yang awalnya tidak perduli mulai menegakkan kepalanya dan menatap tajam Roy
Tatapan mereka langsung bertemu, wajah Roy langsung pucat pasi ketika mengetahui siapa Mangsanya.
Roy menarik kembali cek tersebut dan langsung menjauh dari Jessica tanpa berbicara sepatah katapun.
Jessica tidak merespon apapun, ia kembali melanjutkan makannya tidak memperdulikan siapa yang telah mengganggunya tadi.
"Kenapa kau tidak menyerahkan cek ini?" tanya sang kawan bingung.
"Aku peringatankan padamu dan juga Jeje, untuk tidak mengganggu wanita itu!" jawab Roy serius.
"Ada apa dengannya? bukankah kau sendiri yang bilang dia wanita biasa pada umumnya?"
"Dia beda, sangat beda dengan yang lain. Dia bukan manusia tapi Serigala Betina," ucap Roy gemetar karena mengingat apa yang telah Jessica lakukan padanya.
"Aku tidak mengerti denganmu, Roy.
Lihatlah, dia tidak mengamuk ataupun memakanmu, tapi kau sudah menyerah sebelum bertempur," ucap sang kawan semakin bingung setelah melihat wajah pucat Roy.
"Aku dan dia mempunyai kisah yang sangat kelam," jawab Roy gemetar.
...Flashback 5 tahun yang lalu....
Jessica pulang dengan wajah yang ceria, ia memasuki rumah megah dan mewah itu sambil bersenandung ria.
"Bibi, Jessica pulang," teriak Jessica sambil menaruh tasnya di atas sofa merah.
Tidak ada jawaban dari penghuni rumah. Jessica berjalan ke dapur untuk mengambil sebotol air minum.
Brakk...
Suara barang jatuh dari lantai atas.
Jessica berlari ke sumber suara.
"Bawalah barang-barangmu dan pergi dari rumah ini!" teriak Mona pada Jessica, yang tidak lain keponakannya sendiri.
"Maksud, Bibi?" tanya Jessica bingung.
"Aku bukan Bibirmu dan kau juga bukan keponakanku," jawab Mona sambil berteriak.
Jessica menjatuhkan botol mineral yang ada di tangannya, ia bingung, sangat bingung dengan jawaban Mona.
Mona menarik sebuah koper besar dan mendorongnya mengenai kaki Jessica. Jessica kaget ketika koper itu mengenai kakinya dengan keras.
"Pergilah dari rumahku!" Andre berteriak dari belakang Jessica.
"Apa yang terjadi Ndre, Kak Jess tidak mengerti dengan semua ini." Jessica melangkah mendekati Andre.
"Kau bukan kakakku dan aku bukan adik ataupun sepupumu!" jawab Andre sambil melangkah mundur.
Mona menarik tangan Jessica kasar,
namun Jessica tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya. Kini Andre pun membantu Mamanya menarik tangan Jessica, dengan mudah Jessica melepaskan tangannya dari kedua orang itu.
"Aku akan pergi dari sini," teriak Jessica keras.
"Baguslah, pergi jauh-jauh dan jangan bawa mobil ataupun motor dari rumah ini." Mona tersenyum penuh kemenangan.
"Dasar Anak Haram!" Andre menatap wajah Jessica jijik.
Jessica yang awalnya bisa memendam marah kini sudah lepas kendali.
Plakk...
Satu tamparan keras mendarat di pipi Andre, laki-laki itu terdiam tidak berani membalas atau mengadu pada Mamanya.
Mona tidak terima anaknya di tampar, ia ingin membalas namun Jessica sudah keluar dari rumah itu sambil menyeret koper besar yang diberikan Mona.
"Nona mau kemana?" tanya Satpam bingung melihat keadaan Jessica.
Jessica tidak menjawab apapun, ia terus berjalan menuju gerbang hitam besar.
"Nona tidak membawa mobil?" Satpam itu berlari mengejar Jessica.
"Jangan pedulikan saya, Pak. Saya akan pergi dari sini tanpa membawa mobil ataupun motor, sekalipun itu hak saya." Jessica Malang keluar dari rumah itu.
Dia sempat termenung.
Aku akan tinggal di mana?
dan bagaimana dengan pendidikanku?
Jessica memesan taksi online. Ia pergi ke umah Gurunya yang sudah mengetahui semua kisah hidupnya selama ini.
"Apa yang terjadi pada mu, Nak?" tanya sang Guru. Jessica menjelaskan semua.
"Tinggallah di kontrakku, jika kau mau," tawar sang Guru.
"Berapa perbulannya?" tanya Jessica ragu.
"Bayarlah setengah dari harga asli, aku tidak bisa membantumu lebih jauh dari ini, Nak."
"Tidak apa-apa Guru, ini sudah lebih dari cukup."
Jessica diantar menuju sebuah kontrakan berukuran kecil namun terlihat bersih dan rapi.
"Semoga kau nyaman, Nak." Wanita itu mengelus kepala Jessica lembut.
Jessica masuk ke dalam kontrakan.
Ia menyandarkan tubuhnya pada sebuah lemari kayu.
Ibu, apa semua ini?
apa yang terjadi pada Bibi dan Andre?
dan dimana paman?
Jessica menangis sambil memeluk lututnya sampai ia tertidur.
Hari terus berganti dengan cepat,
tidak terasa satu bulan sudah Jessica hidup sendirian di Kontrakan itu.
Uang yang ada direkeningnya sudah menipis, walaupun sudah hidup dengan hemat namun Jessica rasa ia butuh pekerjaan di usianya yang masih 19 tahun.
Karena kemahiran dan ketelatenannya dalam ilmu bela diri, ia didaftarkan sang Guru untuk ikut tingkat yang lebih atas (tingkat menjadi Guru pelatih).
Tidak butuh waktu lama bagi Jessica,
semua materi sudah di luar kepalanya.
Mulai dari materi dasar sampai materi tinggi, semua ia kuasai dengan cepat.
Waktu terus berjalan dengan cepat sampai pada suatu kejadian yang tidak akan bisa dilupakan oleh Roy.
"Hai, wanita malang," teriak seorang laki-laki pada Jessica yang sedang berjalan di depannya dan kawan-kawannya.
Jessica tidak menoleh ataupun menjawab.
"Lihatlah wanita Malang itu, dia diusir oleh keluarganya sendiri. Hahaha..." Roy tersenyum menghina.
"Dan sekarang dia pasti menjadi simpanan om-om tua untuk bertahan hidup." Roy tertawa penuh kemenangan.
Jessica mulai mulai menghentikan langkahnya, namun belum menatap Sang Pecundang.
"Dia anak haram," Roy tertawa puas.
Brakk...
Kini tubuhnya tersungkur di tepi jalan,
Jessica berjalan mendekat.
Brakk... brakk... brakk
Tiga tendangan di perut dari Jessica,
Roy mencoba bangkit dan membalas.
Brakk...
Satu tinjuan mendarat di bibir Roy, membuat bibirnya berdarah deras. Belum cukup dengan itu, Jessica melakukan hal yang sama lagi.
Roy benar-benar tersungkur lemah di hadapannya. Jessica berjongkok memandangi tubuh Roy yang tidak berdaya itu.
"Kurasa kau kurang bersyukur dengan nikmat Tuhan yang sudah ada padamu, kau diberi lisan untuk berbicara baik, bukan menghina ataupun merendahkan orang lain. Bahkan aku sendiri tidak mengenal siapa dirimu, namun kau sudah lancang akan diriku." Jessica masih berjongkok agar Roy bisa mendengarnya dengan Jelas.
"Ku kira kau sudah tidak butuh lisan lagi, aku akan membantu mu untuk tidak berbicara lagi." Jessica tersenyum penuh kemenangan.
Jessica hendak menghajar Roy lagi namun dia mengurungkan niatnya, dia masih waras dan tidak ingin menghajar orang lain secara berlebihan.
"Aku bukanlah orang yang sempurna, jadi aku tidak ingin menghakimimu lebih jauh dari ini," ucap Jessica lalu meninggalkan Roy yang masih terbaring lemah di tepi jalan.
Roy menatap punggung Jessica yang sudah menjauh dan setelah itu ia tidak sadarkan diri.
...Flashback off...
Jessica menatap punggung kedua laki-laki yang duduk tidak jauh dari tempatnya. Jessica masih mengingat Roy, namun memilih diam dan pura-pura tidak mengenal laki-laki itu.
Jessica mencoba membuang semua kenangan pahit yang sudah ia lalui dulu. Ia hanya ingin hidup tenang tanpa dihantui bayang-bayang dari masa lalunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 125 Episodes
Comments
Egha
harus memang laki" yg tidak menjaga lisannya seperti itu dikasih pelajaran
2021-08-17
0
ishak the ganns
lahh Jessica kenapa gak Bibi ama Andre Aja yang Lohh Usir, Lohh Kan Jago Bela diri bisalahh Membalikkan Mereka
2021-02-05
0
Kim Yoona
roy.. roy.. belum apa2 sudah lari terbirit birit.. salah orang sepertinya dia
2020-12-01
1