Ken duduk di meja Kafe, menunggu kedatangan Sang Serigala Betina. Sudah hampir 15 menit ia menunggu tapi yang ditunggu belum kunjung datang.
"Hei, kau akan datang atau tidak?" pesan dari Ken terkirim.
"Maaf Ken, aku akan terlambat," jawab Jessica.
"Berapa lama lagi aku harus menunggumu?" Ken menarik nafas panjang mencoba menahan rasa kesalnya.
"15 menit lagi aku sampai." Jessica memberikan kepastian.
Jika ini bukan karena Gadis Manja itu, aku tidak mau menunggu lama, seperti ini.
Jessica bergegas meraih kunci motornya lalu memecahkan ramainya lalu lintas. Ia tidak menyangka kalau Ken mau menunggunya. Yang ia tau, Ken bukanlah orang yang suka menunggu seperti ini.
"Di mana laki-laki itu?" Jessica mengedarkan pandangannya, mencari sosok Ken pada tiap sudut ruangan.
"Maaf, Mbak, saya sudah membuat janji dengan Tuan Ken," ucap Jessica pada seorang pelayan.
"Mari saya antar." Pelayan itu berjalan di depan Jessica menuju sebuah ruangan khusus.
"Silahkan masuk, Tuan Ken sudah menunggu Anda." Pelayan tadi membukakan pintu dan menundukkan kepalanya hormat, lalu beranjak meninggalkan Jessica yang sudah masuk ke dalam ruangan.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Jessica duduk dan langsung berbicara pada point utama.
"Minum dulu, aku akan mengatakannya setelah kau minum." Ken memandang Jessica dengan pandangan yang hangat.
Serigala Betina tetaplah Serigala Betina, tidak akan berubah rupanya.
Jessica membuka air botol mineral dan meminumnya sampai setengah.
"Katakanlah!" Jessica menatap Ken dengan tatapan tajamnya.
"Baiklah, aku hanya ingin menawarkanmu sebuah pekerjaan. Ya, itupun kalau kau mau," ucap Ken dengan sedikit ragu.
"Pekerjaan apa?" Jessica mulai bicara dengan santai.
"Bodyguard sekaligus sopir pribadi adik Tuan Aldy." Ken berharap Jessica tidak akan memakinya sekarang.
Terimalah Serigala, ku mohon, jangan mempersulit pekerjaanku.
Terlihat Jessica berpikir sejenak. Tuan Aldy bukanlah orang sembarangan, jadi ia juga tidak mau asal-asalan menerima pekerjaan ini dan adiknya, tidak ada orang yang tau seperti apa adiknya. Selama ini ia tidak pernah bicara tentang keluarganya pada publik.
"Jelaskan apa saja tugasnya?" ucap Jessica meminta penjelasan pada Ken.
"Sederhana saja, mengantar dan menjemput Kamila ke kampus dan melindunginya dari bahaya," jelas Ken lalu tersenyum tipis.
Jadi nama adiknya Kamila, baiklah nama yang manis. Batin Jessica.
"Satu lagi, kau bisa tinggal di rumah Tuan Aldy." Ken menelan ludahnya sendiri, takut kalau Jessica salahpaham dengan perkataannya.
Ya, Aku butuh uang untuk tetap hidup dan aku juga butuh tempat berteduh yang layak. Tapi, bagaimana dengan anak-anak muridku dan juga Guru? Apa aku harus melepas mereka. Batin Jessica.
Selama ini Jessica menghabiskan waktunya di tempat bela diri, menuangkan kemampuannya di sana. Gaji yang diterima memang tidak seberapa, tapi ia senang dengan kegiatan itu. Setidaknya, ia bisa melupakan semua masalah hidupnya ketika berada di sana.
"Bagaimana, Jess?" tanya Ken serius.
"Aku rasa kau punya alasan tertentu mengapa memilihku dalam pekerjaan ini," ucap Jessica. Mengingat Ken sangat teliti dalam melakukan pekerjaannya, apalagi ini persangkutan langsung dengan Tuan Mudanya.
"Karena hanya kaulah yang memenuhi syarat untuk menjadi Bodyguard Kamila dan..." Ken ingin melanjutkan bicaranya namun langsung terhenti oleh ucapan Jessica.
"Kau tau seperti apa aku, jadi katakan saja langsung pada intinya!" ucap Jessica karena tidak mau lama-lama berbelit soal alasan.
"Besok aku akan menghantarmu menemui Aldy dan Kamila. Dan kau bisa mengemasi barang-barangmu mulai sekarang." Rasa lega mengalir di seluruh tubuh Ken. Walaupun Jessica tidak memberi tau kalau dia menerima tawaran Ken, tapi Ken cukup mengerti dengan gaya bahasa Jessica yang mungkin sulit dimengerti orang lain.
Jessica tidak menjawab apapun, tapi Ken bisa melihat ada sedikit garis senyum di bibirnya.
Sedikit tersenyum saja membuatmu terlihat berbeda, wahai Serigala Betina.
Jessica membiarkan Ken menatapnya seperti itu, walau sejujurnya ia ingin mengambil garfu lalu mencungkil bola mata Ken.
...________...
Ken melajukan mobilnya menuju Perusahaan, sekilas ia tersenyum ketika mengingat wajah kesal Jessica.
"Apa, kenapa menatapku seperti itu?" tanya Jessica dengan tatapan tajamnya.
"Tidak, aku tidak menatapmu. Aku hanya menatap Serigala Betina yang sedang mengamuk," jawab Ken lalu tertawa puas melihat wajah Jessica yang merah karena menahan marah.
Baiklah, aku akan membiarkanmu tertawa sekarang, karena kau sudah memberikanku pekerjaan yang akan merubah hidupku. Batin Jessica.
Jessica tidak menjawab perkataan Ken, dia menikmati makanan yang ada di depannya, tidak memperdulikan tatapan hangat dari Ken.
Mobil Ken sudah memasuki area parkiran, ia turun dari mobil sambil membawa beberapa berkas penting yang harus ditandatangani Aldy dan juga Informasi tentang Jessica yang sudah ia rangkum sebelumnya.
Wajah ceria Ken seketika berubah setelah memasuki perusahaan, wajahnya terlihat dingin dan tatapan matanya sangat tajam dan mematikan.
"Hai, Bro," sapa Ken pada Aldy lalu duduk di sebelahnya, Ken meletakkan berkas-berkas penting di atas meja Aldy lalu menyerahkan beberapa lembar kertas yang berisi informasi lengkap tentang Jessica.
"Bacalah! jika kau tidak setuju, aku akan mencari yang lain." Ken memaki dirinya sendiri kalau sampai Aldy tidak setuju dengan pilihannya.
"Kau mengenalnya?" Aldy melirik Ken sekilas lalu kembali menatap beberapa lembar kertas di tangannya.
"Aku dan dia dulu satu perguruan," jawab Ken jujur.
"Kau saja yang bercerita, mataku sedang malas membaca." Aldy meletakkan kertas-kertas tadi di atas meja. Ia mulai tertawa ketika melihat wajah kesal milik Ken.
"Khemm..." Ken menarik nafas panjang dan meredam rasa kesalnya.
"Dia anak tunggal dari keluarga yang harmonis tapi semua berakhir ketika Ibu dan Ayahnya meninggal dunia karena kecelakaan." Rasa sesak menghampiri Ken, dia kembali menarik nafas lalu melanjutkan ceritanya.
"Dia diasuh oleh Paman dan Bibinya, tapi mereka berdua tidak berniat baik. Mereka hanya mengincar harta warisan Jessica, mereka memaksa Jessica menjual rumah dan juga mobil dengan alasan biaya hidup." Ken diam sejenak.
"Saat itu, Jessica masih dalam keadaan terpuruk, jadi ia melakukan apapun yang diminta oleh Paman dan Bibinya tanpa rasa curiga sedikit pun. Mereka memperlakukan Jessica dengan baik sampai ia menginjak usia 18 tahun. Setelah itu, semuanya berubah, mereka mencampakkan Jessica bahkan tak mengakuinya sebagai keponakan mereka," jelas Ken panjang lembar.
Aldy hanya diam mendengarkan apa yang dikatakan Ken, Ken kembali mengambil nafas panjang.
"Jessica memang sudah aktif dibidang bela diri sejak kedua orangtuanya masih hidup, bahkan sampai sekarang dia menghabiskan semua waktunya untuk mengajar di sana."
"Lalu di mana dia tinggal?" tanya Aldy iba.
"Setelah dicampakkan oleh Paman dan Bibinya, dia tinggal di sebuah kontrakan milik guru bela diri kami. Dia hanya membawa satu benda berharga yang mungkin sudah tidak ada lagi, sekarang," jawab Ken lalu menarik nafas lagi.
"Sebuah kalung yang ditaburi berlian dan juga emas, mungkin Jessica sudah menjualnya untuk bertahan hidup di kota ini," sambung Ken.
Sesak menghampiri dada Aldy ketika mendengar semua Informasi tentang Jessica.
Ternyata masih banyak orang di luar sana yang lebih menderita dari pada diriku, contohnya Jessica. Batin Aldy
"Sejak kapan kau mengenalnya?" tanya Aldy dengan mata melotot pada Ken. Aldy dan Ken sudah akrab sejak kecil, tapi Ken tidak pernah menceritakan tentang Jessica padanya selama ini.
"Sejak dia mematahkan tanganku." Ken tertawa sambil tersenyum malu.
"Kau masih ingat, saat aku pulang dengan tangan yang patah dan aku beralasan sudah mengalami kecelakaan ringan." Ken mengingatkan Aldy pada kejadian 7 tahun yang lalu.
Aldy tertawa setelah mengingatnya,
untuk pertama kalinya ia melihat Ken merintih karena kesakitan.
"Jadi, itu ulah Jessica?" tanya Aldy tak percaya. Sejenak ia lupa dengan sesak yang ada di dadanya tadi.
"Aku yang salah." Ken mengelus belakang lehernya dan tersenyum tipis.
"Apa yang kau lakukan padanya, sampai ia berani mematahkan tanganmu?" Aldy melirik Ken seolah-olah berkata "Anak nakal."
"Teman-temanku bilang dia adalah Serigala Betina. Tidak ada yang berani mendekatinya dan mereka menantangku. Jika aku berhasil tidak membuat Jessica marah atau kesal. Mereka akan membelanjakanku selama satu bulan." Ken tersenyum tipis ketika mengakhiri kata-katanya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Aldy penasaran. Ia masih ingin tau sejauh apa kedekatan Ken dengan calon Bodyguard adiknya itu.
"Aku hanya sedikit mengganggunya ketika selesai latihan, aku menghalangi jalannya pulang. Dia sudah memberiku peringatan, ku kira dia hanya bercanda dan ternyata dia benar-benar mematahkan tanganku." Ken sangat malu jika mengingat kejadian beberapa tahun itu.
"Dasar bodoh!" ucap Aldy pada Ken lalu mereka tertawa bersama.
...-----------...
Setelah pulang dari Kafe. Jessica menarik sebuah koper ke depan lemarinya lalu mengemas dan merapikan semua barang-barang yang akan ia bawa. Seketika pandangannya terpaku pada sebuah kotak kecil yang tersimpan rapi di laci lemari. Jessica meraih kotak tersebut.
"Ayah... Ibu, lihatlah putri kalian sudah besar sekarang," ucap Jessica sambil menatap lekat sebuah kalung yang bertaburan dengan berlian, kalung yang diberikan oleh ibunya sebagai hadiah ulang tahunnya, tepatnya hadiah perpisahan mereka.
Jessica memasukan kalung itu ke dalam kotak kecil tadi, lalu memasukan kotak kecil itu ke dalam kopernya.
Jessica menarik nafas lega setelah semua barangnya sudah masuk ke dalam koper. Ia berjalan menuju tempat tidur berukuran kecil miliknya, tempat tidur yang hanya cukup untuk dirinya sendiri.
"Ibu... aku merindukanmu." Jessica terus mengulangi kata-kata itu sampai ia larut dalam tidur dan mimpinya.
..._____________...
Di sebuah kamar mewah yang sangat luas yang hanya dihuni oleh satu orang yaitu Aldy.
Laki-laki itu menyandarkan kepalanya pada kursi belajar miliknya, menatap lekat sebuah foto yang terletak tepat di samping komputernya.
"Ibu, Aldy dan Kamila sekarang sudah besar, Ibu cepat sembuh di sana. Kami merindukan Ibu," ucap Aldy lirih.
Sebuah butiran bening jatuh dari matanya, laki-laki itu tidak menghela butiran tadi, membiarkan semua kesedihan yang ia dan Kamila rasakan selama ini keluar.
Setelah kepergian Ayah Aldy, Ibunya mengalami tekanan jiwa yang harus ditangani dengan cepat. Jika tidak, bisa berakibat fatal.
Sudah lama wanita paruh baya itu menjalani perawatan khusus di Negeri S, hampir 5 tahun sudah ia meninggalkan kedua anak kesayangannya, membiarkan mereka melewati setiap ujian tanpa ada seorang Ibu disamping mereka.
"Ibu... aku sekarang sadar, banyak orang di luar sana yang lebih menderita dariku. Ujian yang mereka hadapi jauh lebih berat dengan apa yang aku hadapi sekarang, bahkan mereka tidak punya tempat untuk bersandar." Aldy teringat dengan informasi yang ia dapat dari Ken tentang kehidupan Jessica.
Walau belum melihat Jessica secara langsung Aldy yakin bahwa wanita itu adalah wanita yang tangguh dan memiliki hati yang setegar karang.
Tok... tok... tok....
Kamila mengetuk pintu, namun tidak ada jawaban dari sang pemilik kamar.
"Kak." Kamila berteriak kesal karena pintu terkunci dari dalam.
"Kak Aldy, Ila mau bicara." Kamila masih berteriak sambil menggedor-gedor pintu lebih keras.
"Kak... apa kakak mendengarku?" Kamila semangkin berteriak.
Tidak ada jawaban dari sang pemilik kamar, Kamila menyeret kakinya menjauh dari kamar Aldy. Ia mengurungkan niatnya untuk memohon pada Aldy agar ia diizinkan keluar akhir pekan ini, untuk menghadiri sebuah bazar besar-besaran di pusat kota.
"Apa lagi yang ingin gadis itu katakan," gumam Aldy yang baru keluar dari kamar mandi. Ia berjalan menuju pintu dan membukanya, namun ia tak menjumpai siapapun di depan kamarnya.
Apa lagi yang kau inginkan wahai Nona Manja. Jangan meminta hal-hal aneh lagi padaku, aku sudah sangat pusing karena permintaan yang kau ajukan akhir-akhir ini.
Aldy menjatuhkan dirinya di atas kasur empuk sambil menatap langit-langit kamarnya, badannya terasa sangat letih dan lelah.
Tak butuh waktu lama, ia sudah terlelap dalam tidurnya.
...______...
Udara sejuk masuk melalui celah-celah jendela kamar Jessica, membuat wanita itu terbangun.
"Masih pagi, matahari saja belum muncul." Jessica menatap keluar jendela, menarik selimut sampai menutupi wajahnya. Karena akhir pekan, Jessica berpikir ingin melanjutkan tidurnya.
Hp Jessica bergetar menandakan ada pesan baru.
"Siapkan dirimu, aku akan datang menjemputmu jam 07.00!" pesan dari Ken.
Spontan Jessica bangkit dari tempat tidur, meraih handuk lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Hampir saja Jessica lupa dengan hal penting itu. Hari ini, dia akan bertemu dengan orang yang sangat penting, lebih tepatnya lagi, hari ini ia akan merajut takdir barunya.
Setelah selesai dengan ritual mandinya,
Jessica membuka lemari dan mengambil setelan baju yang akan ia pakai untuk memulai kehidupan barunya. Ia menatap bayangannya sendiri di kaca lalu memperbaiki ikatan rambutnya yang sedikit miring.
"Sempurna," ucap Jessica.
Senyum terlukis di wajah cantik Jessica, membayangkan kehidupan yang layak saja bisa membuat Jessica tersenyum manis seperti ini.
Ya, Tuhan. Aku harap kebahagiaan akan berpihak padaku kali ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 125 Episodes
Comments
Emak Kam
tentu Jessica , ini awal kebahagiaan untuk athor yg kece telah mempersiapkan masa depan yang bahagia untuk mu😘
2023-02-05
0
R@3f@d lov3😘
semangat 💪 Jessica
2022-12-13
0
Erlina Gustianti
seru nampaknya thor
2021-06-24
0