Suasana di rumah utama sangat tenang, para pelayan sibuk melakukan tugasnya masing-masing. Terdengar kesibukan dari pelayan di dalam dapur yang sedang menyiapkan makan malam untuk para penghuni rumah utama.
Ken dan Aldy sudah kembali, namun keduanya masih sibuk dengan beberapa berkas yang mereka harus baca dan tanda tangani.
Jessica bisa melihat dari kejauhan rasa lelah yang ada di wajah kedua pria itu, ia memperhatikan keduanya. Mereka terlihat sangat kompak dalam bekerja tidak pernah membedakan posisi mereka masing-masing.
"Akhirnya selesai juga," teriak Kamila membuat Jessica yang di sampingnya ikut berteriak karena kaget.
"Ada apa dengan mereka?" Ken melirik ke arah Jessica dan Kamila.
"Maaf, Kak Ken." Kamila menutupi wajahnya dengan kertas-kertas yang berserakan di hadapannya.
"Sudah selesai semua?" tanya Jessica.
"Sudah, Kak," jawab Kamila singkat. Ia berjalan menuju dapur untuk mengambil air dingin.
"Biar saya saja, Non." ucap seorang pelayan ketika melihat Kamila hendak masuk ke dalam dapur. Pelayan itu membuka kulkas, dia mengambil satu botol air mineral dingin lalu memberikannya pada Kamila.
"Satu lagi, Mbak." Kamila menggoyangkan botol yang ada di tangannya. Pelayan itu memberikan satu botol air mineral dingin pada Kamila lagi.
Kamila berjalan menjauh dari dapur, "Kak Jess, ini minumnya." Ia menyerahkan satu botol air minum pada Jessica lalu duduk di samping Jessica seperti tadi.
"Kak Jess, main, yuk." Kamila bersikap seperti anak kecil yang sedang bosan belajar lalu mengajak temannya untuk bermain. Ia memasang wajah seimut dan semanis mungkin agar Jessica tidak menolaknya.
"Kau ingin main apa? lompat karet atau..." Jessica menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hmmm, jujur atau berani." jawab Kamila semangat. "Caranya?" Jessica menatap Kamila meminta jawaban.
"Kita suit siapa yang kalah dia harus memilih jujur atau berani," jelas Kamila. Jessica mengganguk paham.
"Okey kita mulai."
Babak pertama dimenangkan oleh Jessica. "Jujur atau berani?" tanya Jessica.
"Hmmm, beranilah." Kamila tersenyum bangga. "Baiklah, karena kau memilih berani maka cubitlah pipi Ken sekarang." Jessica melirik ke arah Ken yang sudah selesai dengan pekerjaannya.
"Siapa takut." Kamila berjalan mendekati Ken lalu mencubit pipi Ken keras membuat pria itu berteriak kesakitan. Kamila segera berlari ke arah Jessica dan bersembunyi di balik punggung tegak wanita itu.
"Kau..." Ken menatap Jessica dan Kamila kesal. Jessica hanya membalas tatapan itu dengan senyuman tipisnya.
Babak kedua. Kali ini Kamila yang menang. "Jujur atau berani?" tanyanya. "Jujurlah," jawab Jessica.
"Hmmm, jika di Bumi ini hanya tersisa dua orang laki-laki yaitu Kak Ken dan Kak Aldy. Kak Jess pilih yang mana?" Kamila tertawa kecil menunggu jawaban dari Jessica. Ken memperhatikan keduanya, dia memasang telinganya agar ia bisa mendengar jawabannya.
"Hanya itu pilihannya? Hmmm...Kak Jess pilih Tuan Aldy." Jawaban dari Jessica membuat Kamila berteriak, Ken hanya tersenyum tipis sedangkan Aldy berusaha menyembunyikan senyum karena bahagia mendengar jawaban Jessica.
"Kenapa?" Kamila meminta penjelasan.
"Lebih baik Kak Jess tidak menikah ataupun berkeluarga jika itu dengan Ken." Jessica tidak merasa bersalah dengan jawabannya, ia bahkan tersenyum aneh ketika melihat wajah kesal Ken.
"Aku juga tidak ingin menikah denganmu, Serigala Galak," sahut Ken.
Kamila mencoba menahan tawanya ketika melihat wajah kesal Ken dan juga Jessica.
Babak ketiga dimenangkan oleh Jessica. "Jujur atau berani?" Sekilas Jessica melirik ke arah Aldy.
"Jujur saja," jawab Kamila karena sudah tidak mempunyai keberanian lagi.
"Sejak kapan kau menyukai Jack?" tanya Jessica berbisik. Seketika wajah Kamila memerah mendengar pertanyaan dari Jessica. Kamila mendekatkan bibirnya ke telinga Jessica.
"Sejak pertama kali bertemu dengannya di Kafe," jawab Kamila jujur. Gadis itu menutup wajah dengan tangan karena malu.
Ken dan Aldy bingung karena keduanya tidak mendengar apa-apa.
"Sudahlah Kak Jess aku ingin ke kamar mandi dulu." Kamila berlari menaiki tangga, dia menyembunyikan wajahnya ketika berpapasan dengan Aldy.
Jessica tersenyum penuh kemenangan.
"Apa yang kau tanyakan?" tanya Ken yang berjalan mendekati Jessica.
"Tidak penting," jawab Jessica acuh.
"Lihatlah, kau sama sekali tidak semanis ketika bicara dengan Kamila, kau benar-benar Serigala Betina yang Galak aku tidak ingin hidup denganmu." Ken berjalan menjauhi Jessica.
Pukk, "Siapa juga yang sudi hidup dengan laki-laki menyebalkan seperti dirimu." Jessica mengangkat tangannya yang masih menempel di pundak Ken.
"Kau senang sekali memukuliku." Ken menatap Jessica dingin. Jessica membalas tatapan Ken tidak kalah dinginnya.
"Sudah-sudah sampai kapan kalian akan bertengkar seperti anak kecil," ucap Aldy yang sudah terbiasa menjadi pendamai diantara keduanya.
"Dia yang memulai." Jessica menunjuk Ken kesal.
"Kau..." Rasanya Ken ingin memakan Jessica saat itu juga. "Sudahlah Ken, sekarang kita makan dulu setelah itu terserah kalian, jika kalian ingin bertanding aku akan menjadi jurinya." Aldy menyeret tubuh Ken menuju ruang makan.
"Ikutlah." Kini tangannya sudah menggenggam tangan Jessica erat.
Jessica mencoba melepaskan tangannya. "Jangan membantah." Aldy mempererat genggamannya.
Ken hanya tersenyum tipis melihat keduanya, "Sungguh taktik yang hebat."
Sudah tidak terhitung berapa kali Jessica ikut bergabung bersama mereka ketika makan malam. Dia sendiri merasa risih, sebab di sini dia hanya seorang Bodyguards Kamila bukan siapa-siapa, dia juga harus mematuhi peraturan yang ada di rumah ini, namun entah berapa kali ia melanggar peraturan yang mengatakan bahwa tidak ada seorang pelayan atau pun pekerja yang diizinkan masuk ke dalam ruang makan kecuali Tuan Ken.
Suasana di meja makan sangat hening, Aldy melirik ke arah Jessica yang sedang fokus pada makanannya.
Sedangkan Kamila masih menundukkan wajahnya yang masih memerah karena pertanyaan dari Jessica.
_______
Acara makan malam sudah selesai,
Aldy dan Ken sudah keluar dari ruang makan, hanya tersisa Jessica dan Kamila disana.
Jessica membantu para pelayan untuk merapikan piring-piring di atas meja makan namun aktivitasnya terhenti ketika tangannya digenggam erat oleh Aldy.
"Biarkan mereka yang membereskannya." Aldy melirik ke arah para pelayan kemudian melepaskan tangan Jessica dan beralih menarik jaket yang dikenakan wanita itu.
"Lepaskan saya!" Jessica memberontak karena merasa tidak nyaman dan ditambah lagi Ken dan Kamila menatap ke arah mereka sambil tersenyum tidak jelas.
"Aku akan melepaskanmu dengan satu syarat." Aldy menarik jaket Jessica membuat badan Jessica ikut tertarik mendekat ke arahnya.
"Katakanlah." Jessica mencoba menahan badannya agar tidak bergerak mengikuti tarikan jaketnya.
"Bermain denganku." Tangan Aldy sudah berpindah memang segelas air minum.
"Bermain apa?" tanya Jessica sambil menatap Aldy seolah-olah berkata "Adik dan Kakak sama saja, sama-sama seperti orang yang kurang bahagia di masa kecilnya."
"Seperti yang kau mainkan dengan Ila." Kini wajah Aldy sudah semanis wajah Kamila. Jessica menatapnya heran, "Orang yang selama ini dikenal dingin dan acuh oleh publik ternyata memiliki sifat kekanakan juga," gumam Jessica.
"Baiklah." Jessica memutar bola matanya malas. Menggeser tubuhnya menjauhi Aldy.
Gunting batu kertas....
Babak pertama dimenangkan oleh Aldy.
"Jujur atau berani?" tanyanya.
"Hmmm, jujur." Jessica melirik ke arah Ken dan Kamila yang sedang menjadi penonton di sudut ruangan.
"Siapa Cinta Pertamamu?" Aldy tersenyum tipis ketika melihat ekspresi Jessica.
"Tidak ada," jawabnya singkat.
"Kenapa? kau sama sekali tidak pernah jatuh cinta?" tanya Aldy penasaran.
"Aku tidak punya waktu untuk itu." Jessica menatap mata coklat milik Aldy, tidak ada yang bicara sepatah katapun semua mengalir melalui tatapan mata mereka.
"Khemm...Khemm." Suara Ken dan Kamila menyadarkan keduanya.
Babak kedua. Kembali dimenangkan oleh Aldy. "Jujur atau berani?" tanya Aldy diiringi oleh senyum kemenangan.
"Hmmm...Jujur," jawab Jessica.
"Kau sangat cinta dengan kejujuran rupanya, siapa orang yang paling kau sayangi dan yang paling kau benci saat ini?" tanya Aldy.
"Saat ini, orang yang aku sayangi...Hmmm Jack dan Kamila." Jessica memainkan kunci mobil yang ada di tangannya.
"Yang kau benci?"
"Hmmm...tidak ada. Aku tidak membenci siapapun aku hanya sebal dan ingin memakan seseorang saat ini juga." Jessica menatap Ken tajam.
"Makanlah, tapi ku sarankan direbus atau dipanggang dulu supaya lebih sedap." Aldy tertawa kecil melihat wajah kesal Jessica.
Ken menelan ludahnya sendiri, dia benar-benar membayangkan dirinya dipanggang oleh Jessica kemudian dihidangkan sebagai menu makan malam.
Gunting...batu..kertas...
Babak ketiga dimenangkan oleh Jessica, "Jujur atau berani?" tanya Jessica.
"Beranilah." Aldy tersenyum sombong.
"Baiklah." Jessica meraih tas kecil milik Kamila lalu mengeluarkan lipstik merah menyala dari sana. Ia menatap wajah tampan milik Aldy lalu tersenyum licik.
"Pakailah." Jessica memberikan lipstik itu pada Aldy. Aldy menatap tajam, "Kau sudah gila!" ucapnya tapi ia mengambil lipstik itu dari tangan Jessica.
"Kalian berdua, tutup mata kalian!" Aldy menatap Ken dan Kamila tajam. Keduanya langsung memalingkan wajah dan menutup mata.
"Pakailah, Tuan." Jessica tersenyum penuh kemenangan.
"Aku tidak akan memakainya jika bukan kau yang memakaikannya." Kini lipstik itu sudah berada di tangan Jessica.
Jessica mendekat dan memoleskan lipstik merah menyala itu pada bibir Aldy.
Hahahaha...
Jessica tidak sanggup menahan tawanya melihat wajah tampan Aldy yang mengenakan lipstik.
Aldy duduk membelakangi Ken dan Kamila membuat keduanya tidak melihat apapun.
"Kau sangat senang, ya..." Aldy mengambil secara paksa lipstik itu dari tangan Jessica lalu mengoleskannya di pipi wanita itu.
"Aldy..." Jessica sedikit berteriak, ia tidak terima dengan apa yang dilakukan Aldy padanya. Jessica merebut lipstik dari tangan Aldy dan mengoleskannya di pipi Aldy sama seperti yang Aldy lakukan padanya.
Hanya terdengar tawa dari keduanya,
berbeda dengan dua orang yang menjadi penonton sejak tadi, mereka mengeluarkan Hp dan mengabadikan moment yang sangat berharga di hadapan mereka dengan beberapa foto dan video.
"Tidak boleh dipublikasikan." Ken mengingatkan Kamila. Kamila mengangguk paham.
"Apa mereka akan bersama untuk selamanya?" tanya Kamila sambil menatap Ken, matanya berbinar penuh harapan.
"Jika Tuhan berkehendak," jawab Ken sambil melirik kedua orang yang sedang tertawa lepas.
Ken sendiri belum mengetahui perasaan Aldy yang sebenarnya, apakah Tuannya benar-benar menaruh hati pada Jessica atau tidak. Dan perasaan Jessica pada Aldy? tidak ada yang tau tentang itu.
_______
Udara dingin mulai menyelimuti malam,
Jessica berjalan ke tempat tidurnya setelah membersihkan wajahnya yang dipenuhi oleh lipstik. Sekilas ia tersenyum tipis ketika mengingat kejadian tadi, bisa-bisanya ia mencoret wajah tampan Aldy dengan lipstik merah menyala itu.
"Kenapa dia tidak marah atau menolak saja?" gumam Jessica, ia hanyut dalam pemikirannya.
________
Aldy berjalan mendekat ke arah Ken yang sedang duduk di kursi belajar miliknya.
"Apa kau punya sesuatu untukku?" tanya Aldy, dia berharap bahwa Ken mengabadikan moment berharga tadi.
"Tentu saja, aku punya hadiah terbaik untukmu." Ken menyerahkan Hpnya pada Aldy.
"Kau memang bisa diandalkan dalam semua hal." Aldy menepuk punggung Ken bangga, ia memperhatikan beberapa fotonya dengan Jessica lalu tersenyum tipis.
"Kenapa aku terlihat sangat bodoh di hadapannya, aku tidak bisa menolak keinginannya tadi, aku benar-benar ingin membuatnya tertawa ketika bersamaku." Kini Aldy beralih menonton videonya bersama Jessica.
Aku sudah menemukan jawabannya sekarang. Ken
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 125 Episodes
Comments
Egha
seru" gemeeezzz
2021-08-17
0
Nenk Leela Poetrie Mawar
yaaahhhh lampu hijau sudah
2021-05-14
0
Lilik Kuluwazu Psazum
mf ya thor aku mau jujur tp jangan marah ya..? aku merasa alur ceritanya kok ngambang....? kurang apaaa gitu ?🙏🙏🙏
2021-03-19
0