Suasana pagi yang mendung dan ditemani angin sejuk membuat semangat seorang gadis manja itu bangkit. Entah apa yang ia pikirkan, bukannya khawatir hujan atau apa, semangatnya malah menggebu-gebu.
"Aku duluan, Kak," ucap Kamila tersenyum, ia meninggalkan Aldy sendirian di meja makan.
"Aneh, tidak biasanya dia se-semangat itu." Aldy memasukkan potongan roti terakhir ke dalam mulutnya.
"Mereka sudah berangkat?" tanya Aldy pada Ken yang sudah menunggu di luar sejak tadi.
"Sudah, apa yang terjadi pada gadis manja itu?" tanya Ken bingung setelah melihat wajah ceria dan semangat Kamila tadi.
"Entahlah, setidaknya dia bahagia. Itu sudah lebih dari cukup bagiku." Aldy masuk ke dalam mobil disusul oleh Ken yang menjadi pengemudinya.
Sementara di sisi lain.
"Kak Jess." Suaranya begitu ceria dan semangat.
"Hmmm." Jessica melirik sekilas lalu kembali fokus mengemudi.
Kamila masih ragu, apakah harus ia menanyakan pendapat Jessica atau tidak. Setelah lama berpikir, "Jika aku dan Jack saling mencintai bagaimana tanggapan Kak Jess," ucapnya ragu.
Jessica belum menjawab, ia masih memilih jawaban yang tepat yang tidak akan menyakiti hati gadis di hadapannya ini.
"Kak Jess tidak apa-apa, jika kalian saling mencintai silahkan saja. Tapi untuk saat ini Kak Jess belum percaya padamu ataupun Jack untuk menjalani sebuah hubungan. Kalian berdua masih sangat labil, jika ingin serius maka menikahlah." Jessica tersenyum tipis.
"Menikah?" tanya Kamila sambil menelan ludahnya.
"Iya, jika ingin serius maka menikahlah." Jessica tertawa kecil.
"Aku belum siap." Kamila menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Jika belum siap maka janganlah terlalu serius. Kalau nggak jodoh kan sakit sendiri ujungnya." Kini nada bicaranya mulai serius.
"Benar juga apa yang kak Jess katakan. Lebih baik aku fokus pada kuliah ku saja. Soal jodoh,kan udah ada yang ngatur," ucap Kamila tidak kalah seriusnya.
"Anak pintar." Jessica melirik ke arah Kamila yang sedang menatap ke arahnya.
Suasana mobil mulai hening.
"Jaga dirimu." Jessica menatap gadis yang sudah berjalan menjauh dari parkiran. Kini mobil melaju ke arah Kafe yang menjadi favorite-nya dan Kamila selama ini, lebih tepatnya Kafe yang di kelola oleh Jack saat ini.
Jessica duduk di tempat biasa, ia memesan makanan dan minuman. Ia memang tidak biasa sarapan pagi-pagi seperti Kamila dan Aldy. Biasanya ia sarapan setelah mengantar Kamila ke kampus atau setelah membantu para pelayan di rumah utama.
"Selamat menikmati, Kak," ucap Jack sambil membawa pesanan Jessica.
"Hai, sudah lama tidak bertemu denganmu," jawab Jessica dengan senyum tipisnya.
"Aku tadi melihat Kak Jess masuk, tapi sengaja belum menyapa. Hehehe..." Jack tidak mengerti dengan ucapannya sendiri. Begitu pula dengan Jessica, ia hanya membalas dengan senyuman.
"Makan." Jessica menarik tangan Jack membuat laki-laki itu duduk di sampingnya. "Temani Kak Jess makan." Memperjelas maksudnya.
Jack tidak bisa menolak permintaan sederhana sang kakak tercintanya. Walau tidak terikat hubungan darah dengan Jessica, ia tetap menyayangi wanita itu dengan tulus dari hatinya. Menganggapnya seperti Kakak kandungnya sendiri. Begitu pula dengan Jessica yang menyayangi Jack layaknya menyayangi adiknya sendiri.
Jack memperhatikan setiap sudut wajah Jessica. Wajah yang tidak pernah menampakkan kesedihan di hadapannya, wajah yang selalu terlihat dingin di hadapan orang lain. Namun tidak jika di hadapannya.
"Kenapa menatap Kak Jess seperti itu?" Sadar dirinya sedang ditatap.
"Aku hanya penasaran, laki-laki mana yang akan mendapatkan hati Kak Jess nanti," jawab Jack sambil tersenyum memperlihatkan gigi taringnya yang cukup tajam.
"Kau ini...Kak Jess saja belum berpikiran sejauh itu." Jessica memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya .
"Apa Kak Jess tidak ingin mengakhiri masa jomblo ini?" tanya Jack sedikit ragu. Ia sudah siap jika harus di maki ataupun di pukul oleh Jessica sekarang.
"Biarlah semuanya berjalan sesuai takdir, lagi pula usia Kak Jess tidak setua itu. Hanya berbeda 3,5 tahun dengan mu." Jessica menatap Jack dalam.
"Apa kau ingin membicarakan sesuatu?" tanya Jessica setelah menemukan sebuah harapan di mata Jack.
"Aku takut jika Kak Jess marah padaku, karena sudah lancang mencintai Kamila," ucap Jack penuh keberanian.
"Aku sudah tau jawaban dari Kak Jess. Jadi, ku rasa aku tidak perlu menanyakan lagi," sambungnya.
"Memang apa jawaban yang akan Kak Jess berikan?" tanya Jessica menaikkan satu alisnya.
"Kak Jess pasti menyuruh ku untuk fokus pada cita-cita ku atau akan menyuruh ku untuk menikahi Kamila." Rupanya Jack sudah hafal dengan jawaban Jessica.
"Hahaha...Kau sangat pandai dalam menebak dan membaca pikiran ku." Jessica menupuk pundak Jack Pelan. "Kak Jess tidak bermaksud mematahkan semangatmu, tapi Kak Jess ingin mengajarimu bagaimana berharganya seorang wanita. Dia tidak bisa kau dapatnya jika hanya bermodal rayu dan gombalan mu saja, dia butuh kepastian darimu dan juga keluargamu. Terlebih lagi wanita yang kau cintai bukan orang yang asing dalam hidup Kak Jess, jadi Kak Jess ingin kalian serius untuk kedepannya. Sekarang persiapankan diri kalian masing-masing jika ingin serius untuk kedepannya, Kak Jess akan mendukung kalian," ucap Jessica panjang lebar, sekilas ia tersenyum pada laki-laki yang sedang duduk di sampingnya itu.
"Terima kasih, Kak Jess, aku yakin setiap apa yang Tuhan putuskan untukku dan untuknya pasti itulah yang terbaik untuk kami berdua." Jack membalas senyuman Jessica tidak kalah manisnya. Membuat para pengunjung lainnya cemburu akan kedekatan mereka.
"Jika suatu saat nanti kau benar-benar berada d isamping Kamila, menjadi pendamping hidupnya. Kak Jess mohon jaga dia dengan nyawamu sebagai mana Kak Jess menjaganya dengan nyawa Kak Jess sekarang. Kak Jess tidak rela melihatmu atau melihatnya bersedih, Kak Jess menyayangi kalian berdua lebih dari Kak Jess menyayangi diri Kak Jess sendiri." Mata Jessica mulai berkaca-kaca, tapi dengan sekuat tenaga Ia menahan agar butiran itu tidak jatuh membasahi pipinya.
Jack mendekatkan tangannya menyentuh tangan Jessica, mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Jessica. "Aku berjanji," ucapnya lalu tersenyum lebar penuh kehangatan.
"Terima kasih Jack." Jessica menatap lekat wajah tampan Jack, memperhatikan setiap sudut wajahnya. Tidak ada sedikit pun kebohongan di wajahnya, hanya kebahagiaan dan kasih sayang yang Jessica lihat di sana.
Para pengunjung lainnya dihantui rasa penasaran oleh keduanya. "Apa mereka sepasang kekasih?" tanya seorang pengunjung pada temannya.
"Jika dilihat, hubungan mereka lebih dari itu. Lihatlah tatapan penuh cinta laki-laki itu. Aku saja dibuat meleleh oleh tatapannya," jawab temannya.
"Husst...kau ini." Menyenggol temannya.
Jessica dan Jack sudah tidak di sana lagi, Jessica kembali ke rumah Keluarga Pranata sedangkan Jack masuk ke dalam ruangannya.
"Aku sudah bicara dengan Kak Jess, kau pasti sudah taukan jawaban apa yang ia berikan." Pesan Jack terkirim.
"Apapun jawabannya aku yakin itu yang terbaik untuk kita saat ini dan kedepannya." Terkirim lagi.
Belum dibaca ataupun dibalas oleh sang penerima pesan. Beberapa menit kemudian,
"Aku harap kau belum menyerah, aku di sini akan memantaskan diri untuk mendampingimu nanti." Balasan dari Kamila. Ya, Jack dan Kamila sedang berusaha mendapatkan restu atau dukungan dari Jessica tentang hubungan mereka kedepannya.
"Bisakah kita bicara sebentar saja, jika kau berkenan aku menunggumu di tempat biasa." Pesan dari Jack terkirim dan sudah dibaca oleh Kamila.
"Aku masih ada kelas, bagaimana jika siang nanti." Balasnya.
"Baiklah."
"Fokuslah pada kuliahmu, jangan pikirkan hal yang tidak harus dipikirkan." Sekilas Kamila tersenyum setelah membaca pesan dari Jack. Dia dan Jack belum terikat hubungan apapun, itu semua karena permintaan Kamila sendiri. Ia tidak mau melanggar ataupun membantah larangan sang Kakak, jika membantah ia sudah tau seberat apa hukumannya.
"Chating sama siapa, Mill, kok senyum-senyum gitu." Elis berusaha mengintip layar Hp Kamila.
"Jangan kepo, kebiasaan banget." Kamila menyentil jidat Elis pelan lalu tertawa kecil.
"Aaaa...aku hanya penasaran saja, Mill.
Btw bagaimana hubunganmu dengan Jack? Aku lihat kalian akrab sekali ketika bertemu?" tanya Elis sambil menatap mata Kamila.
"Hubungan apa? aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Jack." Kamila mengatakan yang sebenarnya.
"Hmmm...ku kira kalian ada hubungan spesial." Elis mulai sibuk mengotak-atik Hpnya. "Lihatlah, Mill, dia tidak kalah tampannya dengan Jack." Ia menunjukkan foto salah seorang Selebgram pada Kamila.
"Setampan apapun dia tapi jika bukan milik kita tidak ada gunanya," jawab Kamila acuh. Ia mengalihkan padangan pada sebotol air mineral di tangannya.
"Ya juga sih." Elis menutup aplikasi Instagramnya lalu peralih ke WhatsApp.
"Liss...aku ingin menanyakan sesuatu, tapi kamu harus jawab jujur, ya," ucap Kamila sedikit berbisik.
"Katanlah aku akan menjawab sejujurnya."
"Jika suatu saat nanti seseorang seperti Jack ingin menikah denganmu, bagaimana reaksimu?" tanya Kamila.
"Aku pasti menerimanya, tapi satu hal yang ku takutkan.Aku takut keluarganya tidak menerimaku." Elis sudah menjadi korban novel dan sinetron yang ia baca ataupun tonton. Ia membayangkan jika dirinya diposisi itu, menjadi seorang menantu yang dibenci oleh mertuanya sendiri.
Sejenak Kamila terdiam, sejauh ini dia belum memperkenalkan Jack dengan Aldy. Dan identitas sebagai adik Aldy pun belum diketahui oleh Jack.
Apa Kak Aldy akan menerima Jack.
Atau apakah Aku akan diterima di keluarga Jack dengan baik.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 125 Episodes
Comments
Egha
betul banget sebaik n seburuk apapun seseorang jika bukan milik kita atau jodoh kita mau apa,bagaimana,kemana...
2021-08-17
0
Chairul Rijal
y ampun dedek kamila sekolah aja dl,,ntar klw soal jodoh author yg ngatur wkwkwk🤣
2021-01-05
3
Kireina
ska sm jes deh...nasehatnya pelan tp kna bingit..😅
2020-11-13
3