Setelah Jack menyelesaikan tugasnya,
dia dan dua sahabatnya langsung kembali ke Markas.
"Bagaimana Jack, apa dia mati di tangan mu?" tanya salah satu teman Jack sambil tersenyum tipis.
"Tidak, aku hanya memberinya sedikit pelajaran dan aku tidak mau menghabisinya," jawab Jack santai lalu berjalan menuju kursi yang terbuat dari bambu.
"Kenapa, bukankah dia mengganggu adik Kak Jessica? Kenapa Kak Jess melepaskannya?" Teman Jack yang lain ikut bertanya.
Andre memang terkenal dengan kesongongannya dan juga playboy tingkat kakapnya, jadi tidak heran bila banyak orang tidak menyukainya terutama anak Geng Motor Jack.
"Kalian tau kan hubungan Andre dengan Kak Jess bagaimana?" tanya Jack sambil memainkan kunci motornya.
"Mungkin itu alasan Kak Jess tidak langsung turun tangan, jika Kak Jess yang memberinya pelajaran, mungkin besok kita sudah mendengar berita duka darinya," ucap Yosi.
Salah satu teman Jack mulai tertawa.
Diikuti tawa Jack dan yang lainnya.
"Yos." Jack menatap salah satu anggota Geng motornya yang satu kampus dengan Andre.
"Kenapa, Bro?" Yosi berjalan ke arah kursi Jack lalu duduk di hadapannya.
"Kau satu kampuskan dengan Andre?" tanya Jack memastikan.
"Iya, memang kenapa? kau ingin aku membalasnya." Yosi terlihat bingung dengan pertanyaan Jack.
"Jika dia sekampus dengan Andre berarti dia sekampus juga dengan Kamila." Batin Jack menebak.
"Kau bisa melakukan sesuatu untukku?" ucap Jack mantap.
"Katakan saja Jack, apa yang kau butuhkan?"
Memang begitulah cara Jack dan teman-temannya, mereka selalu membantu satu sama lain. Tanpa membedakan satu orang pun di antara mereka, di mata mereka Jack-lah yang paling bisa diandalkan, bukan hanya teliti dalam mengambil keputusan tapi juga bertanggung jawab atas tugasnya.
"Jaga wanita itu untukku, jangan biarkan lelaki semacam Andre mendekatinya!" pinta Jack. Terlukis senyum tipis di bibir laki-laki tersebut.
"Apa ini karena Kak Jess atau karena..."
ucap mereka mulai menggoda Jack.
"Baiklah, Tuan Jack sudah menemukan tambatan hati rupanya," ucap Yosi ikut menggoda.
Jack tidak menjawab. Entah dia melakukan ini karena Jessica atau karena memang ingin melindungi Kamila.
___________
Hari ini suasana di Kantin kampus sedikit ramai.
Yosi sedang mengamati Kamila dan teman-temannya, memastikan Andre benar-benar mendengarkan peringatan dari Jack.
Yosi pun bernafas lega setelah merasa Andre memang tidak ada di sana. Namun belum semenit dia bernafas lega, ia sudah melihat Andre dan teman-teman berjalan ke arah kantin. Namun, belum sempat Andre masuk ke kantin ia sudah memutar arah kembali dan menjauh dari kantin.
Mungkin dia benar-benar mendengar peringatan dari Jack.
Sementara Kamila dan ketiga temannya sedang asik mengobrol di sana.
"Mill." Begitulah mereka memanggil Kamila
"Hmmm," jawab Kamila yang mulai mengikuti gaya bicara ketiga orang dingin yang ada di rumahnya, siapa lagi kalau bukan Jessica, Aldy dan juga Ken.
"Kemarin aku sempat melihat Andre mengangumu di parkiran, ketika ingin mendekat rupanya Kak Jess sudah ada di depanmu," ucap Elis yang melihat kejadian kemarin.
"Apa Kak Jess tidak melakukan sesuatu padanya?" tanya yang lain kepo.
"Tadi malam aku mendengar Kak Jess dan Kak Aldy membahas itu," jawab Kamila sambil mengingat bercakapan kedua orang tersebut.
"Lalu hukuman apa yang Andre terima?" tanya mereka tak sabar ingin mendengar apa yang dilakukan Jessica pada Andre.
"Sayangnya bukan Kak Jess yang menghukumnya," jawab Kamila kesal.
"Lalu siapa, jangan bilang Kak Ken?" tebak Elis. Dia memang mengenal baik siapa Kamila dan juga keluarganya termasuk juga Ken.
"Bukan," jawab Kamila masih kesal.
"Lalu siapa? katakan Mill, kami sudah penasaran." Ketiganya merengek pada Kamila.
Kamila tertawa geli ketika melihat ketiga temannya merengek seperti itu.
Mungkin ini yang dirasakan Kak Aldy dan Kak Jess ketika aku merengek pada mereka, sangat memalukan.
"Kalian yakin mau tau siapa?" ucap Kamila menggoda ketiga temannya itu.
"Katakanlah, Mill," Mereka semakin penasaran.
"Lihatlah, wajah kalian seperti anak bayi saja." Kamila tertawa puas.
"Kamila, katakanlah dengan cepat!" teriak mereka sudah tidak sabar lagi.
"Jack yang membereskanya," ucap Kamila lalu tersenyum bangga ketika menyebut nama Jack.
"Jack?" Ketiganya langsung menatap Kamila tajam.
"Siapa dia? Bodyguard baru kah?" tanya mereka yang semakin dihantui rasa penasaran.
"Bukan, dia... dia..." Kamila menggantungkan kalimatnya.
"Dia siapa Mill, katakanlah!!! Jangan membuat kami mati karena penasaran," ucap Elis dengan sorot mata tajamnya.
"Dia adik tampannya Kak Jess." Kamila tersenyum ketika membayangkan mata hangat milik Jack.
"Kau menyukainya?" tanya Elis.
"A-aku, aku tidak menyukainya. Apa Apaan kalian ini," jawab Kamila tertawa garing.
Aku menyukai mata hangatnya.
Mereka bertigapun ikut tertawa garing seperti Kamila.
______
Jessica melajukan mobil menuju kampus, sudah waktunya untuk menjemput Kamila. Namun perjalanan Jessica terhenti karena jalanan sangat macat, tidak ada mobil yang bisa bergerak untuk maju ataupun mundur.
"Kak Jess, masih lama sampainya? " pesan dari Kamila.
"kak Jess terjebak macet," jawab Jessica cepat.
Jessica turun dari mobil untuk memastikan berapa lama lagi ini akan terjadi.
"Maaf, Pak. Kira-kira apa yang menyebabkan macet seperti ini?" tanya Jessica pada seorang Pria yang sudah lama keluar dari mobilnya.
"Di depan ada kecelakaan yang menewaskan satu keluarga, Non," jawab Pria itu sesuai informasi yang ia dapat.
Hati Jessica tiba-tiba tersayat ketika mendengar jawaban Pria tadi,
entah mengapa dia kembali mengingat kejadian yang sama, yang mengambil nyawa kedua orang tuanya.
"Nona, tidak apa-apa?" tanya Pria itu khawatir ketika melihat raut wajah Jessica yang tiba-tiba berubah.
"Saya tidak apa-apa, Pak." Jessica langsung memasang wajah normalnya,
menyembunyikan rasa sakit di hatinya.
"Berapa lama lagi, Pak?" Jessica mulai khawatir pada Kamila di kampus.
"Sekitar 15 menit-lah Non, polisi masih membersihkan jalan," jawab Pria itu sambil melihat ke arah jam tangannya.
Jessica segera menghubungi Jack,
setidaknya ada orang yang menemani Kamila di sana dan Jessica hanya percaya pada Jack.
"Jack, Kak Jess masih terjebak macet, datanglah ke kampus Kamila untuk memastikan keadaannya, Kak Jess percaya padamu," ucap Jessica langsung mememutuskan sambungan telepon sebelum Jack menjawab apa-apa.
"Kesempatan, tidak! Tidak! Ini salah, aku harus menjadi Jack yang baik dan hangat." Jack mencoba mengontrol dirinya, jangan sampai ia salah tingkah ketika di hadapan Kamila nanti.
______
Kamila masih menunggu, cukup lama.
Dia sudah keluar masuk area parkiran dua kali.
"Kamila, Kak Jess menyuruhku menemanimu sampai ia datang, Kak Jess terjebak macet." Suara Jack membuat Kamila terkejut.
"Kau, ku kira siapa," jawab Kamila lalu berjalan ke arah Jack.
"Kapan Kak Jess akan sampai?" tanya Kamila pada Jack dengan wajah biasa.
"Mungkin 15 atau 30 menit lagi," jawab Jack. Sebenarnya Jack sendiri tidak tau kapan Jessica akan sampai.
"Kau sudah makan?" Jack benar-benar memberi perhatian layaknya yang dilakukan Jessica pada Kamila.
"Belum, kau mau menemaniku makan?" tanya Kamila sambil menatap ke arah Jack.
"Tidak, aku tidak berani melakukan itu, aku akan menjaga dan memastikan keamananmu saja." Jack bener-bener menghormati setiap orang yang dekat dengan Jessica.
"Khemm, baiklah. Kau bisa mengantarku ke Kafe XX. Aku ingin makan di sana."
"Tapi aku hanya bawa ini." Jack menunjukan kunci motornya.
Kamila berpikir sejenak.
Jika Kak Aldy salah faham dengan ini bagaimana? Lalu bagaimana nasib Kak Jess, dia tidak akan dipecatkan karena membiarkan Jack memboncengku, ini sangat rumit.Tapi aku juga sudah lapar, bagaimana ini?
"Aku tau apa yang kau pikirkan, kau ingin memakan apa? biar ku belikan untukmu." Jack mencoba menawarkan jalan keluar.
"Kau akan meninggalku sendiri di sini?" Kamila menatap Jack redup.
"Tentu saja tidak, katakan apa yang ingin kau makan, biar temanku nanti yang membelikan untukmu di Kafe XX." Jack menjelaskan maksudnya.
"Aku ingin nasi goreng seafood."
"Baikanlah, 5 menit akan datang." Jack terlihat sangat keren dengan gaya bicaranya.
Benar saja, dalam waktu 5 menit nasi goreng itu sudah ada di tangan Kamila lengkap dengan piring dan juga sendok.
"Kau akan melihatku makan dengan tatapan seperti itu?" Kamila menunjuk mata Jack dengan sendok yang ada di tangannya.
"Hahahaha... baiklah, aku akan memalingkan wajahku," jawab Jack sambil tertawa lalu memalingkan wajahnya.
15 menit kemudian. Jessica sudah sampai di parkiran, ia mencari keberadaan Kamila dan juga Jack.
"Di situ rupanya." Jessica berjalan menuju taman kecil.
"Kak Jess." panggil Kamila dan Jack bersamaan.
"Dia tidak melukaimu, 'kan?" tanya Jessica pada Kamila sambil menatap Jack.
"Ayolah Kak Jess, aku tidak mungkin merusak kepercayaanmu padaku," ucap Jack sedikit kecewa. Jack merasa Jessica tidak mempercayainya dalam urusan ini.
"Tidak Kak Jess, dia tidak melukaiku, dia bahkan membelikan makanan untukku," jawab Kamila jujur.
"Hai, kenapa wajahmu seperti itu?" Jessica menupuk pundak Jack.
"Kak Jess percaya padamu, Kak Jess hanya bercanda," sambung Jessica.
"Kak Jess membuatku hampir kehilangan kepercayaan diri." Jack tersenyum manis.
"Terima kasih Jack, kau selalu membantuku," ucap Jessica yang terharu dengan semua kebaikan yang dilakukan Jack padanya.
"Aku kan sudah berjanji akan menolong Kak Jess jika aku mampu, sudahlah, anggap saja ini rasa terima kasihku karena kebaikan Kak Jess." Jack kembali mengukir senyum manis di bibirnya.
"Ya Tuhan...Tampan dan Manis sekali dia ketika tersenyum." Kamila membatin sambil senyum-senyum sendiri
Jessica dan Jack bersamaan keluar dari area parkir dan melajukan kendaraan mereka menuju jalan raya.
______
Sudah tengah malam, tapi Jessica belum bisa memejamkan matanya.
Kecelakaan itu kembali menghantui pikirannya, membuatnya gelisah tidak karuan.
Jessica berjalan keluar kamar.
Dia duduk di pinggir kolam ikan yang menjadi perbatasan rumah utama dan rumah belakang.
Jessica benar-benar hayut dalam pemikirannya, dia memikirkan nasib orang-orang yang ditinggalkan oleh korban kecelakaan itu.
"Mereka pasti sangat terpukul dengan kejadian itu," gumam Jessica lirih.
"Siapa yang terpukul? Kejadian apa? " Suara Aldy benar-benar membuat Jessica kaget.
"Maaf, Tuan." Jessica bangun lalu menundukkan kepalanya hormat.
"Jawab pertanyaanku." Aldy berbicara dengan nada yang sangat lembut.
"Duduklah, seperti tadi!" Aldy memerintahkan Jessica untuk duduk kembali dan ia pun ikut duduk di dekat Jessica.
Jessica menggeserkan tubuhnya memberi jarak setengah meter antara dirinya dan Aldy.
"Jawablah pertanyaanku!" pinta Aldy masih dengan nada yang sama seperti awal.
Jessica menarik nafas panjang, ia menguatkan dirinya sendiri terlebih dahulu.
"Tadi, di jalan menuju kampus Kamila terjadi kecelakaan yang menewaskan satu keluarga sekaligus." Sangat terdengar jelas Jessica menahan beban berat untuk mengatakan hal itu.
"Saya hanya teringat pada kedua orangtua saya yang mengalami hal yang sama, dan saya memikirkan bagaimana perasaan keluarga mereka yang ditinggalkan, pasti mereka sangat hancur saat ini." Jessica masih berusaha menguasai dirinya.
"Wanita Malang. Lihatlah, ketangguhanmu. Kau masih bisa tersenyum padahal kau sangat terpukul."
Aldy ingin meraih tubuh Jessica lalu mendekapnya dalam pelukannya, tapi ia mengurungkan niatnya takut Jessica salah faham atas tindakannya.
"Tidurlah, ini sudah larut malam, pikirkan juga dirimu dan kesehatanmu." Aldy menepuk pundak Jessica seolah-olah ingin mengalirkan tenaga pada wanita itu.
Jessica tidak menggubris tangan Aldy, "Tuan juga istirahatlah," jawab Jessica.
Jessica belum bergerak dari duduknya, ia ingin memastikan Aldy sudah berdiri baru ia akan berdiri.
"Bertemanlah, kau bisa memanggilku seperti orang biasa." Aldy mulai berdiri.
Jessica ikut berdiri. "Bisakah?" Aldy masih menunggu jawaban Jessica.
"Baiklah," ucap Jessica menyetujui permintaan Aldy.
Jessica tidak ingin membuat Aldy berlama-lama di luar, dia hanya ingin Aldy segera masuk dan beristirahat.
"Kau istirahatlah, jangan memikirkan yang tidak-tidak." Aldy mengukir senyum manis di bibirnya sambil menatap Jessica dalam.
"Baik, Anda juga." Jessica nenundukkan kepalanya menghindari tatapan Aldy.
"Hai, kenapa kau berdetak sekencang ini, berhentilah! jangan membuatku malu di hadapanya." Batin Jessica berbicara pada jantungnya sendiri.
"Apa yang terjadi padamu wahai jantungku berdetaklah dengan normal." Sang Tuan Muda ikut menegur jantungnya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 125 Episodes
Comments
Cilla
lucu sih kalosama² dingin gtu wkwkwkk
2021-09-22
0
Egha
berdebar jantungku berdebar ..eeaaaa
2021-08-17
0
Nenk Leela Poetrie Mawar
ciyaahhh sudah mulai
2021-05-14
1