Aldy melangkah menjauh dari kolam ikan yang menjadi perbatasan rumah utama dan rumah belakang.
Sejenak, Jessica menatap punggung Aldy lalu berjalan menuju kamarnya.
Bayangan tentang Ibu dan Ayahnya kembali menghantui pikiran Jessica. Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri, namun tidak berhasil. Semakin ia mencoba melupakan kejadian itu semakin kejadian itu menghantui pikirannya.
"Tidak, tidak, apa ini?!" Jessica menggelengkan kuat sampul memukuli kepalanya.
"Ya Tuhan apa yang terjadi padaku?
Aku mohon berikanlah aku kekuatan untuk menghadapi ini dan biarkan aku melupakan semua kejadian itu."
Aku sudah merelakan mereka untuk pergi, aku sangat percaya pada takdir-Mu... Engkau pasti memberikan kebahagiaan setelah kesedihan selamat ini. Ku mohon kuatkanlah aku... kuatkan juga hati-hati mereka yang mengalami hal yang sama denganku. Hanya Engkaulah tempat kami Memohon dan Mengadu." Batin Jessica memanjatkan do'a.
Seketika, semua bayangan itu hilang dari pikiran Jessica. Ia menghela nafas lega. Membaringkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamar yang gelap.
"Ibu... Ayah, tenanglah di sana. Aku sangat merindukan kalian." Jessica mengulang kata-kata itu sampai ia tertidur pulas.
_______
Aktifitas di rumah utama sudah dimulai, semua pelayan sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
Jessica sudah rapi dengan pakaian yang biasa ia kenakan, tapi di pagi ini ia sedikit berbeda, wajah dinginya terlihat sangat pucat membuat aura yang ada pada dirinya sangat berbeda.
Jessica menatap bayangan wajahnya di cermin, menyadari ada yang beda dari dirinya.
"Mungkin aku hanya kurang tidur."
Ia mencoba menumbuhkan semangat pada dirinya.
"Ayolah Jess, tunjukan dirimu pada Kamila. Jangan lemah di hadapanya, ayo bangkitlah, kau hanya sedikit pusing dan lemas saja. Sebentar lagi berhenti. Ayo Jess." Jessica terus menyemangati dirinya sendiri.
Ia mencoba mengumpulkan seluruh tenaganya, lalu keluar dari kamar. Ia berjalan menuju rumah utama.
"Selamat pagi, Serigala," sapa Ken seperti biasa, namun ia tidak menyadari wanita di hadapannya itu sedikit berbeda.
"Hmmm, Kamila sudah selesai sarapan?" tanya Jessica pada Ken, namun menatap ke arah lain, mencoba menyembunyikan wajah pucatnya.
"Mungkin sudah." Ken yang sudah biasa dengan sikap Jessica tidak keberatan jika Jessica memalingkan wajah padanya.
"Pagi, Kak Jess." Suara ceria Kamila terdengar oleh Jessica. Ia berjalan keluar dari rumah diikuti oleh Aldy.
Aldy yang menyadari perbedaan dari penampilan Jessica melangkah mendekati wanita itu.
"Apa kau sakit?" Aldy menempelkan tangannya pada kening Jessica cukup lama, Jessica tidak menolak tangan Aldy. Namun mengambil langkah mundur agar ada jarak diantara mereka.
"Astaga, kenapa wajah Kak Jess sangat pucat," ucap Kamila mulai panik ketika menyadari maksud ucapan Kakaknya tadi.
"Kau sangat panas dan wajahmu sangat pucat seperti mayat." Aldy menurunkan tangannya lalu menatap Jessica dalam.
Yang ditatap tidak bicara sepatah katapun.
"Ken, telpon dokter Rhani!" perintah Aldy. Ia belum memalingkan tatapannya dari Jessica.
"Baiklah." Ken langsung menghubungi dokter pribadi Keluarga Pranata itu.
"Kau tidak istirahat dengan benar,'kan?" tanya Aldy, ia masih menatap Jessica.
"Kak Jess, apa yang terjadi?" Kamila berjalan ke arah Aldy dan Jessica, lalu berdiri di belakang punggung sang kakak.
"Kak Aldy, apa yang terjadi?" Kamila bertanya pada Aldy karena tidak mendapatkan jawaban dari Jessica.
"Antar dia untuk beristirahat." Aldy memutar badannya menghadap Kamila.
"Saya akan mengantar Kamila ke kampus dulu baru istirahat, Tuan," ucap Jessica lemas.
Jessica memang sudah terlihat sangat pucat tapi ia tidak bisa membiarkan Kamila ke kampus sendirian.
"Jangan pikirkan Kamila, pikirkanlah dirimu sendiri." Suara Aldy mulai tegas.
"Sejak kapan kau memikirkan orang lain selain keluargamu," Batin Ken
"Aneh, biasa Kak Aldy tidak pernah perduli jika orang lain sakit kecuali padaku." Batin Kamila
"Kenapa seperti ini." Batin Jessica
"Kak Jess istirahat saja, Kamila akan pergi bersama Kak Ken dan Kak Aldy." Kamila menarik tangan Jessica hendak mengantar sampai kamarnya.
"Pergilah Kamila, aku bisa sendiri." Jessica melepaskan tangannya dari Kamila.
"Maksud Kak Jess, nanti kau bisa telat." Ia menjelaskan maksudnya setelah melihat wajah sedih Kamila.
"Berjanjilah Kak Jess akan sembuh."
"Sakit dan sehat itu ada di tangan Tuhan, Kamila adikku sayang." Jessica mencoba mengukir senyum di bibirnya.
"Kak Jess istirahat, ya. Sebentar lagi Dokter Rhani pasti datang," ucap Kamila.
"Kamila begitu menyayangimu, mungkin melebihi sayangnya padaku." batin Aldy
Jessica berjalan dengan terbatah batah menuju rumah belakang. Seseorang berjalan mendekat ke arahnya lalu merangkul tangannya, membantu ia berjalan.
"Apa yang anda lakukan, Tuan, saya masih bisa berjalan." Suara Jessica mulai terdengar lemas.
"Jangan banyak membantah!" tegas Aldy.
Hati Aldy terasa sakit ketika melihat wanita itu tidak berdaya, sebelum ini ia selalu melihat tubuh Jessica berdiri tegap dan hari ini dia melihat wanita itu tidak kuat untuk berjalan sendiri.
"Aku sampai lupa, kau juga manusia biasa sepertiku. Ada saatnya kau sakit dan juga sehat,'kan." Aldy membantin.
Ken dan Kamila yang melihat dari kejauhan hanya tersenyum tanpa berbicara apapun.
"Ayo kita berangkat, apa yang ingin kau lihat?" Suara Ken kembali dingin.
"Bagaimana dengan Kak Aldy, apa kita tidak menunggunya saja?" tanya Kamila ragu.
"Kau ingin telat atau tidak, jika tidak masukkanlah tanpa banyak bicara dan bertanya!" Ken mulai masuk ke dalam mobil meninggalkan Kamila yang masih mematung.
"Hai Nona Manja, kau tidak masuk. Dalam hitungan ketiga aku akan
meninggalkanmu sendirian!" ucap Ken mengancam.
Kamila langsung masuk ke dalam mobil setelah mendengar ancaman dari Ken.
______
"Istirahatlah, aku akan menyuruh pelayan membawakan sarapan untukmu." Aldy menutup pintu kamar Jessica, dia tau Jessica tidak pernah sarapan sepagi ini, mungkin itulah yang membuatnya semakin lemas dan tidak berdaya.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan Muda?" Kepala pelayan itu berjalan mendekat ke arah Aldy.
"Siapkan sarapan lalu berikanlah pada Jessica dan pastikan dia benar-benar memakannya!" Suara dingin miliknya mulai muncul.
"Baik, Tuan Muda," jawab Kepala pelayan sopan.
Kepala pelayan itu segera masuk ke dalam dapur belakang.
Apa yang terjadi pada Jessica sehingga Tuan Muda sendiri yang langsung turun tangan.
Apa dia sakit ?
Seorang pelayan keluar dengan membawa roti panggang dan juga susu menuju kamar Jessica.
Tok...tok...
"Jess, bukalah pintunya."
Jessica benar-benar lemas tidak berdaya, bahkan untuk bangkit dari tidurnya saja ia tidak mampu.
"Mbak masuk, ya." Kelapa pelayan itu masuk lalu diikuti seorang pelayan yang membawa sarapan tadi.
"Astaga, apa yang terjadi padamu, Jess, kenapa sepucat ini." Kepala pelayan itu mulai panik ketika melihat Jessica yang terbaring tidak berdaya di atas tempat tidurnya.
"Aku tidak apa-apa, Mbak, hanya sedikit lemas dan pusing saja," jawab Jessica lalu mencoba tersenyum namun tidak berhasil.
"Sini biar Mbak bantu untuk duduk." Ia membantu Jessica duduk dan bersandar.
"Makanlah dulu, agar kau mempunyai sedikit tenaga." Pelayan itu memberikan roti dan susu pada Jessica.
"Aku tidak lapar, Mbak," tolak Jessica.
"Makanlah, ini perintah dari Tuan Aldy." Kepala pelayan mencoba cara ini agar Jessica mau makan.
"Sini biar Mbak bantu." Keduanya ingin meraih roti itu dari Jessica.
" Tidak apa-apa, Mbak, Jessica bisa sendiri," tolak Jessica sopan.
Jessica memotong pinggir roti itu lalu memasukkan pada mulutnya.
"Baiklah, kau makan dan minumlah. Mbak akan kembali ke rumah utama dulu." Dengan berat keduanya meninggalkan Jessica.
"Gimana, dia sudah makan?" tanya Aldy memastikan. Aldy kembali ke rumah belakang bersama dengan Dokter Rhani.
"Sudah, Tuan," jawab Kedua Pelayan tadi lalu menundukkan kepala hormat dan kembali ke rumah utama.
Aldy dan Dokter Rhani masuk ke dalam kamar Jessica, wajah Jessica semakin terlihat sangat pucat.
"Aku akan memeriksanya dulu." Dokter Rhani mendekat ke arah Jessica. Setelah memeriksa, ia bicara pada Aldy.
"Dia sedikit tertekan, itu yang menyebabkannya pusing dan lemas seperti ini, ditambah lagi dia belum pernah makan dari kemarin." Dokter Rhani menjelaskan apa yang terjadi.
"Apa tidak dibawa ke Rumah Sakit saja, Dok?" Aldy khawatir melihat keadaan Jessica.
"Tidak usah, dia hanya butuh sedikit ketenangan dan juga istirahat." Dokter Rhani meyakinkan Aldy.
"Istirahatlah, Jess," gumam Aldy melirik ke arah Jessica yang tertidur.
______
Kamila turun dari mobil Ken dengan wajah lesu dan khawatir, ia berjalan keluar dari area parkir.
"Tumben nggak dianter sama Kak Jess?" tanya Elis karena melihat Kamila turun dari mobilnya tanpa Jessica.
"Hmmm, Kak Jess sakit," jawab Kamila tanpa melihat ke arah orang yang bertanya.
"Sakit apa, Mill?" Yang lain ikut panik tidak karuan.
"Badannya panas banget terus mukanya pucat kayak mayit tadi," ucap Kamila semakin khawatir dengan keadaan Jessica.
"Astaga, titip salam buat Kak Jess, ya. Semoga Cepat Sembuh." Elis merangkul Kamila lalu berjalan menuju Kelas.
"Hmmm." Kamila sudah terbiasa menjawab pertanyaan atau perkataan orang dengan berdehem, bagaimana tidak, dia selalu mendengar jawaban seperti itu dari ketiga orang dingin yang selalu di dekatnya.
"Mill, jawab dong jangan Hmmm... Hmmm... aja," protes Elis yang mulai kesal dengan jawaban Kamila.
"Kamu banyak omong, banyak tanya, kepalaku semakin pusing, tau." Kamila mendengkus kesal.
Aku tidak bisa tenang kalo kayak gini...
Kamila mencoba fokus dengan Dosen di depan, walau pikirannya terus terbang pada keadaan Jessica di rumah.
_______
Ken melajukan mobil ke arah perusahaan, sebelumnya ia mendapat telpon dari Aldy.
"Hallo Ken."
"Aku sudah di Perusahaan jadi langsung saja ke sini." sambungnya, lalu memutuskan sambungan telepon sebelum Ken menjawab satu katapun.
"Selalu seperti ini." Ken menatap layar Hp-nya kesal.
Pikiran Ken melayang kemana-mana.
Aku sampai lupa kalau Serigala itu pun manusia biasa pada umumnya. Dia juga bisa sakit dan juga lemah. Ken
Mobil Ken sudah terpakir rapi, ia memasuki gedung perusahaan dengan wajah dingin dan tatapan tajamnya, membuat setiap Pengawai yang bertemu dengannya gemetar karena takut akan sorot matanya yang mematikan.
Grekk..
Ken membuka pintu ruangan Aldy dengan tenang. Ia masuk sambil membawa beberapa hasil laporan bulan ini.
Aldy masih sibuk membaca dan menandatangani berkas-berkas penting di atas mejanya .Begitu pula Ken, ia sibuk membaca dan memeriksa laporan tadi. Setelah selesai dengan urusannya Aldy berjalan menuju sofa lalu menyadarkan kepalanya.
"Ken." Aldy memanggil Ken yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Hmmm, aku masih belum selesai, Bro." jawab Ken tanpa melihat ke arah Aldy.
Jawaban seperti ini sudah biasa diantara keduanya, Aldy memang menganggap Ken sudah lebih dari saudara ataupun Asisten Pribadinya.
"Selesaikanlah, dulu." Aldy menyadarkan kepala pada sofa empuk di dalam ruangannya.
Ken duduk di samping Aldy setelah semua pekerjaannya selesai, ia menenguk air mineral dingin yang dibawa oleh seorang Staf yang baru saja keluar.
"Kau lihatkan keadaannya tadi pagi?" Aldy mulai bicara.
"Aku kira ia tidak bisa sakit dan selemah itu." Ken tidak menyadari apa yang ia ucapkan.
"Pikiranku pun sama denganmu, aku sampai lupa bahwa dia manusia biasa sama seperti kita." Aldy menenguk airnya sampai habis.
"Sejauh ini, dia selalu berdiri tegak dalam menghadapi masalahnya kecuali..." Ken memotong ucapannya sambil menatap kearah Aldy.
"Kecuali apa? ada yang kau sembunyikan dariku?" Aldy membalas tatapan Ken dengan sorot mata yang mematikan.
"Kecuali itu berhubungan dengan kecelakaan." Ken menarik nafas panjang.
"Aku juga merasa seperti itu, tadi malam aku melihatnya duduk termenung di pinggir kolam ikan, lalu aku menghampirinya." Aldy menceritakan semuanya pada Ken tanpa ia lebih-lebihkan atau ada yang disembunyikan.
"Aku merasa kasian dan juga kagum padannya." Ken menundukkan padangannya.
"Kenapa?"
"Aku merasa kasian karena di usia mudanya ia tumbuh tanpa kedua orang tua, walaupun ada Paman dan Bibinya tapi semua berjalan tidak semulus yang Jessica harapkan dari keduanya. Dan aku kagum padanya karena ia selalu menerima semua takdirnya dengan lapang dada dan ketangguhanya." Ken memang mengagumi Jessica dari awal, namun rasa kagumnya pada wanita itu bertambah setelah wanita itu menjadi Bodyguard Kamila.
"Kau menyukainya?" Aldy melirik kearah Ken.
"Bagaimana mungkin aku menyukai gadis lain, sedangkan Mamaku sendiri sudah menentukan calon menantunya," jawab Ken sambil tertawa kesal atas tindakan yang dilakukan Mamanya.
"Kau dijodohkan?" Aldy menunjuk ke arah Ken sambil tertawa geli.
"Terus saja menertawakan nasibku, aku sumpahkan kau juga akan mengalami hal yang sama denganku." Wajah Ken mulai kesal.
"Kau berani menyumpahiku, Ken." Persi Tuan Mudanya kambuh.
"Tidak, Tuan. Saya hanya bercanda," jawab Ken meladeni sikap Aldy.
"Baguslah." Aldy Tertawa terbahak-bahak dengan aksinya sendiri.
Sejenak Keduanya melupakan derita yang dialami oleh Jessica.
____________
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 125 Episodes
Comments
Egha
setangguh apapun manusia tetap manusia yg di ciptakan oleh Tuhan dgn berbagai rasa n perasaan ,akal n pikiran
2021-08-17
0
Sabarina Sitepu
sampai sejauh ni, sampai bab ini alurnya sangat lambat thor, terasa sangat datar, belum nemu keseruannya, bahkan waktu bagian andre yg bersiteru ama jesika dan jack, kurang terasa action nya thor, mudah2an ke depannya lebih seru ya thor
2021-01-07
6
Ludwig Caspar SiregarChan
ceritanya menarik.. semangat ya...
2020-12-07
1