Guo Yun kecil tumbuh menjadi pemuda yang pendiam, dan tidak banyak bicara.
Dia sangat hormat dan menyayangi Fan Li yang di anggap sebagai ayah kandungnya.
Sedangkan ibu yang melahirkan dirinya, telah lama pergi meninggalkan dirinya sejak dia lahir kedunia.
Hal itu dia ketahui dari cerita Fan Li , Fan Li juga setiap setahun sekali, dia selalu mengajak Guo Yun mengunjungi makam ibunya.
Mereka berdua rutin membersihkan rumput liar, yang tumbuh di antara tanaman bunga anggrek, yang tumbuh subur di sekitar kuburan ibunya.
Guo Yun kecil sadar tanaman itu pasti di tanam oleh ayahnya, untuk mengenang ibunya.
Guo Yun kecil sangat kagum dengan rasa cinta ayahnya, ke ibunya yang begitu besar dan begitu mendalam.
Ayahnya yang begitu tampan, memilih hidup seorang diri membesarkan dirinya, tanpa mencari pendamping lain.
Hanya fokus dan mencurahkan seluruh kasih sayangnya hanya untuk dirinya.
Hal ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa, sangat mengagumkan, sehingga Guo Yun sangat mengidolakan ayahnya, yang juga sekaligus menjadi pengganti ibunya, dan merangkap sebagai gurunya.
Guo Yun juga sangat mengasihani kehidupan ayah nya yang kesepian dan selalu merindukan ibunya,
Sehingga dia sering menemukan ayahnya secara diam diam, sering menangis seorang diri sambil mengenang ibunya di depan makam.
Di tempat terpencil ini, Guo Yun hanya memiliki seorang teman Selain ayahnya.
Teman baiknya adalah si induk macan tutul, yang pernah menyusuinya selama 6 bulan sewaktu dia bayi.
Induk macan tutul itu selalu datang menjaga dan menemani Guo Yun kecil bermain secara diam diam, bila Fan Li sedang tidak berada di rumah.
Seperti pagi ini, Guo Yun kecil yang kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda tanggung berusia 15 tahun.
Dia sedang berlatih ilmu silat yang di turunkan oleh Fan Li, Guo Yun yang memiliki bakat yang tinggi dalam ilmu seni beladiri.
Setiap pukulan dan gerakannya terlihat mantab penuh tenaga, gerakannya juga sangat luwes dan lincah.
Dia mampu memainkan segala macam senjata dengan sangat baik.
Fan Li meskipun tidak sehebat Wen Zhong dan istrinya, dalam hal ilmu silat.
Karena dia lebih menyukai ilmu sastra ilmu astronomi dan strategi militer serta ilmu politik negara.
Tapi kemampuan ilmu bela dirinya terhitung sudah di atas rata-rata, jendral pada umumnya.
Di bawah pengajaran dan pengawasan Fan Li, Ilmu beladiri Guo Yun masih terhitung cukup lumayan.
Saat inipun terlihat Guo Yun yang sedang melayani Teman setianya, si induk macan tutul berlatih tanding.
Si induk macan tutul terlihat bukan lawan sepadan buat Guo Yun.
Gerakan Guo Yun jauh lebih gesit, juga jauh lebih cepat dari si induk macan tutul, yang terlihat kuwalahan menghadapi nya.
Karena merasa teman berlatih nya, sudah bukan lagi lawannya, Guo Yun pun menghentikan latihannya.
Memilih duduk santai di depan halaman rumah nya, sambil membelai macam betina tersebut penuh kasih sayang.
"Teman ku, apa kamu tahu ? dimana aku bisa menemukan lawan tanding yang sepadan..?"
tanya Guo Yun sambil membelai macan betina yang berbaring di sebelah nya penuh kasih sayang.
Fan Li sedang pergi berbelanja keperluan harian mereka, biasanya paling cepat 3 hari, terkadang bisa seminggu baru pulang.
Guo Yun yang mulai bosan berlatih seorang diri, dia jadi kepikiran ingin mencari teman berlatih yang jauh lebih kuat.
Sebenarnya Guo Yun sudah lama ingin mencoba berkeliaran di hutan ganas itu, mencari lawan tanding.
Tapi Fan Li tidak mengijinkannya, karena menganggap hal itu terlalu bahaya buat Guo Yun.
Tapi Guo Yun yang pernah mendapatkan berbagai cerita menakutkan di dalam hutan sana, seperti yang pernah di hadapi oleh Fan Li dulu, saat pertama kali datang ketempat ini.
Dia bukannya menjadi takut, justru dia menjadi semakin penasaran dan ingin pergi membuktikannya sendiri.
Kini pun dia sedang mencoba mencari tahu dari teman baiknya ini..
Macan betina itu menoleh kearah Guo Yun sekilas, dia seperti mengerti keinginan Guo Yun.
Dia mengangguk pelan, lalu dia berdiri dari posisi duduknya, kemudian melangkah masuk menuju hutan di belakang pondok rumah Guo Yun.
Guo Yun mengikuti langkah macan betina itu dengan penuh semangat, bermodalkan sebatang belati hadiah ulang tahunnya yang ke 10 yang di berikan oleh Fan Li kepadanya.
Guo Yun mengikuti macan betina itu memasuki sebuah hutan belantara, yang sangat lebat pepohonan nya.
Sehingga cuaca di dalam hutan tersebut terasa suram.
Semakin masuk kedalam hutan, tanpa di sadari jantung nya berdetak dengan cepat.
Adrenalin nya terpacu, oleh tantangan baru, yang belum pernah dia alami sebelumnya.
Macan betina terus membawa Guo Yun, hingga tiba di depan sebuah gua gelap, yang terletak di bawah sebuah tebing.
Di depan gua, macan betina itu menggereng keras, sambil memamerkan taring nya yang panjang dan tajam..
"Hrrrrrr,..!! Grrrrrr,...!!"
"Hrrrrrr,..!! Grrrrrr,...!!"
"Hrrrrrr,..!! Grrrrrr,...!!"
Setelah menggereng beberapa kali, di depan gua gelap itu.
Terdengar suara sahutan dari dalam sana, dengan suara yang jauh lebih keras dan menggetarkan seluruh tempat itu.
"Hrrrrrr,..!! Grrrrrr,...!!"
"Hrrrrrr,..!! Grrrrrr,...!!"
"Hrrrrrr,..!! Grrrrrr,...!!"
Dari balik gua terlihat dua bola lampu bersinar hijau, terlihat mencorong tajam.
Perlahan-lahan dari dalam gua melangkah keluar seekor macan, yang seluruh tubuhnya berwarna hitam.
Macan hitam itu, tubuhnya memiliki ukuran 3 kali lipat lebih besar dari ukuran tubuh macan betina teman Guo Yun.
Guo Yun langsung mencabut belati tajamnya, bersiaga menghadapi macan hitam, yang ukuran tubuhnya sebesar kerbau hutan dewasa.
Macan betina perlahan-lahan bergerak mundur, saat melihat Macan hitam melangkah keluar dari dalam sarang nya.
Mereka saling menggereng dan memamerkan taring, tapi yang satu terus melangkah mundur.
Yang lainnya terus melangkah maju.
Guo Yun berdiri diam di tempatnya menunggu pergerakan macan hitam itu.
Begitu Macan hitam itu bergerak menerkam kearah macan betina temannya.
Guo Yun pun melompat memberikan sebuah tendangan keras, kearah moncong macan hitam itu dari arah samping.
Macan hitam yang tidak menyangka, Guo Yun mampu memberikan serangan yang begitu keras dan kuat.
Tubuh macan hitam itu terpental menghantam tanah, moncongnya mengeluarkan darah segar.
Macan itu sambil meraung murka, dia langsung melompat berdiri, lalu berlari menerkam kearah Guo Yun.
Tapi terkaman nya menemui tempat kosong, sebaliknya sabetan pisau belati Guo Yun, malah berhasil melukai perut hingga keleher Macan itu.
Macan hitam itu menggereng semakin marah,.sambil memamerkan taring nya.
Dia kembali melompat dengan kecepatan tinggi menerkam kearah Guo Yun.
Tapi Guo Yun dengan gerakan gesit berhasil menghindari terkaman tersebut, dan membalasnya dengan sebuah tendangan menyamping, yang langsung mengenai telinga macan hitam itu.
Macan hitam itu merasa pendengarannya berdenging, pandangan matanya sedikit kabur.
Macan hitam itu menggelengkan kepalanya, untuk mengusir rasa tidak nyaman di bagian kepalanya.
Setelah kondisinya kembali stabil, sambil menggereng keras, dia kembali menerkam kearah Guo Yun dengan penuh kemarahan.
Guo Yun dengan tenang melompat kesamping, kemudian dia melompat keatas punggung macan hitam itu.
Diatas punggung macan itu,
Guo Yun berulang kali
menghujamkan.belatimya yang tajam, kearah leher macan hitam itu.
Macam hitam itu melompat kesana kemari untuk menjatuhkan Guo Yun dari punggungnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 641 Episodes
Comments
John Singgih
akhirnya Guo Yun dapat lawan yang seimbang
2023-09-20
2
BaronMhk
💪💪💪💪💪
2023-04-25
1
BaronMhk
🙏🙏🙏
2023-04-25
1