"Pranggg,..! Pranggg,..! Pranggg,..!
Pranggg,..! Pranggg,..! Pranggg,..!
Pranggg,..! Pranggg,..! Pranggg,..!"
Tindakan Wen Zhong langsung di ikuti oleh seluruh pasukannya.
"Di kehidupan mendatang bila berjodoh, aku tetap ingin menjadi saudara kalian semua nya..!"
teriak Wen Zhong sambil mencabut dan mengangkat pedang merahnya tinggi tinggi.
pasukan Wen Zhong semuanya juga mengangkat senjata nya tinggi tinggi di atas kepala, sambil berteriak riuh rendah penuh semangat.
Sesaat kemudian Wen Zhong menoleh kearah istrinya dan menganggukkan kepala.
Mu Gui Ying menyambutnya dengan anggukan kepala sambil tersenyum lembut.
Wen Zhong kemudian menoleh kearah kedua ajudannya, dan menganggukkan kepalanya kepada mereka berdua.
Kedua ajudannya langsung membalas menganggukkan kepala dengan penuh semangat.
Wen Zhong meletakkan kedua jarinya didepan bibir, lalu dia bersiul keras, seekor kuda hitam berpacu cepat menghampirinya, Wen Zhong langsung melompat ringan duduk di punggung kuda tersebut.
Dia langsung memacu kudanya menuju garis depan.
Istri nya Mu Gui Ying juga melakukan hal yang sama, begitu siulan kerasnya dia lepaskan. seekor kuda putih berpacu dengan cepat menghampiri dirinya
Mu Gui Ying dengan tenang melompat duduk di atas punggung kudanya.
Dia lalu memacu kudanya ke garis depan menyusul suaminya, ditangan kanannya terlihat dia membawa sebatang tombak perak yang berkilauan tertimpa cahaya matahari.
Wei Su dan Wei Sin berlarian menyusul di belakang Mu Gui Ying dan Wen Zhong.
Di ikuti oleh seluruh pasukan harimau hitam, yang bergerak membentuk formasi anak panah,
Mereka bergerak mengikuti kode bendera, yang di kibarkan oleh Wei Su.
Sesaat kemudian perang pun kembali pecah, Wen Zhong memimpin pasukan nya menerjang kepungan musuh yang berjumlah jauh lebih banyak dengan gagah berani.
Setiap pedangnya bergerak, pasti ada puluhan pengepung yang roboh.
Kuda hitam nya juga bukan kuda sembarangan, kuda hitam nya sangat terlatih, kuat dan lincah.
Setiap tendangan kaki depannya, maupun tendangan kaki belakangnya, selalu membantu Wen Zhong merobohkan pasukan gabungan, yang mengepung mereka.
Sudah tak terhitung pasukan pengepung yang roboh di tangan Wen Zhong dan kudanya.
Wen Zhong terus memacu kudanya menerjang kesana kemari, berusaha membunuh musuhnya sebanyak banyaknya.
Dia terus berusaha menerobos kepungan, ingin menghampiri Xiang Yan, yang berada di posisi sebuah dataran tinggi yang di kelilingi Padang rumput luas.
Posisi daratan tinggi itu, mirip sebuah bukit kecil dan di sekitarnya terlihat di jaga ketat oleh pasukan gabungan yang berlapis lapis.
Bagaimana pun Wen Zhong berusaha dia tetap kesulitan mencapai posisi itu.
Xiang Yan memberi kode agar barisan pasukan tameng, dan tombak bergerak menjepit, untuk mempersempit arah gerak Wen Zhong.
Pasukan tameng pun bergerak perlahan-lahan mengepungnya, dengan tameng di depan, lalu tombak menyusul menusuknya dari segala arah.
Tapi Wen Zhong dengan gagah menebas putus seluruh mata tombak, dengan pedang merahnya.
Dia dengan gerakan ringan melompat dari punggung kudanya, terbang keatas, Wen Zhong memberikan sebuah Tebasan serangan pedang, secara memutar kearah para pengepungnya.
Para pasukan pengepung itu langsung terpental kebelakang, menimpa kawan kawan di belakang mereka.
Tameng besi berat dan besar mereka tinggal separuh, karena tameng mereka telah terbelah dua, tidak kuat menahan sinar merah pedang Wen Zhong, yang di tebaskan melewati mereka.
Wen Zhong kembali mendarat di punggung kudanya.
Dia memacu kudanya mencoba menerobos kepungan.
Tapi pasukan pengepung yang mengikuti kode dari Xiang Yan, pasukan tameng di belakang mereka, langsung maju menggantikan temannya yang roboh tadi.
Sehingga posisi kembali seperti semula lagi, seolah-olah tidak pernah terjadi apa apa.
Kini sadarlah Wen Zhong, Xiang Yan yang licik sedang menggunakan strategi perang Roda pedati.
Pasukan nya yang menang jumlah akan terus saling bergantian maju mengepungnya.
Hal itu di lakukan untuk menguras energi dirinya, dan energi pasukannya.
Tapi saat ini dia tidak punya pilihan lain, selain terus merangsek maju, kalau bisa mencoba menangkap Xiang Yan, mungkin mereka masih ada harapan meninggalkan tempat ini dengan selamat.
Wen Zhong kembali menerjang kearah pasukan pengepungnya, mengikuti instruksi dari Xiang Yan, tiba-tiba jaring bertebaran di udara, di lempar kearahnya,
Tapi pedang merah Wen Zhong, selalu berhasil membelah jaring jaring, yang datang berhamburan kearahnya.
Sambil melempar jaring jaring, yang dipasangi mata pancing, pasukan pengepung juga terus maju dengan tameng dan tikaman tombak mereka.
Rencana mudah tapi prakteknya tidak lah mudah, untuk bisa menangkap Wen Zhong.
Kini Wen Zhong bila tidak bergerak mengincar kepala para pengepungnya, dia Pasti akan mengincar kaki mereka.
Dengan cara ini Wen Zhong berhasil mengendorkan pengepungan nya
Di tempat lain Mu Gui Ying juga tidak kalah hebat dengan suaminya, tombak peraknya bergerak kesana kemari seperti tongkat malaikat elmaut.
Setiap kali tombaknya berkelebatan kesana kemari, pasti selalu ada pengepungnya yang roboh.
Beberapa kali tombaknya berhasil menembus tiga orang sekaligus dalam satu kali tusukan.
Untuk mencabutnya, dia harus terbang dari punggung kudanya, lalu memutar mutar tombaknya mengelilingi tubuhnya mencegah pengepung mendekatinya.
Setelah itu dia baru terbang kembali ke punggung kudanya, dan kembali melanjutkan menyerang pengepungnya, dari atas punggung kuda.
Sedangkan Kudanya mengikuti arahan nya terus berpacu kedepan menabrak para pengepung, yang menghalangi jalannya.
Bukan hanya tusukan tombak nya saja yang berbahaya, bahkan pukulan pinggiran tombaknya, sanggup memecahkan helm pelindung kepala para pengepungnya, hingga kepala para pasukan pengepung itu bocor, mengalami pendarahan hebat dan gegar otak.
Di tempat lain Wei Su yang menggunakan sepasang Gada Labu,.dan Wei Sin yang menggunakan dua buah tongkat besi berulir.
Pergerakan mereka juga sangat cepat dan ganas.
Kemanapun sepasang senjata mereka mengayun, pasti ada korban yang roboh bersimbah darah.
Pasukan harimau hitam sendiri yang bertempur dalam formasi.
Mereka juga sangat kuat dan kompak, sangat sulit bagi pasukan lawan untuk berhasil menyerang mereka.
Bahkan saat Xiang Yan memberi kode agar menghujani mereka dengan senjata panah.
Mereka dengan sigap langsung mengangkat tameng, untuk melindungi tubuh mereka dan teman teman mereka secara kolektif.
Lalu mereka bergerak balas menyerang dengan tusukan tombak panjang, lewat celah celah kecil antara tameng dengan tameng.
Waktu terus bergulir dengan cepat tahu tahu sudah memasuki matahari tenggelam.
Tapi atas instruksi Xiang Yan, pengepungan dengan menggunakan penerangan obor terus berlangsung.
Pasukan pengepung, yang terdiri dari gabungan pasukan 4 negara, dengan mudah secara bergantian bertukar Shift, saling bergantian melakukan pengepungan.
Hanya pasukan harimau hitam yang terkepung habis habisan, tidak bisa beristirahat sama sekali, bahkan sekedar minum air pun terasa sulit, apalagi beristirahat.
Mereka semua di dalam hati juga tahu, meski bisa beristirahat, mereka juga sudah tidak ada ransum makanan lagi.
Saat ini selain bertempur dan terus bertempur, hingga titik darah terakhir, mereka sudah tidak ada jalan lain.
Harapan mereka satu satunya adalah adanya bala bantuan kapal dan ransum makanan, yang di kirimkan oleh pihak kerajaan.
Bila tidak tempat ini pasti akan menjadi tempat peristirahatan terakhir mereka.
Wen Zhong dan istrinya sedikit demi sedikit terus merangsek maju menembus kepungan, untuk berusaha menjangkau Xiang Yan.
Tapi setiap mereka menembus satu baris, pasti akan muncul baris lainnya, yang menutupi pergerakan mereka.
Xiang Yan pun harus kembali mundur satu baris kebelakang, sehingga harapan mereka untuk menjangkau menangkapnya, juga hanya tinggal harapan kosong belaka.
Pada satu kesempatan Mu Gui Ying berhasil merebut sebuah tombak pengepung nya.
Dengan di bantu sepasang telapak tangan suaminya sebagai batu pijakan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 641 Episodes
Comments
bambang setyono
alur ceritanya mengalir, mantabb. lanjut thor
2023-12-22
1
John Singgih
kayaknya sulit menang ini gara-gara Baginda raja lebih mementingkan gengsi dirinya sendiri
2023-09-19
1
Dhika aja
cerita yang sangat menarik
2023-01-12
3