Dara masa bodoh dengan ucapan Liang Si, dia sama sekali tidak menggubrisnya, "Mengapa Jang Min lama sekali?" batin Dara masih hilir mudik di tengah jalan menantikan Jang Min.
"Li Phin, masuklah ke dalam!" perintah Liang Si.
"Suit!" Dara memanggil kudanya yang segera berderap mendekati Dara yang langsung melesat naik ke punggung kuda menyusul Jang Min.
"Li Phin?! Apakah dia mulai tebar pesona kepada Jang Min? Sialan, apa sih, hebatnya Jang Min?" batin Liang Si kecut dan penasaran. Ia hanya mendengar selentingan jika Jang Min hanyalah tangan kanan kepala Jenderal Li Sun sehingga Jang Min sebagai panglima Jenderal Kekaisaran Donglang.
***
Dara menghela kuda menyusul Jang Min ia merasa jika Jang Min pasti mendapat musibah walaupun dia sendiri tidak tahu, "Apa yang sebenarnya terjadi, pada Jang Min?" batik nya sedikit khawatir, Dara merasa kewajiban dirinya untuk menolong sekutunya, apalagi mereka dari batalyon yang sama. Ia selalu menaati semua peraturan itu, "aku harap Jang Min tidak terluka, bertahanlah Tuan Jang!" batin Dara.
Dara melesat membelah debu yang berterbangan dan cuaca panas juga petak-petak sayuran dan kebun buah-buahan penduduk. Dara tidak mengetahui jika ia telah memasuki wilayah perbatasan gurun di mana Kota Changsha yang merupakan kota tetangga kerajaan Donglang yang selalu berperang dengan Donglang.
Kerajaaan Changsha selalu bersekutu dengan kerajaan Qin dan Mongol mereka ingin menumbangkan Kerajaan Donglang. Namun, semua itu tidak pernah berhasil selama Li Sun sebagai kepala keamanan Kekaisaran Donglang.
Dara menatap gurun yang membentang lebar di depannya, "Jang Min?" teriak Dara melihat jika pertempuran di gurun benar-benar dahsyat, dia melihat Jang Min sedang di keroyok oleh tentara Mongol dan Qin.
Jang Min melesat di udara dengan pedang dan baju zirahnya. Dara mengambil busur dan anak panah dari balik punggung sambil menunggangi kuda ia langsung melontarkan anak panah sekaligus 5 buah anak panah melesat mengenai dada musuh yang langsung ambruk.
Kuda Dara semangkin kencang melesat secepat anak panah yang terus dilontarkannya, "aku bersyukur membawa anak panah banyak hari ini!" batin Dara yang terus melesat.
"Nona Li Phin!" batin Jang Min tidak menyangka jika wanita muda yang mulai beberapa hari ini mengganggu tidurnya telah menyusul dan menuju ke arahnya dengan anak panah yang berterbangan membunuh musuh di sekelilingnya.
Jang Min semakin semangat melihat wajah cantik itu terus menuju ke arahnya tanpa rasa takut maupun gentar, ia merasa Li Phin bagaikan angin dan setetes air segar di tengah gurun.
Keokkan burung bangkai mulai bernyanyi mengitari angkasa menantikan tubuh-tubuh yang menjadi bangkai sebagai pemuas kelaparan mereka.
Jang Min melihat Li Phin berdiri di atas kudanya yang berlari kencang tanpa takut langsung menarik pedang biasa di pinggangnya menebas musuh, "apakah pedang dari Jenderal Li begitu berbahaya sehingga ia tidak berani menggunakannya?" batin Jang Min.
Ia pun semakin gencar membunuh musuh yang menyerangnya. Dara di dalam tubuh Li Phin melesat secepatnya mendekati Jang Min, "Mengapa kau begitu lama Tuan Jang?" tanya Dara.
"Aku terjebak di sini! Apakah kamu merindukanku?" tanya Jang Min bercanda.
"Huek! Tidak akan pernah!" balas Dara merona merah.
Bruk!
Li Phin terjatuh di dalam benak tubuh Li Phin tertawa terpingkal-pingkal yang entah sejak kapan Li Phin sudah kembali berada di dalam benak tubuhnya.
"Selamat datang! Tertawalah sepuasmu!" geram Dara.
"Apakah kau merindukanku? Ah, manis sekali! Aku tidak menyangka jika Tuan Jang benar-benar jatuh cinta padamu!" ujar Li Phin tertawa.
"Li Phin sayang … Apakah kamu lupa? Jika aku pergi dari tubuh ini, apakah kamu tidak takut jika dia terus mengejar-ngejar dirimu?" tanya Dara.
"Apa?" ucapan Dara menyadarkan Li Phin, "gila! Aku tidak menyukai Tuan Jang!" ucap Li Phin.
"Makanya jangan mengejekku!" jawab Dara puas.
"Hadeh, tapi … boleh juga, dilihat-lihat Tuan Jang tampan juga," goda Li Phin.
"Li Phin! Aku tidak mau jatuh cinta di zaman anehmu ini!" teriak Dara kesal langsung menebas musuh sekaligus 5, ia benar-benar marah akan segala perkataan Li Phin, ia juga kesal jika ia juga merasa sedikit tertarik dengan Jang Min.
"Ayolah, Dara! Selesaikan saja semua pertempuran ini. Aku sangat lelah, kau tahu setiap kau selalu menggunakan tubuhku untuk bertarung aku selalu suka mengoceh! Karena aku sangat takut melihat pedang itu akan memenggal kepala kita," ujar Li Phin, "Awas, dari atas!" teriak Li Phin.
Dara melesat menangkis dan membunuh musuh mereka, beberapa menit kemudian semua tentara Mongol dan Qin, menghilang masuk ke dalam gurun tinggallah Dara dan Jang Min.
"Ayo, tinggalkan tempat ini," ajak Jang Min menaiki kuda dan menarik tubuh langsing Li Phun bak seonggok pedang langsung meletakkan ke pelana kuda di depannya.
"Suit!" suitan Dara membuat kuda hitamnya melesat mengikuti mereka melewati tembakan meriam di tengah gurun.
"Sial! Mereka benar-benar ingin membunuh kita!" teriak Dara.
"Kamu pikir semua ini seperti permainan sandiwara opera jalanan!" tanya Jang Min.
"Opera jalanan? Apa itu?" tanya Dara bingung menelengkan wajahnya ke arah wajah Jang Min dan tanpa sengaja Jang Min mendaratkan bibirnya tepat ke pipi Li Phin, "Dara! Pipiku ternoda! Aku sudah menjaganya selama 20 tahun dan Jang Min begitu saja mengecupku," teriak Li Phin di benak Dara.
Dara terkesiap ia juga bingung harus berkata apa, sementara badai tembakan meriam dan ledakan pasir di kanan-kiri, muka-belakang mereka terus berdentuman. Tembakan meriam membuat lubang menganga di tengah gurun dan badai pasir.
Jang Min melesat memacu kudanya menghindari semua itu, "Ya Dewa, apa yang telah aku lakukan? Bisa-biasa Noma Li akan marah padaku," batin Jang Min. Namun, nalurinya masih berusaha untuk menyelamatkan mereka berdua.
Jang Min terus memacu kuda menuju ke dalam hutan di sebelah kanan mereka membuat serangan meriam tak lagi menyerang mereka, "Aku akan menaiki kudaku sendiri," ucap Dara melesat mendarat di pelana kudanya si hitam. Keduanya memacu kuda memasuki hutan semakin dalam, "Hutan apa ini?" tanya Dara pada Jang Min saat keduanya berhenti untuk meminum air dari sungai kecil yang mengalir di bebatuan kerikil berkilau.
"Aku tidak tahu, apakah ini masuk wilayah Changsa atau Donglang, berhari-hatilah!" balas Jang Min.
"Baiklah, um … sebenarnya, apakah Mongol akan menyerang Kekaisaran Donglang begitu?" tanya Dara ingin tahu.
"Mereka selalu saja membantu Changsa dan Qin untuk mewujudkan keinginan Changsa untuk menguasai Tiongkok. Mengapa kamu bertanya?" ujar Jang Min meminum air dari telapak tangannya dan mengisi kantong air begitu Dara melakukan hal yang sama.
"Sial! Hujan datang!" teriak Dara, ia dan Jang Min berlari mencari tempat berteduh di sebuah akar batang kayu yang sangat sempit yang hanya muat untuk satu orang sehingga Dara berusaha untuk ke luar dari Akar kayu tersebut. Namun, Jang Min menarik tangan Dara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Kartika Lina
hahahahaha,,.pipinya dah ga perawan lagi 🤣🤣🤣🤣
2024-09-27
0
Hana Nisa Nisa
👍👍👍👍👍
2023-08-04
0
ARA
😂😂😂😂😂😂😂😂😂
Ikutan Li Phin ketawa😜
2022-10-30
1