Semua prajurit mulai bersiaga dengan pedang dan tombak mereka, mencoba untuk menanti apa yang akan terjadi. Beberapa pria Mongol melesat dari atap rumah penduduk melontarkan jarum beracun dan senjata rahasia.
"Hati-hati!" teriak Dara. Ia langsung melesat secepatnya berusaha untuk menangkis serangan yang mengarah kepada mereka Jang Min melesat dengan tubuh seringan kapas menghadang semua senjata rahasia dengan luar bisa menggunakan pedangnya yang berputar mengeluarkan angin kencang.
"Ya, Tuhan aku seperti di dalam film animasi Kuruma yang sedang booming saja!" batin Dara terpaku.
Tring!
"Jangan terlalu terpesona, Nona! Jika kau ingin selamat!" Jenderal Jang Min tepat di depannya melompat menarik tubuh Li Phin ke pelukannya dan mendarat dengan anggun di tanah.
"Oh, ma-maaf!" balas Dara sedikit malu ia tidak menyangka jika ia bisa begitu tolol hanya karena seorang Jang Min,
"Hahaha, jangan jadi tolol karena cinta!" sindir Li Phin.
"Diamlah! Aku hanya lengah, di zamanku tidak ada orang sehebat itu, wajarkan?" balas Dara membela diri.
"Awas, belakangmu!" teriak Li Phin.
Trang! Trang!
Dara langsung memutar tubuhnya dan memenggal kepala musuh, "Li Phin sepertinya aku mengenal pria ini?" ucap Dara.
"Di mana? Bukankah kamu orang baru di zaman ini," ucap Li Phin ikut bergerak memperhatikan setiap belakang tubuhnya yang digunakan oleh Dara membabat musuh di depan dan sampingnya.
"Aku melihatnya di penginapan! Kala bertarung dengan orang Mongol. Um, apakah kau tahu sesuatu Li Phin?" tanya Dara.
"Aku tidak tahu apa pun aku sibuk mengejar cinta!" keluhnya kesal dan menyesali betapa dungunya dia dulu, "Dara! Pria di atas sana ingin memanah prajurit! Istrinya sedang hamil besar," teriak Li Phin.
Dara melesat melindungi prajurit yang berperang di samping mereka dengan kuda membantai orang Mongol dia melihat prajurit itu sangat hebat dan selalu berkuda bersama ayahnya di samping Jang Min.
"Oh, terima kasih, Nona!" balasnya.
"Berhati-hatilah!" balas Li Phin melesat melompat melalui kudanya berusaha mengejar si pemanah dan melesatkan anak panahnya.
"Kau hebat sekali!" puji Li Phin, "dari mana kau belajar memanah?" tanyanya heran.
"Aku belajar menembak! Jadi ya ... aku rasa memanah dan menembak dengan pistol sana saja!" balas Dara.
"Oh, apa itu pistol?" tanya Li Phin.
"Woi, kita sedang bertempur! Nanti, saja bertanya. Um, dari mana kamu tahu jika prajurit itu istrinya sedang hamil?" tanya Dara.
"Aku mendengarnya, dia bicara dengan sesama prajurit di barak," balas Li Phin sekenanya.
"Hah! Kau bisa menghilang ke mana pun?" tanya Dara bingung.
"Awas, belakangmu!" teriak Li Phjn Dara kembali menebaskan pedang dan menyelipkan busur ke punggungnya.
"Kan aku sudah bilang, mungkin aku sudah mati! Karena kau menempati ragaku, aku bisa pergi sesuka hatiku! Lagian terlalu sesak di dalam sini," balas Li Phin.
"Apakah kau mengintip mereka mandi juga?" tanya Dara penasaran.
"Apa! Kau pikir aku seburuk itu? Aku hanya mengejar Liang Si. Bukan pria lain, dasar aneh!" balas Li Phin kesal.
"Aku kira saja …."
"Enak saja! Ayo, selesaikan perang ini. Aku kasihan melihat anak itu menangis dan ibunya terluka parah!" teriak Li Phin.
"Apakah kau tidak bisa menolongnya?" tariak Dara.
"Kau, gila! Aku tidak berarti jika tidak memiliki raga! Kalau bisa, aku sudah menolong anak itu!" sungut Li Phin.
"Baiklah! Baiklah! Bantu aku," ucap Dara.
Ia terus melesat memutar pedang dan tubuhnya dengan cepat berusaha untuk mengakhiri semua pertempuran. Jang Min telah berhasil membunuh sebagian musuh begitu juga dengan prajurit, "ternyata mereka prajurit tangguh!" batin Dara.
Mereka berhasil memukul mundur musuh, "Jangan biarkan mereka kabur!" teriak Jang Min murka. Dara dan Li Phin melihat Jang Min berbeda, "Ternyata dia bisa begitu mengerikan!" ucap Li Phin.
"Kau benar!" balas Dara. Jang Min menarik kekang kuda mengejar musuh yang berusaha kabur.
"Dara, biarkan saja! Aku yakin Jang Min akan berhasil. Sebaiknya, kita menolong warga yang terluka," cegah Li Phin.
Dara mengurungkan niatnya ingin naik ke punggung kuda, ia menghampiri warga yang terluka, "Jangan menangis, Nak. Ayo kita tolong Ibumu!" ajak Dara langsung mengangkat seorang wanita yang terluka di dada akibat sebuah panah, Dara mematahkan panah dan berusaha untuk mengeluarkannya.
"Jangan begitu! Nanti dia kehabisan darah," sanggah Li Phin.
"Lalu?" tanya Dara bingung ia selalu hidup di zaman modern yang canggih sehingga tidak mengetahui hal tersebut.
"Seperti ini," Li Phin langsung mengambil alih tubuh dan mencoba memberikan serbuk obat di luka si wanita dan memberikannya serbuk lain di mulut dan menuangkan air minum. Menotok darah di bagian punggung dan dada si wanita. Ia langsung mengeluarkan anak panah dan kembali membubuhkan obat, membalutnya dengan baik.
"Kau hebat, sekali!" puji Dara.
Beberapa prajurit langsung menolong semua warga ke sebuah rumah mengumpulkannya di sana beserta Li Phin yang berusaha untuk mengobati mereka.
"Dara, lanjutkan! Aku tidak bisa terlalu lama di tubuhku sendiri," ujarnya kembali berubah menjadi kabut tipis dan lenyap lagi.
"Dasar, hantu! Apa yang harus aku lakukan?" batin Dara bingung, "untung saja Li Phin memberikan gambaran tanaman obat dan namanya," batin Dara, sehingga Dara menyuruh prajurit untuk mengambil dan menggerus juga merebusnya.
Beberapa warga yang tidak terluka kemudian perlahan turut membantu, derap kuda semakin mendekat Dara dan prajurit kembali mengangkat senjata untuk melawan tetapi mereka melihat Li Sun dan Liang Si beserta bala bantuan juga Tabib Luo.
Membuat angin segar kepada Dara dan prajurit, "Bagaimana keadaan semua warga?" tanya Liang Si langsung turun.
"Nona Li Phin mengobatinya," balas salah satu prajurit. Liang Si menatap ke arah Li Phin yang berjalan meninggalkannya kembali mengobati warga. Tabib Luo langsung mendekat dan membubuhkan kembali obat kepada warga, "Untunglah Nona Li Phin benar-benar paham akan semua pengobatan ini. Jika tidak, kalian mungkin sudah tewas,
"Racun ini sungguh berbahaya. Kau hebat sekali Nona Li!" puji Tabib Luo.
Dara hanya tersenyum, "Li Phin memang hebat!" batinnya. Ia kembali ke luar menantikan Jang Min ia mulai cemas.
"Mana Jang Min?" tanya Liang Si mengikuti Li Phin.
"Mengejar penjahat! Dia tidak ingin membiarkan satu penjahat pun kabur!" ujar Dara dingin.
Liang Si menatap Li Phin yang masih memandang ke arah jalanan dan berharap Jang Min segera pulang. Rasa tidak suka merayap di hati Liang Si, "Lalu apa yang kau tunggu dan lihat?" tanya Liang Si.
"Apakah itu urusanmu?" tanya Dara Kesal, "selain banyak omong, Liang Si juga terlalu kepo! Persis wanita tua!" batin Dara kesal menatap malas ke arah Liang Si.
"Kau bisa menantikannya di dalam tenda, kau bisa membantu Tabib Luo," perintah Liang Si.
"Memang kau siapa?" batin Dara cuek saja tak mengindahkan perkataan Liang Si.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Kartika Lina
hahahaha,, bisa bisa nya li phon smaa dara nge ghibah padahal lagi berperang 🤣🤣🤣🤣
2024-09-27
0
Su San
kenapa gak dibunuh aja si liangsi... biar makin seeu
2023-05-05
2
Evi 060989
up
2022-08-13
2