"Bukankah prajurit rendahan seperti kita memang harus berjalan kaki?" tanya Dara.
"Itu bagi kami, bagaimanapun kamu adalah putri dari Jenderal Li Sun. Kamu tidak akan mampu berjalan sejauh itu ke Xuchang. Kamu bisa pingsan duluan, apalagi wanita manja seperti dirimu," ucap prajurit di sebelahnya.
"Aku akan belajar," balas Dara membungkam obrolan selanjutnya.
Cus!
"Awas, anak panah!" teriak seorang prajurit berkuda langsung mencabut pedang menangkis setiap serangan.
"Gunakan formasi!" teriak Li Sun.
"Ambil tamengmu!" ujar prajurit di sebelah Dara.
Dara langsung memakai tamengnya dan membentuk formasi bersama semua prajurit lain menutupi tubuh mereka dengan tameng membentuk sebuah kubah.
Prak!
Anak panah melesat menembus ke tameng plat besi tipis tersebut hampir saja melukai wajah Dara, "Sial! Hampir saja!" batin Dara kesal. Ia merasa bosan menunggu di dalam kubah dengan hujan anak panah yang terus menembus ke tameng mereka, salah satu prajurit sudah terkapar. Dentingan pedang di luar kubah semakin gencar Dara mengintai dari balik celah kubah.
"Sial, andaikan aku memiliki pistol! Hadeh ini bukan zamanku! Um," batin Dara menatap salah seorang prajurit membawa anak panah di punggungnya, "boleh aku pinjam panahmu?" tanya Dara.
"Silakan! Apa yang akan kau lakukan?" tanyanya bingung.
"Sudah berikan saja!" balas Dara. Si prajurit dengan ragu-ragu memberikan busur dan anak panahnya.
"Berikan semuanya, dan lindungi aku!" perintahnya. Ia langsung menarik busur dan melesatkan anak panah sekaligus 5 dari busurnya. Anak panah langsung melesat menuju ke arah datangnya anak-anak panah. Membuat teriakan kesakitan di seberang, Dara terus memanah dari balik celah kubah tameng.
"Wah, kau hebat sekali! Ayo, berikan lagi!" teriak seorang prajurit di sisi Dara.
Semua orang mengikuti apa yang dilakukan Dara sehingga hujan anak panah mulai berkurang dan sunyi sepi. Dara dan semua prajurit ke luar dari kubah dan tetap waspada.
"Siapa yang melakukan serangan balasan?" teriak Li Sun menatap ke arah prajurit.
"Maaf, Yang Mulia Jenderal! Saya yang melakukannya. Jika ingin menghukum, hukumlah saya," balas Dara berlutut.
"Kau!" ketus Li Sun tidak mempercayai apa yang didengarnya. Sebuah pedang melesat ingin menembus ke arah dada Li sun Dara melompat secepat kilat dengan keringanan yang ia sendiri tidak mengerti dari mana ia memiliki semua kekuatan itu.
Trang!
Dara menangkis pedang dengan tombaknya, membuat tombak terjatuh ke tempat berbeda. Beberapa orang telah muncul mengepung mereka, "Menyerahlah kalian! Jika tidak, kalian akan mati!" ujar pria bertopeng yang tidak lain adalah Tuan Ma.
"Apakah kau sadar telah mengepung siapa? Kami adalah prajurit dari Kekaisaran Donglang!" ujar Li Sun dengan lantang.
"Kami tidak peduli kau dari kekasisan mana. Apakah kau dari Kekaisan Langit sekali pun kami tidak peduli? Kami akan membunuh dan merampok kalian," balas Tuan Ma, "serang mereka? Jangan biarkan salah seorang hidup!" teriak Tuan Ma.
Seluruh kaki tangan Tuan Ma langsung menerjang dan mengayunkan pedangnya ke arah Li Sun dan prajuritnya. Trang! Trang!
Suara pedang berlaga bergema membelah tengah hari yang panas dan terik.
"Bagaimana dengan Li Phin?" batin Li Sun ia melihat ke arah Li Phin yang bergerak dengan tombak bertarung begitu gesit menghadang pedang dan keroyokan beberapa pria di depannya, "biadab! Menjauh dari putriku!" teriak Li Sun. Entah mengapa setelah sekian lama ia baru merasakan ia begitu jauh meninggalkan putrinya seorang diri menghadapi kegetiran hidup.
"Apakah kau baik-baik, saja Li Phin?" teriak Li Sun yang sudah berada di samping putrinya.
"Aku baik-baik saja, Ayahanda!" ujar Li Phin. Ia dan Li Sun saling membelakangi menghadapi musuh mereka, "Berhati-hatilah, Nak!" ucap Li Sun. Ia merasakan kasih sayangnya tak lagi tertahan, "entah apa yang telah terjadi dengan putriku hingga ia bisa seperti ini," batin Li Sun.
Li Phin menyerang dan menangkis musuhnya secepat dia bisa, "Aku tidak menyangka jika aku harus menggunakan tombak seperti di film-film, mereka sungguh lihai dan luar biasa!" batin Dara ia hanya menguasai taekwondo dan beberapa karate juga silat yang pernah dipelajarinya saat mengambil pelatihan Polwan.
Dara hanya mengandalkan hal itu, ia tidak pernah menggunakan pedang atau tombak sekali pun, ia merasa beban tombak begitu berat, tombak benar-benar membuatnya kelelahan apalagi tubuh lemah Li Phin benar-benar tidak mendukung.
"Nona Li Phin gunakan ini!" teriak seorang bawahan Li Sun salah satu orang kepercayaan Li Sun bernama Jang Min, melemparkan sebilah pedang tajam dan tipis.
Dara melompat mengambilnya dan melemparkan tombak ke arah salah satu anak buah Tuan Ma yang langsung terkapar tewas.
"Ini lebih ringan," batin Dara langsung menebaskan pedangnya dan darah mengucur dari lawan di depannya yang langsung terkapar tewas.
Byur!
Darah mengenai wajah Dara, bau amis menyengat. Ia tidak lagi peduli, "bukankah aku juga telah banyak melihat darah di perjalanan karirku sebagai seorang letnan?" batin Dara menguatkan hati. Walaupun ia tak pernah secara langsung membunuh orang di zamannya ia hanya menembak kaki si penjahat saja.
"syukurlah di zamanku ada undang-undang HAM, jika tidak itu sangat mengerikan," batin Dara terus bergerak mengimbangi kegesitan tubuh Li Sun di belakangnya.
Pertempuran semakin sengit, tabuh Li Phin mulai melemah, "mengapa tubuh ini begitu sulitnya? Jika begini terus-terusan aku bisa celaka!" batin Dara. Ia mengambil jeda di sela-sela hujaman pedang ke arahnya.
Li Sun langsung mengarahkan pedangnya menahan dan menyerang lawan mereka yang ingin melukai putrinya. Dara terduduk dengan bertumpu pada pedang sesak di napasnya, "apakah ini asma?" batin Dara tersengal.
Ia mengingat salah satu sahabatnya Andri seorang dokter menolong seorang pasien dengan memberikan sebuah obat dan tabung oksigen, "Di mana aku mencari tabung oksigen?" batin Dara bingung, ia mengingat di pinggangnya ada sebuah tabung di selipan pinggang yang diberikan oleh Ling'er untuknya.
Dara mengambil dan menghirup sebuah tabung dari kulit ia merasakan sebuah kerelaan sedikit demi sedikit ia kembali normal tidak lagi tersengal, Dara melihat Li Sun dikeroyok oleh musuh di depannya hingga terdesak.
"Sial! Jangan berani dengan Ayahku!" teriak Dara berlari dengan menyeret pedangnya, kilatan api berpendar dari pedang yang berlaga dengan bebatuan padas di jalan.
Kras! Kras!
Tikaman dan tebasan pedang Dara membunuh musuh di depannya membuat Li Sun tertegun ia tidak pernah menyangka akan diselamatkan oleh putri yang berulang kali ditepis kehadirannya di muka bumi dan telah membuat malu keluarga.
Tuan Ma merasa terdesak, "Bedebah! Aku tidak menyangka jika Putri Li Sun lebih tangguh darinya," batin Tuan Ma langsung kabur. Dara yang tidak pernah meninggalkan musuhnya langsung melesat meraih kuda hitam milik Li Sun dan mengejar Tuan Ma menebaskan mata pedang secepat kilat membuat kepala Tuan Ma bergelinding jatuh ke tanah dengan darah mengucur dari batang lehernya.
Dara menundukkan tubuh bertumpu pada sebelah kaki di pelana kuda mengambil kepala Tuan Ma dan membawanya ke arah Li Sun yang masih terbaring di tanah dengan dikerumuni prajurit, "Li Phin …." Li Sun hanya mampu mengucapkan kata dari sebuah nama yang asal-asalan diberikan oleh inang pengasuh Li Phin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Kartika Lina
sungguh,, ayah durhakim 😡 klo bini ga mau meninggoy jangan dibikin hamil 😡
2024-09-27
0
Sulati Cus
ayah yg buruk bahkan nama anaknya aja inangnya yg ngasih😔
2022-12-19
0
ARA
Mantapppp😍👍👍👍
2022-10-30
0