"Jangan terlalu girang, Li Phin! Jangan terlalu mudah mempercayai pria, bisa jadi dia hanya ingin menyelidiki sesuatu tentang kematian Cien Fang. Ingat! Jangan bodoh hanya karena cinta, pintarlah menggunakan dan menikmati cinta!" balas Dara mengingatkan Li Phin yang langsung jatuh di dalam benaknya terus duduk dengan lesu.
"Kamu benar, terkadang hanya cinta yang membuat hidup bahagia dan menderita," ujar Li Phin.
"Nona Li Phin! Apakah kau merasa nyaman berada di antara para pria ini?" tanya Liang Si, "oh, bodoh sekali! Aku bertanya akan hal itu! Kau pastilah bahagia, bagaimanapun kau begitu menikmati menjadi pusat perhatian, bukan?" sindir Liang Si menoleh ke sampingnya.
"Sial! Lihatlah pujaan hatimu ini. Menyebalkan tahu!" umpat Dara pada Li Phin.
"Sudahlah, aku ingin kabur saja," balas Li Phin menjauh rasa sakit dan sesak di jiwa Li Phin hingga air mata mulai terbayang di sana. Dara menatap dan merasa kasihan kepada Li Phin, "Aku akan membuat pria ini bertekuk lutut!" batin Dara kesal.
"Apakah kau ingin jawaban yang jujur, Tuan Liang Si? Atau kau ingin jawaban yang ambigu?" Dara balik bertanya.
"Terserah, padamu!" balas Liang Si. Ia tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan balik, "padahal dulu gadis ini selalu memohon cinta padaku, walaupun aku menyakitinya," batin Liang Si kehilangan, rasa mengiba Li Phin dan tatapan memohon dan pengharapan, "kini, tatapan itu berubah ganas dan mengerikan!" batin Liang Si.
"Baiklah, jika kau ingin jawabannya, aku hanya punya satu jawaban. Itu urusan dan masalahku! Tak perlu kau campuri. Urus saja, urusan cintamu dengan Jiajia. Apa yang kulakukan hari ini dan seterusnya itu adalah tanggung jawabku," balas Dara, memutar tubuhnya menatap Liang Si.
"satu hal lagi, Yang Mulia pangeran kedua Limen Utara. Aku tidak tertarik dan ingin menggodamu lagi. Jadi, tidak perlu mengungkit kebodohan masa laluku, lagian antara aku dan kamu tidak pernah tidur bersama bukan?" balas Dara ketus, "aduh, mengapa aku tidak bertanya pada Li Phin dahulu. Mati, aku!" batin Dara menelan ludah.
"Jangan khawatir, aku tidak pernah tidur dengan siapa pun. Jika itu yang kamu maksud!" balas Li Phin dari kejauhan ntah bersembunyi di benak mana di tubuh mereka.
"Ah, syukurlah!" balas Dara semangkin mengangkat dagunya tinggi-tinggi menantang Liang Si.
Deg!
Jantung Liang Si tercekat ia tidak menyangka jika wanita yang dikenalnya sejak kecil kini, berubah menjadi sesuatu yang menakutkan dan penuh keberanian bukan lagi gadis kecil yang cengeng yang selalu menangis.
"Kau benar! Itu bukan urusanku, aku hanya tidak ingin jika semua prajurit tidak fokus menjaga keamanan karena melayani rayuan dan rengekanmu," ucap Liang Si.
"Jangan khawatir, mereka adalah prajurit yang sangat luar biasa bertanggung jawab. Jika itu, yang kau maksud Yang Mulia! Mereka adalah pria yang baik dan mencintai keluarganya, tidak seorang pun yang mencoba untuk merayuku jika itu yang engkau maksud dan aku juga tidak bermaksud untuk merayu mereka," balas Dara menyindir Liang Si, "akan tetapi, jika aku menemukan seorang pria yang aku cintai dan mencintaiku mengapa tidak? Aku akan menyeretnya ke altar pernikahanku, ingatlah itu!" lanjut Dara.
"Baiklah! Aku mendengar dari semua orang, jika kaulah yang membunuh Cien Fang! Benarkah demikian?" tanya Liang Si.
"Aku tidak tahu, aku pingsan saat itu!" balas Dara.
"Apakah kau sengaja menyebarkan rumor, agar kau diangkat menjadi komandan prajurit atau seorang Jenderal?" tanya Liang Si.
"Terserah, kau ingin berkata apa pun mengenaiku Tuan! Maaf saya akan memeriksa benteng bersama Jenderal Jang Min," balas Dara sedikit kesal.
"Oh, kau telah berhasil menaburkan pesonamu kepada Jenderal Jang, sekarang begitu?" ejek Liang Si, "apakah dia tidak tahu, jika kau cinta mati padaku?" tanya Liang Si.
"Hahaha, mungkin dulu! Sebelum aku menyadari bahwa aku menyia-nyiakan cinta suciku pada orang yang salah. Yang Mulia engkau harus memahami jika cinta bisa datang dan pergi sesuka hati, yang memiliki kasih sayang dan ketulusanlah yang akan menikmati cinta abadi itu!" balas Dara.
"Lapor Yang Mulia! Desa Luo diserang oleh pasukan Mongol!" lapor Jang Min kepada Liang Si.
"Apa? Baiklah mari kita membantu mereka!" ajak Liang Si.
"Jangan Yang Mulia! Yang Mulia tidak boleh pergi dari benteng pertahanan ini, biarlah Jang Min dan Li Phin dan prajurit yang akan pergi!" ucap Li Sun.
"Suit!" Dara membuat suara siulan dengan memasukkan jari ke dalam mulut semua orang terkejut kala kuda hitam miliknya telah berlari ke arah Li Phin. Dara langsung sigap menaiki kuda, "Ayo, Tuan Jang!" ajak Dara. Di belakang mereka 18 orang prajurit langsing menyusul dengan menunggangi kuda.
Jang Min dan Dara berkuda paling depan kala pengawal, di pintu gerbang benteng membuka gerbang. Kedua puluh orang tersebut langsung memacu kuda ke Desa Luo yang terletak di dataran gurun berbatasan dengan Kota Changsha.
Liang Si menatap kepergian Li Phin dengan rasa kagum, "Sejak kapan Li Phin lihai menunggangi kuda?" batin Liang Si penasaran, "Jenderal Li Sun, apakah kau tahu, kapan Li Phin mulai pintar menunggang kuda?" tanya Liang Si membuat Li Sun bingung.
"Sejak orang menghina dan merendahkan martabat putriku! Dia mulai mengerti akan banyak, hal. Terima kasih Yang Mulia atas segala kesedihan dan luka batin yang engkau berikan kepadanya," balas Li Sun ia tidak peduli jika ia akan dipenggal mengatakan hal itu. Bagi seorang ayah kebahagiaan putrinya adalah diatas segala-galanya.
Liang Si terdiam, apa yang diucapkan oleh Li Sun merupakan tamparan keras di pipinya. Ia hanya diam saja tidak memperpanjang segalanya, "Karena aku menghormati persahabatanmu dan Ayahandaku. Aku tidak mempermasalahkan semua itu, tetapi … putrimulah yang mengejar-ngejarku," sindir Liang Si.
"Iya, aku minta maaf. Jika putriku telah mengganggu ketenanganmu Yang Mulia. Aku akan menjamin putriku tidak akan mengganggu yang Mulia lagi," balas Li Sun dengan percaya diri.
Kata-kata Li Sun membuat tamparan bagi Liang Si, ia tidak menyangka jika Li Sun dan Li Phin memiliki kepribadian yang hampir sama, "buah tidak jauh jatuh dari pohonnya," batin Liang Si. Keduanya masih menatap ke hamparan luas di depan mereka menatap kepulan debu yang tertinggal akibat derap kuda prajurit Donglang.
***
Sementara Dara, Jang Min, dan seluruh prajurit memacu kuda secepatnya ke Desa Luo. Mereka melihat rakyat jelata berlarian menyelamatkan diri, anak-anak menangis dan banyak mayat bergelimpangan.
"Sial! Apakah kira terlambat?" tanya Dara.
"Aku tidak tahu, sebaiknya kita menolong yang terluka, "balas Jang Min.
"Awas!" teriak Dara melompat dari kudanya menarik pedang menangkis sebuah pedang yang meluncur cepat ke arah mereka, dentingan pedang bergema dia angkasa.
"Waspadalah! Musuh menjebak kita!" teriak Jang Min, berputar dengan kudanya memperingatkan prajurit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Kartika Lina
suatu saat kau akan sangat menyesal setelah tau akan kebenarannya liang si
2024-09-27
0
Hasan
🤭🤭🤭 si pangeran merasa kehilangan ya kasihan deh lu🤭🤭
2022-08-19
1
nuke
sukaaa daraa
2022-06-04
2