"Hahaha, prajurit yang aneh! Mengangkat senjata saja tidak bisa!" hina Cien Fang berdiri di depan Dara, "sebaiknya kau pulang saja ke kampung halamanmu! Aku baru tahu jika prajurit Donglang begitu tolol, hahaha!" tawa membahana.
"Menyerahlah kalian!" teriakan seseorang di dalam barisan orang Mongol yang terkenal kejam.
"Tidak akan pernah!" sanggah Dara dengan tegas, Dara berusaha untuk bangun dari tanah dan menggenggam pedang yang diberikan oleh Li Sun pedang berkepala naga, di sepanjang bilah pedang ukiran ekor naga benar-benar terpatri di sana.
"Phin'er … fokuslah pada tujuanmu! Kerahkan seluruh tenaga pada mata pedangmu!" teriak Li Sun pada putrinya.
"Fokus pada tujuan?" batin Dara mengulang-ulang kalimat tersebut bak sebuah mantra, "aku ingin kembali ke duniaku dan mengangkat harga diri Li Phin!" batin Dara. Ia terus berusaha untuk memusatkan pikiran kepada mata pedang.
Lambat tapi pasti pendar cahaya hijau ke luar dari pedang yang mulai bergetar hebat, membuat tubuh Li phin tersedot ke dalam sebuah kekuatan kasatmata, "Ya Tuhan! Apalagi, ini?" batin Dara bingung, tetapi berusaha untuk tidak terlihat panik, "aku tidak ingin ditertawakan lagi!" batin Dara.
Ia merasakan sesuatu kekuatan dari dalam jiwanya, "Ayo, teruslah Dara, aku akan membantumu!" ucap Li Phin menyatu dengan jiwa Dara.
Keduanya merasakan kekuatan yang sangat luar biasa, "Kau terlalu sombong, hei orang tua!" ketus Dara.
"Kenapa kau mengatakan orang tua? Kamu tahu Dara, dia salah satu pendekar hebat di dunia persilatan! Kau cari mati!" ujar Li Phin.
"Hah! Yang benar saja! Lalu, apa yang harus kita lakukan?" teriak jiwa Dara menyesali perkataannya.
"Ya, sudahlah! Perkataan tidak bisa ditarik lagi! Kita hadapi sajalah," ucap Li Phin.
"Apakah kau menyesal telah memberikan keputusan kepadaku untuk membawa kita ke medan pertempuran?" tanya Dara.
"Sudah terlanjur! Tidak ada yang perlu disesali lagi. Ayo, maju saja! Lagian aku rasa … aku juga sudah mati! Tidak ada bedanya, bukan?" tanya Li Phin tersenyum dengan cantik di benak Dara.
"Kau benar! Mungkin aku juga sudah mati! Apa salahnya mati sekali lagi," balas Dara tersenyum, keduanya menatap ke arah Cien Fang di depan mereka yang masih memandangnya dengan menghina.
"Hahaha, anak ingusan sepertimu berani melawanku? Jenderal kalian saja tidak mampu, apalagi dirimu!" ucap Cien Fang, "cih! Prajurit rendahan sepertimu, sekali tebas kau pun pasti mampus!" hina Cien Fang.
"Jangan menghina Ayahku! Kau belum tahu kekuatan prajurit rendahan seperti kami!" teriak Dara dan Li Phin bersamaan pedang itu terasa ringan dan pendar cahaya semakin kuat melingkupi tubuh berwarna kehijauan, Li Sun terkesima. Ia sendiri tidak pernah membuat pendar seperti itu, "apakah Putriku pemilik pedang yang sebenarnya dari warisan keluarga Li?" batin Li Sun bingung.
Li Sun masih mengamati pertempuran yang terjadi antara putrinya dan Cien Fang, "Oh, Dewa! Lindungilah Putriku. Selama ini, aku telah berdosa meninggalkan dan selalu menyalahkannya," batin Li Sun.
Dara dan Cien Fang bertempur dengan cepat di sana, semua gerakan Dara terbaca oleh Cien Fang, tapi selalu saja pukulan yang diberikan oleh Cien Fang tidak pernah mengenainya, kras! Cien Fang tidak menyangka jika sabetan pedang Dara menebas tangan kanannya hingga potongan tangan terjatuh ke tanah.
"Aaa!" teriak Cien Fang bergema. Semua pertempuran terhenti seketika. Mereka tidak menyangka jika Dara begitu luar biasa mampu menebas tangan kanan seorang pendekar nomor 1 di Tiongkok di masa kekaisaran Donglang.
Semua pasukan Mongol yang membantu pemberontakan Qin mundur teratur menyaksikan dari kejauhan, Jang Min dan prajurit yang tersisa membentuk brigade perlindungan kepada Li Sun dan bersiaga akan kemungkinan terhadap Dara.
"Kau! Siapa kau sebenarnya?" teriak Cien Fang dengan rambut putih yang panjang menutupi wajahnya.
"Aku adalah Li Phin putri dari Jenderal Li Sun Kepala Keamanan Kekaisaran Donglang. Enyahlah dari negeriku!" teriak Dara lantang. Ia mengangkat pedangnya menerjang Cien Fang, pertempuran kembali terjadi serangan cakar Cien Fang mengoyak topi prajurit milik Dara hingga terbelah membuat rambut sepinggang Li Phin terurai bagaikan tirai hitam menutup wajah cantiknya.
Semua orang terpesona dengan kecantikan Li Phin dan ketangkasannya terus melesat melompati tubuh Cien Fang dan menusukkan pedangnya ke punggung Cien Fang hingga ia tewas seketika.
Bruk!
"Apakah pendekar ini sudah tewas?" tanya Dara di dalam benaknya pada Li Phin yang mulai memudar menghilang.
"Aku tidak tahu, aku pergi dulu!" pamit Li Phin.
"Ya …!" balas Dara lemah ia seakan melayang di suatu tempat, tubuh Cien Fang ambruk telungkup ke bumi.
"Hahaha, aku tidak menyangka mati di tangan seorang wanita! Ramalan itu benar …." Cien Fang menghembuskan napas terakhir beserta kata-katanya menatap ke arah wajah Li Phin.
Bruk!
Tubuh Li Phin yang lemah jatuh ke tanah bertumpu pada pedangnya tersungkur bersujud kemudian berguling ke samping masih dengan memegang pedang dengan erat yang telah berubah menjadi pedang biasa berkepala naga, "Li Phin! Tolong putriku!" teriak Li Sun ingin bergerak menyongsong putrinya. Namun, Jang Min secepat kilat langsung mengangkat tubuh Li Phin menyelamatkannya.
Pasukan Mongol dan Qin kabur dengan mengendarai kuda menembus malam ke arah selatan, "Li Phin! Bertahanlah, Nak! Pengawal! Panggil Tabib Luo!" teriak Li Sun berusaha menggapai putrinya di dalam dekapan Jang Min yang membawanya ke dalam benteng pertahanan yang sudah porak poranda.
Jang Min membaringkan tubuh Li Phin di kamar milik Li Sun ayahandanya. Tabib Luo langsung memeriksa tubuh Li Phin mengobati dan memberikan obat juga memberikan jarum akupuntur.
"Tabib Luo apa yang terjadi dengan putriku?" tanya Li Sun khawatir, "Jang Min bereskan semua kekacauan! Bawa semua prajurit yang terluka dan makamkan yang gugur!" perintah Li Sun.
"Baik, Yang Mulia Jenderal!" balas Jang Min meninggalkan ruangan Li Sun yang masih utuh.
"Prajurit ini hanya kelelahan akibat tenaga dalam yang begitu besar dan ia tidak bisa menguasainya di dalam artian dia tidak pernah memakainya selama ini. Kabar baiknya semua peredaran darahnya lancar, kemungkinan asma yang dideritanya akan sembuh.
"Akan tetapi … ia harus bisa mengendalikan kekuatan baru yang mengerikan ini. Jika ia tidak bisa mengendalikannya kemungkinan dia 'kan tewas, di pertempuran berikutnya." Tabib Luo menatap ke arah Li Sun dengan wajah tua yang arif, masih terus berupaya mengobati Li Phin.
"Apa? Jika putriku mampu menguasai tenaga dalamnya apakah dia akan selamat?" tanya Li Sun khawatir.
"Putrimu, Yang Mulia Jenderal? Dia akan selamat! Akan tetapi …," Tabib Luo menatap Li Sun.
"Pengawal tinggalkan aku dan Tabib Luo!" perintah Li Sun mengerti apa yang akan disampaikan oleh Tabib Lua sangat pribadi, "katakanlah Tabib!" ujar Li Sun tidak sabar ingin mengetahui kebenarannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Aya Vivemyangel
Sebenery msh penasaran sm org yg wkt dkedai penginapan , kan dipojokn ada seseorang tuh ,,, pikirq mlh slh 1 pangeran yg bakalan jd pasangany li phin 😂😂😂
2023-05-22
0
Dewi Kijang
lanjut terus thoor tetap semangat ya aku suka ceritanya
2022-05-17
1
Elisabeth Ratna Susanti
mantul 👍
2022-04-24
3