"Dayang, siapa namamu? Aku lupa!" ucap Dara bingung.
"Um, aku Ling'er, Putri!" balas Ling'er.
"Oh, apakah kamu sudah lama menjadi dayang di keluargaku? Aku sepertinya tidak mengingat apa pun, ingat! Jika kamu membocorkan hal ini. Aku akan membunuhmu!" ancam Dara. Jauh di relung jiwanya ia sedikit bergidik menggunakan ancaman itu, "aku perlu sedikit kejam. Paling tidak aku 'kan selamat di zaman ini," batin Dara diam.
"Saya akan merahasiakan semuanya Tuan Putri jangan khawatir," balasnya Ling'er takut.
"Mengapa aku bisa mendapatkan luka begini banyak? Apakah kamu tahu mengapa?" tanya Dara. Ia ingin bertanya kepada Li Phin tapi ia ntah lari dan bersembunyi di mana. Dara sudah tidak peduli ia merasa Li Phin terlalu pengecut dan gila akan cinta yang tak seharusnya, "masa karena cinta sampai segitunya? Memang dunia ini cuman selebar telapak tangan apa?" batin Dara kesal, "andaikan dia di sini, aku bisa berbicara dan bertanya mengapa ia bisa mendapatkan begini banyak bekas luka?" lanjut batin Dara.
"Um, Tuan Putri ... Nyonya Kedua dan Nyonya ke-5 selalu saja menghukum Tuan Putri," ucap Ling'er.
"Apa? Maksud kamu … Ayahanda memiliki 5 orang istri?" pekik Dara mau pingsan.
"Iya, Tuan Putri! Um, Nyonya Kedua, adalah bibi dari Jiajia yang merupakan adik dari Penasihat Kerajaan DongLang Qin Chai Xi, nyonya kedua bernama Qin Chai Ciu, semua selir selalu takut kepada nyonya kedua," balas Ling'er.
"Um, begitu! Baiklah, Ling'er. Terima kasih, tidurlah!" ucap Dara terdiam. Ia menyisir rambut panjang Li Phin di tubuh yang sedang dihuninya, "apakah Li Phin terlalu banyak menderita? Lalu apakah Li Sun sebagai ayah tidak tahu banyak hal?" batin Dara bingung akan banyaknya teka teki yang sedang dihadapinya.
Teng! Teng!
Suara pengawal sedang meronda, "Matikan lampu! Hari sudah malam, untuk menghindari kebakaran!" teriak pengawal. Dara langsung mematikan lampu dan berbaring di tempat tidurnya yang empuk seminggu lebih dia tertidur beralaskan dipan dan bale bambu tubuhnya sakit semua kala bangun tidur.
Dara mulai menggerakkan tangan kirinya yang digips ia merasa sudah membaik ia membuka gips dan menggerakkan tangannya ke atas wajahnya dengan cara mengepal dan membuka kepalan tangan.
"Siapa yang telah melakukan semua ini padaku? Aku akan membalasnya suatu saat nanti!" batin Dara.
Semalaman Dara tidak bisa tidur ia masih berpikir banyak hal di zaman di mana ia terdampar dan zaman yang ditinggalkannya hingga pengawal kerajaan membunyikan lonceng 3 kali menandakan jika waktu sudah berada dipukul 03.00, Dara tertidur dengan pulas.
"Tuan Putri! Tuan Putri! Bangun semua orang sudah menunggu di aula!" teriak Ling'er.
"Apa? Sial! Ayo, beri aku air untuk membasuh wajah!" ujar Dara melompat dan mengambil baskom air yang diberikan Ling'er secepatnya dia membersihkan dan berdiri kala Ling'er memakaikan baju prajurit berwarna merah sebagai prajurit yang memiliki pangkat paling rendah.
"Ling'er! Doakan aku, maaf jika selama ini aku ada melukai atau menyakitimu. Selamat tinggal!" ujar Dara memegang kedua bahu Ling'er yang berada di depannya.
"Tuan Putri, hiks! Hiks! Kamu tidak pernah menyakitiku, sungguh kau hanya berbicara kasar dan manja semua itu Putri lakukan karena Tuan Putri tidak memiliki pilihan," balas Ling'er menangis.
"Hm, sudahlah! Doakan saja yang terbaik untukku!" balas Dara bingung, "apakah di novel ada yang terlewat?" batin Dara semakin penasaran ingin membaca kembali. Namun, saat sekarang si antagonis berubah menjadi protagonis dan ialah pemeran utama dari semuanya.
Dara menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan ia dengan sebuah keyakinan langsung menuju aula, di belakangnya Ling'er mengikutinya.
Semua orang menatap ke arah Dara, "Mereka sedang memandang Li Phin," batin Dara sedikit resah. Namun, ia telah menjalani kehidupannya sebagai polwan hampir 10 tahun penuh liku. Sehingga ia tak lagi gentar. Ia melihat Li Sun telah siap dengan baju zirahnya begitu juga dengan semua pasukan ayahnya yang sekitar 15 orang. Telah siap sedia di depan aula.
"Salam Yang Mulia Liang Bao! Salam Ayahanda!" ujar Dara dengan gaya penghormatan seorang prajurit yang dipelajarinya di dalam beberapa hari dia terdampar dan bagaimana cara penghormatan setiap prajurit.
"Bangunlah, Nona Li Phin. Apakah kau tidak ingin mengurungkan niatmu menjadi seorang prajurit? Masih ada kesempatan Nona Li Phin?" tanya Liang Bao.
"Tidak yang Mulia!" balas Dara dengan tegas. Semua orang memandang ke arah Li Phin dengan keheranan dan berbisik-bisik.
"Hentikan! Seharusnya kalian bangga jika Nona Li Phin yang kalian kenal selama ini manja, arogan, dia memiliki sebuah semangat dan ketegasan yang tidak pernah kalian sadari," balas Liang Bao.
Semua bisikan dan hinaan pada Li Phin terhenti seketika, "Terima kasih, Yang Mulia!" balas Dara.
Mereka makan dengan diam, Li Sun menatap putrinya ia merasa sangat jauh dengan putrinya ia memang tidak begitu peduli dengan Li Phin, karena ia merasa karena kehadiran Li Phinlah ia harus kehilangan istri pertamanya Jang Mei yang sangat dicintainya sehingga ia menyalahkan segalanya kepada Li Phin. Selain itu ia tak memiliki seorang anak perempuan lagi selain Li Phin. Ia hanya memiliki seorang putra tetapi putranya pun telah meninggal dunia dari kelima istrinya ia tak memiliki lagi anak hanya Li Phinlah yang dimilikinya.
Namun, sikap Li Phin yang selalu manja dan memalukan membuat dia selalu murka dan marah, kini Li Sun melihat jika putrinya tidak jauh berbeda dengan wajah mendiang istrinya begitu luar biasa terpancar di wajah Li Phin yang cantik dan penuh ketegasan.
Li Sun diam-diam memandang wajah Li Phin, ia rindu akan Jang Mei. Ia hanya diam ia telah banyak bertempur di medan perang sehingga ia mampu menguasai semua perasaannya, "Putriku …," batinnya.
Setelah acara perjamuan dan acara perpisahan Li Sun dan Liang Bao saling berpelukan di saat acara perpisahaan, "Berhati-hatilah, Li Sun! Li Phin sebaiknya kamu berkuda saja, aku takut kamu akan kelelahan," ujar Liang Bao.
"Tidak perlu, Tuan Liang. Biar dia rasakan bagaimana beratnya menjadi seorang prajurit!" balas Li Sun, ia tidak ingin membedakan antara putrinya dan prajurit biasa, "aku ingin dia merasakan kerasnya hidup menjadi prajurit. Agar ia bisa mengerti jika kehidupan ini begitu keras, Putriku sudah cukup bermain-main dan membuat malu Keluarga Li," balas Li Sun tegas.
Dara hanya diam saja, ia tidak peduli lagi, "Aku akan menunjukkan kepada Ayahanda jika aku adalah bukan wanita biasa!" batinnya bertekad, "Li Phin sekarang bukanlah Li Phin yang dulu!" batin Dara.
Akhirnya Li Sun dan semua pasukannya berjalan meninggalkan kediaman Liang Bao. Li Phin berjalan kaki dengan prajurit yang memiliki pangkat rendah ia hanya diam saja dengan membawa tombak, "Udara sangat panas!" ucapan seorang prajurit di sampingnya, "sebaiknya kamu berkudalah!" lanjutnya menatap Li Phin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Kartika Lina
orang di jamannkuno selalu menyalahkan bayi yang baru lahir hanya karena sang ibu meninggal karena melahirkannya,, sungguh pemikiran yang sangat memba....kan
2024-09-27
0
Aquina
sebel sm si li phin asli...malah ngumpet bukannya cerita🤣
2023-06-17
0
Elisabeth Ratna Susanti
sukses untuk karya ini ❤️
2022-04-23
2