"Yang Mulia Jenderal! Jika Nona ini bisa menguasai pedang dan tenaga dalamnya yang besar dia akan menjadi seorang pendekar hebat dan bisa menyatukan seluruh Tiongkok.
"Akan tetapi, musuhnya pun akan semakin banyak. Ia akan menjadi buruan semua orang yang tidak menyukainya. Sebaiknya Tuan mengajari Nona ini melatih ilmu dalam dan menyembunyikan kehebatannya, jika tidak, kekacauan akan semakin terjadi di Kekaisaran Donglang.
"Semua orang berkeinginan untuk menjadikannya istri dan memilikinya untuk sebuah ambisi," ujar Tabib Luo.
"Ya, Dewa! Apakah tidak ada cara lain untuk menghambat semua itu, Tabib? Aku hanya ingin putriku hidup dengan tenang, menikah dan memiliki anak cucu dengan bahagia. Aku tidak berambisi jika dia harus menikahi kaum bangsawan aku malah ingin dia menikah dengan rakyat biasa," ujar Li Sun.
Li Sun tidak ingin putrinya semakin menderita, Li Sun mendekati tubuh Li Phin yang terbaring menyelipkan surai rambut ke telinganya, wajah Jang Mei tercetak di sana. Li Sun melihat luka di sepanjang bahu putrinya tanpa ia pernah tahu, kala baju di bagian bahunya sobek, "Apa yang terjadi dengan Li Phin?" batin Li Sun melihat bahu putrinya.
"Maafkan, aku Yang Mulia. Aku tidak bisa menghambat kekuatan yang tersembunyi dari dalam tubuhnya, ia telah banyak memendam sesuatu sehingga sekali kemarahannya ke luar membuat segala kekuatan yang tersembunyi itu pun meledak," balas Tabib Luo.
"Terima kasih, Tabib!" balas Li Sun tak tahu lagi harus berkata apa.
Ia mengambil mangkuk air hangat dan sebuah handuk kecil menyeka wajah dan tangan putrinya yang penuh darah, ia membuka sepatu bot putrinya, bayangan Li Phin yang selalu mengejarnya kala masih berumur 2 tahun hingga 10 tahun terbayang di pelupuk mata.
Namun, Li Sun tidak pernah mempedulikan semua itu, ia hanya memalingkan wajah kala Li Phin mengejarnya dengan setangkai bunga atau buah persik masak. Li Sun banyak menghabiskan waktu di medan tempur hingga Perdana Menteri Kekaisaran Qin Chai Xi menikahkannya dengan Qin Chai Cu adiknya. Namun, kekosongan masih saja terpatri di lubang batin.
Hingga ia menikahi 4 selirnya. Kebahagiaan mulai datang kala selir pertama Min Hwa melahirkan seorang bayi lelaki tetapi bayi itu hanya berumur setahun dan meninggal keracunan membuat Li Sun semakin murka dan memenjarakan selir Min Hwa di istana dinginnya hingga sekarang.
"Li Phin sangat dekat dengan Min Hwa, apakah aku bersalah dengan melakukan semua itu?" batin Li Sun bertanya pada dirinya.
Ia melihat luka di betis Li Phin yang putih, luka yang telah bertahun-tahun di sana di sepanjang tangan, "Apakah seluruh tubuh putriku ini penuh luka?" batin Li Sun bertanya. Namun, ia sedikit malu dan tabu untuk memeriksa tubuh putrinya, "andaikan dari kecil aku memperhatikannya mungkin, Li Phin tidak begini!" batin Li Sun marah pada dirinya.
Li Sun mengingat terakhir kali Li Phin mengejarnya kala ia berumur 15 tahun, setiap kali Li Sun pulang dari medan tempur ia tidak pernah menemui Li Phin bahkan Li Phin selalu menolak untuk makan bersama dengannya dan seluruh ibu tirinya.
Li Phin banyak meniup seruling di istana dingin walaupun hanya di depan pintu gerbang tanpa diperbolehkan masuk. Li Sun terdiam ia berdiri menatap cakrawala yang mulai memerah karena fajar mulai menyingsing.
"Lapor Yang Mulia, semua prajurit yang tewas sudah dimakamkan dan yang terluka sudah dirawat," ujar Jang Min.
Ia melirik ke arah tempat tidur yang hanya beralaskan kulit domba dan jerami kering disusun seempuk mungkin di sana, "Li Phin baik-baik, saja Jang Min!" ujar Li Sun.
"Yang Mulia istirahatlah! Biar aku yang akan menunggu dan merawat Nona Li Phin," usul Jang Min.
"Kamulah yang istirahat Jang Min! Kamu juga lelah, aku ingin menghabiskan waktuku bersama putriku yang tidak pernah aku lakukan selama 20 tahun ini," balas Li Sun.
"Baik, Yang Mulia!" balas Jang Min ingin undur diri.
Akan tetapi, "Tuan Muda Liang Si dan pasukan dari Limen Utara telah memasuki pintu gerbang!" teriak pengawal.
Jang Min dan Li Sun ke luar dari ruangan, "Selamat datang Tuan Muda Liang Si!" ujar Li Sun memberikan penghormatan kepada Liang Si yang merupakan pangeran dari Limen Utara.
"Terima kasih, Paman! Sepertinya pertempuran benar-benar terjadi, aku mendengar di perjalanan. Jika Cien Fang telah tewas, benarkah?" tanya Liang Si.
"Iya, begitulah!" balas Li Sun, "mari, Tuan Liang … istirahatlah dulu!" ajak Li Sun ke sebuah pendopo di benteng perbatasan antara Xuchang dan Changsha, "Yang Mulia Jenderal, biarlah hamba yang mengantarkan Tuan Muda Liang," ujar Jang Min.
"Iya, Tuan Li. Tuan istirahatlah," balas Liang Si.
"Terima kasih, Tuan!" balas Li Sun melepas Liang Si dan Jang Min serta pasukannya ke sayap timur dari benteng perbatasan.
"Tuan Jang, kalian benar-benar hebat mampu membunuh, Cien Fang!" ucap Liang Si.
"Semua itu berkat Nona Li Phin dialah yang membunuh Cien Fang!" balas Jang Min.
"Apa? Li Phin? Bagaimana mungkin?" ucap Liang Si tidak percaya.
"Begitulah adanya Tuan!" balas Jang Min menceritakan segalanya.
"Oh," hanya itu yang terucap dari bibir Liang Si, ia sama sekali tidak percaya dengan apa yang didengarnya, "lalu bagaimana dengan keadaan Nona Li Phin sekarang?" tanya Liang Si.
"Nona Li Phin sedang sakit parah, Tabib Luo sedang merawatnya. Aku berharap dia tidak menderita akan penyakit yang sangat berbahaya, kita hanya bisa menunggunya," balas Jang Min.
"Oh," balas Liang Si, ia sama sekali tidak mempercayai keheroikan dari seorang Li Phin yang manja dan arogan.
Liang Si, terdiam, "apakah itu mungkin?" batin Liang Si masih tidak mempercayai dengan semua perkataan Jang Min, "aku rasa yang membunuh Cien Fang adalah Li Sun. Akan tetapi, mungkin ia ingin putrinya naik jabatan menjadi seorang kepala prajurit.
"Bagaimanapun kehidupan prajurit sungguh mengerikan. Aku sangat yakin jika seorang ayah tidak akan membiarkan putrinya menderita," batin Liang Si.
Ia terus menyusuri koridor yang terbuat dari papan menuju ke aula tempat peristirahatan setiap prajurit dan pasukan yang datang sebagai bala bantuan.
***
Dara masih saja pingsan sementara di dalam mimpinya ia berlari di sebuah taman bunga persik yang sedang mekar indah, berputar-putar dengan menggenggam sebuah bunga persik dengan menari-nari, "Liang Si!" Liang Si!" teriak Li Phin kecil mengejar Liang Si yang sedang bermain pedang kayu, "lihatlah, aku sudah bisa menari!" lapor Li Phin.
"Jangan ganggu aku, Li Phin! Aku sedang sibuk!" balas Liang Si.
"Kalian semua sibuk! Ayahanda juga sibuk, kau juga sibuk. Semua orang sibuk, aku benci kalian!" ujar Li Phin berlari dengan menangis ia semangkin jauh berlari.
Bruk!
Li Phin kecil terjatuh tersandung akar jatuh bergulingan ke sebuah lubang menghempaskan tubuhnya di sebuah gua cadas membuat punggungnya berdarah, "Mama!" ujar Li Phin menatap seorang wanita yang sangat cantik yang menolongnya sebelum menutup mata.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Sulati Cus
astaga kejam sekali kau sbg ayah nyesek ak
2022-12-19
2
azka aldric Pratama
sayang bgt punya penyakit asma,padahal nntinya jadi jendral perang 🤔🤔🤔🤔
2022-08-13
4
Elisabeth Ratna Susanti
suka 😍
2022-04-24
1